Aasiya Inaya: Pilih Islam Karena Tak Yakin Dengan Hindu Yang
Membingungkan
<http://islamislogic.wordpress.com/2013/08/08/pilih-islam-karena-tak-yak\
in-dengan-hindu-yang-membingungkan/>

  [muslimah-jilbab cadar] 
<http://islamislogic.files.wordpress.com/2013/02/muslimah-jilbab-cadar.j\
pg> Aasiya  Inaya, dilahirkan dalam lingkungan keluarga yang menganut
agama Hindu  yang meyakini bahwa Tuhan itu ada dalam berbagai wujud
mulai dari air,  sungai, batu sampai pepohonan. Oleh sebab itu, Asiya
mengaku bangga  sebagai penganut politheis, yang meyakini bahwa semua
obyek ciptaan  Tuhan layak disembah karena menurutnya, di setiap benda
ada bagian Tuhan  di dalamnya.

Tapi keyakinan Aasiya mulai berubah  ketika ia mengenal Islam, yang
mengawali perjalanan panjangnya menjadi  seorang Muslimah. Sebelum
memutuskan mengucapkan dua kalimah syahadat,  Aasiya mengalami
pergumulan jiwa yang hebat. Di satu sisi ia mengakui  kebenaran Islam,
tapi sisi hatinya yang lain masih membuatnya ragu  menjadi seorang
Muslim.

"Saya pertama kali mengenal Islam di  sekolah menengah atas.
Mayoritas teman-teman sekelas saya adalah Muslim  dan setiap waktu
istirahat kami biasa berdiskusi tentang Islam, utamanya  karena
propaganda anti-Islam yang dilancarkan organisasi-organisasi  Hindu di
India pasca serangan 11 September dan kerusuhan di Gujarat,"  kata
Aasiya.

Ia melanjutkan,"Sepanjang pembicaraan,  mereka (teman-teman Muslim
Aasiya) berusaha untuk meluruskan berbagai  pandangan-pandangan saya
yang salah tentang agama monoteis, hak  perempuan, status mereka dan
berbagai mitos tentang Islam yang klise."

"Tapi, upaya mereka tidak begitu  meyakinkan saya. Saya tetap
memegang teguh keyakinan saya dan tetap  bangga sebagai penganut
politheis," tukas Aasiya.

Menganut Hindu Arya Samaj

Meski demikian, ia mengakui bahwa sikap  anti-Muslimnya agak berkurang
setelah mendengar penjelasan dari  teman-temannya yang Muslim. "Saya
mulai merasa tersentuh dengan  penderitaan mereka, bagian dari
masyarakat kami, yang harus  termarginalkan hanya karena ingin
menjalankan ajaran agama mereka.  Pandangan-pandangan saya pun jadi agak
sekular …" sambung Aasiya.

Tapi semua itu belum menggerakkan hati  Aasiya untuk memeluk agama
Islam. Aasiya mulai beralih ke kelompok Arya  Samaj, sebuah kelompok
penganut agama Hindu yang keluar dari mainstream  Hinduisme.

Kelompok ini meyakini bahwa Hinduisme  adalah agama monoteis dan tidak
mengajarkan umatnya untuk menyembah  berhala. Setelah menjadi bagian
kelompok ini, Aasiya tidak lagi  menyembah banyak benda, ia melakukan
ritual Arya Samaj dan jadi rajin ke  kuil.

Setelah beberapa waktu menjalani ritual  Arya Samaj, Aasiya menemukan
bahwa keyakinan ini juga memiliki banyak  cacat dan kekurangan.
"Saya merasa kembali berada di sarang laba-laba  yang sama, dimana
ritual dan penyembahan terhadap api menjadi bagian  integral keyakinan
itu, sama seperti keyakinan yang saya anut dahulu,"  paparnya.

"Tapi saya menyebut itu semua sebagai  langkah panjang, sebelum
akhirnya saya sampai pada keputusan untuk  memeluk agama Islam,"
ujar Aasinya.

Hukum Islam Membuatnya Tertarik

"Kejelasan tentang Islam mulai saya  rasakan begitu kuat ketika saya
menjadi mahasiswa fakultas hukum. Ketika  itu saya mengikuti kuliah
tentang hukum keluarga dalam agama Hindu dan  Islam, mulai dari hukum
perkawinan, perceraian dan urusan keluarga  lainnya."

"Saya menemukan bahwa hukum keluarga  dalam agama Hindu banyak
memiliki celah kelemahan karena beragamnya  aturan terkait masalah
teknis, perbedaan pendapat, sehingga hukum  keluarga dalam agama Hindu
kerap membingungkan dan tidak pasti. Di sisi  lain, hukum keluarga yang
diatur oleh Islam, sangat jelas, cermat dan  pasti," tutur Aasiya.

Sejak perkualiahan itu, pandangan Aasiya  terhadap Islam berubah total.
Selama ini, Aasiya memandang Islam sebagai  agama yang kaku dan keras.
"Saya melihat umat Islam sebagai umat yang  statis, hidup
berdasarkan pada masa lalu sementara dunia terus  berkembang. Buat saya,
apa yang diyakini umat Islam tidak masuk akal,  tidak praktis, kejam dan
ketinggalan jaman," kenang Aasiya mengingat  pandangan-pandangannya
terhadap Islam di masa lalu.

"Tapi, sejak perkuliahan itu, pendapat  saya langsung berubah hanya
dalam satu malam. Apa yang selama ini saya  anggap statis ternyata
sebuah kestabilan. Ini membuat rasa ingin tahu  saya tentang Islam
memuncak dan saya menghabiskan waktu berjam-jam di  internet untuk
bicara dengan teman-teman saya yang dulu menjelaskan  tentang Islam pada
saya," papar Aasiya.

Selain bertanya pada teman-temannya yang  Muslim, Aasiya juga mencari
berbagai informasi tentang Islam di internet  dan aktif mengikuti
berbagai forum diskusi. Pengetahuan Aasiya yang  mulai bertambah tentang
Islam mempengaruhi sikap dan pandangan Aasiyah  tentang Islam ketika ia
berkumpul dan membahasnya dengan sesama temannya  yang beragama Hindu.
Perubahan sikap dan pandangan Aasiya, tentu saja  tidak mendapat
tanggapan negatif dari sahabat-sahabatnya yang Hindu.

"Mereka menyebut bahwa saya sudah  mengalami `cuci otak'
yang ingin mengubah penganut Hindu menjadi pemeluk  Islam," kata
Aasiya tentang pendapat teman-teman Hindunya.

Menyatakan Bershyahadat

Saat itu, Aasiya mengaku khawatir dan  takut melihat ketidaksetujuan
teman-temannya tentang Islam dan ia merasa  telah mengkhianati teman
bahkan keluarganya. Tapi keyakinan Aasiya akan  kebenaran Islam justeru
makin kuat dan ia merasa tidak bisa lari dari  kebenaran itu.

"Sampai kapan orang bisa menghindar dari  kebenaran? Anda tidak bisa
hidup dalam kebohongan dan menerima kebenaran  membutuhkan keberanian
seperti yang disebutkan dalam ayat Al-Quran  dalam surat An-Nisaa:

"`Wahai orang-orang yang beriman, jadilah  kamu orang yang
benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena  Allah biarpun
terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu.  Jika ia kaya
ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatan. Maka  janganlah kamu
mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari  kebenaran. Dan jika
kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan  menjadi saksi, maka
sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa  yang kamu
kerjakan'."

"Hari itu, semua rasa kekhawatiran saya  lenyap. Saya merasa, jika
saya tidak pernah memeluk Islam dan selamanya  saya tidak akan pernah
memiliki Islam, saya akan tetap dicengkeram oleh  kompleksnya kehidupan
yang materialistis ini, dimana hawa nafsu membuat  kita enggan melakukan
hal-hal yang benar," tandas Aasiya.

Aasiya akhirnya memutuskan untuk  mengucapkan dua kalimat syahadat dan
resmi menjadi seorang Muslim.  "Alhamdulillah, hari ini saya menjadi
seorang Muslimah. Saya berusaha  belajar dan terus belajar al-Quran dan
Sunnah Rasulullah Muhammad Saw.  Insya Allah, saya akan mengikuti
sunah-sunahnya dengan lebih baik.  Dengan bantuan beberapa teman dan
sebuah organisasi Islam, saya belajar  salat lima waktu," tuturnya.

Persoalan Aasiya sekarang adalah  memberitahukan tentang keislamannya
pada teman-teman Hindunya dan  orangtuanya. "Cepat atau lambat, saya
pasti akan memberitahu mereka.  Saya berharap mereka menghormati
keputusan saya dan saya berdoa, semoga  Allah swt memberikan kekuatan
sehingga saya bisa istiqomah dengan  keputusan saya menjadi seorang
Muslim," tandas Aasiya. (ln/readislam/eramuslim)

Paulus anak wedus.



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke