http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=219921

Jumat, 07 Apr 2006,



Media Praktis Kepemimpinan
Oleh Cinta Ariani *

Kehadiran pemimpin yang mempunyai kepiawaian lebih dalam mengatur organisasi 
sangat diperlukan. Menghadapi tantangan dan kompetisi yang sengit, dibutuhkan 
sikap dan perilaku pemimpin yang mempunyai kualitas unggul dalam mengembangkan 
manajemen negara/organisasi. Dia juga harus mampu memperlihatkan ide-ide 
cemerlang serta membawa konsep inovasi dan kreativitas baru bagi 
negara/organisasinya. 

OKP (organisasi kepemudaan) merupakan salah satu media bagi mahasiswa untuk 
melatih dan mengembangkan jiwa kepemimpinan tersebut. Sebab, OKP memberikan 
latihan dasar kepemimpinan yang menjadi proses kaderisasi. Itu diharapkan mampu 
memberikan landasan dasar kepemimpinan bagi mahasiswa untuk tampil dalam 
realitas masyarakat.

Ada sedikit kekecewaan di dada bangsa ini ketika mahasiswa, yang notabene 
dinobatkan sebagai agen perubahan yang telah melawan rezim otoriter saat itu, 
kini ternyata mengalami stagnasi pergerakan. 

Penyebabnya, mahasiswa hanya berkutat pada masalah-masalah klasik -dan menurut 
penulis adalah masalah +++kilafiyah. Mereka melupakan akar masalah besar yang 
dihadapi bangsa ini, yaitu reformasi total. 

Problem tersebut tak lepas dari tarik ulur berbagai kepentingan yang ingin 
meredam semangat juang pergerakan mahasiswa dalam menegakkan semangat 
reformasi. Kondisi tersebut tentu tidak kondusif bagi keberlangsungan hidup 
berbangsa dan bernegara. 

Jika kita cermati lebih lanjut, masalah stagnasi pergerakan tidak luput dari 
disfungsi peran organisasi kepemudaan atau OKP. Sebab, OKP merupakan bagian 
dari proses penempaan pendidikan kepemimpinan mahasiswa yang memberikan andil 
penting bagi proses kepemimpinan elite bangsa. 

Maka tak salah, jika banyak di antara pemimpin negeri (elite politik) saat ini 
merupakan alumnus OKP (terutama kelompok Cipayung entah itu dari HMI, PMII, 
GMKI, PMKRI, ataupun GMNI) yang menjadikan batu loncatan pergerakan dalam poros 
politik mereka. Lalu, jika kita teropong lebih lanjut, ada arah hubungan linear 
yang saling memengaruhi antara disfungsi peran OKP dengan kegagalan elite 
politik sebagai pengelola negara saat ini (hal ini tentunya tak bisa lepas dari 
konteks civil society).

Hubungan linear disfungsi peran OKP dengan kegagalan elite politik sebagai 
pengelola negara menggunakan asumsi bahwa sebagian besar elite politik 
Indonesia adalah alumnus OKP dari berbagai perguruan tinggi. 

Untuk itu, ada beberapa variabel yang berpengaruh terhadap hubungan di atas. 
Pertama, tarik-menarik kepentingan dalam OKP yang berasal dari pengaruh elite 
politik dan pengaruh pemerintah dengan berbagai kepentingan. Dalam hal ini, 
pemerintah menghendaki kontrol OKP untuk menghambat laju pengkritisan terhadap 
pemerintah melalui mata kuliah yang tak jelas, tapi padat waktu.

Di pihak lain, elite politik -yang sebagian besar berasal dari alumnus OKP- 
menggunakan OKP sebagai kendaraan politik untuk mengguncang pemerintah yang 
sedang berkuasa demi memperoleh kedudukan strategis di dalamnya dan larinya 
berpangkal pada perebutan area kekuasaan. 

Kondisi tersebut mengakibatkan OKP bergerak di tempat dan mulai melupakan 
perannya untuk melakukan gerakan moral serta advokasi menyangkut kepentingan 
rakyat. Tak salah, OKP-OKP yang bergabung dalam kelompok Cipayung saat ini 
mulai dijauhi mahasiswa karena ada stigma-stigma negatif yang melekat pada diri 
OKP tersebut. 

Keadaan itu terlihat dari menurunnya jumlah kaderisasi OKP yang tergabung dalam 
kelompok Cipayung. Parahnya lagi, di saat terjadi penurunan kuantitas kader, 
menurun pula kualitas OKP. Potret itu terjadi karena OKP bagai menara gading 
yang jauh dari akarnya. Karena sudah kehilangan makna proses penempaan 
kepemimpinan sebagai nilai lebih mahasiswa, OKP tak lebih sebagai batu sandaran 
elite politik untuk memaksakan kepentingannya. 

Jadi, tak salah, OKP hanya dilirik dan diminati mahasiswa ketika ada hajatan 
besar seperti pemilu raya kampus sebagai acara ritual tahunan {untuk memilih 
badan eksekutif mahasiswa (BEM) dan badan legislatif mahasiswa (BLM)}. 

Kedua, label OKP yang hanya diperuntukkan bagi mahasiswa frustrasi kuliah 
tampak melekat di mata kalangan mahasiswa sendiri (banyak aktivis OKP yang 
mempunyai IP jelek ataupun waktu studi yang lama). Itu akibat lemahnya 
manajemen internal terhadap segala aktivitas ekstra OKP yang berdampak bagi 
buruknya manajemen waktu dari mahasiswa. 

Walhasil, banyak aktivis kampus pada akhir dekade ini yang hancur IP-nya, waktu 
studi molor, bahkan sampai ada mahasiswa yang terkena sanksi DO (drop out). 
Jika hal tersebut berlangsung lama, kualitas produk dari OKP menurun. 

Karena itu, timbul keraguan akan kemampuan leadership dari binaan OKP. 
Mengorganisasi pribadi dan organisasinya saja tak becus, apalagi mengatur 
rakyat yang jumlahnya jutaan dengan berbagai kepentingan dan permasalahan.

Ketiga, perlu pemahaman kembali peran OKP. OKP yang syarat dengan berbagai baju 
ideologi tak lain hanya contoh simbol ragam budaya masyarakat kita. Untuk itu, 
kita perlu menghormati ragam budaya yang berbeda, tetapi tetap memegang 
persatuan dan kesatuan. Jangan lantas ideologi dianggap perbedaan tujuan. 
Sebab, OKP adalah wadah pendewasaan pemahaman kita terhadap semua hal, termasuk 
media kepemimpinan. 


* Cinta Riani, mahasiswi jurusan Sosiologi FISIP Unair


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke