http://www.sinarharapan.co.id/berita/0604/07/opi01.html


Buruh Juga Manusia 
Oleh
Benny Susetyo


Nasib kaum buruh tidak pernah baik dari dulu hingga kini. Kata buruh itu 
sendiri konotasinya cenderung negatif. Strata sosialnya rendah, karenanya 
sering tidak dianggap sebagai manusia kecuali sebagai mesin produksi. 
Perusahaan dan pemerintah kerap tidak memperhitungkan segi-segi kemanusiaannya. 
Buruh identik dengan mesin produksi.

Protes keras kaum buruh atas keinginan pemerintah merevisi UU No 13/2003 
tentang Ketenagakerjaan contoh buruh ingin dilihat bukan semata-mata sebagai 
mesin produksi yang bisa diabaikan begitu saja. Hubungan industrial yang 
terdiri dari pemerintah, pengusaha dan pekerja sampai kini belum menemukan 
formulasi yang bisa memuaskan banyak pihak. Di lapangan, adu argumentasi antara 
buruh dan majikan tidak membuat pemerintah melek. Ada sesuatu yang timpang di 
antara mereka.

Dilema pemerintah, ia didorong meningkatkan investasi. Untuk mempercepat laju 
ekonomi, dibuatlah berbagai kebijakan untuk menarik investor. Sayang, Indonesia 
belum negara yang menarik untuk investasi. Salah satu sebabnya, pemerintah 
belum siapkan perangkat kebijakan yang memadai guna menciptakan iklim investasi 
yang kondusif. Salah satu masalah urgennya pada buruh tersebut. Belum ada 
pemahaman yang bisa menyenangkan semua pihak. 
Lebih ironis, negara justru sering mengabaikan satu pihak untuk menguntungkan 
pihak lain. Memang tidak mudah mengatur ketenagakerjaan. Kealpaan pemerintah 
selama ini adalah tidak menyadari bahwa kebijakan yang satu terkait/berpengaruh 
pada kebijakan lainnya.
 

Korban Kebijakan 
Harga kebutuhan pokok yang terus meninggi sebab utama meningkatnya biaya hidup 
masyarakat. Buruh dan pengusaha menjadi korban utama kebijakan pemerintah di 
luar ketenagakerjaan. Akibatnya ketika harus merumuskan visi UU Ketenagakerjaan 
pemerintah merasakan kesulitan untuk bisa mengakomodasi dua kepentingan yang 
berbeda ini. Hal ini tidak diantisipasi dengan cermat dan sering luput dari 
perhatian.
Buruh berkepentingan untuk bisa hidup layak dan memiliki jaminan kerja memadai 
untuk masa depannya yang layak. Sementara pengusaha berkepentingan agar 
perusahaannya meraih keuntungan besar. Pemerintah berkeinginan meminimalkan 
pengangguran dan mengentaskan kemiskinan. Untuk mempertemukan ketiga keinginan 
di atas, sulitnya bukan main. Yang sering dijadikan korban adalah buruh. 
Revisi UU Ketenagakerjaan yang sedang digarap di parlemen saat ini dengan 
demikian menyisakan agenda besar. Sejauh mana pemerintah dan DPR memandang 
buruh bukan semata-mata faktor produksi, melainkan juga pelaku produksi yang 
bisa menentukan maju mundurnya perusahaan. Juga subjek yang bisa menentukan 
keberhasilan dan kegagalan pemerintah. 

Tanggung jawab pemerintah dalam hal ini adalah menata dan memperbaiki hubungan 
industrial yang timpang. Bukan semata-mata pemihakan kepada kaum buruh yang 
penting di sini, melainkan juga bagaimana menata negeri ini menjadi aman dan 
makmur untuk berinvestasi dengan semangat hubungan industrial yang seimbang dan 
saling menghargai perannya masing-masing.


Ukuran Kemajuan Bangsa
Kebijakan untuk memihak buruh memang akan pahit di tengah lapangan, tetapi hal 
itu akan membuktikan sejauh mana negara ini peduli pada wong cilik. Bukanlah 
masalah buruh itu yang penting untuk dipikirkan, melainkan para buruh itu juga 
memiliki keluarga: anak, istri/suami.

Kemajuan bangsa ini akan terukur sejauh mana bangsa ini menghargai nasib buruh, 
petani dan nelayan. Dalam berbagai kebijakannya, pemerintah sering mengabaikan 
keberadaan mereka. Mereka sudah berkali-kali menjadi korban kebijakan 
pemerintah.

Impor beras, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), melambungnya harga pupuk 
sampai dengan kenaikan harga-harga kebutuhan dasar lainnya menjadi tanda 
kegagalan pemerintah dalam melindungi rakyatnya.

Karl Marx menggolongkan kaum buruh sebagai kaum proletar, kaum yang 
terpinggirkan oleh manipulasi dan rekayasa modal dan intrik-intrik 
politik-kebijakan. Marx mengatakan bahwa buruh adalah pilar perubahan yang 
signifikan untuk menentukan perubahan dalam dirinya sendiri. 

Hanya sederhana yang dituntut oleh buruh di negeri kita ini - minimal tidak 
seheboh tuntutan para wakil rakyat di parlemen. Buruh hanya minta kehidupannya 
yang sudah sederhana itu tidak disederhanakan lagi dalam kebijakan publik yang 
kerap (dan hampir pasti) mengabaikan nasibnya. 
Buruh yang sudah miskin jangan dipermiskin lagi. Kalau memang pemerintah sudah 
merasa gagal untuk mensejahterakan buruh, jangan lagi membuat kebijakan yang 
potensial melahirkan eksploitasi buruh. Buruh juga manusia! 

Penulis adalah Pendiri Setara Institute)

[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke