Mesir menghadapi krisis politik yang kompleks. Kudeta militer terhadap
Presiden Mohamed Morsi, dikhawatirkan menjadi inspirasi dan alasan bagi
kalangan Ikhwanul Muslimin untuk menempuh jalan kekerasan. Mesir dibayangi
atmosfer kekerasan yang panjang. Adakah jalan keluarnya?

Bagi kalangan Ikhwanul, penggulingan Morsi merupakan pukulan telak dan
penghinaan. Mereka belum lupa bahwa Barat belum bisa menerima kemenangan
demokrasi oleh Muslim.

Kasus Aljazair, misalnya, masih membayangi kaum Ikhwanul Muslimin, dimana
sekitar 200 ribu tewas dalam dekade perang saudara, setelah militer menolak
hasil pemilu yang dimenangkan kelompok Islamis. Ini sebuah contoh buruk dan
gelap bagi Mesir, setelah presiden Ikhwanul Muslimin digulingkan militer.

Bedanya, kelompok Islamis Aljazair tidak pernah diperbolehkan memerintah,
sedangkan Mohamed Morsi dari Mesir diperbolehkan berkuasa selama satu
tahun. Ada perasaan yang meluas bahwa ia sedang menulis sendiri nasib
malangnya , dan itu bisa jadi akan mencegah mereka yang ingin mengangkat
senjata untuk membelanya.

Sejauh ini kompleksitas masalah mencuat: pelengseran Morsi telah memecah
kelompok Islam yang mulai masuk ke politik pasca revolusi 2011. Ada yang
mendukung langkah militer, namun sebagian besar menentang kudeta militer
itu.

Kaum Muslim yang menggulingkan diktator Husni Mubarak, yang menindas mereka
selama puluhan tahun, telah tersudut dan sangat frustasi. Kudeta militer
membuat kelompok Islamis amat kecewa dan frustasi lagi.

Kelompol Islamis seperti Ikhwanul Muslimin dan bekas sekutu
ultrakonservatif mereka kini berisiko kehilangan pengikut, khususnya di
antara kaum muda, yang menyimpulkan bahwa eksperimen demokrasi Mesir telah
gagal dan bahwa politik damai tidak akan membuat mereka bergerak ke
mana-mana.

Bahkan penasihat keamanan nasional Morsi yakni Essam El-Haddad menulis
sebuah pesan perpisahan di Facebook, ”Pesan ini akan bergema di seluruh
Dunia Muslim dengan keras dan jelas: bahwa demokrasi bukan untuk kaum
Muslim”. Pernyataan itu menunjukkan demokrasi seakan tidak dapat
dimenangkan Muslim (Ikhwanul) dan jalan kekerasan seakan dibenarkan.

“Anda telah menciptakan Mujahidin baru, orang-orang yang ingin menjadi
martir. Ketahuilah bahwa jika satu dari sepuluh orang di sini nanti
meledakkan diri mereka dengan aksi bom bunuh diri, maka itu adalah karena
kesalahan Anda,” kata seseorang merujuk kepada Kepala Militer Jendral Abdel
Fattah al-Sisi, pemimpin kudeta militer di Kairo.

Ada kekhawatiran bahwa para pendukung Morsi akan berubah melakukan aksi
kekerasan karena militer membatalkan apa yang mereka lihat sebagai proses
demokratik yang sah.

“Adanya kudeta, membuat Mesir punya dua pilihan: akan menjadi Suriah, atau
akan menjadi Aljazair di era 90-an. Itulah alternatifnya. Itu akan
terjadi,” kata Mohamed Nufil, seorang pegawai pemerintah berusia 44 tahun
yang pro-Mursi ikut dalam demonstrasi di Kairo.

Para aktivis Al-Gamaa Al-Islamiya, yang melakukan sejumlah aksi paling
mematikan, telah mengatakan secara terbuka bahwa mereka akan mengangkat
senjata kembali untuk membela Morsi. “Karena tentara berani membunuh
demokrasi di Mesir, maka kami akan melawan mereka,” kata Mohamed al-Amin,
40 tahun, salah seorang anggota Gamaa, beberapa jam sebelum dekrit militer
untuk kudeta.

Kompleksitas masalah di Mesir pasca-kudeta akan lebih banyak diwarnai aksi
kekerasan dan perlawanan dari kaum Ikhwanul dan sekutunya. Islam politik
yang menginginkan penerapan Syariah Islam di Mesir, berhadapan dengan kaum
nasionalis liberal, kiri dan sekuler yang menghendaki negara nasional
dengan nilai-nilai agama yang bersifat hakekat, bukan Islam syariat.
Benturan ideologis ini membelah Mesir ke dalam dua kutub yang bertarung
itu: nasionalis versus Islamis.

Harus ada titik temu atau konsensus nasional bersama yang mampu
mensinergikan seluruh kekuatan sosial dan kekuatan strategis di Mesir itu
agar perbedaan menjadi rakhmat dan karunia, bukan kutukan, darah dan air
mata.

Mohammad SAW a Pedophile
Mohammad SAW anak wedus
______________________________________________________________________________________________________________________
______________________________________________________________________________________________________________________


Aku dan Bapa adalah satu." (Yoh 10:30)
Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa." (Yoh 10:34-38)
Yesus mengatakan bahwa Bapa dan Yesus adalah satu oknum

"Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kalimat
daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di
dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada
Allah)”.(QS.3:45)

*YESAYA 28:16*
16 sebab itu beginilah Firman TUHAN ALLAH: "Sesungguhnya, AKU meletakkan
sebagai dasar di Sion sebuah batu, batu yang teruji, sebuah batu penjuru
yang mahal, suatu dasar yang teguh: Siapa yang percaya, tidak akan gelisah!


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke