http://www.padangekspres.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=6719



      Perubahan, Problematika dan Agama
      Oleh Nelson Alwi
     
            Rabu, 14-Desember-2005, 01:39:21    
     
     
            REFORMASI bergulir mengecewakan. Masyarakat (ke)banyak(an) 
dirongrong berbagai penyimpangan berkedok perbaikan secara cepat dan terkadang, 
begitu mengejutkan. Pada titik tertentu, perubahan atau penjungkirbalikan 
tujuan dimaksud cenderung memperparah ketegangan (gap oriented) antara 
permasalahan transendensi dengan kepedulian masyarakat terhadap keyakinan 
maupun lingkungannya. 
     
     

      Ya, perubahan yang cepat lagi mengejutkan menawarkan sejumlah tantangan, 
terutama sekali dalam dan untuk menetapkan standar moral sehubungan dengan 
perilaku manusia yang, mau tidak mau, selalu terlibat dalam proses 
keberadaannya selaku umat beragama. Sementara identifikasi keyakinan menyangkut 
kerangka perilaku, jelas, merupakan persoalan yang tak mungkin lepas dari 
perubahan itu sendiri. Sekecil apapun, perubahan tersebut dipandang dari dan 
berdasarkan faktor-faktor yang menyebabkan mencuatnya sosok kekurangmoralitasan 
produk akhirnya. 

      Berbagai permasalahan yang mengemuka, sebagai produk akhir sebuah 
transformasi-reformasi, memang teramat pelik dan memiriskan. Keamburadulan 
politik, krisis demokrasi dan kemanusiaan, ketidakstabilan ekonomi dan kian 
beratnya beban atau tekanan hidup rakyat kecil, meroketnya pertambahan penduduk 
miskin (berikut praktik-praktik pemiskinan terselubung) dan pengangguran di 
samping yang tak kalah penting, tidak kunjung tuntasnya kasus-kasus seperti 
korupsi, kerusakan dan pengrusakan lingkungan (illegal logging), kontinuitas 
konflik di sejumlah tempat, dan kentalnya ketergantungan penyelenggara negara 
kepada kaum kapitalis-materialistis. 

      Sementara masyarakat pada umumnya telah cukup paham, bahwa persoalan 
-yang barangkali tepat disimpulkan sebagai- kemiskinan serta kezaliman tak bisa 
diatasi hanya dengan menunjukkan air-muka penuh perhatian dan keprihatinan 
(monotone attitude). Pengertian mendalam terhadap asal-muasal kemiskinan dan 
struktur yang melanggengkan kezaliman akan menyebabkan masyarakat berhadapan 
muka dengan kesimpangsiuran penafsiran fungsi kekuasaan berikut 
kompleksitas-trasformasi kezaliman dalam aneka situasi dan kondisi. 

      Dengan demikian memang menjadi menarik menalitemalikan kondisi negara 
dewasa ini dengan implementasi keagamaan warganya. Atau dengan kata lain, cukup 
relevan rasanya mengamati realita kehidupan spiritual masyarakat yang ngotot 
mengecam paham anti-agama di tengah problem yang mengharu-biru bangsa sekarang 
ini. Bagi sebagian orang, implementasi (ke)agama(an) cenderung bias, dan 
berlebihan. Seolah segala macam aktivitas keagamaan masyarakat saat ini baru 
menemukan kesahihannya bila telah (di)sejalan(kan) dengan prinsip-prinsip 
kebersamaan -yang salah kaprah. Di banyak tempat zikir atau ritual keagamaan 
yang hakikinya bersifat personal (hablumminallah) diorganisasi dan 
dimobilisasi. Di samping itu, tidak sedikit pemuka agama teperdaya (atau 
diberdayakan?) untuk memihak sehingga, terkadang tak segan-segan memanipulasi 
"sesuatu" yang belum jelas. Tidak pula terhitung pejabat yang maling di kantor 
namun tampak sangat khusyuk beribadah di depan umum. 

      Artinya, kesulitan dalam mengantisipasi perubahan yang telanjang lagi 
mengejutkan, niscaya dapat melahirkan pengaruh serta relevansi yang tidak 
menentu: kekakuan dan kegalauan, yang menyodorkan kompleksitas proses 
transformasi sosial kemasyarakatan yang bersumber pada kegagalan (pemuka) agama 
dan keyakinan dalam membimbing penganut atau pemeluknya. 

      Sebagian anak bangsa bisa jadi gagal dalam rangka memberikan arti 
keberadaannya di muka bumi ini, sebab keterlibatan mereka selalu saja menjurus 
kepada relevansi kemasalampauan (stagnant). Dan sebagai alternatif yang lebih 
buruk, mereka akan terjungkal dan masuk ke lingkar permasalahan yang 
betul-betul membingungkan. Suasana dan kondisi seperti itu besar kemungkinan 
akan menimbulkan kekacauan, kefrustrasian, kegoncangan, keterasingan dan 
bahkan, memancing timbulnya sikap keras reaksioner berlatar "konsep" keagamaan 
-yang sesungguhnya sangat luhur. 

      Berdasarkan fakta lapangan, militansi kelompok yang kritis-radikal 
mencermati permasalahan sebab-akibat dekadensi moralitas dan degradasi agama 
dengan kacamata kuda, lempang. Mengantisipasinya secara ekstrem, karena 
semata-mata bertumpu kepada norma-norma serta tolok ukur kelaziman. Menariknya, 
keberadaan aliran keagamaan bersifat temporal yang nyaris tanpa bentuk dan 
entah bersarang di mana, yang seringkali dituding berdiri di belakang layar 
konflik antargolongan, antardaerah, antaretnik dan lain-lain sebagainya, 
berimbas ke institusi-institusi resmi seperti pondok pesantren dan (alumni) 
santrinya. Secara berlebihan (over acting), sekian pondok pesantren, santri 
maupun alumninya dicurigai. 

      Memang, wujud reaksi ataupun kekerasan sepihak (pressure of majority) 
berupa aksi terorisme maupun tindakan anarkis yang selalu marak menghiasi 
kehidupan sehari-hari negeri tercinta ini cenderung semakin dominan bilamana 
keyakinan atau agama sudah kehilangan kemampuan untuk merespons segala macam 
aktivitas dan kreativitas yang erat kaitannya dengan perubahan. 

      Tapi persoalannya sekarang adalah, penganut agama atau keyakinan manakah 
yang sanggup mempertahankan eksistensi atau kekuatannya di tengah 
keterpencilannya dari perubahan berikut problematika kemiskinan dan kezaliman 
-yang merambah dan menyelimuti berbagai ruang kehidupan: science, sosial, 
politik, ekonomi, hukum dan lain sebagainya- di dunia yang didiaminya? 

      Kapan dan di mana pun, pengekspresian kebenaran transenden yang kekal dan 
sarat makna menjadi penting. Dan sudah barang tentu, kita yang mengaku punya 
agama atau keyakinan senantiasa dituntut meluangkan waktu untuk merenungkan 
berbagai arti perubahan yang dialami dari masa-ke-masa. 

      Manusia tidak akan survive bilamana nilai-nilai keagamaan tidak segera 
diaktualisasikan. Sementara itu, pengaruh segi-segi tradisionalisme yang selama 
ini dipandang menjadi legitimator kebenaran dengan sendirinya pun harus pula 
ditanggalkan. Agama atau keyakinan, sebagaimana diketahui, toh memiliki potensi 
dan pengaruh (dynamic functions) untuk menginterpretasikan, menyusun kembali 
nilai-nilai, norma-norma maupun tujuannya dalam mengukuhkan struktur pengertian 
hidup yang dicita-citakan. 

      Ya, agama adalah segala-galanya bagi umat manusia. Sebagai pedoman dan 
tolok ukur penilaian terhadap perbuatan kita. Sebagai petunjuk atau ilham yang 
berfungsi menuntun manusia ke arah suatu kebenaran transenden. Sebagai 
satu-satunya jalan atau alternatif menuju kemaslahatan umat manusia, dunia wal 
akhirat. Sementara praktik (ke)agama(an) yang baik dan benar akan berperan 
sangat besar dalam rangka mengartikulasikan kerinduan manusia terhadap makna 
hidup yang sesungguhnya. Makna hidup yang lebih memadai lagi berdinamika, dan 
penuh harapan-harapan bersifat transendental. 

      Nah. Apabila kemudian keyakinan itu sendiri berkembang menyejajari 
perubahan yang sedemikian cepat bersama tampilnya kepemimpinan tokoh yang 
berwawasan dan berpandangan jauh ke muka di tengah proses perubahan, tentulah 
agama yang dianut akan memainkan peranan maha penting dalam memenuhi arti 
keberadaan dan tujuan hidup kita selaku umat manusia. 

      *Penulis adalah Pemerhati/pelaku seni budaya, tinggal di Padang 


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Know an art & music fan? Make a donation in their honor this holiday season!
http://us.click.yahoo.com/.6dcNC/.VHMAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke