http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/052006/22/09lapsus04.htm
Siliwangi dari Masa ke Masa
Sejak resmi berdiri, Siliwangi berada di garda depan dalam mempertahankan, dan
mengisi kemerdekaan. Pengabdian demi pengabdian telah diraihnya secara gemilang
sehingga wajar bila karya juang Siliwangi dicatat dalam lembaran sejarah
perjuangan bangsa. Beberapa karya juang Siliwangi antara lain:
KETUA Presidium Badan Pembina Citra (BPC) Siliwangi, Mayjen TNI (Purn) H.
Tayo Tarmadi (kedua kanan), menyerahkan buku "Siliwangi adalah Rakyat Jawa
Barat, Rakyat Jawa Barat adalah Siliwangi" kepada sesepuh Siliwangi, Solihin
G.P., disaksikan anggota Presidium BPC Siliwangi, Ny. Popong Otje Djundjunan,
saat peluncuran buku tersebut di Markas Kodam III/Siliwangi, Jumat (19/5).*EDI
PURWANTO/"PR"
Agresi Militer Belanda I
Divisi Siliwangi berjuang menghadapi serangan Belanda hingga terjadi
pertempuran sengit di sepanjang Bogor-Bandung. Tanggal 22 Juli 1947 terjadi
duel altileri pasukan Siliwangi dengan Belanda di Sukabumi. Tanggal 27 Juli
1947, pasukan Siliwangi di Cirebon berjuang menahan gempuran pasukan Belanda.
Di Bandung Selatan terjadi pertempuran sengit hingga pasukan Siliwangi berhasil
memukul mundur pasukan Belanda. Tanggal 31 Juli 1947, pasukan Siliwangi
berhasil merebut Kota Sukabumi dan Tangerang dari tangan Belanda.
Siliwangi Hijrah
Akibat hasil "Perjanjian Renville", Divisi Siliwangi diharuskan pindah (hijrah)
ke Jawa Tengah, tanggal 1 hingga 22 Februari 1948.
Pemberontakan PKI Muso
Pasukan Divisi Siliwangi dari Brigade Sadikin dan Kusno Utomo bergerak menumpas
PKI di daerah Jawa Tengah, kemudian mengepung dan menyerang Madiun dari arah
Barat. Pada tanggal 30 September 1948, pasukan Siliwangi dari batalyon Kian
Santang menguasai Madiun yang menjadi markas PKI Muso.
Agresi Militer Belanda II
Tanggal 19 Desember 1948, Belanda melakukan serangan umum secara besar-besaran
ke jantung pusat pemerintahan RI di Yogyakarta. Panglima Besar Jenderal
Sudirman mundur ke luar kota. Begitu pula dengan pasukan Siliwangi. Seterusnya,
melakukan perang gerilya.
Long March Kembali ke Jawa Barat
Pasukan Siliwangi kembali ke Jawa Barat yang dikenal dengan peristiwa long
march. Namun dalam perjalanan terjadi bentrokan senjata antara pasukan
Siliwangi dan tentara Belanda di Desa Sukowaluh, Kaloboto, Kebumen, Jawa Tengah.
Penumpasan DI/TII
Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) Kartosuwiryo ialah kelompok
bersenjata yang cukup kuat di Jawa Barat. Pasukan Siliwangi menggunakan sistem
pagar betis. Sementara Batalyon 328/Kujang II adalah yang mencari dan menangkap
Kartosuwiryo.
Penumpasan PRRI/Permesta
Siliwangi untuk pertama kalinya mendapat tugas operasi di luar Jawa. Dengan
berbekal pengalaman tempur yang berbasiskan dukungan rakyat, Siliwangi berhasil
menjalankan tugasnya.
Kontingen Garuda II di Kongo, Afrika
Pada tahun 1960, PBB meminta Divisi Siliwangi untuk turut berpartisipasi secara
langsung dalam tugas memelihara dan menjaga perdamaian di Kongo (sekarang
Zaire). Pimpinan pasukan PBB, Jenderal Von Horn menyatakan kontingen Garuda II
dapat disejajarkan dengan kesatuan militer kelas satu di dunia.
Penumpasan Kahar Muzakar
Tanggal 3 Februari 1965, Peleton I Kompi D Batalyon 330/Kujang Siliwangi
dipimpin Peltu Umar Sumarsana berhasil menyergap tempat persembunyian Kahar
Muzakar di daerah Sungai Lasolo Sulawesi Tenggara. Kopda Ili Sadeli, anggota
Yon 330/Kujang menembak dada Kahar Muzakar hingga mati.
Penumpasan RMS
Tanggal 25 April 1950, diproklamasikan Republik Maluku Selatan (RMS). Guna
mencapai cita-citanya, RMS bertindak dengan tangan besi dan meneror rakyat.
Pasukan Siliwangi dari Brigif 15 dengan pasukan Batalyon 310, 315, dan 320
diperintahkan menumpas RMS.
Dwikora
Tanggal 3 Mei 1964 diumumkan Dwi Komando Rakyat (Dwikora). Pasukan Siliwangi
dari Brigif 15/Tirtayasa dikirim dalam operasi Dwikora.
Penumpasan G30S/PKI
Mungkin hanya di wilayah Kodam III/Siliwangi, PKI dilumpuhkan tanpa harus
terjadi pertumpahan darah. Siliwangi dengan pembinaan teritorialnya (binter)
menumpas G30S/PKI dengan mengedepankan penegakkan hukum.
Penumpasan Gerombolan PGRS/Paraku
Setelah berhasil menumpas G30S/PKI, gembong-gembong PKI yang berhasil melarikan
diri bergabung dengan Pasukan Gerilya Rakyat Serawak (PGRS) di Kalimantan
Barat. Kodam Siliwangi menugaskan Brigade Linud 17 Kujang I/Siliwangi dan
Brigif 12 Guntur untuk melakukan operasi Sapu Bersih PGRS/Paraku.
Kontingen Garuda VIII di Timur Tengah
Batalyon Infantri (Yonif) 312/Kala Hitam (BS) Kodam Siliwangi diberangkatkan ke
Timur Tengah sebagai inti pasukan kontingen Garuda VIII.
Penugasan di Aceh
Selama operasi penumpasan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pimpinan Hasan Tiro,
prestasi paling menonjol diperlihatkan Yonif 320/Badak Putih. Kesuksesan Yonif
320/Badak Putih karena pemimpin dan mental prajuritnya berpedoman kepada
Wangsit Siliwangi, yaitu tidak melukai hati rakyat, berempati kepada masyarakat
kecil, bersosialisasi dengan pendekatan agama, bersikap sabar dan rendah hati.
Penugasan di Ambon
Saat ini 2 batalyon prajurit Siliwangi sedang bertugas di Ambon. Mereka menjaga
dan mengamankan daerah-daerah rawan konflik. (Edi Purwanto/Hazmirullah/"PR")***
++++
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/052006/22/0901.htm
Aktualisasi Nilai Juang Siliwangi
Oleh H.A.M. Ruslan
MEMASUKI usia ke-60, Kodam III Siliwangi tetap menjadi andalan dan
kebanggaan. Dalam berbagai penugasan, prajurit Kodam III Siliwangi berhasil
menunjukkan jati dirinya sebagai "prajurit pejuang", sekaligus "tentara
rakyat". Di sepanjang rentang pengabdiannya, prajurit Siliwangi membuktikan
diri sebagai tentara yang lahir, tumbuh, dan berjuang bersama rakyat.
Karena itu, peringatan Hari Jadi ke-60 Kodam III Siliwangi ini kita jadikan
momentum untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Allah Yang Mahakuasa, disertai
introspeksi bagi peningkatan kualitas pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan
negara.
"Siliwangi adalah Rakyat Jawa Barat, Rakyat Jawa Barat adalah Siliwangi" bukan
hanya slogan, tetapi secara empiriks telah menjadi unsur penting dalam
pembinaan kekuatan Siliwangi dalam menghadapi berbagai ancaman terhadap
keutuhan bangsa dan negara. Kemanunggalan prajurit Siliwangi dengan rakyat Jawa
Barat bukan hanya dipersatukan oleh sejarah, tetapi juga ditempa oleh tantangan
yang dihadapi sehingga Siliwangi dan rakyat Jawa Barat tetap utuh, ibarat gula
jeung amisna.
Fakta historis
Sebagai bagian integral dari Angkatan Darat (AD) dan Tentara Nasional Indonesia
(TNI), prajurit Kodam III Siliwangi dibina dengan doktrin standar yang berlaku
di lingkungan TNI, ditempa dengan latihan sebagai strategi pembinaan kemampuan
dan kekuatan, serta dipersatukan oleh sejarah dan pengalaman dalam penugasan
serta tekad menjadi alat pertahanan negara yang andal.
Namun sebagai insan sosial, prajurit Siliwangi senantiasa berinteraksi dengan
masyarakat dan kebudayaan tempat di mana mereka mengabdikan dirinya. Tidak bisa
dimungkiri, Jawa Barat telah menjadi ruang dan mandala tempat di mana prajurit
Siliwangi menjalin sistem nilai dan tradisi juangnya.
Nilai budaya Sunda dipercaya sebagai pedoman dan prinsip prajurit Siliwangi,
yang selalu mendapat tempat yang baik di tengah masyarakat mana pun. Keluhuran
nilai juang prajurit Siliwangi dipercaya berakar pada sejarah dan budaya
masyarakat Jawa Barat.
Budayawan Sunda, Hidayat Suryalaga, pernah mengungkapkan bahwa nilai juang
Siliwangi berakar pada budaya Sunda yang silih asah, silih asih, dan silih
asuh. Budaya tersebut di lapangan benar-benar dihayati oleh setiap prajurit
Siliwangi. Karena itu, dimana pun mereka berada, selalu diterima dengan baik.
Selain itu, para prajurit pun pandai beradaptasi dengan lingkungan baru
sehingga tidak pernah dianggap sebagai orang asing oleh rakyat.
Di sisi lain, Jawa Barat berkali-kali menjadi mandala perang yang seru. Pada
masa penjajahan dan revolusi fisik, pemberontakan meletus di berbagai wilayah
di Jawa Barat. Mudah dipahami mengapa cerita heroik dapat ditemukan di
mana-mana, baik yang sudah terekam dalam sejarah lokal maupun masih berupa
cerita rakyat.
Berbagai peristiwa heroik bukan saja mencerminkan heroisme, tetapi juga
memperlihatkan bagaimana kemanunggalan prajurit Siliwangi dan rakyat Jawa Barat
terjalin. Kisah tadi antara lain pernah diungkapkan oleh Jenderal Ibrahim
Adjie. Ketika saya mewawancarainya 12 tahun silam, dan hasilnya dimuat di
Pikiran Rakyat 5 November 1994, Pak Adjie (demikian Jenderal kelahiran Bogor
itu biasa disapa) mengaku keberhasilan tentara Siliwangi yang dikomandaninya
(1959-1966) melucuti kekuatan DI/TII sebagai peristiwa paling mengesankan
sekaligus mengharukannya dalam sepanjang karier militernya. Bukan hanya
kemenangan yang membanggakan, tetapi keikhlasan rakyat Jawa Barat dalam
membantu prajurit Siliwangi mengepung DI/TII itulah yang mengharukannya.
Diakuinya, keberhasilan pasukannya melumpuhkan kekuatan DI/TII karena bantuan
dan keterlibatan rakyat. Tentara keluar masuk kampung disediakan makan, kopi,
bubuy hui (ubi bakar), bubuy sampeu (singkong bakar), atau jagung bakar. Rakyat
termobilisasi melakukan pagar betis, mengepung DI/TII sehingga banyak tentara
DI/TII yang menyerah karena lemas kelaparan. Jangankan untuk memburu, sekadar
untuk memanggul senjata pun tak kuasa. Kemanunggalan TNI dengan rakyat itulah
yang mampu menggoyahkan sendi-sendi pertahanan lawan.
Karena itulah, menjaga kemanunggalan Siliwangi dengan rakyat Jawa Barat,
menurut Pak Adjie, adalah keharusan dan menjadi bagian dari pembinaan kekuatan
yang penting. Itulah sebabnya, dalam masa kepemimpinannya berbagai kegiatan
yang melibatkan rakyat terus digalakkan. Sebelum ABRI Masuk Desa (AMD)
diformalkan, Kodam Siliwangi sudah terbiasa bahu-membahu dengan penduduk
kampung membangun SD, jembatan, desa, dan sebagainya. Bahkan Siliwangi terkenal
dengan operasi budi dan operasi bakti-nya.
