http://www.padangekspres.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=6391
Agama, Pemahaman dan Tafsir sebagai Tuhan
Oleh Fadlillah
Jum'at, 09-Desember-2005, 02:24:52
Pada akhir dekade ini, persoalan agama dalam realitas nasional dan
internasional, cukup banyak dikupas orang. Dari sekian banyak pembicaraan
tentang masalah agama, dan terutama pada isu sentral tentang terorisme,
konflik, dan kekerasan, maka ada hal yang menarik dari semua fenomena itu.
Hal itu adalah tidak duduknya pengertian agama sebagai agama dan manusia
sebagai manusia, kemudian memperlakukan agama atau mendudukannya sebagai
makhluk atau Tuhan. Semua itu karena seperti terkukuhkan suatu opini bahwa inti
persoalan (dari terorisme, kekerasan, konflik, saparatis di gelanggang nasional
dan internasional) dari konflik dunia dan internasional adalah agama.
Barangkali kita perlu untuk melihat persoalan tersebut dari sudut pandang yang
berbeda. Karena persoalan akan jadi lain bila dibedakan agama yang merupakan
teks wahyu (teks ajaran) dan pemeluk agama merupakan manusia yang berada pada
posisi memahami dan menafsirkan teks serta mengamalkan teks, maka bukan tidak
mungkin pengertian terhadap persoalan ini akan menjadi lain.
Meletakan agama sebagai sumber konflik bukan tidak mungkin merupakan
tindakan yang akan menjadikan agama duduk di kursi terdakwa sementara manusia
bebas di luar, dan lepas tangan, dan bukan tidak mungkin terjebak dalam pola
berpikir generalisasi. Barangkali kita lupa, agama, bagaimanapun dia, hanyalah
teks wahyu (teks ajaran), dan adalah suatu hal yang tidak mungkin dengan
menjadikan teks wahyu (teks ajaran) sebagai terdakwa, teks wahyu (teks ajaran)
sebagai sumber konflik, atau teks wahyu (teks ajaran) sebagai kambing hitam.
Apapun sesuatu yang bernama agama itu (teks), jelas ia membawa misi kemanusiaan
dan perdamaian, ketika ada agama (teks ajaran) yang membawa misi
anti-kemanusiaan dan peradamaian maka ia sudah merupakan bukan agama lagi,
paling tidak orang akan menyebut bahwa ia adalah agama sesat atau sekte yang
beraliran sesat.
Memang ada ditemukan pemeluk agama menganggap pemahamannya, tafsirannya,
dan amalannyalah yang paling benar dan menganggap (tepatnya mengklaim,
melegitimasi), dan manusia pemeluk (golongan ini) itu mengklaim bahwa merekalah
yang berhak hidup dan orang yang berbeda paham dan tafsir dengan mereka harus
ditumpas dan dilegitimasi disebagai makhluk kafir, kemudian mereka menganggap
tugas diri mereka adalah menyadarkan orang yang kafir itu. Inilah adalah
pemahaman, penafsiran, pengamalan dari manusia, oleh karena itu bukankah
manusia itulah yang salah, dan selayaknya didudukan dibangku terdakwa. Alangkah
ironi dan tragisnya, karena tafsiran manusia berbuat aniaya, anarkis, bahkan
berbunuhan.
Agama, yang ia hanya teks, ajaran, narasi yang menyeru kepada manusia
untuk berbuat baik dan membuat kedamaian di muka bumi dan semesta alam. Namun
yang menjadi pertanyaan; mengapa banyak peperangan dan konflik dunia sepertinya
disebabkan oleh agama (teks wahyu atau teks ajaran). Jika kita melihat dari
kulit luar dan memandangnya dari jauh maka agama adalah teks yang tertuduh,
teks yang tidak mampu menyelesaikan masalah bahkan selalu berbuat masalah.
Barangkali agama adalah cahaya dan rembulan adalah manusia, sebagai suatu
perumpamaan, ketika dilihat dari bumi, yang dipuji adalah rembulan bukan cahaya
yang lembut, tetapi ketika sampai di bulan maka yang salah adalah cahaya,
mengapa ia tidak meceritakan kebopengan dan kegersangan rembulan. Adapun yang
salah tetap bukan rembulan tetapi tetap cahaya. Inilah pola pikir yang perlu
dipertanyakan, ada hal yang tidak logis dan gene ralisasi.
