Jadi auloh lu itu kalah dgn sapi, krn auloh ga bs adaptasi di Sunda.

Apa lu sekarang msh nungging2 ke Arab sambil nyanyi2 ngejilat pantat nabi
lu pake bhs Arab? Knp lu ga pake bhs Sunda dan nungging2 ke gunung Ciremai
misalnya unt nunjukin lu bs adaptasi agama Islam?


2013/9/21 pinpinyuliansyah <[email protected]>

> **
>
>
> Jangankan agama atuh, bahkan seekor sapi pun mesti beradaptasi ketika
> berpindah tempat.
>
> Ketika saya usia SMA, saat si Nub di belahan bumi lain masih asyik
> "ngagugulung" motor butut terus kepalanya ditabok sama tentara gara - gara
> knalpot butut yang memekakan telinga, apan di Usia sekitar itu sayamah sama
> temen - temen sudah ikutan Karya Ilmiah Remaja, sudah terjun mengamati dan
> belajar bagaimana seorang peternak sapi yang tinggal di antara Sukabumi -
> Cianjur bisa sukses memberi kehidupan tidak hanya bagi keluarganya namun
> juga bagi masyarakat di sekitarnya.
>
> Tidak hanya beternak sapi, itu kotoran sapi ditampung dalam lobang
> kemudian bio gas nya di alirkan ke dapur - dapur rumah sehingga praktis
> penduduk disanamah nddak pakai kompor minyak tanah dan nddak pusing utuk
> urusan beli elpiji untuk urusan masak memasak. Kotoran sapi juga
> dimanfaatkan sebagai pupuk sehingga tanaman pangan tumbuh dengan subur,
> susu sebagai sumber protein bukan hanya dijual, namun juga dikonsumsi dan
> diolah menjadi berbagai macam olahan makanan.
>
> Coba bayangin, penduduk di sekitar peternak kita ini terpenuhi kebutuhan
> protein nya, bumbu dapur dan lalapan serta berbagai tanaman tubuh subur di
> sekitarnya, penghasilan setiap hari mengalir dari penjualan susu murni,
> sapi beranak pinak dan dengan itu bisa menjadi modal untuk menyekolahkan
> anak-anak mereka sekolah ke jenjang yang lebih tinggi tanpa harus menerima
> "Beasiswa buat si Miskin" tanpa tergantung pada "Biaya Operasional
> Sekolah". Mereka nddak perlu "BLT" atau tektek bengek program pemerintah
> yang "memiskinkan" warga negaranya ( Elo boleh terima duit bantuan ini !
> Tapi elo harus ngaku dulu kalau elo miskin ! ) mereka penduduk yang
> sederhana, nddak banyak ngomong ini itu, dan anggota dewan yang ngasal
> bikin program "mobil murah" saat ini mestinya malu melihat penduduk yang
> kayak ginian yang nddak banyak bacot tapi mampu membangun komunitas yang
> ajek dalam artian sejahtera, tentrem, aman, damai sesuai dengan Pancasila .
>
> Saat bercerita tentang wacana bantuan sekian banyak "Sapi Australia" yang
> ditawarkan pemeritah, pak Adi bercerita pada kami bahwa dia keberatan untuk
> menerima sekian banyak sapi - sapi impor itu. Kami bertanya "Mengapa ?
> Bukankah itu tandanya pemerintah peduli pada rakyat nya sehingga mereka
> menawarkan bantuan Sapi impor ?"
>
> Pak Adi menjelaskan ...
>
> "Mengapa harus impor ? Mengapa tidak mengembangbiakkan sapi lokal ? Sapi
> yang jelas - jelas telah lama hidup di sini dan telah akrab dengan tanah
> ini ! Lagipula, berapa uang negara yang harus keluar untuk meng impor
> sekian banyak Sapi Australi yang belum tentu bisa hidup dengan baik di sini
> karena perbedaan iklim ?" ( saat itu kami ngangguk ngangguk, pembicaraan
> seperti itu bagi kami, di usia segitu, adalah "pembicaraan mewah" yang
> perlu waktu untuk dapat mengunyahnya dengan baik.
>
> "Sapi itu tetap saja adalah mahluk hidup, meng impor sekian banyak sapi
> dalam waktu serentak artinya mengambil esiko besar yang sangat tidak perlu,
> mending kalau mereka bisa cepat beradaptasi, kalau gagal dan mati ? Saya
> bisa rugi besar . "
>
> "Meskipun ada pemikiran untuk meningkatkan kualitas sapi perah, lebih baik
> dipilih beberapa induk sapi yang berkualitas dari australia, dikarantina
> dulu, kemudian disilang dengan sapi lokal, sehingga kita bisa menemukan
> dalam generasi keberapa dari turunan sapi itu yang bisa menghasilkan
> generasi sapi yang memiliki kelebihan sapi australi sekaligus memiliki daya
> tahan sapi lokal sehingga menjadi sapi unggul yang tidak hanya produktif
> namun juga tahan terhadap berbagai penyakit serta bisa bertahan hidup
> dengan baik "
>
> ...
>
> Saya ngisep sisa sisa marlboro putih ..nginget - nginget lagi ... saat
> kami belajar dari peternak sukses itu ... itu kejadian di tahun 1989 ...
> ampir seperempat abad yang lalu apanan ... namun kebenaran dari kata - kata
> nya masih relevan sampai detik ini.
>
> Jangankan sapi, agama saja mesti beradaptasi.
>
> Saat sekian banyak umat Islam hari ini bersemangat untuk "membersihkan"
> Ajaran Islam agar Seperti Islam yang di Arab sana ... atau saat sekian
> banyak orang berpendapat bahwa Islam yang benar adalah Islam yang 100%
> murni seperti Islam di jaman nya Muhammad, sekitar 1500 tahun yang lalu ,
> saya jadi ingat tentang Sapi Australi ini ...
>
> Islam itu apanan lahir di arap dan mau nddak mau suka nddak suka Ajaran
> Islam itu apanan "ngigelan" kondisi Arab pada saat itu. Waktu itu. Secara
> sederhana, lihat saja keterangan Surga menurut Islam ... Surga digambarkan
> sebagai aman yang Indah dengan Air yang Melimpah ... Surga Khas dari sudut
> pandang Orang Arab yang tinggal di gurun dengan sumber air yang sangat
> sulit. Beda dengan Tatar Sunda yang subur makmur cur cor cai di mana mana
> ... apanan inilah surga !
>
> Sebelum Islam datang ke tanah sunda, apanan di sunda juga sudah ada agama.
> Jadi ... istilah keren nya, apanan mutlak diperlukan kearifan lokal dalam
> arti percis seperti yang dibilang peternak sukses itu ... meskipun "sapi"
> Australi itu harus kita impor, namun diperlukan penyesuain dengan kondisi
> di sini dan lebih baik lagi apanan "dikawin silang" kan sehingga kelebihan
> sapi Australi bertemu dengan kelebihan sapi lokal sehingga lahirlah sapi
> "baru" yang mau nddak mau suka nddak suka bakal berbeda dengan induk sapi
> nya. Bukan meng impor mentah - mentah sekian banyak sapi Australi dengan
> "membunuh" semua sapi lokal, dimana kejadiannya malah Proyek itu jadi
> ladang korupsi para pembuat kebijakan impor sapi sementara si sapi nya
> sendiri apanan belum tentu bisa hidup dengan baik di kultur negeri ini.
>
> Pemikiran seperti ini yang mungkin terlintas di kepala raja Majapahit
> ketika akhirnya mau melepaskan mahkota kerajaan dan "masuk Islam" meskipun
> para pengawal setia nya kemudian memilih sikap untuk tetap menjadi "sapi
> lokal". Sang Raja Majapahit yang sudah terdesak ke pinggiran kemudian
> memilih untuk berakulturasi dengan Islam daripada sekian rakyatnya terus
> berbunuhan dengan alasan berbeda keyakinan. ( Apanan siapa atuh yang
> menyerang Majapahit ? Emang alasannya apa coba ? Da majapahit mah apan
> sebuah Negara yang toleran apanan yang kemudian harus 'runtuh' oleh
> serangan kerajaan anu yang menggelar ideologi anu )
>
> Apan ujung - ujungnamah tepat 500 tahun setelah Majapahit runtuh ( 1984) ,
> majapahit kembali hadir dalam bentuk nya yang lain : Indonesia. ( Monggo
> gali itu dasar negara diambil dari mana, Bhineka Tunggal ika digali dari
> mana, merah putih itu bendera siapa coba ...)
>
> Hari ini apanan tetep, kembali ada sekian banyak pasukan "anu" yang
> berusaha memaksakan "ideologi Anu" dan ingin merubah Indonesia menjadi 100%
> seperti Arab di jaman 1500 tahun yang lalu.
>
> Tapi da bagaimanapun Ini Indonesia.
> Bukan Arap.
>
>  
>

Kirim email ke