Dalam pandangan Pak Adjie, selain berbentuk kegiatan yang melibatkan rakyat,
hal penting dalam menjaga kemanunggalan prajurit Siliwangi dan rakyat Jawa
Barat adalah tekad untuk tidak berbuat dosa pada rakyat. Selain itu, pasukan
Siliwangi dituntut bijak menempatkan diri di tengah-tengah masyarakat. Selain
kehati-hatian dalam membaca perkembangan, sebagai kekuatan bersenjata TNI
dituntut fair, yakni mengetahui apa yang perlu digarap dan menjauhi apa yang
tidak perlu (hasil wawancara dengan Pak Ibrahim Adjie terekam dalam buku H.A.M.
Ruslan, dari hari ke hari: percakapan dengan sejumlah tokoh, diterbitkan tahun
2000, halaman 319-322).
Tentu masih banyak fakta sejarah yang menyiratkan betapa padunya Siliwangi
dengan rakyat Jawa Barat. Sekadar contoh bisa disebut long march yang ditempuh
pasukan Siliwangi pada 1 Februari 1948. Perjanjian Renville yang dicapai
RI-Belanda pada 17 Januari 1948 mengakibatkan pasukan-pasukan RI harus hijrah
dari kantong-kantong gerilyanya ke daerah yang dinamakan sebagai "di belakang
garis van Mook". Mereka dengan hati berat meninggalkan kampung halamannya
bahkan segala apa yang mereka miliki dengan risiko mendapat serangan lawan di
tengah perjalanan.
Peristiwa hijrah pasukan Siliwangi bukan hanya memperlihatkan kemanunggalan
Siliwangi dengan rakyat, tetapi juga bagaimana disiplin, kesetiaan pada tugas,
dan keikhlasan perjuangan prajurit Siliwangi. Pasukan yang terhimpun di dalam
berbagai satuan Siliwangi hijrah ke daerah Republik di Jawa Barat seperti
Bandung, Cirebon, Tasikmalaya, bahkan hingga ke Yogyakarta.
Rententan fakta historis mengungkapkan nilai-nilai juang Siliwangi yang
bertumpu pada heroisme dan pantang menyerah, rela berkorban, berdisiplin,
ikhlas dalam melaksanakan tugas dan memegang teguh janji. Kesediaan untuk
memberi lebih dari yang diminta sebagaimana tersirat dari idiomatika Esa Hilang
Dua Terbilang.
Nilai-nilai juang Siliwangai masih relevan untuk masyarakat Jawa Barat. Hanya
perlu ditransformasikan sesuai dengan taraf perkembangan masyarakat Jawa Barat
sebagai lingkungan strategisnya.
Aktualisasi
Spektrum ancaman yang dihadapi masyarakat Jawa Barat (dan Indonesia) sudah
berubah. Ancaman fisik berkurang, namun tidak berarti potensi ancaman tidak
ada. Berbagai analisis intelijen menunjukkan invasi militer bukan ancaman yang
populer untuk kondisi sekarang, namun lebih mengarah kepada ancaman sosial,
ekonomi, budaya, dan politis.
Pergeseran spektrum ancaman menguatkan pentingnya pembinaan kemanunggalan
prajurit Siliwangi dan rakyat Jawa Barat. Ancaman sosial hanya bisa dihadapi
bila semua elemen sosial padu. Di sinilah terasa pentingnya membentuk
kebersamaan di dalam makna (the commoness in meaning) tentang spirit perjuangan
Siliwangi sehingga imanent (hadir utuh bulat) dalam jiwa rakyat Jawa Barat.
Karena itu, perlu dipikirkan langkah-langkah ke arah pembinaan keterpaduan,
pemupukan karakter dan pembangunan bangsa (nation and character building), dan
kesiapan menghadapi tantangan yang sewaktu-waktu bisa saja muncul.
Konsep sistem pertahanan rakyat semesta amat memungkinkan digelarnya kegiatan
yang melibatkan rakyat dan tentara. Melalui simulasi peran, rakyat bukan hanya
dilatih menguasai kemampuan dalam kapasitasnya sebagai komponen cadangan dan
pendukung, tetapi juga belajar menghormati tugas dan peran tentara sebagai
kekuatan utama. Sebaliknya, melalui kegiatan bersama pula, tentara diingatkan
untuk menghayati betapa pentingnya dukungan rakyat dalam penugasan.
