http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=201967 Selasa, 13 Des 2005,
Memarginalisasi Martabat Perempuan Oleh Desy Indriani * Dunia adalah panggung sandiwara, laki-laki dan perempuan adalah pemain. Mereka naik turun panggung, masing-masing memainkan perannya. Itulah yang dikatakan William Shakespeare beberapa tahun lampau. Hal itulah yang terjadi pada kita sekarang, khususnya kaum perempuan. Setiap tingkat dalam kehidupannya, perempuan memainkan banyak peran. Tak seorang pun di antara mereka yang berdimensi tunggal, hanya memainkan satu peran. Peran perempuan tidak terbatas sebagai seorang istri ataupun anak, melainkan meluas ke dunia kerja. Perempuan telah memasuki dunia karir, mulai pengacara, polisi, guru, politikus, sampai sopir taksi dan tukang tambal ban. Realita itu menunjukkan bahwa eksistensi perempuan Indonesia tidak terbatas pada hal-hal yang bersifat urusan rumah tangga. Perempuan Indonesia terbukti mampu melaksanakan rutinitas yang menjadi tanggung jawabnya dalam waktu bersamaan. Disahkannya Hari Ibu pada 22 Desember oleh Presiden Soekarno (saat itu) bukanlah tanpa pesan. Begitu pula, sosok RA. Kartini dalam memperjuangkan hak-hak perempuan pada masa penjajahan. Dua catatan sejarah itu menunjukkan bahwa eksistensi perempuan Indonesia patut diperhitungkan, baik dalam lingkup rumah tangga maupun ranah sosial kemasyarakatan. Kodrat utama perempuan adalah menjadi seorang istri dan ibu yang baik. Namun, revolusi global dan revolusi teknologi informasi sangat mempengaruhi perkembangan eksistensi dan performa perempuan zaman sekarang. Perempuan yang telah berkeluarga tidak ingin kebebasannya dalam mengekspresikan diri melalui pekerjaan terlalu terbelenggu oleh setumpuk tugas rumah tangga. Karena itu, mereka berusaha mencari pengganti perannya dengan mempekerjakan pembantu untuk urusan rumah tangga dan baby sitter untuk mengurus keperluan anak-anak mereka. Usaha tersebut sekilas memang cukup praktis dan terkesan dapat mengurangi beban tanggung jawab sebagai seorang perempuan. Namun, jika ditilik lebih dalam, hal itu hanya akan menjadi bumerang yang siap menerjang di saat perempuan berada di puncak karir. Ataupun sebaliknya, mampu menghempas di saat perempuan sedang berada dalam kondisi terpuruk. Yang dimaksud bumerang di sini adalah saat anak tidak terkontrol perilakunya akibat kurang perhatian dan kasih sayang orang tua. Ketika hal itu terjadi, orang tua tanpa sadar berusaha mencari kambing hitam atas semua yang terjadi. Kebanyakan hal itu berujung pada perceraian dengan alasan ketidakcocokan. Sangat tidak bijaksana bila mengklaim ketidakcocokan sebagai alasan perceraian. Semakin jelas bahwa eksistensi dan performa perempuan Indonesia mengalami perubahan yang sangat dahsyat (revolusi). Namun, masih menyimpan berbagai dilema yang mudah mengundang derita bagi kaum perempuan itu sendiri. Laki-laki semakin banyak yang mengalami kegagalan fungsi dan perannya sebagaimana kodratnya. Semakin banyak kenyataan, perempuan justru menjadi tulang punggung keluarga, sementara sang suami bersantai-santai, berfoya-foya, dan tragisnya, memiliki simpanan. Jadi, anggapan bahwa laki-laki merupakan kepala dan tulang punggung keluarga sepatutnya tidak otomatis memberikan penilaian yang khusus, terhormat, dan superior pada martabat laki-laki. Sebaliknya, paradigma tersebut sekonyong-konyong memarginalkan martabat perempuan tanpa menimbang kenyataan bahwa perempuan semakin bertambah berat bebannya dan laki-laki semakin banyak yang meninggalkan tugasnya. Dilematika eksistensi kaum ibu di Indonesia semakin kentara dan mengandung ekses yang cenderung negatif tatkala sang suami tidak mengimbangi hilangnya atau berkurangnya "jam terbang" kaum ibu di rumah. Keberadaan secara total (hati, energi, dan pikiran) seorang ibu untuk anak dan keluarganya semakin sedikit. Tapi di sisi lain, pekerjaan yang membantu menopang ekonomi keluarga juga tidak bisa ditinggalkan. Di sinilah letak utama permasalahannya. Saat kaum ibu berada dalam kondisi seperti itu, mereka dituntut dan didesak untuk selalu bisa mencari jalan keluar atas semua permasalahan tanpa ada bantuan dari suami. Kaum ibu benar-benar bertaruh untuk tujuan masa depan yang lebih baik pada anak dan keluarganya. Situasi tersebut sering membuat suami, khususnya, dan anak merasa ditelantarkan. Dalam keadaan seperti itu, kaum perempuan yang memiliki peran ganda sebagai ibu rumah tangga dan seorang pekerja seharusnya bisa melihat ke segala aspek kehidupan dan memutuskan dengan bijaksana apa yang seharusnya dilakukan untuk kebaikan dirinya dan keluarganya. Refleksi itu bermaksud untuk memberikan jalan tengah atas dilematika faktual yang sedang dihadapi kaum ibu di Indonesia tanpa menghilangkan eksistensinya sebagai manusia yang memiliki potensi dalam mengelola rumah tangga dan karirnya. * Desy Indriani, mahasiswi Prodi. Bahasa Tionghoa Universitas Widya Kartika Surabaya [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 1.2 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery. http://us.click.yahoo.com/WpTY2A/izNLAA/yQLSAA/uTGrlB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
