--- "ajeg" <ajegilelu@...> wrote: > > > Tiga hal juga. > > Pertama, masalah kostum ini (kalau memang jadi masalah) > sebenarnya sudah selesai sejak peluit kick-off timnas Belanda > vs timnas Indonesia berbunyi. Publik Senayan sangat sportif > mendukung permainan cantik. Harus diakui, sepanjang 45 menit > pertama tim Indonesia bermain bagus. Sangat bagus. Bisa > dipastikan ini tampilan terbaik timnas dalam 10 tahun terakhir. > Wajar 45 menit pertama tempik-sorak diberikan kepada timnas > Indonesia.
memang seolah terdapat ragam opini dan wacana terkait jersey, jika masih boleh dibahas. misalnya mereka yg lantas mengkaitkan dgn "fair-play" (untuk gk menyebut "aturan") yg jamak terjadi dalam etika sepakbola modern maupun "tradisi gk tertulis" ttg jersey. misalnya tuan rumah punya hak pilih duluan soal jersey dan umumnya mereka memilih seragam utama walau gk otomatis. toh pernah suatu ketika, milan klo gak salah, memilih jersey kedua atau tandang justru saat menjamu, juga memilih putih2 saat bertempur dgn liverpool pada di final champion 2007. namun gk sedikit pendapat yg gk ngaruh ato lantas sewot soal jersey belanda dan indonesia, mereka lebih menikmati pesona kehadiran tim runner up piala dunia 2012 + rangking 2 fifa. dan sepertinya tinjauan + sikap begini yg secara proporsional perlu diapresiasi terhadap eksebisi tsb, selain dahaga akan "sepak bola" yg semestinya diperagakan di bumi indonesia. > Sebaliknya, di kubu timnas Belanda, nyaris semua pemain bintang Belanda > terlihat frustasi dan kelelahan. Beruntung (ini bisa > dibilang keberuntungan Belanda), di puncak kelelahan mereka, > wasit meniup peluit tanda "water break", semacam time-out pada > basket yang mulai diperkenalkan dalam sepakbola. Tanpa water-break > ini bisa jadi kefrustasian pemain belakang Belanda bisa membuat > kengawuran mereka nendang bola (bbrpkali salah ngumpan), berlanjut. > Babak pertama berakhir imbang, 0-0. Kurnia Meiga si penjaga gawang > layak dapat bintang. Ada 4-5 kali dia menggagalkan "gol" van > Persie, 2 kali di antaranya dengan merebut bola langsung dari > sepatu Persie. soal "water break" juga menarik, rasanya belum pernah ada dalam laga resmi, pun saat sekaratnya brazil dan argentina di bolivia. > Sejak gol pertama Belanda di menit 60an, tempik-sorak penonton > praktis beralih ke timnas Belanda. Bukan karena Belanda bermain > lebih baik, tapi lantaran barisan belakang Indonesia mulai bermain > jelek. Dan akhirnya sorak-sorai menggelegar menyambut gol Arjen > Robben di menit terakhir, 3-0 untuk timnas Belanda. Publik > Senayan layak dapat bintang karena sportivitas dan dukungannya > terhadap permainan cantik. > > Itu fakta pertandingan yang tidak lagi mempersoalkan masalah > warna kostum. yep, memang seharusnya demikian .. walau sy milih gk nonton ;o) > Memang, peraturan FIFA cuma menyebut masalah prinsip perlengkapan > pemain. Dalam hal ini, warna kostum kedua tim pada prinsipnya harus > berbeda. Sedangkan teknisnya diserahkan masing-masing tim dan pihak > penyelenggara pertandingan. > > Tapi setiap pecinta sepakbola pasti tau bahwa dalam budaya > sepakbola ada tradisi-tradisi yang menyerupai etika atau malah > hukum tak tertulis. Untuk warna kostum misalnya, sudah menjadi > tradisi bahwa tim tamu memakai warna kostum yang berbeda dari > warna kostum utama tim tuan rumah. Atau biasa disebut, tim tamu > mengenakan change