Jangankan agama atuh, bahkan seekor sapi pun mesti beradaptasi ketika berpindah 
tempat.

Ketika saya usia SMA, saat si Nub di belahan bumi lain masih asyik 
"ngagugulung" motor butut terus kepalanya ditabok sama tentara gara - gara 
knalpot butut yang memekakan telinga, apan di Usia sekitar itu sayamah sama 
temen - temen sudah ikutan Karya Ilmiah Remaja, sudah terjun mengamati dan 
belajar bagaimana seorang peternak sapi yang tinggal di antara Sukabumi - 
Cianjur bisa sukses memberi kehidupan tidak hanya bagi keluarganya namun juga 
bagi masyarakat di sekitarnya.

Tidak hanya beternak sapi, itu kotoran sapi ditampung dalam lobang kemudian bio 
gas nya di alirkan ke dapur - dapur rumah sehingga praktis penduduk disanamah 
nddak pakai kompor minyak tanah dan nddak pusing utuk urusan beli elpiji untuk 
urusan masak memasak. Kotoran sapi juga dimanfaatkan sebagai pupuk sehingga 
tanaman pangan tumbuh dengan subur, susu sebagai sumber protein bukan hanya 
dijual, namun juga dikonsumsi dan diolah menjadi berbagai macam olahan makanan.

Coba bayangin, penduduk di sekitar peternak kita ini terpenuhi kebutuhan 
protein nya, bumbu dapur dan lalapan serta berbagai tanaman tubuh subur di 
sekitarnya, penghasilan setiap hari mengalir dari penjualan susu murni, sapi 
beranak pinak dan dengan itu bisa menjadi modal untuk menyekolahkan anak-anak 
mereka sekolah ke jenjang yang lebih tinggi tanpa harus menerima "Beasiswa buat 
si Miskin" tanpa tergantung pada "Biaya Operasional Sekolah". Mereka nddak 
perlu "BLT" atau tektek bengek program pemerintah yang "memiskinkan" warga 
negaranya ( Elo boleh terima duit bantuan ini ! Tapi elo harus ngaku dulu kalau 
elo miskin ! ) mereka penduduk yang sederhana, nddak banyak ngomong ini itu, 
dan anggota dewan yang ngasal bikin program "mobil murah" saat ini mestinya 
malu melihat penduduk yang kayak ginian yang nddak banyak bacot tapi mampu 
membangun komunitas yang ajek dalam artian sejahtera, tentrem, aman, damai 
sesuai dengan Pancasila . 

Saat bercerita tentang wacana bantuan sekian banyak "Sapi Australia" yang 
ditawarkan pemeritah, pak Adi bercerita pada kami bahwa dia keberatan untuk 
menerima sekian banyak sapi - sapi impor itu. Kami bertanya "Mengapa ? Bukankah 
itu tandanya pemerintah peduli pada rakyat nya sehingga mereka menawarkan 
bantuan Sapi impor ?"

Pak Adi menjelaskan ...

"Mengapa harus impor ? Mengapa tidak mengembangbiakkan sapi lokal ? Sapi yang 
jelas - jelas telah lama hidup di sini dan telah akrab dengan tanah ini ! 
Lagipula, berapa uang negara yang harus keluar untuk meng impor sekian banyak 
Sapi Australi yang belum tentu bisa hidup dengan baik di sini karena perbedaan 
iklim ?" ( saat itu kami ngangguk ngangguk, pembicaraan seperti itu bagi kami, 
di usia segitu, adalah "pembicaraan mewah" yang perlu waktu untuk dapat 
mengunyahnya dengan baik.

"Sapi itu tetap saja adalah mahluk hidup, meng impor sekian banyak sapi dalam 
waktu serentak artinya mengambil esiko besar yang sangat tidak perlu, mending 
kalau mereka bisa cepat beradaptasi, kalau gagal dan mati ? Saya bisa rugi 
besar . "

"Meskipun ada pemikiran untuk meningkatkan kualitas sapi perah, lebih baik 
dipilih beberapa induk sapi yang berkualitas dari australia, dikarantina dulu, 
kemudian disilang dengan sapi lokal, sehingga kita bisa menemukan dalam 
generasi keberapa dari turunan sapi itu yang bisa menghasilkan generasi sapi 
yang memiliki kelebihan sapi australi sekaligus memiliki daya tahan sapi lokal 
sehingga menjadi sapi unggul yang tidak hanya produktif namun juga tahan 
terhadap berbagai penyakit serta bisa bertahan hidup dengan baik "

...

Saya ngisep sisa sisa marlboro putih ..nginget - nginget lagi ... saat kami 
belajar dari peternak sukses itu ... itu kejadian di tahun 1989 ... ampir 
seperempat abad yang lalu apanan ... namun kebenaran dari kata - kata nya masih 
relevan sampai detik ini.

Jangankan sapi, agama saja mesti beradaptasi.

Saat sekian banyak umat Islam hari ini bersemangat untuk "membersihkan" Ajaran 
Islam agar Seperti Islam yang di Arab sana ... atau saat sekian banyak orang 
berpendapat bahwa Islam yang benar adalah Islam yang 100% murni seperti Islam 
di jaman nya Muhammad, sekitar 1500 tahun yang lalu , saya jadi ingat tentang 
Sapi Australi ini ...

Islam itu apanan lahir di arap dan mau nddak mau suka nddak suka Ajaran Islam 
itu apanan "ngigelan" kondisi Arab pada saat itu. Waktu itu. Secara sederhana, 
lihat saja keterangan Surga menurut Islam ... Surga digambarkan sebagai aman 
yang Indah dengan Air yang Melimpah ... Surga Khas dari sudut pandang Orang 
Arab yang tinggal di gurun dengan sumber air yang sangat sulit. Beda dengan 
Tatar Sunda yang subur makmur cur cor cai di mana mana ... apanan inilah surga 
! 

Sebelum Islam datang ke tanah sunda, apanan di sunda juga sudah ada agama. Jadi 
... istilah keren nya, apanan mutlak diperlukan kearifan lokal dalam arti 
percis seperti yang dibilang peternak sukses itu ... meskipun "sapi" Australi 
itu harus kita impor, namun diperlukan penyesuain dengan kondisi di sini dan 
lebih baik lagi apanan "dikawin silang" kan sehingga kelebihan sapi Australi 
bertemu dengan kelebihan sapi lokal sehingga lahirlah sapi "baru" yang mau 
nddak mau suka nddak suka bakal berbeda dengan induk sapi nya. Bukan meng impor 
mentah - mentah sekian banyak sapi Australi dengan "membunuh" semua sapi lokal, 
dimana kejadiannya malah Proyek itu jadi ladang korupsi para pembuat kebijakan 
impor sapi sementara si sapi nya sendiri apanan belum tentu bisa hidup dengan 
baik di kultur negeri ini.

Pemikiran seperti ini yang mungkin terlintas di kepala raja Majapahit ketika 
akhirnya mau melepaskan mahkota kerajaan dan "masuk Islam" meskipun para 
pengawal setia nya kemudian memilih sikap untuk tetap menjadi "sapi lokal". 
Sang Raja Majapahit yang sudah terdesak ke pinggiran kemudian memilih untuk 
berakulturasi dengan Islam daripada sekian rakyatnya terus berbunuhan dengan 
alasan berbeda keyakinan. ( Apanan siapa atuh yang menyerang Majapahit ? Emang 
alasannya apa coba ? Da majapahit mah apan sebuah Negara yang toleran apanan 
yang kemudian harus 'runtuh' oleh serangan kerajaan anu yang menggelar ideologi 
anu )

Apan ujung - ujungnamah tepat 500 tahun setelah Majapahit runtuh ( 1984) , 
majapahit kembali hadir dalam bentuk nya yang lain : Indonesia. ( Monggo gali 
itu dasar negara diambil dari mana, Bhineka Tunggal ika digali dari mana, merah 
putih itu bendera siapa coba ...)

Hari ini apanan tetep, kembali ada sekian banyak pasukan "anu" yang berusaha 
memaksakan "ideologi Anu" dan ingin merubah Indonesia menjadi 100% seperti Arab 
di jaman 1500 tahun yang lalu.

Tapi da bagaimanapun Ini Indonesia.
Bukan Arap.



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://info.yahoo.com/legal/us/yahoo/utos/terms/

Kirim email ke