BAB I - MU'JIZAT

 


 


2. Menghidupkan Orang Mati
 


Dikatakan, perbuatan luar biasa Yesus adalah membangunkan orang mati menjadi
hidup, dan dalam hal ini kita diberitahu bahwa bukti Keilahian Kristus itu
bisa dijumpai  seperti di bawah ini. Inilah argumennya:

 

"Kristus menghidupkan orang yang sudah mati diakui oleh kaum Muslimin
berdasarkan Qur'an Suci, dan menghidupkan orang mati itu di belakang
kekuasaan  manusia dan hanya bersifat Ilahi . Dan di dalam sifat Keilahian
inilah tiada orang  lain yang bisa mengerjakannya kecuali Yesus sendiri".

 

Apa yang dikatakan Qur'an akan kami bicarakan belakangan. Pertama-tama mari
kita ketahui dulu pertimbangan yang diakui sebagai dasar dari ajaran kitab
suci Kristen. Dalil itu mengatakan bahwa Yesus adalah pribadi Ilahi sebab
dia bisa menghidupkan orang mati. Dalil ini hanya bisa dikemukakan oleh
orang yang percaya bahwa tidak ada orang lain yang bisa menghidupkan orang
mati. Tapi Bebel sendiri mementahkan pengakuan ini. Bebel berisi beberapa
contoh orang lain yang juga bisa menghidupkan orang mati, dan karenanya jika
Yesus benar-benar melakukan mu'jizat seperti itu, berarti keilahiannya atau
ketuhanannya dengan bisa menghidupkan orang mati, ini benar-benar menjadi
tak logis, sebab dalam hal ini Elisa pun lebih hebat lagi ketuhanannya. Di
dalam Raja-raja 2:4 kita diberitahu bahwa seorang anak telah mati dan
kematiannya itu sungguh benar ketika Elisa datang:

 

"Dan ketika Elisa datang ke rumah itu, ternyata si anak itu telah mati, dan
tergeletak  di atas pembaringannya. Kemudian dia masuk, dan menutup pintu
dua kali, dan dia  berdo'a kepada Tuhan, dan tiba-tiba si anak itu
mendengkur tujuh kali, dan si anak  itu membuka matanya" (2 Raja-raja
4:32-35).

 

Elia juga bisa menghidupkan orang mati:

 

"Dan dia berteriak kepada Tuhan, dan berkata, Wahai Tuhan, Tuhanku, apakah
engkau menimpakan kemalangan kepada janda ini yang menerima aku sebagai
penumpang dengan membunuh anaknya? . Aku bermohon kepadamu,  kembalikanlah
nyawa anak ini kepadanya. Dan Tuhan mendengar suara Elia, dan  nyawa si anak
itu pun kembali kepadanya dan kemudian si anak itu hidup kembali"  (1
Raja-raja 17:19-20).

 

Jadi Bibel tidak memberikan hak keilahian istimewa kepada pengakuan Yesus
dalam  bobot menghidupkan orang yang sudah mati. Sungguh, di satu sisi
kekuasaan Elisa lebih  hebat dalam menghidupkan orang mati daripada Yesus,
karena tulang yang sudah kering  pun, setelah orang itu mati, jauh lebih
manjur bisa dihidupkan kembali:

 

"Pada suatu ketika orang sedang menguburkan mayat. Ketika mereka melihat
gerombolan datang, dicampakkan merekalah mayat itu ke dalam kubur Elisa,
ketika  orang itu menyentuh tulang Elisa, maka si mayat itu hidup kembali
lalu berdiri dan  kemudian pergi". (2 Raja-raja 13:21).

 

Seringkali dikatakan bahwa Yesus melakukan mu'jizat dengan kekuatannya
sendiri, sementara perkara pada Nabi-nabi lainnya, Tuhanlah Yang melakukan
mu'jizat itu dengan perantaraan mereka. Perbedaan yang fantastik ini tidak
menambah nilai apa-apa, karena  perihal Yesus sendiri pun Tuhan sajalah Yang
melakukan mu'jizat tersebut.  

 

"Hai orang-orang Israel, dengarlah kata-kata ini; Yesus dari Nazaret adalah
seorang  yang dikuatkan Tuhan di antara kamu dengan mu'jizat-mu'jizat dan
keajaibankeajaiban  dan tanda-tanda, dimana Tuhan sendirilah yang melakukan
itu melalui  dirinya di tengah-tengah kamu" (Perbuatan 2:22).

 

Ini sangat mungkin bahwa kisah Elia maupun Elisa menghidupkan orang yang
sudah mati dihasilkan oleh keinginan pikiran orang-orang saleh dari para
pengikut Yesus permulaan untuk menerapkan perbuatan yang sama terhadap Guru
mereka. Di sini ada jejak yang jelas di dalam alur cerita mereka. Matius,
Markus dan Lukas menceritakan tentang menghidupkan anak perempuan seorang
pemimpin dimana Matius mengutip ucapan Yesus yang mengatakan: "Anak
perempuan itu tidaklah mati tapi cuma tidur saja" (Matius 9:24). Lainlainnya
tidak mencantumkan kata-kata itu, namun kehadiran mereka di Matius cukup
membuktikan sifat alami mu'jizat tersebut. Cukup menarik hati bahwa Yohanes
tidak membicarakan sama sekali mu'jizat seperti ini namun menyebutkan bahwa
mu'jizat itu tidak dikenal dalam Injil Synoptist (Matius, Markus dan Lukas)
yaitu menghidupkan Lazarus setelah dia terbaring di kuburan selama empat
hari (Yohanes 11:38-44). Mengapa bisa terjadi bahwa Injil Synoptist, salah
satu atau semuanya, tidak mengetahui mu'jizat luar biasa itu, dan kenapa
Yohanes tidak mengetahui adanya anak perempuan seorang pemimpin yang
dihidupkan itu? Kesimpulannya jelas bahwa Yohanes, menulis belakangan, dia
meragukan tentang menghidupkan seorang anak perempuan pemimpin tersebut,
kemudian dia sungguhsungguh membuat satu cerita simbolik seperti yang
terbaca seperti tadi. Terhadap dua mu'jizat itu, Lukas sendiri menyebutkan
mu'jizat yang ketiga, yaitu menghidupkan anak  laki-laki seorang janda di
Nain (Lukas 7:11-17), yang ini tidak dikenal baik oleh Injil  Synoptist
lainnya maupun oleh Yohanes.

 

Dengan demikian di sini kita dapat menunjuk pada kemustahilan yang luar
biasa yang ditulis oleh para penulis Injil permulaan yang gemar sekali
terhadap cerita yang anehaneh. Bagi Matius tidak cukup hanya satu kisah
mu'jizat membangunkan anak perempuan yang sedang tidur, tapi dia tambahkan
dengan membangkitkan orang mati yang sudah empat hari lamanya terkubur di
tanah yang kemudian orang itu berjalan menuju Yerusalem segera setelah Yesus
menghentikan hantu kuburan:

 

"Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan
terjadilah  gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah, dan kuburan-kuburan
terbuka dan banyak  orang kudus yang telah meninggal bangkit. Dan sesudah
kebangkitan Yesus, mereka  pun keluar dari kubur, lalu masuk ke kota kudus
dan menampakkan diri kepada  banyak orang" (Matius 27:51-53).

 

Mu'jizat yang aneh ini melampaui segala imajinasi, hanya para penginjil saja
yang tidak memberikan keterangan secara detail mengapa tengkorak dan
tulang-belulang itu bisa berjalan menuju kota; sebagaimana halnya perkara
Lazarus, rupanya si penulis itu cukup berhati-hati untuk menambah-nambah
cerita bahwa ada orang yang mati muncul dengan tangan dan kaki terikat oleh
kain kafan, dan mukanya terbungkus oleh secarik kain dan agar ia terlepas
dari ikatan itu ia menuju kepada Yesus Kristus. Mungkin kain kafan yang
membungkus mayat orang suci itu sudah terjadi berabad-abad lamanya atau
paling tidak sudah bertahun-tahun lamanya, disajikan secara utuh untuk
menambah semaraknya penampilan mu'jizat tersebut. Tidak semua komentator
Injil berani membaca kisah mu'jizat aneh ini secara harfiah, oleh karena itu
kita punya komentar yang dikemukakan oleh Rev. J.R. Dummelow:

 

"Kejadian itu rupanya menggambarkan demi menyesuaikan kebenaran bahwa
Kebangkitan Kristus melibatkan kebangkitan semua orang-orang suci, maka di
Hari  Paskah itu semua umat Kristen bisa dikatakan harus mempunyai perasaan
begitu  rupa yakni merasa bangkit bersama dia".