kit. nah, faktor inilah yg kusebut "etika" atau tradisi modern yg walau gk dipungkiri ada intervensi bisnis (merchandise maupun faktor apparel), tanpa menyampingkan esensi bernama identitas dan falsafah klub/negara. walau gk sedikit pula yg bermasalah internal misalnya logo judi di kostum yg bikin beberapa pemain risih memakainya, atau kontroversi saat barca memasang quatar. > Tim Belanda sudah barang pasti paham masalah ini. Tapi faktanya, > tim sebesar itu lebih suka berpola pikir kekanak-kanakan seolah > mereka tidak tahu warna kostum utama tim Indonesia. tentu gk bermaksud membela belanda (knvb), tapi dalam konteks eksebisi yg disponsori swasta dan murni bisnis, mereka rasanya patuh terhadap kontrak. maka isi kontrak itulah biang keroknya. > Fakta di luar pertandingan ini menjadi persoalan ketika pihak > promotor tidak minta ma'af kepada pecinta Merah-Putih dan malah > sesumbar kesepakatan soal kostum ini demi alasan komersil - > jualan merchandise Oranye. nah soal promotor yg otomatis profit oriented, mereka akan coba buat pembenaran dgn salah satunya memanfaatkan kelowongan aturan atau hukum, laws of the game versi indonesia yg memang gk ada. konon mereka sudah berkonsultasi teknis dgn pihak afc yg lantas merespon dgn "hanya" mengutus wasit internasional. artinya soal teknis termasuk hal jersey-pun dianggap approved dan no problem sekaligus menjadi pegangan mengikat. jikapun terdapat hal bisa dianggap gk pantas dalam pelaksanaan, adalah konfrensi pers ;o) > Padahal, fakta lapangan membuktikan, kakilima di seantero Senayan > saat itu cuma menjual kostum Merah-Putih berikut change kit-nya. > Tidak ada yang jualan kaos oranye, bahkan oranyenya Persija > sekalipun. So, publik Senayan mah persetan dengan promotor > sontoloyo. > Yang penting nonton pertandingan menarik. rasanya promotor memang untung besar secara finansial, termasuk ongkos "makan ati" karena kudu rela dicela ama petinggi pssi. > Hal kedua. Fakta sontoloyo inilah rupanya yang mengusik > nasionalisme Batara Hutagalung hingga merasa harus menulis > tentang hilangnya martabat sebuah bangsa - dalam pola pikir > gua tentu saja yang hilang adalah martabatnya bangsa sepakbola > yang paham tradisi tapi bersikap kekanak-kanakan :) ya sah saja terjadi ragam wacana dan polemik, termasuk oleh bro batara itu. namun jika ingin lebih konstruktif seharusnya bisa nampak dalam tulisannya, yg tersirat maupun fakta bahwa memang ada yg gak bener dalam sepak bola nasional menyangkut sistem hukum dan kelola, manajemen sampai teknis penerapannya. ketimbang lantas lebur oleh tulisan sendiri berkubang sejarah. > Nah, hal ketiga. > > Prol kelihatan menyedihkan selagi ada yang terusik nasionalismenya > eh si ambon jeplak yang tendensius anti terhadap lapangan hijau.. > penghijauan.. go green.. green & peace maupun green green green > ada speda... seolah dia begitu anti terhadap green green grass of > home. gak tau sepaham apa kebetulan, jangan2 si mbon bermaksud dapat impresi "green" yg lebih berkonotasi fulus hehee > Kenapa mbon?? > > Mbok cerita-cerita di sini kalo lagi kebelet sama green grass > di rumah sebelah mah. > > Ya kan duke? > > > --- "liver_duke" <endyonisius@> wrote: > > > kalo soal (sepak) bola, alarmku biasanya bunyi ;o) > > tapi tulisan ini bukan hal sepak bola, melainkan "pola pikir". > > > ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
