Catatan A. Umar Said
(tulisan ini juga disajikan dalam website
http://perso.club-internet.fr/kontak)
PERINGATAN 40 TAHUN TRITURA
DILIHAT DARI BEBERAPA SEGI
Perkembangan situasi politik di negeri kita dewasa ini (dan di masa datang
yang dekat) makin menarik untuk dicermati dengan teliti dan waspada, dengan
dilangsungkannya Peringatan 40 Tahun Tritura di Jakarta tanggal 5 Januari
2006. Seperti kita ketahui, Tritura (tiga tuntutan rakyat) adalah slogan
yang dikumandangkan oleh gerakan mahasiswa dalam permulaan tahun 1966 yang
berisi 3 tuntutan, yang intinya : bubarkan PKI, bersihkan kabinet
(pemerintahan di bawah Presiden Sukarno) dari menteri-menteri yang terlibat
G30S, dan turunkan harga.
Dilangsungkannya peringatan 40 Tahun Tritura ini sangat menarik kalau
dihubungkan dengan penghargaan Partai Golkar kepada Suharto berupa Anugerah
Bhakti Pratama dalam kesempatan peringatan 41 tahun Golkar (akhir November
2005). Berbagai tafsiran bisa diberikan kepada dua peristiwa tersebut.
Kedua peristiwa ini bisa diartikan bahwa kekuatan kubu anti Sukarno dan
anti-PKI ( terutama Partai Golkar, sebagian pimpinan TNI-AD) dalam peta
politik negeri kita dewasa ini merasa waktunya untuk gigi lagi, sesudah
dijatuhkannya Suharto oleh gerakan mahasiswa dari kedudukannya sebagai
Presiden, Panglima Tertinggi ABRI, dan ketua Dewan Pembina Golkar dalam
tahun 1998.
Peringatan 40 Tahun Tritura, yang dihadiri oleh banyak pembesar dan
tokoh-tokoh (yang umumnya adalah tokoh-tokoh utama zaman Orde Baru)
merupakan reuni dari mereka yang pernah beramai-ramai dalam tahun-tahun
1965-1966 mengadakan berbagai aksi dan gerakan (di bawah rekayasa atau
manipulasi pimpinan TNI-AD waktu itu) untuk menghancurkan kekuatan PKI dan
melumpuhkan kekuasaan politik Presiden Sukarno.Bahwa orang-orang Angkatan
66 (atau angkatan Tritura) mengadakan kegiatan untuk memperingati 40 tahun
dilancarkannya gerakan untuk membubarkan PKI (yang sudah didahului dengan
pembantaian jutaan orang-orang tidak bersalah di seluruh Indonesia, terutama
di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali) dan dimulainya aksi-aksi untuk
mengkhianati Presiden Sukarno, adalah hak mereka.
Tetapi hadirnya berbagai pejabat negara penting-penting dalam peringatan
tersebut patut dipertanyakan keabsahannya, dan juga pantas disayangkan.
Kehadiran mereka ini bisa ditafsirkan sebagai pertanda yang lebih jelas lagi
bahwa sebenarnya kekuatan Orde Baru masih cukup besar di kalangan eksekutif,
legislatif, dan judikatif negeri kita. Padahal, seharusnya Orde Baru sudah
harus gulung tikar dengan jatuhnya Suharto dari kekuasaan. Sebab, tidak
hanya Presiden SBY hadir dan bahkan mengucapkan pidato, tetapi juga
tokoh-tokoh pemerintahan lainnya, seperti menteri-menteri, Ketua Mahkamah
Agung Bagir Manan, Wakil Keua MPR A.M. Fatwa, Ketua Badan Pemeriksa Keuangan
Anwar Nasution, matan ketua DPR Akbar Tanjung. Juga hadir tokoh-tokoh
angkatan 66 lainnya, seperti Cosmas Batubara, Sofyan Wanandi, Taufik Effendi
dan Fahmi Indris
TIDAK MENGUNTUNGKAN REKONSILIASI DAN REFORMASI
Apapun alasan atau dalih yang bisa diajukan mengapa diadakan peringatan 40
tahun Tritura dewasa ini, jelaslah bahwa kegiatan ini sama sekali tidak
menguntungkan usaha-usaha untuk mengadakan rekonsiliasi nasional dan
reformasi. Peringatan ini hanya membangkitkan kembali banyak fikiran yang
serba negatif dan menghidupkan berbagai kenangan penuh kepedihan dan
kepahitan dari banyak kalangan dalam masyarakat tentang peristiwa 65.
Sebab, peristiwa 65 bukan hanya masalah terbunuhnya 6 jenderal TNI (oleh
orang-orang TNI juga yang tergabung dalam G30S), melainkan lebih luas dan
lebih besar atau lebih jauh dari itu ! Peristiwa 65 mencakup juga masalah
pembunuhan yang illegal dan secara sewenang-wenang terhadap banyak pimpinan
PKI di seluruh Indonesia, pemenjaraan ratusan ribu orang tidak bersalah,
pengkhianatan besar-besaran terhadap Bung Karno, persekongkolan dengan
musuh bangsa yaitu imperialsime AS.
Jadi, peringatan 40 tahun Tritura hanya menggugah kepedihan atau kesakitan
yang diderita oleh orang-orang yang telah menjadi korban kebiadaban dari
pimpinan TNI-AD (waktu itu) , baik yang dilakukan terhadap anggota dan
simpatisan PKI maupun terhadap Bung Karno serta para pendukungnya.
Peringatan 40 Tritura juga hanya menambah kebencian atau memperpanjang
dendam banyak orang terhadap pimpinan TNI-AD serta pendukung-pendukung Orde
Baru. Ini semua tidak menguntungkan usaha-usaha untuk menjalin rekonsiliasi
nasional dan juga menimbulkan hal-hal negatif untuk reformasi.
NEGARA SUDAH RUSAK !
Tetapi, peringatan 40 tahun Tritura ini juga ada hikmahnya , walaupun segi
negatifnya lebih menonjol daripada hikmahnya. Dalam pidato presiden SBY,
umpamanya, diakuinya secara terus terang bahwa hingga saat ini
peyelenggaraan negara belum mencerminkan tata pemerintahan yang baik dan
bersih (Kompas 5 Januari 2006) . Meskipun tidak dijelaskannya secara tegas
bahwa tata pemerintahan yang tidak baik dan tidak bersih itu sebenarnya
berlangsung sejak zamannya Suharto dan diteruskan oleh pemerintahan Habibi,
Gus Dur, Megawati dan sekarang oleh SBY, tetapi banyak orang sudah mengerti
bahwa banyak sekali kerusakan dan pembusukan yang kita saksikan dewasa ini
adalah justru warisan Orde Baru.
Suatu hal yang menarik juga ialah apa yang diucapkan oleh Anwar Nasution
(Ketua Badan Pemeriksa Keuangan-BPK) yang menjadi penasehat peringatan 40
tahun Tritura. Ia mengatakan :Betul yang dibilang Presiden Yudhoyono.
Penyelengaraan negara kita ini sudah rusak, terutama karena antara lain
krisis ekonomi 1997 dan korupsi.. Menurut dia krisis itu terjadi karena
hukum kita yang belum bagus. Akutansi juga masih lemah, baik di sektor
pemerintah maupun swasta. Nah, sistem itu yang harus diperbaiki, termasuk
juga pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme, atau KKN (Kompas, 5
Januari 2006).
Yang tidak tercermin dalam berita-berita pers ialah adanya otokritik atau
pengakuan salah (atau permintaan maaf) dari para hadirin peringatan 40
tahun Tritura itu atas berbagai kesalahan atau kejahatan terhadap Bung
Karno dan anggota-anggota dan simpatisan PKI dan para korban peristiwa 65
lainnya, yang telah -secara salah !!! dibikin menderita terus-menerus
selama 40 tahun.
SEJARAH LAHIRNYA TRITURA
Apa itu sebenarnya « Tritura » yang dikumandangkan menjelang akhir tahun
1965 ? Seperti sudah disebutkan di atas, Tritura adalah slogan gerakan yang
se-olah-olah timbul atas inisiatif dari kalangan mahasiswa/pemuda untuk
menuntut dibubarkannya PKI, dibersihkannya kabinet dari menteri-menteri «
kiri », dan diturunkannya harga.
Dari berbagai sumber sejarah, sekarang kita tahu bahwa gerakan pemuda dan
mahasiswa yang mengumandangkan slogan « Tritura » itu sebenarnya dimotori
oleh sebagian pimpinan TNI-AD di bawah Suharto. Tujuan akhir dari gerakan
ini adalah untuk melumpuhkan sama sekali kekuatan politik Presiden Sukarno,
dengan lebih dulu menghancurkan kekuatan PKI.
Ada sebagian dari pimpinan TNI-AD yang sudah sejak lama - sebelum
peristiwa G30S terjadi - diam-diam mempunyai sikap yang anti Presiden
Sukarno karena dianggap terlalu dekat atau bersahabat dengan PKI. Pimpinan
TNI-AD yang anti Presiden Sukarno ini pada pokoknya tidak suka kepada
berbagai politik Presiden Sukarno, yang tercermin dalam pidato-pidato beliau
(terutama yang berkaitan dengan Manifesto Politik dan Nasakom).
Gerakan mahasiswa/pemuda (terutama KAMI dan KAPPI) yang menjadikan
« Tritura « sebagai bendera perjuangan merupakan bagian penting dari
operasi terbuka dan tertutup dari pimpinan TNI-AD untuk membentuk opini
umum yang negatif sekali terhadap Presiden Sukarno, dengan menuntut
dibubarkannya PKI.
Dengan menuntut kepada Presiden Sukarno untuk membubarkan PKI sebenarnya
sasaran pusat yang dituju adalah Presiden Sukarno, yang merumuskan politik
persatuan bangsa Indonesia berdasarkan Nasakom. Di sinilah bertemunya tujuan
kekuatan anti-Sukarno dan anti-PKI di dalamnegeri dengan tujuan
imperialisme AS, yang waktu itu sedang menghadapi persoalan-persoalan besar
yang ditimbulkan oleh perang Vietnam, permusuhan RRT-Taiwan, pertentangan
RRT-AS dan Perang Dingin.
PERINGATAN TRITURA ADALAH PERINGATAN PENGKHIANATAN
Jadi, peringatan 40 tahun Tritura sebenarnya adalah peringatan 40 tahun
pengkhianatan apa yang dinamakan Angkatan 66 (jangan lupa peran pimpinan
TNI-AD yang mendalangi gerakan KAMI/KAPPI). Pada tanggal 15 Januari 1966,
Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) mencetuskan Tritura, yang
sebenarnya adalah tuntutan yang ditujukan kepada Presiden Sukarno.
Menurut satu tulisan di harian Bernas (Jogya) tanggal 31/8/98, sikap
Bung Karno mengenai Nasakom antara lain terlihat dari pidatonya pada
peringatan HUT Trikora di Istora Senayan pada 21 Desember 1965. " Gestoknya
harus kita hantam, tapi komunisnya tidak bisa, karena ajaran komunis itu
adalah hasil keadaan obyektif dalam masyarakat Indonesia seperti halnya
nasionalis dan agama." ".... Nasakom telah kutulis sejak aku berumur 25
tahun dalam tahun 1926, dan ini akan kupegang teguh sampai aku masuk ke
liang kubur." ("Buku Putih", yang dikeluarkan oleh Sekretariat Negara tahun
1994 hal 151).
« Tritura » adalah langkah awal dari « Supersemar » (tanggal 11 Maret 1966)
yang merupakan jebakan licik dari pimpinan TNI-AD terhadap Bung Karno, yang
tidak lain adalah langkah lebih kongkrit dalam operasi pengkhianatan «
kudeta merangkaknya» Suharto dkk. Jadi, jelaslah kiranya bahwa Tritura »
juga merupakan manifestasi dari pengkhianatan Angkatan 66 ( dan TNI-AD)
terhadap perjuangan rakyat Indonesia melawan imperialisme dan
neo-kolonialisme, yang dibenggoli oleh AS.
Selama rejim militer Orde Baru berkuasa selama 32 tahun, banyak orang-orang
dari Angkatan 66 diangkat oleh Suharto dkk sebagai pejabat dalam
pemerintahan atau tokoh dalam berbagai organisasi. Pada umumnya mereka
juga menjadi orang-orang penting dalam Golkar, partai yang menjadi pendukung
utama Orde Baru (bersama-sama TNI-AD).
"Saat ini tidak sedikit tokoh angkatan '66 yang duduk di pemerintahan.
Mereka harus sadar bahwa masih ada tuntutan yang dulu mereka kumandangkan
yang sampai saat ini belum terwujud," kata Ketua Bidang Organisasi Laskar
Ampera Arief Rahman Hakim (ARH) 1966, Johny P Kresno. Kenyataannya, sampai
saat ini masih banyak rakyat Indonesia yang masih kesulitan untuk
mempertahankan kualitas hidup mereka. Banyak kasus busung lapar dan gizi
buruk yang dialami sebagian rakyat Indonesia. (sumber: Suara Pembaruan 2
Januari 2006).
ANGKATAN 66 HARUS IKUT BERTANGGUNGJAWAB
Pernyataan yang demikian ini mengandung kebenaran, walaupun tidak lengkap.
Memang, saat ini tidak sedikit angkatan 66 yang duduk di pemerintahan.
Bahkan bukan sekarang saja, melainkan sudah lama sejak pemerintahan Orde
Baru. Oleh karena itu, Angkatan 66 ( bersama Golkar dan TNI-AD) harus ikut
bertanggungjawab atas terjadinya segala keburukan dan kebusukan yang
dilakukan oleh rejim militer Orde Baru, yang warisannya masih banyak dapat
kita saksikan bersama dewasa ini.
Kesulitan rakyat Indonesia untuk mendapatkan hidup yang baik, sehingga
banyak terjadi busung lapar dan gizi buruk, adalah sebagian besar akibat
pemerintahan yang busuk selama 32 tahun Orde Baru, dan diteruskan oleh
pemerintahan di bawah Habibi, Abdurrachman Wahid, Megawati dan sekarang
SBY-Jusuf Kalla ( hampir 8 tahun sejak 1998). Dalam semua pemerintahan yang
bergantian berturut-turut itu Partai Golkar tetap memainkan peran yang
penting, termasuk unsur-unsur dari Angkatan 66. Jadi, peran negatif Angkatan
66 ini sudah berlangsung lama sekali, sampai sekarang.
Kalau dilihat dari berbagai segi, maka nampaklah dengan jelas bahwa
peringatan 40 TahunTritura oleh Angkatan 66 ini merupakan suatu hal yang
sangat bertentangan sama sekali dengan apa yang dilakukan oleh gerakan
nasional mahasiswa tahun 1998. Kalau Angkatan 66 mengadakan aksi-aksi
Tritura untuk menyerang Presiden Sukarno dan melumpuhkan PKI dengan dukungan
pimpinan TNI-AD, CIA dan begundal-begundalnya (ingat, antara lain, peran
Pater Beek), maka gerakan secara nasional mahasiswa tahun 1998 adalah untuk
menggulingkan kekuasaan Suharto, seorang diktator yang telah menimbulkan
banyak sekali kerusakan bagi bangsa dan negara.
Jadi peringatan 40 Tritura ini, yang intinya adalah mengenang kembali
gerakan mahasiswa (yang didalangi tentara) dalam menjatuhkan Presiden
Sukarno dan menghancurkan PKI, merupakan tantangan yang provokatif sekali
terhadap gerakan mahasiswa patriotik dan demokratik tahun 1998 yang memaksa
Suharto turun dari tahtanya.
Selama 32 tahun Orde Baru, angkatan Tritura ternyata hanya menjadi
embel-embel rejim militer Orde Baru, walaupun tidak sedikit di antara
tokoh-tokohnya diberi kedudukan yang lumayan dalam birokrasi atau dalam
Golkar. Karena itulah angkatan Tritura ini hanya diam seribu bahasa saja
ketika terjadi banyak pelanggaran HAM, pembantaian jutaan orang tidak
bersalah, pembunuhan dan penculikan di kalangan pemuda/mehasiswa, atau
ketika korupsi sudah merajalela dengan hebatnya di kalangan Orde Baru.
AngkatanTritura dulunya ( dalam tahun-tahun 1965-1966) berkaok-kaok
setinggi langit bahwa Presiden Sukarno adalah diktator korup yang membikin
rakyat Indonesia menderita karena kemiskinan. Tetapi ketika kemudian Suharto
menjadi diktator yang kekejamannya dan ke-korup-annya tidak ada taranya
dalam sejarah bangsa kita, angkatan 66 ini tidak pernah buka suara sedikit
pun.
Jadi, semestiya, ketika Suharto diturunkan dari tahtanya oleh gerakan
mahasiswa dengan dukungan rakyat banyak, maka seharusnya angkatan tritura
ini pun ikut tersapu bersih oleh arus reformasi, seperti halnya unsur-unsur
busuk lainnya dari rejim militer Orde Baru. Melihat sejarah lahirnya
angkatan Tritura dan aksi-aksi yang dilancarkannya dalam tahun-tahun 1966,
maka jelaslah kiranya bahwa angkatan tritura ini adalah unsur
pendukung terbusuk Orde Baru, seperti halnya Partai Golkar dan TNI-AD.
Dari sudut pandang ini jugalah kiranya kita patut menelaah arti peringatan
40 Tahun Tritura di samping adanya tafsiran-tafsiran lainnya.
Paris 7 Januari 2006
--
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.1.371 / Virus Database: 267.14.14/222 - Release Date: 05/01/2006
[Non-text portions of this message have been removed]
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/