Apakah SBY sukses membangun toleransi antarumat beragama di Indonesia ? __________________________________________________________________________________ Kuwaiti royal prince Abdullah al-Sabah Islam adalah penyakit kanker ganas diperadaban dunia modern.
Kita jangan membenci Muslim, sebab mereka cuma korban. Mereka begitu karena nabinya. Mereka bejat dan jahat juga karena nabinya. Kita seharusnya merasa iba dan kasihan kepada Muslim. ---------- Forwarded message ---------- From: Daniel H.T. <[email protected]> Date: 2013/6/2 Subject: [mediacare] Pembohongan Internasional SBY (dalam pidato penerimaan World Statesman Award) To: Perspektif <[email protected]>, Mediacare < [email protected]>, TionghoaNet <[email protected]>, KompasCommunity <[email protected]>, Bhinneka Tunggal Ika < [email protected]> ** http://hankam.kompasiana.com/2013/06/02/pembohongan-internasional-sby--565364.html [image: 13701602952105460672] Karikatur Kompas, Sabtu, 1 Juni 2013 Perasaan mual langsung menerpa saya ketika membaca isi pidato Presiden SBY ketika menerima World Statesman Award dari Appeal of Conscience Foundation (ACF) di gedung yayasan Hati Nurani itu, New York, Amerika Serikat, pada Kamis, 30 Mei 2013 waktu setempat. Setelah menerima piala tanda penghargaan negarawan karena dinilai sukses membangun toleransi antarumat beragama di Indonesia dari mantan Menteri Luar Negeri AS, Henry Kissinger dan Presiden ACF, Rabbi Arthur Schneier, SBY pun menyampaikan pidatonya di hadapan seratusan tokoh yang diundang untuk menghadiri acara tersebut. Di antaranya tokoh-tokoh agama di Amerika Serikat. Bagaimana tidak merasa mual ketika membaca isi pidato SBY yang sangat bertolak belakang dengan kenyataan itu. SBY mengatakan, di bawah pemerintahannya dia sangat melindungi penganut agama minoritas, tidak ada tempat sedikitpun bagi kelompok intoleran yang mengatasnamakan agama melakukan tindakan anarkis terhadap kelompok minoritas. Semua akan berhadapan dengan hukum dan tindakan yang sangat tegas.. *Kami tidak akan menoleransi setiap tindakan kekerasan oleh kelompok yang mengatasnamakan agama. Kami juga tidak akan membiarkan penodaan tempat ibadah agama apa pun untuk alasan apa pun. Kami juga akan melindungi minoritas dan memastikan tidak ada yang mengalami diskriminasi. Kami juga akan memastikan siapa pun yang melanggar hak yang dimiliki kelompok lain akan menghadapi proses hukum,* kata Presiden SBY (*Kompas.com<http://nasional.kompas.com/read/2013/05/31/12270986/Pidato.SBY.di.AS.Tak.Ada.Ruang.bagi.Perilaku.Tak.Toleran> *) Menurutnya, pemerintahannya terus melakukan langkah untuk memastikan semua penganut agama hidup dalam kebebasan beribadah dan juga hidup secara berdampingan dalam persaudaraan. Ketika berpidato itu sesungguhnya SBY telah melakukan pembohongan internasional. Dia telah membohongi semua hadirin di acara itu. Antara apa yang disampaikan kepada hadirin di sana sangat bertolak belakang dengan kenyataannya. SBY selama 8,5 tahun memerintah sama sekali tidak melakukan perlindungan apapun ketika terjadi teror dan penindasan terhadap penganut agama minoritas oleh kelompok intoleran (yang dibeking pemerintah daerah setempat). Pemerintahan SBY justru terkesan kuat mengfasilitasi dan menurut apa maunya kelompok intoleran itu dalam memperlakukan warga penganut agama minoritas: menutup paksa dan menyegel gereja-gereja, membubarkan ibadah yang sedang berlangsung, mengusir warga penganut agama minoritas itu dari tanahnya, rumahnya, dan rumah ibadah mereka