Propasar atau Propublik? 
Dita Indah Sari
http://kompas.com/kompas-cetak/0512/12/opini/2278258.htm

Setelah lama ditunggu, Presiden akhirnya melakukan perombakan Kabinet
Indonesia Bersatu.
Penantian, keraguan, dan harap-harap cemas dari sejumlah unsur
masyarakat sudah terjawab di Gedung Agung, Yogyakarta. Pertanyaan yang
layak diajukan kemudian tentulah: apakah pilihan dari Presiden ini
akan menjawab persoalan?

Visi sejati Presiden
Reshuffle atau perombakan kabinet kali ini membuka secara terang
benderang visi ekonomi Presiden yang sesungguhnya. Meskipun dalam
disertasi doktornya (juga dalam berbagai kesempatan) Presiden kerap
menyatakan pentingnya revitalisasi sektor pedesaan, orientasi sejati
dari model ekonominya adalah ekonomi pasar bebas atau yang kita kenal
dengan istilah neoliberalisme. Sebenarnya kecenderungan ini telah
tampak 14 bulan lalu saat kabinet pertama kali dibentuk. Namun,
sebagian masyarakat pada waktu itu masih memiliki ekspektasi yang
cukup tinggi terhadap presiden baru untuk dapat menjalankan kebijakan
yang lebih populis dan prorakyat. Rakyat menanti-nanti terobosan
kebijakan dari presiden, terlepas dari orientasi proneoliberal dari
kabinetnya.

Empat belas bulan berlalu tanpa terobosan dan alternatif kebijakan
yang dinanti publik. Dan Presiden, dalam perombakan kali ini, kembali
memercayakan pengelolaan ekonomi nasional kepada sejumlah nama dengan
prinsip dan pilihan model ekonomi yang serupa. Meskipun kepentingan
untuk tetap mengakomodasi Golkar sangat tampak dalam perombakan
kabinet kali ini, itu tidak mengaburkan sama sekali fakta bahwa
Presiden memiliki dan meyakini prinsip ekonomi yang sama dengan tim
ekonomi lama maupun baru.

Masuknya Boediono, mantan Menteri Keuangan di era Megawati, memberi
catatan tambahan bagi perombakan kali ini. Tidak bisa dimungkiri bahwa
kekalahan Megawati dalam Pemilu 2004 banyak disumbang oleh kegagalan
kebijakan ekonominya dalam memenuhi ekspektasi wong cilik. Ini
merupakan bukti bahwa pilihan strategi dan model ekonomi kabinetnya,
dengan pendekatan yang sangat propasar pada waktu itu, ternyata tidak
mampu menyediakan solusi. Privatisasi, pengurangan subsidi, serta
liberalisasi perdagangan dan keuangan telah mengakibatkan bertambahnya
kesulitan hidup rakyat banyak dengan berbagai kenaikan harga dan
meluasnya kebangkrutan industri dalam negeri. Pesan politik inilah
yang disampaikan oleh rakyat dengan tidak memilih Megawati dalam
Pemilu Presiden 2004.

Pengangkatan Boediono sebagai Menteri Koordinator Perekonomian ini
kelihatannya hanya akan mengulangi langkah-langkah kebijakan yang sama
dengan pemerintahan lalu. Seingat saya, dalam era Megawati tak ada
upaya serius soal pengurangan atau moratorium utang meski beban
terbesar dalam anggaran negara adalah pada porsi pembayaran utang luar
dan dalam negeri. Hampir 40 persen dana APBN mengalir ke
lembaga-lembaga keuangan internasional ataupun ke bank-bank swasta
yang telah didivestasi. Namun, solusi ini diabaikan tim ekonomi waktu itu.

Meskipun Ketua Bappenas pada masa itu, Kwik Kian Gie, berkeras agar
dilakukan penarikan terhadap dana rekapitalisasi sebelum bank-bank itu
dijual dan atau minimal me-nol-kan bunganya, lagi-lagi tim ekonomi
mengabaikannya. Alhasil, hingga kini pemerintah harus mengeluarkan
dana triliunan rupiah setiap tahun untuk menyubsidi bank- bank swasta
besar. Tim ekonomi dan menteri keuangan pada waktu itu justru
menganggap privatisasi sebagai solusi paling ideal demi menambah
besarnya setoran dana ke APBN serta perbaikan kinerja perusahaan tersebut.
Maka, ke depan, jelas harapan perubahan berupa terobosan dan
alternatif kebijakan ekonomi tidak akan terjadi. Subsidi akan tetap
dipangkas agar tersisa cukup banyak dana untuk membayar utang luar dan
dalam negeri. Dan, kesimpulan terpenting adalah Presiden tidak belajar
dari masa lalu.
Propasar dan propublik
Pemilihan Boediono dan tim ekonomi lainnya didasarkan juga atas
pertimbangan positifnya penerimaan pasar dan pelaku ekonomi terhadap
figur ini. Dengan respons pasar yang positif, aktivitas ekonomi
diharapkan dapat berputar kencang. Namun, definisi pasar sudah
direduksi sedemikian rupa.
Pelaku pasar adalah segelintir pemain ekonomi skala besar dengan
kepemilikan modal raksasa, dan bukannya puluhan juta pemilik UKM yang
terengah-engah mempertahankan diri saat krisis. Pelaku pasar, dalam
hal ini adalah investor asing dan para kreditor, dengan aset jutaan
dollar, dan bukannya jutaan petani yang menjerit karena melimpahnya
beras impor di pasaran. Pelaku pasar juga adalah pengusaha,
kadang-kadang sekaligus politisi, yang lebih suka menjadi agen para
pemodal asing ketimbang menjadi pengusaha yang kreatif dalam mengolah
tenaga produktif di dalam negeri. Pelaku pasar adalah para pemain dan
spekulan di pasar modal dan pasar uang. Mereka bukanlah kaum produsen
yang bekerja keras menghasilkan barang/jasa dan menciptakan nilai baru.
Maka, propasar tidak sama dengan propublik. Dalam banyak hal, propasar
justru bertentangan secara diametral dengan kepentingan rakyat.
Banyak kalangan mengira-ngira seberapa besar dominasi Jusuf Kalla
dalam perombakan kabinet kali ini. Di mana pun di seluruh dunia,
pembentukan kabinet adalah proses pertarungan politik dan kepentingan
ekonomi. Golkar, yang barusan memberi award kepada Soeharto, kembali
menjadi pemenang dari pertarungan ini. Namun, pukulan paling telak
sesungguhnya adalah bahwa Presiden sepertinya ingin memberi pesan
kepada kita, rakyat, bahwa pasar bebas dan sistem ekonomi neoliberal,
dengan IMF, WTO, dan Bank Dunia-nya, adalah solusi ideal bagi masa
depan kita, orang-orang miskin di republik ini.
Dengan pesan ini, bagi saya, Presiden telah mengubur harapan perubahan
yang ia janjikan sendiri.
Dita Indah Sari Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik dan Front Nasional
Perjuangan Buruh Indonesia






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Know an art & music fan? Make a donation in their honor this holiday season!
http://us.click.yahoo.com/.6dcNC/.VHMAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke