Referensi: Kunjungan SBY bukan kunjungan Tuhan. Katanya kalau Tuhan berkunjung bisa langsung diadakan perubahan untuk perbaikan hidup manusia, tetapi SBY mesti sabar seperti bait lagu keroncong: Seribu tahun kau berjanji, seribu tahun aku menanti, asmara ditelan kekosongan, memang lidah tak bertulang, lain di bibir lain di hati, luka jiwa tubuh menjadi mati.
http://www.padangekspres.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=13310 Kunjungan SBY ke Papua Jum'at, 07-April-2006, 01:32:452 clicks Kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ke Papua secara formal merupakan kunjungan kerja. Tapi, kunjungan itu memiliki makna penting di tengah internasionalisasi masalah Papua, khususnya terkait unjuk rasa yang berakhir dengan anarki yang meminta korban tiga polisi dan seorang anggota TNI-AU meninggal dunia, serta pemberian visa sementara bagi 42 WNI asal Papua oleh pemerintah Australia. Dengan kunjungan itu, Presiden SBY bisa menyaksikan dengan mata kepala sendiri dan mendengarkan persoalan-persoalan paling aktual yang terjadi di bumi Cenderawasih itu. Bahkan, SBY diharapkan bisa mengetahui secara langsung, benarkah Papua tidak aman dan terjadi tekanan politik. Juga bisa diketahui adakah pelanggaran HAM oleh aparat militer yang kemudian menjadi dalih bagi 43 orang Papua yang lari dan meminta suaka ke Australia. Setelah kembali ke Jakarta, SBY diharapkan menemukan pola penanganan, solusi terbaik dan terkini mengenai persoalan-persoalan di Papua yang sering amat mudah menjadi isu internasional. Kita tahu tidak semua isu internasional mengenai Papua benar. Di antara berbagai isu yang berseliweran dan menjadi santapan berita media internasional, ada saja yang tidak benar. Bahkan, ada yang hanya bualan belaka. Persoalannya, isu-isu yang tidak benar tersebut sering sulit dicegah menjadi opini internasional. Isinya menyudutkan Indonesia pada stigma negatif. Indoensia dianggap sebagai negara yang tidak aman, khususnya bagi orang-orang Papua yang berbeda suku dan warna kulit dengan sebagian besar warga Indonesia yang lain. Celakanya, ideologi globalisasi senantiasa mengajarkan dan menganjurkan agar masyarakat internasional tidak boleh diam dan membiarkan adanya persoalan-persoalan yang berkait dengan pelanggaran HAM, tekanan politik karena perbedaan ras, suku, agama, dan perbedaan keyakinan politik sekalipun hal tersebut merupakan persoalan domestik suatu negara. Dengan kata lain, menurut ideologi globalisasi, masalah domestik suatu negara yang terkait dengan pelanggaran HAN, tekanan politik oleh rezim terhadap warga atau kelompok masyarakat yang berbeda ras, agama, dan pandangan politik, tidak bisa lagi dianggap sebagai masalah internal yang tidak bisa dicampuri masyarakat internasional. Dalam konteks seperti inilah, internasionalisasi masalah lokal Papua perlu dipahami dan dicarikan solusi yang dapat mencairkan tudingan buruk -yang sebagian tidak benar itu- kepada pemerintah Indonesia. Soal keamanan dan pengamanan, misalnya. Mungkin saja manajemen yang dijalankan aparat keamanan telah berubah. Namun, pada saat dan situasi tertentu, memang tidak mungkin aparat keamanan meninggalkan sama sekali pendekatan yang bersifat force. Perubahan-perubahan pola pengamanan dan manajemen keamanan yang sudah lebih manusiawi kadang juga masih berbenturan dengan tindakan anarki kelompok masyarakat tertentu terhadap kelompok masyarakat lain dalam menyelesaikan suatu persoalan. Hal-hal demikian lantas berkembang menjadi isu internasional bahwa Indonesia tidak aman. Gampang terjadi tindak kekerasan. Dan, ketika muncul kasus warga Papua meminta suaka di negeri lain dengan dalih daerahnya tidak aman atau mendapat tekanan politik, terciptalah opini internasional bahwa Indonesia memang tidak aman. Opini seperti itu menjadi pembenar bagi Australia, misalnya, untuk memberikan visa sementara. Hal itu juga menjadi pembenaran bagi organisasi-organisasi internasional untuk sering menelisik Indonesia sebagai negara yang perlu dicampuri dalam setiap persolan domestik yang dianggap terkait dengan pelanggaran HAM, perbedaan ras, agama, dan perbedaan keyakinan politik. [Non-text portions of this message have been removed] Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
