http://www.sinarharapan.co.id/berita/0605/17/opi01.html
Konsep Pembangunan Oleh Ivan A Hadar Pada acara deklarasi Gerakan Nusantara Bangkit Bersatu, Maret lalu, mantan Presiden Abdurrahman Wahid mengatakan, pemerintah tidak memiliki konsep utuh tentang pembangunan, ditandai dengan makin terpuruknya bangsa Indonesia dalam berbagai segi kehidupan. Kondisi ini akibat "kelesuan" arah pembangunan Orba Orientasi jangka pendek para elite politik selama ini, ikut mempersulit pencapaian konsensus bersama sebagai basis bagi pencarian orientasi pembangunan. Banyak yang berharap SBY sebagai presiden akan mampu memberikan orientasi pembangunan yang jelas dan prorakyat. Hingga kini belum terwujud. Secara sederhana krisis tersebut disebabkan empat hal: Pertama, sebagai teori, baik modernisasi maupun dependensia, tidak merasa perlu menganalisis diferensiasi yang ada di dunia ketiga. Padahal, tidaklah mungkin memasukkan semua negara tersebut dalam kategori dunia ketiga. Kedua, dalam perdebatan tentang negara industri baru tidak semua teori bisa menjelaskan. Meski sempat dilanda krisis ekonomi, Korea Selatan dalam 30 tahun mampu bersaing dengan negara industri maju. Ini tidak dapat diterangkan dengan berbagai teori. Meski ditandai berbagai dampak negatif seperti kerusakan lingkungan, Korea Selatan telah menghasilkan berbagai kemajuan, bukan keterbelakangan. Ketiga, target pertumbuhan ekonomi penyebab krisis teori pembangunan. Semua sepakat tentang tujuan mengejar ketertinggalan dalam proses industrialisasi, namun berbagai krisis ekologi menunjukkan keterbatasan model pembangunan industrial. Keempat, kandasnya segala bentuk utopia dan model berbagai teori pembangunan. Teori pembangunan, tidak hanya mencoba menerangkan tentang (under development, melainkan juga memberikan rancangan sosial-politik serta strategi pembangunan. Model sosialistis a la Kuba atau Nicaragua, maupun model neo-klasik ala Chile, seperti gerakan Ujama di Tanzania, menurut pengritik teori Ulrich Menzel (1991), tidak membawa perbaikan bagi kebanyakan penduduk. Tinggalkan Teori Krisis teori telah mempengaruhi kebijakan pembangunan sejak 1990-an. Kalau dulu, semuanya terpaku pada dikotomi metropol-periferi atau masyarakat modern-tradisional, saat ini, dimungkinkan analisis yang lebih beragam. Kompleksitas (under) development hanya bisa digambarkan secara utuh setelah menelusuri sejarah kolonial sebuah negara, menganalisis dampak pasar global dan pengaruh berbagai faktor lokal. Studi dengan pendekatan pluralisme teori yang kini mulai banyak dipraktikkan, menghasilkan asumsi yang lebih mendekati kenyataan riil tentang sebuah situasi atau tentang sebuah kelompok masyarakat. Meski, bisa menjadi masalah ketika muncul kesimpulan dimana-mana segala sesuatu itu berbeda, karena dari setiap kasus tidak mungkin dan tidak ingin ditarik kesimpulan yang berlaku umum. Emoh teori dan pluralisme teori saat ini, mengandung bahaya berikut. Semua yang berbau ideologi ditinggalkan, sehingga dengan tanpa sadar, kita tidak mempunyai pegangan. Yang dilakukan sekadar mengibarkan bendera kecil dalam pusaran wind of change usai Perang Dingin. Padahal, angin kencang yang berhembus, berasal dari arah neo-liberal. Dengan begitu, meski harus diakui terdapat banyak elemen yang mubazir dan salah dalam berbagai teori tersebut, banyak pula hal-hal yang berguna dari teori, selain teori neo-liberal, menjadi terlupakan. Contoh konsep heterogenitas struktural. Hal ini, dalam era globalisasi, masih tetap diperlukan untuk memahami fenomena keterbelakangan. Konsep ini bisa menerangkan, mengapa Bangkok atau Jakarta, sebagai Metropol-Dunia-Ketiga lebih terkait dengan pasar dunia ketimbang dengan hinterland-nya sendiri. Begitu pula dengan konsep modernisasi yang mendiskusikan Landreform sebagai persyaratan pembangunan, mempunyai nilai pencerahan yang tinggi. Sejumlah Saran Berikut beberapa usul. Pertama, meski investasi asing penting, namun idealnya pertumbuhan didanai oleh tabungan dan investasi dalam negeri. Untuk itu dibutuhkan sistem pajak progresif. Kedua, meski pasar ekspor penting, tetapi terlalu fluktuatif untuk mampu menjadi motor bagi pertumbuhan. Pembangunan sebaiknya mengutamakan pasar dalam negeri sebagai motor pertumbuhan. Upaya untuk keluar dari krisis lewat ekspor mengakibatkan perlombaan penurunan harga komoditas yang pada gilirannya, memicu krisis di negara-negara lain. Ketiga, bila pasar dalam negeri menjadi motor pembangunan, diperlukan sebuah strategi pertumbuhan dan pemerataan. Pembangunan berorientasi pasar dalam negeri harus di-regionalisasi dengan sebuah visi impor substitusi serta regional integrated market yang dilindungi. Terkait ini, pembangunan pertanian menjadi sebuah keniscayaan. Penulis adalah Direktur Eksekutif Indonesian Institute for Democracy Education [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Get to your groups with one click. Know instantly when new email arrives http://us.click.yahoo.com/.7bhrC/MGxNAA/yQLSAA/uTGrlB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
