Tekad saya dan istri saya untuk tidak melanjutkan pendidikan anak - anak di kota ini semakin kuat. Anak - anak TIDAK BOLEH terlalu lama sekolah di kota ini. Kami khawatir, sangat khawatir, jika anak - anak kami terlalu lama sekolah di sini, maka kelak mereka menjadi manusia - manusia yang lebih mementingkan hasil daripada proses.
Prestise menjadi sesuatu yang dianggap jauh lebih penting dibanding prestasi.Yang penting nilai besar, masalah prosesnya bagaimana ya masa bodo. Sebagai orang tua siswa, saya sangat amat miris ketika mendengar saat ujian negara, pengawas yang notabene dari departemen pendidikan di kota ini malah mendorong wali kelas agar "melakukan berbagai cara yang dianggap perlu" agar anak didiknya mendapat nilai sempurna. KONON, seorang pengawas bilang ke guru kelas 6 "Coba mohon dibantu semua murid nya agar mendapat nilai minimal 9 !" sang guru bingung, kemudian bertanya :"Maaf Pak, maksudnya dibantu itu bagaimana ?" dengan wajah gemes sang pengawas berkata :"Ya dibantu dong Bu ...masa sih tidak mengerti ... ya dikasih tahu agar jawaban - jawaban para murid itu benar sehingga nilainya bagus - bagus !" Mentalitas pengawas seperti ini sangat amat tidak terpuji. Dan berdasarkan pengalaman saya, hal ini juga pernah terjadi di Bandung. Saat ujian pengawas "memperbolehkan" siswa untuk mencontek, namun ... pada saat itu, siswa - siswa kompak berkata "Bapak, kami di sini dilarang mencontek oleh bu guru, dan kami selama ini diajari agar mengerjakan soal semampu kami, lebih baik nilai kami kecil tapi kami jujur daripada nilai kami besar namun hasil m,encontek " ( Konon, wajah pengawas pada saat itu merah karena malu dan ... sekolah anak saya saat di Bandung tetap bisa membuktikan bahwa nilai ujian nasionalnya bagus - bagus tanpa harus pakai cara mencontek. Hari ini perbuatan menghalalkan segala cara seolah menjadi hal yang biasa. yang penting hasil, lupakan proses. Yang penting kaya, lupakan bahwa uang ini adalah hasil korupsi. Yang penting dapat nilai "A", lupakan bahwa nilai itu hasil nyontek atau hasil membeli soal ujian atau hasil kerja guru nya. Pendidikan Indonesia yang seperti ini ; mau dibawa ke mana atuh anak bangsa ini jika sistem pendidikannya seperti ini ? Menteri nya sibuk menjadikan ujian nasional menjadi ladang proyek, para pungawa di departemen pendidikan berusaha untuk memperlihatkan "hasil gemilang" dengan cara mengatrol nilai para murid. Kepala sekolah dipandang gagal total jika murid - muridnya banyak yang mendapat nilai jelek. Banyak temen - temen saya yang menyelesaikan program "Master" dan berlagak lebay sok sibuk, padahal ternyata kuliah jarang masuk, dosen jarang masuk, tesis hasil nyontek, ujuk - ujuk aja jadi "Master Anu", lulus "S2". Banyak sarjana yang lulus dengan skripsi yang entah siapa yang mengerjakan, atau lulus karena banyak upeti dan ngasih ini itu ke dosen. sok .. rek dibawa ka mana atuh ieu teh ... dalam tahun ini saya menerima dua karyawan baru, S1 jurusan informatika dengan IP nyaris menyentuh angka 4. Namun bagaimana kualitas nya ? Saya sempet bengong bingung saat ini anak lulusan S1 Informatika tidak tahu siapa itu bill gate, nddak bisa nginstall YM, gagap saat disuruh buat blog yang cuman tinggal pakai tempelate, bingung saat PC nggak hidup -- padahal -- cuma gara - gara colokan kabel yang kurang masuk, jangankan buat program, untuk menjalankan aplikasi standard spreadsheet dan pengolah kata aja gagap ! Saya tanya : "Kok bisa sih nilai bagus tapi ngerjain yang kayak gini aja repot banget ?" Dan ... saya mangap saat mengetahui bahwa sangat amat banyak mahasiswa Informatika yang tidak punya notebook, nddak punya komputer, jarang main keyboard. Sok .. mau gimana bisa komputer, bagaimana bisa masuk jurusan informatika, tapi komputer nddak punya, bahasa inggris nddak bisa, kuliah jarang masuk, dosen sering tidak ada, tapi nilai ... IP nya nyaris 4 ! hadeh ... Sarjana dan pasca sarjana yang "rempong" kayak gini sungguh banyak jumlahnya di negeri ini. yang penting punya gelar, yang penting S2 ... masalah kemampuan dan pengetahuan itu nomor seratus empat puluh lima. yang penting keren. Di Bandung, di sekolah anak saya yang dulu, tidak semua anak dipacu dalam bidang studi. Yang pinter matematika ya silahkan, yang seneng musik ya dikembangkan, yang suka olahraga ya dibina, karena kita sama - sama berpandangan anak - anak itu apan unik. Nddak masalah si Fulan matematika nya selalu nggak bisa lebih dari 6 karena mungkin minatnya ada di bidang seni. Nddak masalah si anu nggak bisa nyanyi nddak bisa nari, tapi ternyata bakat nya ada di bidang eksakta . Sekolah itu apanan bukan Mc. D .. bukan kentucky fried chicken yang dituntut untuk menghasilkan ayam goreng yang sama dengan citarasa yang sama. Lha .. anak anak kita bukan ayam. Mereka adalah anak manusia yang diberi kelebihan dan kekurangan masing masing. Unik. Hasil ujian nasional anak saya yang paling besar masuk rangking 2 se kotamadya. Namun saya suka bilang sama teteh : "Nilai itu penting, ayah bangga, namun kamu juga nddak usah setiap hari di kamar melulu diantara tumpukan kertas atau melototin komputer melulu. Sekali - kali kamu main ..." (Anak saya malah jawap : Males ah, ngapain main, mendingan juga di rumah. belajar ) Anak saya yang kedua lebih seneng "bergerak". Futsal...berenang...tekwondo...dan saat belajar matematika, si kecil suka bilang "Males ah ! ngapain ngitung melulu !" ... Beberapa saat lalu, ada orang tua murid yang protes ke sekolah karena anaknya yang ABK (Anak Berkebutuha Khusus ) yang jelas - jela susah baca, susah nulis ...tapi di raport dapat nilai matematika 9 ! Orang tua itu bertanya "Bagaimana bisa anak saya dapat nilai matematika 9 ? Sang guru nddak bisa jawap. Dan hanya bisa bilang dalam hati "Bapak pengawas dari dinas pendidikan nasional meminta kami untuk mengatrol nilai ..." ... Indonesia adalah tanah air kita. Tumpah darah kita. Jika sistem pendidikan di negeri ini masih terus seperti ini, lantas ... anak - anak kita kelak mau jadi apa ? Banten, 17 Juni 2013. ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
