Setelah 2 hari berembus dugaan pelaku penyerangan LP Cebongan 
adalah militer, hari ini analisa sejumlah pengamat berbalik 
mencurigai polisi. 

Analisa itu memperkuat keterangan pengacara korban tentang 
kejanggalan pemindahan Hendrik cs (tersangka pelaku pembunuhan 
anggota Kopassus, Sertu Santoso) dari Rutan Polda ke LP Cebongan. 
Pemindahan ini memberi kesan polisi seolah sudah tahu tentang 
rencana penyerangan. 

Di sisi lain, pihak LP sempat menolak pemindahan Hendrik cs 
mengingat beberapa peristiwa penyerangan anggota militer ke kantor 
polisi. Cukup logis jika masyarakat menduga penyerangan ke LP 
Cebongan bermotif balas dendam dari rekan-rekan Santoso. 

Namun Pangdam IV Diponegoro membantah pelaku penyerangan LP 
Cebongan adalah militer. Apalagi dikaitkan dengan pasukan elit 
yang sifat operasinya cepat, tepat, senyap. 

Dari analisa kronologis penyerangan LP Cebongan, orang justru 
teringat aksi brutal penggerebekan teroris. Terutama banyaknya 
peluru yang dihamburkan untuk menghabisi 4 orang. 

Belum lagi, ternyata, permintaan bantuan pihak LP sejak 
pemindahan Hendrik cs dan saat peristiwa terjadi tidak mendapat 
respon positif dari polisi, sehingga para penyerang leluasa 
datang dan pergi. Lepas apakah itu kelalaian atau kesengajaan, 
peristiwa ini merupakan tamparan pedas bagi TNI & Polri. 

Untuk mengungkap kebenaran, sudah seharusnya TNI-Polri bekerjasama 
membekuk sang penampar. Pangdam menyatakan siap menerjunkan 400 
anggota Gultornya. Dan, jika benar merasa kecolongan tahanannya 
dihabisi orang, polisi tidak perlu ragu mengerahkan Densus-88 yang 
sarat kisah sukses itu. 

http://www.merdeka.com/peristiwa/5-teka-teki-penyerbuan-kelompok-bersenjata-ke-lapas-cebongan.html

http://www.tempo.co/read/flashgrafis/2013/03/25/531/Kronologi-Penyerangan-Lapas-Sleman


--- 

Selasa, 26 Maret 2013 | 15:48 WIB

Kejanggalan Sebelum Penyerangan LP Sleman

TEMPO.CO, Jakarta - Riyo Rama Baskara, pengacara keempat korban 
penyerangan misterius Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, 
mencium aroma kejanggalan dari rentetan peristiwa sebelum pembantaian 
terjadi. Sebab, sehari sebelum penyerangan, Polda Yogyakarta 
tiba-tiba memindahkan keempat tersangka pengeroyokan seorang anggota 
Kopassus dari Rumah Tahanan Polda ke LP Cebongan.

"Rentan waktu dari pemindahan sampai penyerangan cuma 14 jam, sangat 
janggal," kata Riyo saat dihubungi Tempo, Senin, 25 Maret 2013. Pihak 
Polda beralasan, rutan yang mereka miliki tidak layak untuk 
digunakan. Disebutkan, Rutan Polda sedang akan direnovasi. "Tapi 
pantauan kami, Rutan Polda tidak rusak, masih bisa digunakan."

Bahkan, kabar yang ia peroleh, Kepala LP Cebongan juga resah mendapat 
titipan empat tersangka dari Polda. Menurut Riyo, Kepala LP Cebongan 
ingin mengembalikan keempat tersangka ke Polda sehari setelah 
dititipkan. Namun, rencana itu tidak jadi dilakukan karena pada 
diniharinya penyerangan terjadi. (Baca: Drama 14 Jam Serangan Penjara 
Cebongan Sleman)

Riyo pun menuturkan, keempat kliennya mengaku aneh dengan pemindahan 
penahanan mereka. Salah satunya, Juan. Anggota kepolisian itu mengaku 
pengawalan pemindahan dari Polda ke Cebongan sangat berlebihan.

"Mengawal kami seperti mengawal teroris saja. Sebanyak 15 anggota 
pengawal bersenjata lengkap," kata Riyo menirukan penuturan almarhum 
Juan. 

Namun, begitu dititipkan di LP Cebongan, Polda tidak memberikan 
pengamanan khusus. Tidak ada anggota Polda yang ditinggal untuk 
menjaga keempat tersangka. Pengamanan sepenuhnya diserahkan ke Lapas 
Cebongan. "Ini kok terkesan polisi seperti lepas tangan dan cuci 
tangan." 

Menurut Riyo, usai kejadian Polda tidak melakukan upaya menutup akses 
keluar-masuk Provinsi Yogyakarta. Menurut dia, jika polisi sigap 
melakukan razia, kemungkinan bisa menjaring pelaku penyerangan Lapas 
Cebongan. 

Dia pun mengaku tetap akan mendorong polisi mengusut tuntas kasus 
ini. "Jangan sampai kasus pembantaian ini terlupakan begitu saja."

Sabtu dinihari, 23 Maret 2013, Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, 
Sleman, Yogyakarta, diserbu belasan orang bersenjata api. Empat 
tahanan tewas dan dua sipir terluka. Korban tewas adalah Hendrik 
Angel Sahetapi alias Deki, Adrianus Candra Galaga, Yohanes Juan 
Mambait, dan Gameliel Yermiayanto Rohi Riwu. (Baca: Asal-usul Peluru 
di Penjara Cebongan Sleman)

Keempat korban adalah tersangka pengeroyokan seorang anggota Kopassus 
hingga tewas. Muncul dugaan aksi penyerangan merupakan tindakan 
balasan atas kematian anggota Kopassus. Namun, polisi belum 
merampungkan penyidikan kasus ini.

Kepolisian Daerah Yogyakarta maupun Kepala LP Cebongan belum 
memberikan tanggapan mengenai kejanggalan yang diungkapkan Riyo. 
(Baca lengkap:S erangan Penjara Sleman)






------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke