Akuur, setuju banget! Anak2 SD, SMP dan seterusnya harus diajar untuk tenggang 
rasa, tolerant thdp umat beraga (& yg tidak beragama). Ajaran untuk menganggap 
dirinya paling jagoan adalah pangkal radikalisme.

Negara dan abngsa Indonesia perlu kembali belajar bhw kita semua tanpaa kecuali 
adalah anak bangsa. Kita semua punya andil untuk mensejahterakan bangsa yg 
sudah terlalu lama terpuruk oleh perilaku jahat dari para pemimpin kita.

Janganlah Pakguru menambah penderitaan bangsa dengan mengajarkan keangkuhan 
beragama. Al Qur'an dengan jelas menyatakan bhw Allah SWT tidak suka mereka yg 
angkuh alias sombong.

Gabriella



________________________________
 From: pinpinyuliansyah <[email protected]>
To: [email protected] 
Sent: Friday, 20 September 2013 9:05 AM
Subject: [proletar] Ibu Pertiwi
 


  
Ada kewajiban kepada seluruh anak - anak SD di sebuah Sekolah Negeri di sekitar 
Setiabudi Atas - Bandung untuk membawa Al-Quran saat pelajaran Agama dengan 
hukuman apabila ada murid yang tidak membawa maka murid tersebut disuruh pulang.

Dalam ceramah pagi yang dilakukan hari ini, sang Guru berkata - kata di depan 
seluruh murid nya yang dikumpulkan di halaman sekolah bahwa umat Islam harus 
bangga membawa - bawa kitab suci nya kemana - mana. "Jangan kalah sama umat 
agama lain ! Coba lihat di jalan - jalan ! Coba lihat di angkot - angkot ! 
Terutama umat Kristen sering membawa Alkitab dengan bangganya ! Maka kitapun 
sebagai Umat Islam harus memiliki kebanggaan pada Alquran yang sudah jelas - 
jelas menurut Allah adalah kitab yang paling benar ! "

Saya mendengar "Ceramah" itu dengan telinga saya sendiri. Karena beberapa hari 
ini saya tingal di Setiabudi Atas - Bandung dan kebetulan pas berhadapan dengan 
sekolah ini, dimana "ceramah" itu dipancarkan denan alat pengeras suara.

... 

Ini sekolah Negara. Sekolah ini tidak hanya dibuat untuk orang Islam, Namun 
untuk semua anak Bangsa dari semua agama dan untuk semua suku Bangsa. Meskipun 
di sekolah ini 100% murid nya adalah penganut Islam, namun seyogyanya sebuah 
lembaga pendidikan dasar yang dikelola negara tidak menanamkan sikap perbedaan 
SARA. Sekolah Negeri seperti "gitu" tidak hanya akan mencetak output yang 
kurang toleran, namun juga akan membuat orang tua yang beragama lain memilih 
untuk tidak menyekolahkan anak-anaknya di sekolah negeri yang "kayak gitu".

Saat ini kita melihat dengan mata telanjang sekian banyak anak-anak Muslim 
nyaman belajar di sekolah - sekolah seperti Mardi Yuana atau BPK Penabur yang 
dikelola oleh organisasi Kristen, namun kita nyaris tidak pernah melihat ada 
anak - anak Kristen bersekolah di sekolah - sekolah yang dikelola oleh ormas 
Islam. Kondisi ini terbalik dengan prinsip bahwa Islam - seyogya nya - adalah 
rahmat untuk seluruh alam, termasuk namun tak terbatas artinya bahwa Islam 
seyogyanya menjadi rahmat bagi semua penganut agama lainnya. Dengan kata lain, 
sebuah sekolah yang merangkul semua murid dari berbagai agama dan memberikan 
keyamanan bagi semua murid yang berbeda agama dan mengajarkan toleransi serta 
menciptakan suasana yang harmoni(s) di lingkungan sekolah dimana sekolah itu 
dikelola oleh organisasi non-Islam, sekolah seperti itu, yang dikelola oleh non 
Islam, apanan jadinya jauh lebih Islami dibanding dengan sekolah - sekolah yang 
dikelola oleh ormas Islam namun tidak
 mewujudkan prinsip "Rahmatan" untuk semua murid nya meskipun berbeda keyakinan.

Agama Islam itu apanan - mestinya - bukan hanya rahmat bagi penganut Islam, 
namun -Konon- adalah rahmat bagi seluruh alam.

...

Berbicara tentang "membawa Alquran kemana mana" memang rada sulit untuk 
dilakukan. Mengapa ? Sekian banyak penganut Islam kebanyakan apanan 
memperlakukan al-Quran sebagai benda yang disakralkan. disimpan di atas lemari, 
menyentuhnya harus dengan berwudhu, tidak boleh dibawa ke Toilet, tidak boleh 
diletakkan dimana saja. Repot jadinya -- ketika anjuran sang ustad itu 
dilakukan -- membawa Al-quran pada saat haid, atau membawa al-quran kemana 
-mana pas harus masuk toilet umum pegimana coba ? Terus kalau pas bawa alquran 
di angkot, terus kentut, terus Alquran nya siapa yang pegang atuh ?

Berbicara tentang "Alquran adalah jelas kitab yang paling benar, paling 
lengkap,paling sempurna ..." namun apanan meskipun benar bahwa menurut kitab 
suci Al Quran di Surga itu ada sekian banyak bidadari cantik yang selalu 
perawan dan meskipun benar kaum lelaki diberi kekuatan untuk making love 100 
kali lipat dan meskipun di surat Yaasin ada keterangan bahwa penghuni surga 
sibuk dengan kesenangan "seperti itu", lha ...masa iya ... hal "kayak gituan" 
harus diajarkan pada anak - anak lelaki kecil usia SD ?. Ayat - ayat suci itu 
boleh saja diyakini sebagai pegangan kebenaran, namun tidak semua yang benar 
itu baik untuk disampaikan.

Mestinya ...

Guru agama itu cerita bahwa Indonesia adalah negeri luas yang kaya raya. 
Mestinya guru agama itu bercerita bahwa Indonesia terdiri dari berbagai suku 
dan Agama, Mestinya guru agama itu bercerita bahwa sebagai umat Islam yang ada 
di Indonesia kita harus berlomba - lomba dalam kebaikan. Mencintai negara ini, 
bangsa ini karena sebagai sebuah bangsa kita telah bersumpah untuk berbangsa 
satu, berbahasa satu, bertanah air yang satu : Indonesia.

Al-Quran sendiri apanan secara bahasa artinya adalah bacaan. Hari gini, bentuk 
nya bisa saja sudah digital dan tersimpan apik di dalam smartphone atawa 
tablet, dan bukan halangan -- tentu saja -- membawa smartphone atawa tablet 
kemana saja. Diangkot, di kantor, di sekolah, bahkan meskipun karena satu dan 
lain hal kita mesti masuk toilet umum, smartphone itu nddak perlu disimpen di 
luar toilet hanya harena di dalam nya ada "bacaan suci", karena kalau itu 
smartphone disimpen di luar toilet, maka bisa hilang dicuri orang dong ...

Kebanggaan kita sebagai muslim bukan dengan cara menenteng al-quran dalam 
bentuk cetakan buku kemana mana, nddak harus diwujudkan dalam bentuk 
memperpanjang jenggot atau memakai baju arap, nddak usah juga dengan nge jeduk 
jedukin kepala ke lantai saat sujud sehingga ada "bekas sujud" berwarna hitam 
di jidat. Kebanggaan kita sebagai muslim apanan lebih baik dituangkan dalam 
bentuk amal baik, perkataan baik, perbuatan baik, pemikiran baik, yang memberi 
manfaat sebesar - besrnya bagi bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai 
Suku. Agama , Ras , dan Golongan.

Meskipun penduduk di Papua masih banyak yang bertelanjang dada dan berkoteka, 
namun mereka adalah saudara kita, si Memey yang rajin ke Gereja juga adalah 
saudara kita, Si wayan yang rajin ke Pura juga adalah sahabat kita, kita semua 
adalah saudara yang lahir dari seorang ibu yang sama yang biasa kita panggil 
dengan sebutan Ibu Pertiwi.

Ini Indonesia.
Bukan Arap.


 

Kirim email ke