Lha dia sendiri nggak henti-hentinya bicara tentang "hasil"...

"Hasil" bisa duduk di lobby hotel berbintang...

"Hasil" bisa punya mobil merek apalah gitu.

Dan "proses" nya juga sungguh Islami: pakai fitnah, kayak ayub yahya, kayak 
Dipo, kayak rezameutia, kayak Hasan Basri dan  anggota FBTF (Front Bangsat 
Tukang Fitnah) yang lain.

--- In [email protected], "pinpinyuliansyah" <pinpinyuliansyah@...> 
wrote:
>
> Tekad saya dan istri saya untuk tidak melanjutkan pendidikan anak - anak di 
> kota ini semakin kuat. Anak - anak TIDAK BOLEH terlalu lama sekolah di kota 
> ini. Kami khawatir, sangat khawatir, jika anak - anak kami terlalu lama 
> sekolah di sini, maka kelak mereka menjadi manusia - manusia yang lebih 
> mementingkan hasil daripada proses.
> 
> Prestise menjadi sesuatu yang dianggap jauh lebih penting dibanding 
> prestasi.Yang penting nilai besar, masalah prosesnya bagaimana ya masa bodo.
> 
> Sebagai orang tua siswa, saya sangat amat miris ketika mendengar saat ujian 
> negara, pengawas yang notabene dari departemen pendidikan di kota ini malah 
> mendorong wali kelas agar "melakukan berbagai cara yang dianggap perlu" agar 
> anak didiknya mendapat nilai sempurna. 
> 
> KONON, seorang pengawas bilang ke guru kelas 6 "Coba mohon dibantu semua 
> murid nya agar mendapat nilai minimal 9 !" sang guru bingung, kemudian 
> bertanya :"Maaf Pak, maksudnya dibantu itu bagaimana ?" dengan wajah gemes 
> sang pengawas berkata :"Ya dibantu dong Bu ...masa sih tidak mengerti ... ya 
> dikasih tahu agar jawaban - jawaban para murid itu benar sehingga nilainya 
> bagus - bagus !"
> 
> Mentalitas pengawas seperti ini sangat amat tidak terpuji. Dan berdasarkan 
> pengalaman saya, hal ini juga pernah terjadi di Bandung. Saat ujian pengawas 
> "memperbolehkan" siswa untuk mencontek, namun ... pada saat itu, siswa - 
> siswa kompak berkata "Bapak, kami di sini dilarang mencontek oleh bu guru, 
> dan kami selama ini diajari agar mengerjakan soal semampu kami, lebih baik 
> nilai kami kecil tapi kami jujur daripada nilai kami besar namun hasil 
> m,encontek " ( Konon, wajah pengawas pada saat itu merah karena malu dan ... 
> sekolah anak saya saat di Bandung tetap bisa membuktikan bahwa nilai ujian 
> nasionalnya bagus - bagus tanpa harus pakai cara mencontek.
> 
> Hari ini perbuatan menghalalkan segala cara seolah menjadi hal yang biasa. 
> yang penting hasil, lupakan proses. Yang penting kaya, lupakan bahwa uang ini 
> adalah hasil korupsi. Yang penting dapat nilai "A", lupakan bahwa nilai itu 
> hasil nyontek atau hasil membeli soal ujian atau hasil kerja guru nya.
> 
> Pendidikan Indonesia yang seperti ini ; mau dibawa ke mana atuh anak bangsa 
> ini jika sistem pendidikannya seperti ini ?
> 
> Menteri nya sibuk menjadikan ujian nasional menjadi ladang proyek, para 
> pungawa di departemen pendidikan berusaha untuk memperlihatkan "hasil 
> gemilang" dengan cara mengatrol nilai para murid. Kepala sekolah dipandang 
> gagal total jika murid - muridnya banyak yang mendapat nilai jelek.
> 
> Banyak temen - temen saya yang menyelesaikan program "Master" dan berlagak 
> lebay sok sibuk, padahal ternyata kuliah jarang masuk, dosen jarang masuk, 
> tesis hasil nyontek, ujuk - ujuk aja jadi "Master Anu", lulus "S2".
> 
> Banyak sarjana yang lulus dengan skripsi yang entah siapa yang mengerjakan, 
> atau lulus karena banyak upeti dan ngasih ini itu ke dosen.
> 
> sok .. rek dibawa ka mana atuh ieu teh ...
> 
> dalam tahun ini saya menerima dua karyawan baru, S1 jurusan informatika 
> dengan IP nyaris menyentuh angka 4. Namun bagaimana kualitas nya ? Saya 
> sempet bengong bingung saat ini anak lulusan S1 Informatika tidak tahu siapa 
> itu bill gate, nddak bisa nginstall YM, gagap saat disuruh buat blog yang 
> cuman tinggal pakai tempelate, bingung saat PC nggak hidup -- padahal -- cuma 
> gara - gara colokan kabel yang kurang masuk, jangankan buat program, untuk 
> menjalankan aplikasi standard spreadsheet dan pengolah kata aja gagap !
> 
> Saya tanya : "Kok bisa sih nilai bagus tapi ngerjain yang kayak gini aja 
> repot banget ?" Dan ... saya mangap saat mengetahui bahwa sangat amat banyak 
> mahasiswa Informatika yang tidak punya notebook, nddak punya komputer, jarang 
> main keyboard. Sok .. mau gimana bisa komputer, bagaimana bisa masuk jurusan 
> informatika, tapi komputer nddak punya, bahasa inggris nddak bisa, kuliah 
> jarang masuk, dosen sering tidak ada, tapi nilai ... IP nya nyaris 4 ! hadeh 
> ...
> 
> Sarjana dan pasca sarjana yang "rempong" kayak gini sungguh banyak jumlahnya 
> di negeri ini. yang penting punya gelar, yang penting S2 ... masalah 
> kemampuan dan pengetahuan itu nomor seratus empat puluh lima. yang penting 
> keren.
> 
> Di Bandung, di sekolah anak saya yang dulu, tidak semua anak dipacu dalam 
> bidang studi. Yang pinter matematika ya silahkan, yang seneng musik ya 
> dikembangkan, yang suka olahraga ya dibina, karena kita sama - sama 
> berpandangan anak - anak itu apan unik. Nddak masalah si Fulan matematika nya 
> selalu nggak bisa lebih dari 6 karena mungkin minatnya ada di bidang seni. 
> Nddak masalah si anu nggak bisa nyanyi nddak bisa nari, tapi ternyata bakat 
> nya ada di bidang eksakta .
> 
> Sekolah itu apanan bukan Mc. D .. bukan kentucky fried chicken yang dituntut 
> untuk menghasilkan ayam goreng yang sama dengan citarasa yang sama. Lha .. 
> anak anak kita bukan ayam. Mereka adalah anak manusia yang diberi kelebihan 
> dan kekurangan masing masing. Unik.
> 
> Hasil ujian nasional anak saya yang paling besar masuk rangking 2 se 
> kotamadya. Namun saya suka bilang sama teteh : "Nilai itu penting, ayah 
> bangga, namun kamu juga nddak usah setiap hari di kamar melulu diantara 
> tumpukan kertas atau melototin komputer melulu. Sekali - kali kamu main ..." 
> (Anak saya malah jawap : Males ah, ngapain main, mendingan juga di rumah. 
> belajar )
> 
> Anak saya yang kedua lebih seneng "bergerak". 
> Futsal...berenang...tekwondo...dan saat belajar matematika, si kecil suka 
> bilang "Males ah ! ngapain ngitung melulu !"
> 
> ...
> 
> Beberapa saat lalu, ada orang tua murid yang protes ke sekolah karena anaknya 
> yang ABK (Anak Berkebutuha Khusus ) yang jelas - jela susah baca, susah nulis 
> ...tapi di raport dapat nilai matematika 9 ! Orang tua itu bertanya 
> "Bagaimana bisa anak saya dapat nilai matematika 9 ? Sang guru nddak bisa 
> jawap. Dan hanya bisa bilang dalam hati "Bapak pengawas dari dinas pendidikan 
> nasional meminta kami untuk mengatrol nilai ..."
> 
> ... 
> 
> Indonesia adalah tanah air kita.
> Tumpah darah kita.
> Jika sistem pendidikan di negeri ini masih terus seperti ini, lantas ... anak 
> - anak kita kelak mau jadi apa ?
> 
> Banten, 17 Juni 2013.
>




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke