Hijau mempunyai arti, jadi tidak perlu diragukan maksudnya.

From: Batara Hutagalung 
Sent: Thursday, June 20, 2013 2:48 PM
To: milis alumni SMA 6 ; milis paj ; milis parapemikir ; milis pemimpin teladan 
; milis pepicek ; milis proletar ; milis reformasi birokrasi ; milis temu eropa 
; milis wahana ; milis zamanku 
Subject: [proletar] Re: Bangsa Yang Kehilangan Martabat

  
Bangsa Yang Kehilangan
Martabat
 
Oleh Batara R. Hutagalung
Ketua Komite Utang Kehormatan Belanda (KUKB)
 
Pada 7 Juni 2013, di Stadion utama di Senayan, Jakarta, diselenggarakan
pertandingan sepakbola antara tim nasional Republik Indonesia melawan tim
nasional Belanda. Tim nasional Indonesia mengenakan kostum berwarna
Putih-Hijau,dan tim nasional Belanda mengenakan kostum nasionalnya berwarna
oranye. Menteri Pemuda dan Olahraga RI Roy Suryo juga hadir, dan turun ke
lapangan untuk menyalami seluruh pemain. Hasil akhir: Tim nasional Indonesia
kalah 0 – 3. Fakta di lapangan!
Pecinta sepakbola di seluruh dunia mengetahui peraturan internasional,
bahwa tuan rumah berhak menentukan warna kostum yang akan dikenakan oleh
timnya, baik itu sebagai klab atau tim nasionalnya. Dan tentunya untuk satu
bangsa, sebagai tuan rumah, adalah suatu kebanggaan untuk mengenakan kostum
nasional, yang warnanya biasanya sesuai dengan bendera nasional atau ciri-ciri
bangsanya.
Rakyat Indonesia mengetahui, bahwa warna kostum tim nasional Indonesia
adalah Merah-Putih, dan pecinta sepakbola di seluruh dunia mengetahui, bahwa
warna kostum tim nasional Belanda adalah oranye, sesuai dengan ciri-ciri
kerajaan Belanda, yaitu wangsa oranye (oranien).
Promotor yang mengatur pertandingan adalah perusahaan yang bernama Nine Sports. 
CEO Nine Sports mengakui, bahwa dia membuat kesepakatan dengan
Federasi Sepakbola Belanda (KNVB), di mana dia menyetujui tim nasional Belanda
menggunakan kostum dengan warna tim nasionalnya, yaitu oranye. Alasannya
semata-mata untuk tujuan komersial, yaitu mencari uang. Dia menyatakan, bahwa
tindakannya ini telah dikonsultasikan dengan pegurus PSSI.
Oleh karena itu, melihat fakta di lapangan sepakbola, secara kasat mata
terlihat oleh pecinta sepakbola, bahwa Belanda adalah tuan rumah di Stadion di
Jakarta. Baik komentator maupun pendukung timnas Indonesia tidak dapat
menyebutkan kalimat yang selalu diucapkan apabila timnas Indonesia berlaga,
yaitu mendukung TIM MERAH-PUTIH!
Kelihatannya ini adalah hal yang sepele, hanya suatu pertandingan sepakbola
antara dua negara. Namun apabila ditinjau lebih dalam, ini adalah masalah yang
sangat mendasar, ini adalah masalah martabat bangsa. Kemudian, apabila diteliti
lebih dalam lagi masalah yang ada antara Republik Indonesia dengan Kerajaan
Belanda, ini adalah masalah politik yang tidak diselesaikan selama lebih dari
62 tahun, sejak 17 Agustus 1950, yaitu sejak diyatakan berdirinya kembali
Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Masalahnya: Hingga detik ini, 2013, pemerintah Belanda tetap tidak mau
mengakui de jure kemerdekaan Republik
Indonesia adalah 17.8.1945. Untuk pemerintah Belanda, de jure kemerdekaan RI 
adalah 27 Desember 1949, yaitu ketika
dilakukan penyerahan kewenangan (soevereniteitsoverdracht)
dari pemerintah Belanda kepada pemerintah Republik Indonesia Serikat (RIS),
yang dipandang sebagai kelanjutan dari pemeritah Nederlands Indië (India 
Belanda).
Pengakuan CEO Nine Sports,
promotor yang mengatakan alasannya menyetujui Belanda menggunakan kostum dengan
warna yang sesuai dengan identitas bangsanya hayalah untuk mencari uang bukan
hanya sangat mengejutkan, melainkan sangat mengerikan untuk bangsa Indonesia:
Uang lebih penting dari MARTABAT BANGSA!
Merah-Putih adalah warna bendera nasional Republik Indonesia, dan juga warna
kostum tim nasional sepakbola. Kelihatannya, Belanda bukan hanya tidak mau
melihat bendera Merah-Putih, bahkan di lapangan sepakbolapun Belanda tidak mau
melihat warna Merah-Putih. Dengan menggunakan kostum nasionalnya, secara
simbolis Belanda menunjukkan, bahwa Belanda masih menjadi tuan rumah di
Indonesia. Oleh karena itu, kekalahan tim nasional RI 0 – 3 dari tim nasional
Belanda, juga berarti kekalahan bangsa Indonesia 0 – 3 terhadap Belanda:
Kekalahan di lapangan
sepakbola,
Kekalahan politis,
KEHILANGAN MARTABAT
BANGSA!.
 
Sikap yang ditunjukkan oleh CEO Nine
Sports ini adalah cerminan dari sikap banyak orang Indonesia pada saat ini,
yaitu tidak lagi peduli terhadap martabat bangsa. Sikap masyarakat seperti ini
memaparkan dengan gamblang kegagalan selama ini dalam upaya membangun
bangsa  (nation building) dan membangun jatidiri bangsa (character building), 
sebagaimana yang
dicita-citakan oleh para pendiri bangsa dan para pendiri negara.
Yang lebih memalukan lagi adalah, yang terlihat di lapangan sepakbola
–untuk mereka yang mengetahui peraturan internasional untuk sepakbola- bahwa
bangsa ini tidak mempunyai martabat, demi memperoleh uang!
Belanda, tanpa perlu mengucapkan atau menulis apapun, berhasil menunjukkan
kepada dunia internasional, bahwa: “Aku Tuan Rumah di Sini!” Belanda menunjukkan
kepada dunia internasional, bahwaBelanda tetap “berkuasa” di Bumi Nusantara.
Sampai detik ini, pemerintah Belanda tetap tidak mau mengakui de jure 
kemerdekaan Republik Indonesia
17 Agustus 1945. Semua lembaga tinggi/anggota lembaga tinggi di Republik
Indonesia mengetahui hal ini: Pemerintah Republik Indonesia, MPR RI, DPR RI,
DPD RI, Mahkamah Konstitusi RI, LEMHANNAS RI, demikian juga Legiun Veteran RI
serta sejumlah Angkatan ‘45, namun semua membiarkan sikap Belanda, dan tidak
satupun yang mempertanyakan hal ini.
Pada 16.8.2005 Menlu Belanda Ben Bot di Jakarta mengatakan, bahwa kini
(2005) pemerintah Belanda menerima de
facto proklamasi 17.8.1945. Artinya, sampai 16.8.2005, untuk pemerintah
Belanda, NKRI tidak eksis samasekali. Tidak satupun yang menanggapi penghinaan
besar terhadap martabat bangsa!
(pernyataan dan wawancara menlu Ben Bot, lihat:
http://batarahutagalung.blogspot.com/2013/02/menlu-belanda-kemerdekaan-republik.html)
Sangat aneh, apabila ada dua negara yang menyatakan mempunyai hubungan
diplomatik, namun negara yang satu tidak mengakui de jure negara yang lain. 
Pengakuan de jure adalah masalah martabat bangsa.
Pers nasional? Mungkin hampir semua juga mengetahui hal ini, tetapi hanya
media cetak yang memberitakan, namun tidak satupun media TV dan Radio yang mau
membuat tema ini menjadi tema untuk diskusi atau perdebatan. Kelihatannya untuk
media Tv dan Radio, martabat bangsa bukan tema yang menarik atau seksi untuk
dibicarakan!
 
Apakah bangsa ini telah
kehilangan martabat?
 
Apakah akan kita wariskan
kepada anak-cucu kita satu bangsa yang tidak bermartabat?
 
********
================================================
 
Beberapa berita Pers
mengenai pertandingan sepakbola RI vs Belanda
 
-------------------------------------------
 
Sumber: 
http://bola.viva.co.id/news/read/418977-promotor--indonesia-pakai-kostum-tandang-demi-uang
 
Promotor:
Indonesia Pakai
Kostum Tandang Demi Uang
"Kami juga
mencari uang," kata CEO Nine Sport.
 
Jum'at,
7 Juni 2013, 15:01 WIB
Marco Tampubolon, Rejdo Prahananda
 
VIVAbola
- CEO Nine Sport, Arif Putra Wicaksana selaku promotor pertandingan Indonesia
vs Belanda akhirnya angkat bicara terkait keputusan managers meeting yang
meminta skuad Garuda mengenakan kostum tandang di Stadion Utama Gelora Bung
Karno (SUGBK), Senayan, malam ini. Menurutnya, hal itu murni demi kepentingan
komersial. 
"Ini
memang ada sisi komersilnya. Kalau tidak ada, kasihan kami juga sebagai
promotor. Kami juga mencari uang," kata Arif saat ditemui para wartawan di
kawasan Senayan, Jakarta, Jumat, 7 Juni 2013. Arif menjelaskan, bahwa sejak
awal pihaknya memang telah menjalin kesepakatan dengan KNVB agar timnas Belanda
menggunakan kostum kandang saat tampil di SUGBK. Itu sebabnya, saat managers
meeting digelar jelang pertandingan, Belanda ngotot pakai kostum Oranje. 
"Kami
juga mencari uang. Sepakbola tidak sekadar olahraga tetapi ada unsur
entertainment (hiburan) di mana terdapat sisi nilai jualnya." 
Arif
juga menambahkan bahwa pihaknya sebenarnya sudah membicarakan hal ini dengan
pihak PSSI. Namun, dia berdalih, pergantian kepengurusan yang terjadi di
organisasi sepak bola tanah air itu telah membuat mereka kesulitan untuk
berkoordinasi lebih lanjut. 
"Semua
serba last-minute. Sementara Belanda sudah bawa kostum utama ke Indonesia. Ini
sudah sesuai dengan komitmen dari awal. Ini karena komunikasi dengan PSSI  
tidak maksimal lantaran mereka ganti
pengurus," beber pria berkepala plontos itu.
 
"Kalau
di manager meeting kemarin terus memaksakan Indonesia pakai kostum Merah Putih,
tentu Belanda keberatan karena mereka hanya bawa satu kostum kandang dan tidak
bawa kostum lain. Lantas siapa yang bayar logistik untuk bawa kostum tandang
Belanda?" kata Arif. 
Arif
juga menilai bahwa laga Indonesia vs Belanda hanya berstatus laga persahabatan.
Karena itu, tidak ada aturan yang mewajibkan tuan rumah menggunakan kostum
utama. "Berdasarkan aturan FIFA tak ada keharusan (Indonesia harus
mengenakan kostum utama). Tapi dalam masalah ini, kami tidak menyalahkan
siapaun," ujar Arif. (sj)
 
 
=============================
 
Sumber:
Bisnis Indonesia
http://www.bisnis.com/laga-indonesia-belanda-alasan-komersial-garuda-tanggalkan-merah-putih
 
 
LAGA
INDONESIA- BELANDA: 
 
Alasan Komersial,
Garuda Tanggalkan Merah Putih
 
Martin
Sihombing   -   Jumat, 07 Juni 2013, 18:00 WIB
 
BISNIS.COM,
JAKARTA--Presiden Federasi Sepakbola Belanda (KNVB), Michael van Praag, meminta
maaf kepada Indonesia karena Tim Garuda tidak bisa menggunakan kostum (jersey)
utama saat berlaga melawan Timnas Belanda di Stadion Utama Gelora Bung Karno
Jumat malam ini (7/6/2013).
"Kami mohon maaf kepada Indonesia karena
tidak bisa menggunakan jersey utamanya," kata van Praag di kantor PSSI
Senayan, Jakarta, Jumat (7/6/2013).
Van Praag datang secara khusus menemui Ketua
Umum PSSI Djohar Arifin untuk menyampaikan permohonan maafnya sekaligus
membahas konsep kerjasama yang akan dijalan PSSI dengan KNVB.
Ia mengatakan tidak ada maksud menghina
Indonesia terkait kesepakatan Timnas Indonesia yang harus mengalah menggunakan
kostum tandang.
"Bukan maksud kami menghina Indonesia.
Tetapi promotor telah melakukan kesepakatan dan kami hanya menyetujui,"
ujarnya yang dikutip Antara.
Dari kesepakatan tersebut, lanjut dia, timnas
"De Oranje" hanya membawa satu jenis kostum saja ketika datang ke
Jakarta.
Ia mengatakan hal ini murni kesalahan
komunikasi dari promotor pertandingan (Nine Sport) yang tidak berkoordinasi
dengan pihak PSSI sebagai federasi sepakbola nasional yang menaungi Timnas
Garuda.
"Kami hanya menjalankan kesepakatan yang
telah disampaikan promotor untuk mengenakan jersey oranye," tambahnya.
Sementara itu pihak dari promotor, Ceo Nine
Sport, Arif Putra Wicaksana, menjelaskan kesepakatan soal kostum ini dilihat
dari segi komersilnya.
Ia menjelaskan Timnas Belanda identik dengan
kostum warna oranye maka disepakati bahwa mereka tetap menggunakan kostum
tersebut sedangkan Timnas Indonesia mengenakan kostum putih hijau karena kostum
utama Timnas Indonesia yang berwarna merah hijau dinilai hampir mirip warnanya.
"Saya melihat dari segi komersilnya. Kita
di sini mau jualan kalau promotor tidak ada sisi komersilnya kan kasihan, kita
butuh cari uang. Sepakbola ini kan menurut saya bukan sekedar sport tetapi ada
entertainmentnya juga," jelas Arif.
Menurut Arif soal kesepakatan ini sudah
disepakati sejak tahun lalu.
"Kalau memang kemarin warnanya mau
diubah, siapa yang mau provide jersey-nya. Belanda bawa bajunya sesuai dengan
komitmen," ujarnya.
Ia menambahkan, "Ini kesepakatan diawal.
Tahu sendiri PSSI serba berubah-ubah. Saya deal sejak Desember tahun lalu dan
sekarang sekjen-nya sudah ganti tiga kali jadi komunikasinya tidak maksimal
antara sekjen pertama kedua dan ketiga.".
 
Editor
: Martin Sihombing

[Non-text portions of this message have been removed]





[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke