Betul, suara Golput memang bervariasi. Fluktuatif namun cenderung meningkat di setiap pemilu, baik nasional maupun pilkada.
Peningkatan ini tentu saja akibat dari keadaan yang diterima masyarakat. Keadaan yang menimbulkan ketidakpercayaan kepada para calon yang kurang meyakinkan. Ambil contoh 3 pilkada mutakhir yang fenomenal. Pada pemilihan gubernur di Sumatera-utara angka golput bahkan mencapai 63%. Di Jawa-barat, golput juga mengalahkan semua kandidat dengan angka 35%. Sedangkan di DKI 2012, angka golput justru menurun menjadi 37% pada putaran pertama dan menurun lagi menjadi 32% pada putaran kedua. Disadari atau tidak, suka atau tidak, Golput menjadi barometer kepercayaan rakyat terhadap calon pemimpinnya. Tetapi, lebih penting dari itu, pemilih suara abstain / golput adalah rakyat juga, manusia juga. Suara mereka wajib diterima sebagai suara rakyat juga, dan bukan didiskriminasi seenaknya menjadi 'suara rusak' atau 'tidak sah'. Jelas dan gamblang bahwa sistem pemilu yang diagul-agulkan sebagai etalase demokrasi di seluruh dunia pada kenyataannya hanyalah ajang pembantaian suara rakyat - yang konon katanya adalah "suara tuhan". Bagaimana tidak, jangankan pemilih abstain / golput, pemilih yang memberikan suara kepada gacoannya pun lagi-lagi ditinggalkan segera setelah pemilu usai. Semakin jelaslah bahwa sistem pemilu yang bersemboyan the winner takes all (apalagi kalah dari golput tapi tetap menang!) hanyalah penghalusan terang-terangan dari tirani minoritas. Selamat berakhir pekan. --- iwamardi <iwamardi@...> wrote: > Berkali kali didalam pemilu di Indonesia , segolongan warga (yang > jumlahnya tidak sedikit, kadang kadang lebih dari 30 % ! ) yang > berhak memilih, mempraktekkan protes dengan bergolput karena merasa > tidak ada satupun para calon2 partai atau perseorangan yang bisa > diharapkan akan membawakan perbaikan nasib mereka . > > Berdasarkan pengalaman mereka, para calon , entah caleg , cakeda, > cagub sampai ke capres pada umumnya hanya terdiri dari para > pengobral janji, penjala suara warga untuk kepentingan pribadi dan > kroni. > Dalam periode perkembangan politik yang sangat runyam, sangat ambur > adul di Indonesia sekarang ini , tidak gampang begitu saja > menilai,apakah bentuk perjuangan golput sebagai protes, artinya > perjuangan extra parlementer ini, benar atau salah ! > Golput bukanlah sesuatu yang absolut, tetapi sesuatu bentuk > perjuangan yang flexibil, yang relatif terhadap- dan tergantung > 100% kepada- waktu, situasi dan kondisi ! > Golput bukan sesuatu yang "bagaimanapun, dalam keadaan apapun" > harus mutlak dijalankan disetiap pemilu di Indonesia saat ini ! > Ada saatnya dimana golput merupakan jawaban tepat untuk satu > pemilu, sebaliknya ada satu saat, diana golput merupakan reaksi > yang salah dan bahkan merugikan perjuangan dalam usaha memperbaiki > nasib warga bawahan (akar rumput) yang miskin. > > Dari semua faktor2 yang ada, faktor utama dalam mempertimbangkan > menggunakan atau tidak menggunakan senjata golput ini adalah : > apakah ada diantara semua calon2 yang diajukan partai2 atau > perseorangan itu calon atau calon2 yang sudah teruji dan terbukti > mempunyai tujuan yang jujur sepenuh hati melayani masyarakat umum > dengan bukti bukti komitment didalam rekaman jejak politiknya > selama ini ? > Atau punyakah dia/mereka (bekas2) borok dan kudis dikulit kariernya > yang ditutup tutupi untuk menipu warga pemilih ? > Jika memang tak ada satupun calon yang memenuhi syarat, bahkan > sudah terbuktisemuanya mempunyai track record yang kotor dan busuk, > maka golput adalah salah satu bentuk protes yang betul dan > seharusnya dilakukan olen mayoritas pemilih, sehingga pemilu gagal > total karena tidak memenuhi quota jumlah pemilih . > Tetapi disatu saat, disatu sikon tertentu, dimana ada satu atau > beberapa calon yang diajukan partai atau perseorangan yang ber > rekam jejak bersih, jujur dan sudah terbukti mempunyai engagement > yang kuat untuk > melayani masyarakat bawahan dalam memperbaiki nasib mereka, maka > mempraktekkan golput didalam pemilu adalah hal/tindakan yang > meleset, hal yang salah sama sekali, sesuatu yang justru menghambat > atau menghalang-halangi suatu perubahan baru yang diperlukan secara > urgent dimasyarakat Indonesia dewasa ini. > Sebagai misal, (jika memang ada) menggunakan senjata golput > didalam pemilu gubernur DKI ( dimana ada Jokowi ) atau pemilu > gubernur Jabar (dimana ada Rieke D.P.) yang lalu adalah tidak > seyogyanya dipraktekkan, karena buat masyarakat bawahan justru > merugikan diri sendiri dan menguntungan para pengoblok oblok RI > kita yang tercinta ini, justru mengerem dan menghalang halangi > adanya perubahan2 baru di iklim politik tanah air saat ini, justru > memberi peluang kepada para koruptor untuk mengembangkan tentakel > tentakel penghisap kekayaan , keringat dan darah rakyat Indonesia ! > Pemikiran dan pertimbangan yang masak akan menggunakan atau tidak > menggunakan golput sangatlah penting dan diperlukan , sebelum > keputusan dijatuhkan, keputusan yang akan menunjang atau bahkan > justru menghalang halangi perubahan ke Indonesia baru ! > > Praktekkan bergolput, bila dengan begitu proses perubahan2 baru > akan menjadi "gut" ! > Janganlah bergolput, bila dengan begitu proses perubahan2 baru > justru akan menjadi "kaputt" ! > > ps. > Dari bahasa Jerman : > gut = baik, bagus. > kaputt = rusak. > > > iwa ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
