Sekedar ttg penulisan 'arap' atau 'arab', 'masjit' atau 'masjid'- kenyataannya sebagian besar urang Indonesia tidak dapat mengucpakan /b/, /d/, /g/ pada akhir kata. Biasaya mereka mengucakannya sebagai /p/,/t/ dan /k/. Alasannya Bahasa Indonesia dan sebagian besar bahasa daerah tidak menggunakan voiced stops /b/,/d/ dan /g/ pada akhir kata.
Alhasil penulisan 'arap' dan 'masjit', 'muhamat' dst. lebih otentik karena memang manusia Indonesia mengucapkannya demikian. BTW kaum perempuan Indonesia sejak zaman baheula memainkan peranan penting dalam keluarga dan masyarakat. Yg jelas mereka tidak dianggap lebih hina, lebih o'on, lebih tidak mampu dibanding laki2. Bangsa yg tidak menghargai kemampuan kaum perempuan cenderung mengalami kerugian dari kira2 50% dari sumber daya manusianya. Gabriella ________________________________ From: pinpinyuliansyah <[email protected]> To: [email protected] Sent: Saturday, 21 September 2013 7:46 PM Subject: [proletar] Apakah Ada Wanita Sekaliber "Khadizah" Pasca Islam ? KONON sebelum Islam datang di tanah Arap ( Boleh baca dengan kata Arab ), wanita dalam posisi rendah dan direndahkan. Tak bernilai. Namun disaat bersamaan - KONON - Ada seorang wanita pengusaha sukses yang bernama Khadizah yang kemudian menjadi Istri Muhammat ( Boleh baca Muhammad ). Jika bener wanita Pra Islam dalam posisi rendah, apanan bagaimana bisa ada wanita yang bisa menjadi pengusaha sukses sekaliber Khadizah ? Jika ya setelah Islam datang wanita "dimuliakan", siapa wanita di jaman itu yang berhasil menjadi pengusaha sukses sekaliber Khadizah ? Sok mangga emutan sing leres geura ... Bagaimana bisa wanita menjadi pengusaha hebat seperti Khadizah, bagaimana bisa wanita bisa jadi pilot atau astronot kalau untuk naik sepeda sendirian aja baru diperbolehkan beberapa tahun yang lalu .. perlu waktu hampir 1.500 tahun hanya untuk memperbolehkan wanita dewasa di Arap untuk bisa naik sepda sendirian ( dan tetep dilarang hingga detik ini untuk mengendarai kendaraan bermotor sendirian -- apalagi -- pesawat terbang ). yang nddak habis pikir, semakin banyak saja orang - orang di Indonesia yang bersemangat untuk menjadikan Indonesia seperti Arap di jaman 1.500 tahun yang lalu ! Come On .... Saya shalat, saya puasa, saya Muslim. Namun kalau arus ini memaksa saya untuk memilih antara Islam Versi Lawas dengan Kembali menjadi penganut Sunda Wiwitan, maka saya akan memilih pilihan yang ke 2. Kalau mau surut ke belakang, Urang Sunda akan memilih untuk menjadi warga negara Kerajaan Pajajaran daripada dipaksa untuk menjadi warga negara Arap. Jika pemerintah terus tinggal diam terhadap merebaknya aksi Fundamenalis seperti ini, maka jangan disalahkan jika kemudian negeri ini menjadi pecah berkeping - keping menjadi "Pajajaran baru", "Majapahit Baru" , "Sriwijaya Baru", "Deli Baru" , "Neo Pasai" dllsb. Sebentar lagi 2014 apanan ya ... coba lebih selektif lagi dalam memilih pemimpin baru, coba di setiap pemilihan caleg lebih selektif lagi ... kita tidak butuh pemimpin atau wakil rakyat yang menjadikan jabatan itu hanya sebagai ladang untuk mencari nafkah. Indonesia terbukti telah mencetak sekian banyak wanita pengusaha, berhasil menempatkan wanita duduk di berbagai bidang dan setara dengan lelaki. Kita tentu tidak ingin sejarah surut ke belakang dimana wanita hanya berfungsi sebagai pembuat anak atau teman bobo doang. Gituh.