Penghormatan atas tugas dan peran rakyat dan tentara amat penting dalam
membangun kultur tentara yang profesional. Kultur ini hanya akan tumbuh bila
tentara memiliki otonomi relatif untuk menangani urusan-urusan militer dan
membatasi diri untuk terlibat dalam masalah-masalah di luar domain kemiliteran.
Sebaliknya, rakyat sebagai elemen masyarakat sipil memiliki otonomi relatif
untuk menangani urusan-urusan sipil, dan membatasi keterlibatannya dalam
menangani urusan militer.
Banyak program yang diusung pemerintah Provinsi Jawa Barat menuntut
kebersamaaan di antara rakyat Jawa Barat dan prajurit Siliwangi. Meski fungsi
teritorial TNI dibatasi, kehadiran prajurit Siliwangi dalam menggerakkan roda
pembangunan di Jawa Barat sudah menjadi bagian dari dinamika masyarakat tatar
Pasundan.
Prajurit di jajaran Kodam III Siliwangi dapat bekerja sama dengan pemerintah
daerah di Jawa Barat dalam mengembangkan sumber daya nasional yang ada di
wilayah Jawa Barat. Pengembangan dimaksud bukan hanya untuk kepentingan
pertahanan nasional di daerah, tetapi juga untuk peningkatan kesejahteraan
masyarakat. Itulah sebabnya, Rakorbang (Rapat Koordinasi Pembangunan) penting
menyerap aspirasi tentara, sehingga penyusunan tata ruang dan program
pembangunan kondusif bagi penataan pertahanan.
Misalnya, di mana kawasan pabrik harus dibangun. Kawasan mana yang harus
dipertahankan sebagai "lumbung padi", atau zona pertanian. Meski orientasi
utamanya untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat, namun bila situasi memaksa
dilakukannya mobilisasi kekuatan, potensi-potensi tadi bisa dikerahkan untuk
kepentingan pertahanan wilayah.
Sementara pada level infrastruktur, kebersamaan antara prajurit Siliwangi dan
rakyat Jawa Barat antara lain dapat diwujudkan melalui berbagai bentuk
keterlibatan dalam menjaga stabilitas sosial, membangun sarana dan prasarana
umum, hingga berbagai penyuluhan tentang perbaikan gizi dan perilaku sehat.
Perlu dirancang bagaimana operasi-operasi bakti TNI kembali digelar dengan
sasaran turut meningkatkan percepatan pencapaian IPM 80 pada 2010. Dengan
jajaran petugas kesehatan yang memadai, Kodam III Siliwangi memiliki potensi
besar dalam membentuk perilaku sehat di kalangan masyarakat.
Di sisi lain, menjaga integrasi sosial menjadi penting di tengah derasnya arus
informasi global. Serbuan informasi global tidak selamanya relevan dengan
nilai, norma, dan tatanan hidub berbangsa. Padahal, ancaman di masa datang
mengarah kepada ancaman nonfisik berupa penghancuran karakter dan pelemahan
ikatan moral. Di sinilah penguatan komitmen kebangsaan amat dibutuhkan.
Dalam konteks ini, Prajurit Siliwangi dan rakyat Jawa Barat harus bahu-membahu
membangun mentalitas pemuda. Segmen penduduk ini paling rawan, namun juga
paling menentukan nasib bangsa ke depan. Pemuda, demikian Bung Karno pernah
bilang, bukan hanya pupuk masa depan, tetapi juga bibit sekaligus ladang jiwa
tempat di mana nasionalisme dan patriotisme dapat tumbuh dengan subur.
Karena itu, wadah pembinaan generasi muda yang pernah dimiliki tentara perlu
dikaji ulang, sehingga tetap relevan dengan dinamika dan peta ancaman di masa
mendatang. Akhirnya, Dirgahayu Kodam III Siliwangi: nu jauh urang deukeutkeun,
geus deukeut urang paheutkeun, geus paheut urang silih wangikeun.***
Penulis, Ketua DPRD Jabar
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Protect your PC from spy ware with award winning anti spy technology. It's free.
http://us.click.yahoo.com/97bhrC/LGxNAA/yQLSAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/