Agama, yang dia-nya adalah teks ajaran yang baik dan keselamatan untuk
alam semesta, tapi apa yang disebut dengan manusia yang mempergunakan teks, dan
bagaimana manusia menafsirkan teks agama, bagaimana manusia memahami teks
agama, bagaimana manusia mengamalkan teks agama, inilah yang menjadi persoalan,
di sinilah titik masalah dunia. Bagaimana manusia tidak pernah dapat dengan
sempurna memahami teks, bagaimana teks sampai ke dalam pikiran manusia
mengalami kebocoran dan kontaminasi, serta ketika dihadirkan dalam tindakan dan
kebijakan selalu tidak ada yang pernah sama. Teks agama mungkin satu, dicetak
dengan huruf yang sama, lafaz yang sama, tetapi selalu menjadi berbeda pada
setiap penafsiran dan pengamalan manusia. Dengan demikian, siapakah yang salah,
manusia atau teks agama. Kita selayaknya membedakan antara agama dengan pemeluk
agama.
Agama mungkin yang itu juga tetapi pemahaman orang terhadap agama tidak
ada yang sama dan tidak mungkin untuk disamakan. Ada yang kedalaman imannya
sudah sangat baik (walau tak ada alat ukur yang sesungguhnya), ada yang imannya
rendah, di samping ada yang hanya beriman saja tetapi tidak beramal, sebaliknya
ada yang beramal saja tapi tidak peduli dengan persoalan iman. Kembali kepada
pertanyaan apakah manusia yang salah atau masih agama yang harus didudukan pada
kursi terdakwa sebagai sumber konflik. Maka manusia-lah yang harus didudukan di
kursi terdakwa, bukan agama. Manusia di dudukan di kursi terdakwa ketika
pemahamannya sudah berupa tindakan yang sudah merupakan anarki, kezaliman,
penganiayaan dan kerusakan. Tetapi, apabila pemahaman manusia belum berupa
tindakan, maka ia tidak behak di dudukan di kursi terdakwa.
Manusia adalah sumber konflik (ketika pemahamannya sudah berupa
tindakan), manusia tidak berhasil menyelesaikan dirinya, konflik itu berada
pada diri manusia itu sendiri. Manusia yang harus duduk di kursi terdakwa
dengan pemahamannya yang sudah berupa tindakan, karena dari sekian banyak
ajaran moral, agama, ilmu pengetahuan, tetapi sebagian besar manusia tetap
bebal dan tidak beradab dalam sejarahnya. Bukan kita berpihak pada agama,
tetapi yang jadi persoalan adalah bagaimana kita mendudukan persoalan, dalam
kejernihan dan kedinginan pikiran, sehingga "si jenggot yang berhutang tidak
harus si brewok yang membayar".
Hal itu disebabkan manusia sudah merupakan makhluk yang paradoks, karena
pada dirinya ada unsur kebaikan dan unsur kejahatan. Pada sisi lain mungkin
itulah keseimbangan diri manusia, adanya kebaikan dan kejahatan dalam dirinya,
maka sulit untuk ditemukan ada manusia yang nyaris sempurna baik saja atau
nyaris sempurna jahatnya.
Pendeta, ulama, kiyai, rahib dan para penguasa dalam kaum beragama adalah
manusia, maka siapa yang dapat menjamin tidak ada unsur kejahatan di dalam
dirinya (kecuali para nabi dan rasul yang dijamin Tuhan, dan Tuhan sendiri).
Bukankah banyak manusia dengan berkedok ulama, pendeta, intelektual, partai,
memperalat agama serta menipu para umat atau jamaahnya untuk
kepentingan-kepentingan yang jika dikembalikan kepada teks ajaran agamanya maka
apa yang mereka lakukan sangatlah bertentangan sekali, kemudian mereka
mencarikan tafsir-tafsir untuk melegitimasi kepentingan tersebut. Mungkin
karena itulah ia dinamakan manusia, makhluk yang paradoks.
Kebebalan bukanlah karakter etnis atau ras, juga bukan milik atau ajaran
agama, akan tetapi ada pada diri dari makhluk yang bernama manusia itu sendiri.
