http://www.gatra.com/versi_cetak.php?id=91296
 



Susi Pudjiastuti
Karena Amanah Bukan Serakah



LAUT kita kaya raya. Sungguh itu bukan isapan jempol belaka. Susi Pudjiastuti, 
juragan ikan asal Pangandaran, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, sudah 
membuktikannya.

Saking kewalahan memenuhi pasar, Susi sampai-sampai perlu membeli dua pesawat 
Cessna Grand Caravan buatan Amerika Serikat. Pesawat yang mulai beroperasi 
Desember 2004 ini untuk membawa ikan, lobster, dan hasil laut lainnya langsung 
dari nelayan di kawasan selatan Pulau Jawa.

Menurut rencana, satu pesawat akan digunakan mengangkut hasil nelayan ke pabrik 
pemrosesan dan pengepakan di Pangandaran. Sedang satu lagi menerbangkannya ke 
Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Selanjutnya dikirim ke negara-negara tujuan 
seperi Asia, Eropa, dan Jepang serta Australia. "Sekarang ekspor hasil laut 
tidak lagi terkendala oleh lamanya waktu pengangkutan melalui kontainer," kata 
Susi.

Susi mengaku membeli pesawat untuk mengimbangi volume ekspor perusahaannya yang 
terus meningkat. Saat ini setiap bulan perusahaannya mampu menjual hasil laut 
ke beberapa negara di Asia, Eropa, dan Amerika, antara 50-60 ton. Bahkan sejak 
merebaknya isu daging sapi gila dan flu burung di dunia terutama di Asia, 
ekspor udang dan ikan naik sampai 80 ton per bulan.

Pengoperasian pesawat itu diharapkan meningkatkan omzet PT ASI Pudjiastuti dari 
US$ 2 juta menjadi US$5 juta pertahun. Menurut ibu tiga anak ini, kalau ikan 
dan udang segar sampai ke Jepang kurang dari 24 jam, maka perbedaan harganya 
bisa 50%. Misalnya, ikan laut yang biasanya US$ 3 per kilogram, kalau tiba 
kurang dari sehari semalam, harganya bisa menjadi US$ 8 per kilogram.

Tentu itu akan membuat Susi terus berkibar. Dalam lima tahun mendatang dia 
berencana membeli delapan buah lagi pesawat caravan. Lima pesawat rencananya 
akan dioperasikan di pulau Jawa, dua pesawat di Sumatera, tiga pesawat di 
Indonesia Bagian Timur. Bahkan Susi juga sudah berencana membeli kapal feri eks 
Belgia yang akan dijadikan pabrik terapung.

Pabrik tersebut dirancang mengolah hasil laut dari pulau sekitarnya dan 
langsung diekspor ke Darwin, Australia. "Kita dianugerahi hasil laut yang luar 
biasa, tinggal bagaimana kita mengelolanya," kata Susi.

Susi tak asal omong. Tiap hari, berton-ton hasil laut diolah di pabriknya. 
Sekitar 95% hasil produksinya diekspor ke Hong Kong, Jepang, dan beberapa 
negara Eropa. Komoditas utamanya lobster, udang, kakap, dan tuna.

Dia memang kenyang pengalaman. Sejak kecil dia memang tinggal di Pangandaran. 
Baru saat SMA dia bersekolah di Yogyakarta. Itu pun tak sampai tamat. Ia malah 
ingin mandiri. Berbekal uang Rp 750 hasil tabungannya, tahun 1983 Susi mulai 
berusaha menjadi pengepul ikan. "Mula-mula saya baru sanggup beli 1 kg, tapi 
makin hari makin bertambah," kata Susi. Perjalanan hidup kemudian mengantarnya 
ke Cirebon dan Sumatera.

Pengalaman bertahun-tahun menjadi pengepul ikan membuat Susi kesal dengan 
pabrik yang suka memainkan harga. Dia lalu bertekad mengekspor sendiri hasil 
lautnya. Tahun 1996 ia kemudian mendirikan PT ASI Pudjiastuti.

Diatas tanah dua hektar warisan orang tuanya, Susi membangun pabrik pengolahan 
ikan. Hasil produksinya disukai karena pabriknya ramah lingkungan. Dia sama 
sekali tak menggunakan bahan pengawet. "Dari segi rasa dan kesehatan hasilnya 
lebih oke," kata Susi.

Pabriknya juga menggunakan alat-alat yang ramah lingkungan. Untuk pendingin, 
misalnya, dia memilih menggunakan amoniak ketimbang freon yang bisa merusak 
ozon. Selain itu, pabriknya juga tak menghasilkan limbah. "Semua sampah disini 
bisa dimanfaatkan kembali. Kulit udang atau ikan bisa dijadikan pakan ternak," 
kata Susi.

Saat krisis ekonomi melanda, Susi malah makin berjaya. Maklum, hasil produknya 
dibayar dengan dolar. Maka dia bisa membangun pabrik kedua seharga Rp 35 
milyar. Kapasitas pabrik ini setiap harinya bisa memproses dan menyimpan stok 
ikan maupun udang sampai 15 hingga 20 ton per hari. Teknologi yang digunakan 
semuanya termodern. Sehingga bisa disebut pabriknya ini merupakan perusahaan 
perikanan termodern di Indonesia.

Teknologi baru yang digunakan antara lain, tujuh myocon 700 Hp. Lalu, ice flate 
kapasitas 13 ton per hari, contact plate dari Denmark dengan kapasitas 450 kg 
per jam, blast freezer kapasitas 1.000 kg per tiga jam. Adventec tunbel untuk 
500 kg per jam dari Swedia, water chiller, AC centralized seluruh ruangan 
anteroom, dan lainnya. Semuanya untuk memproses agar ikan, udang, dan lobster 
yang akan dikirim ke luar tetap segar. Selain itu, waktu proses pengolahan juga 
makin cepat.

Boleh jadi, kunci sukses yang dicapainya itu berkat kesadaran bahwa apa yang 
didapatnya itu adalah amanah. "Karena itu, meski ini bisnis, saya selalu 
berusaha tak pernah melupakan kepedulian sosial," katanya.

Susi tidak serakah meraup untung. Misalnya, ikan kakap. Ikan itu diambil 
dagingnya saja untuk dijadikan fillet. Kepalanya yang masih banyak daging itu 
dijualnya ke penduduk sekitar dengan harga hanya Rp 750 perkilo. Padahal, bisa 
saja kepala ikan itu dijual ke restoran di Jakarta dengan harga 10 kali lipat.

Susi mengaku tak keberatan membagi pengalamannya kepada nelayan lain. Namun dia 
mematok persyaratan ketat. "Saya hanya akan mengeksplorasi hasil laut yang 
berwawasan lingkungan," katanya. Bahkan kepada pemerintah daerah sekalipun. 
Dia, misalnya, sempat menjalin kerja sama dengan Pemerintah Maluku Tenggara 
Barat untuk mengembangkan hasil laut di sana. "Perairan Maluku itu luar biasa. 
Seperti kolam ikan saja," ceritanya.

Menurutnya, sudah saatnya pemerintah lebih serius menggarap kelautan. Misalnya 
dengan memberi bantuan pembelian kapal dan kelengkapan alat tangkap bagi para 
nelayan. Selain itu, pemerintah juga mesti membangun pelabuhan besar yang bisa 
menarik kapal agar bisa berlabuh. Dengan demikian akan memberikan kontribusi 
besar buat pembangunan daerah. Baik dari retribusi lelang ikan maupun banyaknya 
kapal yang masuk ke pelabuhan.

Laut kita memang bisa membuat orang kaya raya.

Taufik Abriansyah (Bandung)
[Entrepreneur Laut, Gatra Edisi Khusus Beredar Jumat, 30 Desember 2005]

[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke