http://www.sinarharapan.co.id/berita/0605/16/sh04.html
30.000 Anak Terancam Putus Sekolah di Malaysia Lembaran Kumal untuk "Budak Indon" Oleh Sofyan Asnawie KINABALU-Empat anak Indonesia tekun berbincang menghadapi secarik kertas, membicarakan matematika di atas lembaran catatan yang terlihat kumal. Mate-matika yang ada di lembar-an lecek itu adalah pembe-rian beberapa rekan mereka di dalam sekolah kerajaan (SD Negeri) di pingiran Kota Lahad Datu, Sabah Malaysia Timur, tidak jauh dari perkebunan sawit. Setiap ada orang datang, mereka berbisik bisik: "Awas polis!", maksudnya polisi. Ketika SH menghampiri, semula mereka mengambil ancang-ancang lari. Begitu disapa dengan menyebut "sama-sama Indon", maksudnya Indonesia-sebutan umum di kalangan masyarakat Malaysia terhadap orang Indonesia-"budak-budak" (anak-anak) Indon yang berusia antara 8 hingga 11 tahun itu pun terdiam. Hampir semua menga-takan mereka ingin kembali sekolah. Tahun lalu, mereka memang diberhentikan dari sekolah karena diberlakukannya peraturan baru bidang pendidikan bagi warga negara asing di negara kerajaan itu. Mereka baru diizinkan kembali ke sekolah apabila bisa memperlihatkan surat keterangan jaminan dari keluarga warga negara Malaysia. Karena tidak memiliki jaminan, anak-anak TKI itu pun terpaksa putus sekolah. Bagaimana bisa memiliki jaminan? Mereka tidak banyak mengetahui seluk beluk masyarakat Malaysia sekitar perkebunan tempat ayah-ibu mereka bekerja sebagai buruh kasar perkebunan sawit. Salah satu dari keempat anak Indon, terakhir duduk di klas satu sekolah dasar, yang lainnya duduk di darjah (peringkat atau kelas) 3 dan 4. Yang terkecil bernama Ramli (8) menceritakan bagaimana dia harus menangis berhari-hari karena tidak bisa sekolah. Ramli kehilangan kecintaannya, rasa bangga sebagai manusia yang baru bisa membaca, meski awal terbata-bata, bisa berhitung walau dengan kerut kulit dahi yang melekuk-lekuk, dan yang terpenting baginya adalah dia terpaksa kehilangan kawan bermain di sekolahnya. Lain lagi dengan Rafli yang baru lima tahun berada di Lahad Datu. Sebelum diberhentikan, dia duduk di darjah 4 sekolah dasar kerajaan, terusir dari sekolah tahun lalu. Rafli diminta mencari ayah angkat warga Malaysia, karena ayah dan ibunya pekerja kasar di ladang sawit, tidak banyak pergaulan dengan masyarakat sekitar. Karena tetap tidak mempunyai penjamin, Rafli dari keluarga Bugis Enrekang itu kini menjadi anak anak putus sekolah. Dialah yang membimbing rekan-rekannya Ramli, Abas, dan Udin mencari soal-soal pelajaran, kertas ulangan, dan catatan-catatan dari sejumlah rekannya yang kini duduk di darjah 5. Kebetulan, hubungan Rafli dengan kawan-kawan Malaysianya tetap baik. Banyak pelajaran, terutama pengetahuan umum dan matematik, disalinkan untuk dia, kadang pemecahan soal dibantu oleh teman Malaysia seusia dia. "Yang penting kami mengerti soalan yang ada," katanya. Ramli dan kawan kawan Indon anak TKI ingin sekali sekolah, walau cita-cita utamanya kelak bila dewasa, atau pada usia 15 tahun, bisa bekerja sebagai penyengget atau menyiangi sawit tempat ayah dan ibunya kini bekerja. Karena sepengetahuan mereka, pekerjaan itulah yang bisa menghasilkan ringgit. Ayahnya memperoleh upah 14 ringgit sehari, Ibunya hanya 10 ringgit. Sejumlah anak lainnya yang ditemui di bandar Tawau mengatakan kini mereka terpaksa belajar sendiri, kadang berkelompok, terutama bagi anak usia dini sekolah yang mencoba meminta bantuan rekannya yang pernah belajar di sekolah dasar. "Yang penting bagi anak-anak itu bisa membaca menulis dan berhitung," kata Jafara, asal Pinrang, Sulsel, saat ditemui tidak jauh dari sebuah ladang sawit di Kinabatangan, tidak jauh dari Sandakan. Apa yang dialami oleh Ramli dan kawan-kawan Indon-nya, adalah sebagian dari sekitar 30.000 warga Indonesia usia antara 5 sampai 13 tahun yang terpaksa putus sekolah. Hal ini menyusul peraturan pemerintah Malaysia yang tidak mengizinkan anak-anak dari keluarga pekerja asing tanpa izin (PATI) yang tidak memperoleh jaminan tinggal warga Malaysia untuk mengikuti kegiatan belajar di Sabah, Malaysia Timur. Dua konsul pada kantor perwakilan RI untuk Sabah, Malaysia, di Kota Kinabalu, Wahyu Hidayat SH dan Iskandar Abdullah mengatakan puluhan ribu anak Indonesia dari keluarga TKI yang semula sekolah di seluruh pelosok Sabah menjadi putus pendidikan. Mereka dikeluarkan dari sekolah, begitu pemerintah Malaysia menerapkan peraturan baru tersebut. Menurut Wahyu dan Iskandar, persoalan tersebut telah diketahui Jakarta, bahkan Wakil Presiden Jusuf Kalla merasa prihatin. Pemerintah mencoba menyikapi masalah yang menyangkut masa depan ribuan anak TKI yang kini berada di Sabah itu. Secara khusus, Menteri Pendidikan Nasional mengirimkan sejumlah utusan ke Kementerian Pendidikan Malaysia di Putrajaya, Kuala Lumpur. Mendiknas bahkan telah mengirimkan stafnya, Bambang Indriyanto, Setditjen Manajemen Dikdasmen (Pendidikan Dasar Menengah) ke Malaysia. Staf Depdiknas ini mempelajari pola belajar-mengajar di reading class, NGO Humana Child Aid Sociaty Sabah dengan 54 reading class. n [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> You can search right from your browser? It's easy and it's free. See how. http://us.click.yahoo.com/_7bhrC/NGxNAA/yQLSAA/uTGrlB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
