REFLEKSI: Maksudnya menutupi kebusukan bahwa 80% dari rakyat Papua Hidup dibawah garis kemiskinan dan mayoritas anak dibawah umur 10 tahun menderita Hipatit A?
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0604/07/sh03.html Di Bandara Sentani Pengawasan Orang Asing Diperketat Jayapura - Kepolisian Daerah (Polda) dan Imigrasi Papua memperketat pengawasan terhadap kunjungan warga negara asing (WNA) yang tiba di Bandara Sentani Jayapura. Langkah itu untuk mencegah masuknya lembaga swadaya masyarakat (LSM) asing yang akan melakukan kegiatan di Papua dengan berkedok mengadakan penelitian. Kapolda Papua, Irjen Tommy Jacobus dalam keterangannya kepada SH, Jumat (7/4) mengatakan, langkah tersebut diperlukan untuk mengantisipasi campur tangan pihak asing yang dapat memperkeruh situasi di Papua yang sudah mulai kondusif pasca insiden Abepura, 16 Maret 2005. Yang lebih penting lagi, menurut Tommy Jacobus, setiap aktivis LSM asing yang masuk ke Papua akan diperiksa surat-surat perjalanannya serta dokumen lainnya secara ketat dan akan diawasi gerak-geriknya terkecuali sebagai orang asing yang benar-benar wisatawan bekerja atau yang bergerak di bidang keagamaan. "Jangan sampai kedatangan aktivis LSM asing ke Papua, kemudian melakukan kegiatan politik dengan mewawancarai tokoh-tokoh tertentu, malahan akan menambah keruh suasana. Kalau itu dilakukan oleh aktivis LSM asing tersebut, maka Polda Papua akan meminta yang bersangkutan segera meninggalkan Papua," tegasnya. LSM Australia Dalam kesempatan itu, Kapolda Irjen Tommy Jacobus menjelaskan pihaknya pada Rabu (5/4) telah meminta seorang aktivis LSM warga negara Australia meninggalkan Papua karena telah melakukan kegiatan-kegiatan mengarah pada politik terutama pada isu politik di Jayapura dengan mewawancarai berbagai tokoh Papua secara terpisah. Dia menyatakan, gerak-gerik yang bersangkutan telah diamati oleh pihak intel Polda Papua sejak kedatangannya. Karena kegiatannya tersebut, dengan dikawal oleh intelpolda Papua ke Bandara Sentani Jayapura, dan selanjutnya diminta naik pesawat yang menuju ke Jakarta. "Dia diminta meninggalkan Papua dan bersedia. Jadi tidak perlu diusir. Semula dia akan menuju ke Timika dengan ditemani seorang tokoh Papua dan di Timika akan mewawancarai beberapa tokoh. Kemudian dia sendiri membatalkan kunjungannya itu. Papua tidak tertutup bagi orang asing, asalkan jelas maksud dan tujuannya" ujarnya. Aktivis LSM warga negara Australia itu diketahui adalah seorang perempuan bernama Francesca Lawe-Davis dari International Crisis Group yang berkantor di Menara Thamrin lantai 14 Jalan MH Thamrin Jakarta Pusat. Francesca tiba di Jayapura Senin (3/4) bertepatan dengan rapat pleno KPUD Papua, rekapitulasi hasil pilkada gubernur/wakil gubernur Papua. Dalam dua hari yang bersangkutan telah melakukan serangkaian kegiatan dengan mewawancarai beberapa tokoh Papua. Kemudian pada Rabu (5/4), ia rencananya akan ke Timika dengan seorang tokoh Papua tapi dicekal oleh Polda Papua dan diminta kembali ke Jakarta. Menurut Kapolda Papua, pihaknya telah melaporkan hal itu kepada Kapolri Jenderal Sutanto. Di Jakarta, untuk penanganan lebih lanjut sudah menjadi kewenangan Mabes Polri. Sedangkan, Francesca yang berhasil dihubungi SH melalui telepon membenarkan dirinya memang mempersingkat kegiatannya di Papua, dan harus membatalkan kunjungannya ke Timika. (soehendarto) [Non-text portions of this message have been removed] Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