Kekejaman, penindasan, kekerasan dan pembantaian adalah sifat dan karakter
gelap dari diri manusia itu sendiri, siapa pun manusianya. Maka dapat dipahami
setiap agama ada ritus pembantaian hewan kurban yang tidak lain merupakan katup
pelepas dari nafsu kegelapan diri manusia. Bagaimanapun pahitnya, jelas tidak
mungkin untuk menjadikan si brewok harus membayar hutang si jenggot, karena
pada pihak lain dapat ditemukan bagaimana anehnya dan sulit untuk diduga
pamahaman orang, satu kelompok, etnis atau bangsa terhadap teks agama, dan
mereka memberikan arti lain, karena itu dapat ditemukan bagaimana pemahaman
satu etnis atau bangsa satu sama lain sulit untuk mencapai titik temu. Ada
persoalan kepentingan (dari diri manusia itu sendiri) yang identik dengan
kekuasaan maka agama hanya sebuah alasan untuk melegitimasi kekuasaan. Akar
perselisihan bukan pada teks agama tetapi kepada kesalahan manusia dalam
menafsirkan dan memahami agama yang sudah dijadikan sikap dan tindakan,
tepatnya akarnya pada manusia itu sendiri, manusia gagal memahami teks agama
sebagaimana adanya, yang juga berarti gagal memahami dirinya sendiri.
Sejarah manusia sesungguhnya tidak ada kata Karl R. Popper (trj.2002),
yang ada hanya sejarah politik kekuasaan, dan sejarah politik kekuasaan
hanyalah sejarah kejahatan internasional dan pembunuhan massa, termasuk
berbagai usaha untuk menindas mereka, dan salah satu alasannya manusia cendrung
memuja kekuasaan. Dengan demikian, sebagaimana kata Popper itu, maka akar
persoalan hanyalah persoalan perebutan kekuasaan dan kepentingan terhadap
kekuasaan, teks agama bagaimanapun pada akhir dalam pikiran dan kehendak
manusia sudah berada pada persoalan kepentingan terhadap kekuasaan dalam diri
manusia itu sendiri. Dialog atau apa pun usaha yang dilakukan ketika manusia
sudah jadi bebal dalam ritus penyembahan terhadap kekuasaan maka tidak ada
artinya. Di belakang semua itu ada kepentingan-kepentingan ekonomi yang menjadi
frame dari sebuah gerak politik kekuasaan, penindasan dan tindak kekerasan yang
terjadi tidak lebih dari persoalan sederhana saja yakni perebutan lahan
perekonomian dan perdagangan, dan agama pada akhirnya hanya jadi kambing hitam.
Mengapa agama jadi kambing hitam, adalah pertanyaan yang mengungkapkan
bahwa ternyata agama menganjurkan pengikutnya untuk tidak dapat membiarkan
adanya tindakan ketidakadilan, penindasan dan kekerasan terjadi. Dengan
demikian teks agama dianggap berbahaya bagi para pemuja kekuasaan dan ekonomi
(apakah kaum materialis atau kapitalis), maka agama juga dijadikan alasan bagi
para pemuja kekuasaan. Manusia dalam keadaan bebal seperti ini jelas tidak ada
titik temu, pintu cahaya sudah tertutup, tidak ada artinya dialog, dan
manusialah yang menjadi tiran atas nama agama, persoalan-persoalan konflik
dunia berhadapan dengan jalan buntu seperti ini.
Adapun yang memberikan gambaran kekerasan terhadap agama adalah pemeluk
agama itu sendiri, manusia yang menganut agama itu sendiri, padahal agama itu
sangat lembut, penuh kedamaian dan keselamatan. Betapa naifnya manusia mamahami
teks ajaran agama, karena bagaimana manusia menjadikan teks agama jadi
pemahaman kekerasan yang bertentangan dengan ajaran keselamatan dan kedamaian
teks agama itu sendiri sebagai keyakinan yang tak tergoyahkan.
Sebagaimana kata sutradara Iran, Mohsen Makhmalbatf yang dikutip Marseli
(1992), kebenaran itu ibarat kaca yang pecah, setiap orang mendapatkan
pecahannya. Kemudian yang terjadi adalah setiap orang mengatakan pecahan
kebenaran yang ada di tangannyalah yang dianggap kebenaran yang sesungguhnya.
Tragisnya, manusia saling menikamkan pacahan kaca itu ke tubuh sesamanya, di
samping amat sedikit yang mau mempertemukan pecahan sehingga membentuk suatu
unity universal. Kaca tidak salah yang salah adalah manusianya yang tidak mampu
memahami dan gagal bertarung dengan dirinya sendiri, jika sejarah manusia
merupakan sejarah politik kekuasaan dan ekonomi maka sejarah manusia
sesungguhnya merupakan sejarah kekalahan, kekalahan terhadap dirinya sendiri.
*Penulis adalah dosen Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra
Universitas Andalas Padang
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Know an art & music fan? Make a donation in their honor this holiday season!
http://us.click.yahoo.com/.6dcNC/.VHMAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/