sendiri. Contoh nyata yang sampai hari ini masih berlangsung adalah apa yang terjadi dalam kasus GKI Yasmin. Yang jelas-jelas sudah ada putusan Kasasi Mahkamah Agung yang mengembalikan hak mereka atas gereja mereka untuk dipakai beribadah seperti biasa, sampai hari ini tidak bisa dilaksanakan karena pemerintah kota Bogor membangkanginya, dengan tetap menyegel gereja tersebut. Jemaat GKI Yasmin itu justru disuruh pindah, meninggalkan gerejanya itu yang diperoleh secara sah secara hukum. Presiden SBY diam seribu bahasa melihat terjadinya pembangkangan hukum seperti itu. Pada 21 Maret 2013, memenuhi kehendak kelompok intoleran, Pemerintah Daerah Bekasi, Jawa Barat, juga melakukan penggusuran paksa dengan cara merobohkan bangunan gereja jemaat HKBP Tamansari, Setu, Bekasi, dengan alasan gedung gereja itu tidak ber-IMB. Selanjutnya tanah milik jemaat HKBP Tamansari itu dilarang untuk dibangun gereja. Jemaatnya dipersilakan mencari lokasi lain dengan alasan warga tidak menghendaki mereka beribadah di situ. Karena tidak punya tempat ibadah, saban Minggu kedua jemaat gereja ini sering melakukan ibadah di depan halaman Istana, dengan maksud mengetuk nurani Presiden SBY untuk bisa bertindak tegas menjamin hak-hak mereka sebagaimana dijamin oleh Konstitusi (UUD 1945). Tetapi, selama ini SBY pura-pura buta dan tuli pancainderanya. Budayawan M. Sobary di Metro TV, Sabtu sore, 1 Juni kemarin dalam narasinya antara lain berkata, jika matanu tidak melihat dan hatimu tidak mendengar, maka gunakanlah hati nuranimu. Cara yang sangat jauh dari solusi, yang justru mengakomodir kehendak kelompok intoleran itu juga dialami oleh warga Sampang, Mandura, penganut Islam Syiah. Yang sudah Sembilan bulan terusir dari kampung halaman mereka sendiri oleh kelompok intoleran. Pemerintah bukannya melindungi hak asasi mereka untuk menganut kepercayaan mereka itu, dan menjamin keselamatan mereka di rumah mereka sendiri, tetapi malah ikut mengusir mereka, dengan melarang mereka kembali ke kampung halamannya itu. Katanya, kalau memaksa kembali, pemerintah tidak akan menjamin keselamatan mereka. Para pengungsi warga Syiah itu disuruh untuk pindah, keluar dari Madura. Bilamana perlu ditransmigrasikan! Solusi yang bukan solusi dari pemerintah selama ini dalam menghadapi kasus intoleran sangat menyederhanakan persoalan dengan mengakomodir kehendak kelompok intoleran itu, yakni memindahkan penganut agama minoritas itu jauh dari lokasi asalnya. Padahal, lokasi asal itu adalah milik mereka sendiri secara sah berdasarkan hukum yang berlaku. Menjelang jadwal penerimaan World Statesman Award itu, Presiden SBY juga tak terketuk hatinya, ketika korban penindasan agama, yang terdiri dari jemaah Syiah dan jemaat GKI Yasmin mendatangi kantor Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), guna menumpah-ruahkan segala tekanan bathin yang mereka rasakan selama ini kepada Presiden SBY. Sebagaimana dilaporkan *Jpnn.net*, 10 Mei 2013, <http://www.jpnn.com/index.php?mib=berita.detail&id=171404>seorang jemaat Syiah, Emili Renita, sambil menangis menyampaikan keluh-kesahnya. Perempuan berjilbab dengan busana muslim memanjang itu mempertanyakan pemerintah yang tidak memberikan perlindungan kepada sekitar 2 juta warga Syiah di Indonesia. Kami lahir dan tinggal di sini, kami warga Indonesia. Tidak bisakah kami mendapatkan perlindungan dan jaminan kebebasan berkeyakinan seperti warga Syiah di negara lainnya. Kami hanya harapkan itu dari pemerintah, ujar Emilia di depan anggota Wantimpres Albert Hasibuan yang menerima kedatangan kumpulan tokoh lintas agama di kantornya, Jakarta, Jumat, 10 Mei 2013. Saya memohon pada Presiden SBY. Kenapa kami tidak bisa hidup tenang seperti warga lainnya, keluhnya. Sedangkan, Jayadi Damanik, seorang jemaat GKI Yasmin mengaku sudah tidak tahan lagi menyaksikan Pemda Bogor, yang terus menekan mereka dengan menentang Konstitusi karena melawan putusan Mahkamah Agung. Setiap Minggu, dia bersama jemaat GKI Yasmin lainnya mengadakan doa bersama di depan Istana Negara, tetapi tetap tidak diperhatikan Presiden. Apa saya harus mati di depan Presiden SBY agar apa yang kami harapkan terpenuhi? Surat, tuntutan, unjukrasa tidak mempan. Mungkin kalau saya bunuh diri di depan Presiden, baru bisa dipenuhi kebebasan untuk kami! keluh Jayadi. Ia berharap Presiden memberikan ketegasan pada Pemda Jabar yang kukuh tidak memberikan izin pendirian gereja GKI Yasmin. Selain itu memberikan perlindungan pada jemaat, agar bisa beribadah di gereja dengan tenang tanpa mendapat intimidasi dari kelompok intoleran. Apapun yang terjadi, Presiden SBY dengan wajah sumringah telah menerima World Statesman Award, sebagai pimpinan negara yang berhasil menjamin dan melindungi hak-hak beribadah penganut agama minoritas di negaranya, membangun toleransi dan saling menghormati antarsesama umat beragama, dan sebagainya. Setelah menerima penghargaan itu, mulailah SBY berpidato, membohongi para pendengarnya. Di awal pidatonya, Presiden SBY terlebih dulu menyampaikan rasa duka citanya atas korban pembunuhan keji terhadap seorang prajurit Inggris di sebuah jalanan di kota London, Inggris. SBY juga menyampaikan rasa duka citanya kepada korban bencana tornado di Oklohama, dan terorisme di Boston, beberapa waktu lalu. *Saya juga merasa sedih atas terjadinya pembunuhan brutal terhadap seorang prajurit muda Inggris di London baru-baru ini. Atas kejadian ini, pada kesempatan berbincang dengan Perdana Menteri Inggris David Cameron, saya menyampaikan rasa duka cita sayatindak kekerasan seperti ini tidak memiliki tempat dalam agama manapun yang* *mencintai perdamaian.* Ketika tiga orang jemaat Ahmadiyah tewas di tangan kelompok intoleran di Cikeusik, Pandeglang, Jawa Barat, yang menyerbu rumah mereka, Februari 2011, dan dua orang jemaat Syiah tewas di Sampang, Madura, pada Agustus 2012, ketika desa mereka diserbu juga oleh kelompok intoleran yang mengatasnamakan agamanya itu, apakah Presiden SBY juga menyampaikan rasa duka citanya? Apakah ketika itu SBY juga ada mengeluarkan kecaman yang mengutuk secara langsung aksi barbar yang mengatasnamakan agama itu? Sama sekali tidak. Sampai hari ini juga tidak. *Konflik komunal beberapa kali masih terjadi, pertentangan akibat sensitivitas nilai agama masih juga ada. Radikalisme juga masih sesekali terjadi. Namun, saya percaya bahwa masalah ini tidak hanya dihadapi oleh Indonesia sendiri, tetapi juga merupakan fenomena global*, SBY melanjutkan pidatonya. Nyatanya, di Tanah Air, radikalisme atas nama agama bukan hanya sesekali terjadi, melainkan sering sekali terjadi, dan sesering itu pula SBY sebagai presiden hanya diam saja. Tidak ada kecaman, apalagi perintah langsung kepada aparat kepolisian untuk menindak tegas tanpa kompromi. Yang ada selama ini hanyalah pidato-pidato retorik normatif, seperti Indonesia adalah negara hukum, berasaskan pluralisme, dan sebagainya. Negara tidak boleh kalah dari kelompok anarkisme yang mengatasnamakan agama, adalah kalimat favorit SBY. Namun dalam praktiknya SBY malah membiarkan negara kalah berkali-kali dari kelompok itu. SBY mencoba menarik negara-negara lain untuk seolah-olah mengalami hal yang sama dengan Indonesia yang dimpimpinnya dalam menghadapi intoleransi, agar kondisi itu terkesan wajar. Padahal, tidak ada negara normal yang kondisi pemerintahannya sedemikian toleran terhadap kelompok intoleran seperti Indonesia di masa SBY sebagai presiden. Puncak kebohongan internasional Presiden SBY dalam pidatonya itu adalah ketika dia mengatakan sebagai Presiden selama ini dia tidak akan pernah mentolerir setiap bentuk kekerasan yang mengatasnamakan agama, dan bahwa dia selalu melindungi pemeluk agama minoritas dalam menjalankan keyakinan agamanya di Indonesia. *Bersamaan dengan kemajuan ke depan, kami tidak akan pernah mentolerir setiap bentuk kekerasan yang dilakukan oleh kelompok manapun dengan mengatasnamakan agama. Kami tidak akan membiarkan penodaan tempat-tempat ibadah agama manapun atas alasan apapun.* ** *Kami akan selalu melindungi kaum minoritas dan memastikan tidak ada yang terdiskriminasi. Kami akan memastikan bahwa mereka yang melanggar hak-hak orang lain akan diganjar hukuman yang setimpal.** * [image: 13701604821829370427] Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) diberi penghargaan World Statesman Award oleh mantan Menteri Luar Negeri AS, Henry Kissinger (kiri) dan Presiden Appeal of Conscience Foundation (ACF), Rabbi Arthur Schneier (kanan), di New York, Kamis (30/5). | AP / Jason DeCrow Di era SBY, dahulu dan sekarang apa yang dikatakan oleh SBY itu fakta yang terjadi adalah sebaliknya. Di masa akan datang pun tetap sangat diragukan janji-janjinya itu akan ditepati. Faktanya selama ini, nyaris tidak pernah para pelaku intoleran itu diproses hukum, apalagi yang dihukum dengan hukuman setimpal. Kalau pun ada yang diproses hukum, itu tidak lebih daripada basa-basi hukum, formalitas belaka. Contoh pada kasus penyerangan rumah milik jemaat Ahmadiyah di Cikeusik, Februari 2011, yang menewaskan tiga orang jemaat Ahmadiyah itu,hanya segilintir pelaku yang diproses huku. Itu pun divonis dengan hukuman yang sangat ringan. Mereka hanya dihukum beberapa bulan kurungan yang habis dipotong masa tahanannya. Dan, yang paling tidak masuk akal, salah satu korban penyerbuan itu malah ikut dihukum penjara oleh hakim dengan alasan karena ketika disuruh petugas kepolisian untuk meninggalkan rumahnya (karena ada yang hendak menyerang rumahnya berarti polisi sudah tahu sebelumnya), dia menolak, dan karena ketika diserang dia ikut balas menyerang sampai ada orang dari pihak penyerang menderita luka! Baca opini tentang kasus ini di *sini.<http://sejuk.org/kolom/hak-asasi-manusia/128-kebiadaban-ketololan-dan-kepengecutan-dalam-pengadilan-cikeusik.html> * SBY menutup pidatonya dengan sebuah nasihat, yang sejatinya sangat tepat ditujukan kepada dirinya sendiri. Dia menyampaikan kata-kata bijak itu dengan berkata, *Pada akhirnya, pemimpin yang baik adalah mereka yang berani berdiri di garis depan, dan memberikan sinar pengharapan untuk masa depan.**.* Pasti dia menjadikan dirinya sebagai teladan karakter kepimpinan seperti itu Kaum minoritas yang ditindas dan diteror oleh kelompok intoleran, yang dibeking pemerintah daerah setempat dan kepolisian itu sudah berkali-kali menangis sampai nyaris habis air matanya mengharapkan peran SBY sebagai Presiden pelaksana utama Pancasila dan UUD 1945, tetapi harapan itu tidaklah harapan. Kaum minoritas dan mereka yang perduli telah nasib kaum minoritas itu sudah benar-benar *hopeless*terhadap SBY. SBY sama sekali tidak kelihatan ketika benar-benar dibutuhkan. Apalagi berdiri di depan melindungi mereka. Maka, masa depan penganut agama minoritas yang ditindas kelompok intoleran itu terus saja hidup dalam tekanan, teror dan intimidasi. Tanpa pengharapan masa depannya. Kini, piala tanda penghargaan, World Statesman Award itu, sudah di tangan SBY. Dari mulutnya sendiri SBY telah menyatakan janjinya bahwa dia bertekad segera menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan kebebasan beragama dan toleransi di Indonesia. Di ruang River View, Hotel One, New York , Sabtu, 31 Desember 2013, waktu setempat, SBY mengadakan konferensi pers. Di situ dia berkata, penghargaan yang diterimanya itu justru menandakan masih banyaknya pekerjaan rumah (PR) yang harus diselesaikan di Indonesia. Khususnya dalam mengupayakan kebebasan beragama, dan mengukuhkan kehidupan bertoleransi antarumat beragama. Ini adalah cambuk untuk kehidupan yang lebih baik, kata SBY (*Jawa Pos*, Minggu, 02/06/2013). Semoga saja kata-katanya kali ini benar-benar bisa dipegang, karena selama ini para pemeluk agama minoritas yang sering dicambuk, diusir dari rumah ibadahnya dan rumah tinggalnya oleh kelompok intoleran dan pemerintah daerah setempat. Sedangkan pemerintah pusat di bawah SBY hanya diam, atau hanya beretorika. SBY harus segera membuktikan bahwa dia memang layak menerima penghargaan itu dengan mulai menyelesaikan tiga PR-nya terkini terlebih dahulu. Yakni, memerintahkan pemerintah kota Bogor agar mematuhi hukum dengan melaksnakan keputusan Kasasi dan PK Mahkamah Agung dalam kasus GKI Yasmin, mengembalikan hak asasi (beribadah) dan hak hukum atas tanah jemaat HKBP Tamansari, Setu, bekasi, dan memulangkan dengan jaminan keselamatan penuh warga Syiah dari lokasi pengungsiannya ke kampung halamannya di Sampang, Madura. Apakah Pancasila masih sakti? Di tangan Presiden SBY-lah pembuktiannya di sisa setahun setengah lagi masa jabatannya ini. Mengutip lagi narasi budayawan M. Sobary di Metro TV tersebut di atas, yang mengatakan apabila engkau menerima sesuatu penghargaan yang sebenarnya engkau tidak berhak menerimanya, maka ayam dan bebek di hutan pun akan tertawa. *** Transkrip pidato lengkap SBY, dapat dibaca di *sini.<http://www.tribunnews.com/2013/05/31/pidato-lengkap-presiden-sby-saat-terima-world-statesman-award> * Artikel terkait: - *Berpikiran Sempit, Minus Etika, SBY Tetap Mau Menerima World Statesman Award<http://hankam.kompasiana.com/2013/05/18/berpikiran-sempit-minus-etika-sby-tetap-mau-menerima-world-statesman-award-561424.html> * - <http://hukum.kompasiana.com/2013/05/30/menilai-kepatutan-sby-menerima-world-statesman-di-mata-najwa-564428.html>Menilai Kepatutan SBY Menerima World Statesman Award di Mata Najwa<http://hukum.kompasiana.com/2013/05/30/menilai-kepatutan-sby-menerima-world-statesman-di-mata-najwa-564428.html> Berita terkait/terbaru: - *Ribuan Orang Minta Warga Syiah Sampang Diusir*<http://regional.kompas.com/read/2013/05/07/1342441/Ribuan.Orang.Minta.Warga.Syiah.Sampang.Diusir> - Warga Syiah Sampang Minta Pemerintah Kembalikan Hartanya<http://regional.kompas.com/read/2013/06/01/2106574/Warga.Syiah.Sampang.Minta.Pemerintah.Kembalikan.Hartanya> - Umat Syiah Sampang Ingin Lepas dari Tanggung Jawab Pmerintah<http://regional.kompas.com/read/2013/06/01/1741157/Umat.Syiah.Sampang.Ingin.Lepas.dari.Tanggungjawab.Pemerintah> [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