 

Dari sini kita bisa menemui letak kebenaran tentang semua mu'jizat
menghidupkan  orang yang sudah mati tersebut. Yesus mengatakan itu sebagai
tamsil atau bahasa kiasan,  dan bahasa kiasan itu selalu digunakan oleh
beliau secara bebas:

 

"Biarlah orang yang mati itu menguburkan orang yang mati pula, kata beliau"
(Matius 8:22). Dan lagi: 

 

"Sungguh, sungguh, aku katakan kepadamu, Dia yang mendengar ucapanku dan
beriman kepada-Nya yang telah mengutusku, akan hidup abadi, dan tidak akan
dihukum, tetapi hidup setelah melalui kematian. Sungguh, sungguh, aku
katakan  kepadamu, Saatnya akan datang, dan sekarang, tatkala yang mati akan
mendengar  suara anak Tuhan: dan mereka yang mendengar akan hidup . Jangan
heran terhadap  ini, karena saatnya akan tiba dan semua yang ada di kubur
akan mendengar suara- Nya dan akan hidup". (Yohanes 5:24, 25, 28).

 

Kini dari semua persoalan tersebut, dengan kematian, bahkan mereka yang ada
di  alam kubur, artinya adalah kematian rohani, mereka yang mati, artinya
dalam keadaan  berdosa, dan dengan hidup, itu artinya kehidupan rohani.
Bahasa kiasan semacam itu  digunakan juga oleh kaumYahudi. Menurut
adat-istiadat Yahudi, "orang jahat, meskipun  hidup, disebut mati". Yesus
Kristus mengirim kabar kepada Yohanes Pembaptis:

 

"Pergilah dan sampaikanlah kepada Yohanes segala sesuatu yang engkau dengar
dan  lihatlah: Orang buta bisa melihat, orang lumpuh bisa berjalan, orang
lepra bisa  disembuhkan, orang tuli bisa mendengar, orang mati bisa hidup,
dan orang miskin  diberikan kabar baik yang diajarkan kepada mereka" (Matius
11:4-5).

 

Kesimpulan kata-kata tersebut jelas sekali apa yang dimaksud Yesus, beliau
tidak saja mengajarkan Injil kepada orang-orang miskin. Beliau berbicara
secara tamsil, namun ucapan beliau disalah mengertikan, ini perlu
direnungkan terhadap kisah menghidupkan orang yang sudah mati tersebut.
Seluruh kekeliruan itu terletak pada ucapan Yesus yang terlalu begitu bebas
menggunakan kata-kata kiasan, maka bukan hanya orang-orang Yahudi saja yang
diberi tahu bahwa mereka tidak mengerti bahasa tamsil, bahkan para muridnya
pun sering  sekali menyalah-artikannya, bahasa tamsilnya diartikan secara
harfiah (Yohanes 8:43). Kejadian berikut ini perlu diperhatikan:

 

"Sekarang para murid Yesus lupa mengambil roti . Dan beliau memperingati
mereka, katanya: Berhati-hatilah, awaslah terhadap ragi orang Parisi dan
ragi  Herodes. Dan mereka berpikir di antara mereka sendiri, katanya. Karena
kita tak  punya roti. Ketika Yesus mengetahui itu, beliau berkata kepada
mereka. Mengapa  kamu membicarakan sebab tidak punya roti? Belumkah kamu
mengerti, ataukah  kamu tidak faham? Apakah kamu punya hati yang keras?
Tidakkah matamu  melihat?" (Markus 8:14-17).

 

Sungguh kita dapati bahwa murid-murid Yesus pun mengeluh terhadap bahasa
tamsil beliau dan menyatakan tidak bisa mengikuti maksud beliau. Di sinilah
terletak solusi tentang kisah menghidupkan orang yang mati tadi.

 

Berikut ini kita jelang apa yang dikemukakan oleh Qur'an Suci mengenai
menghidupkan orang yang sudah mati. Untuk mengatakan bahwa Qur'an Suci
membicarakan Yesus, khususnya dalam menghidupkan orang yang telah mati
menyingkapkan secara halus kekurang tahuan isinya. Ia jelas sekali
membicarakan  mengenai Nabi Suci menghidupkan orang yang mati. Lebih lanjut
Qur'an berfirman:

 

"Wahai orang-orang yang beriman, sambutlah seruan Allah dan Utusan-Nya
tatkala  ia mengajak kamu kepada yang memberi hidup kamu" (Qur'an Suci.
8:24).

 

Kesalahan tersebut muncul dari perbedaan pribadi-pribadi yang dijadikan di
antara para Nabiyullah itu, maka ketika Qur'an menyatakan Nabi Suci
menghidupkan orang yang sudah mati, artinya adalah menghidupkan rohani yang
sudah mati bagi mereka yang mati dalam kebodohan, tetapi ketika membicarakan
Yesus menghidupkan orang yang telah mati, kata-kata itu diartikan secara
harfiah, yakni menghidupkan kembali orang yang telah mati secara fisik.
Mengapa kedua ucapan itu tidak sama di kedua tempat itu? Tentang arti yang
sebenarnya Qur'an menjelaskannya sendiri. Ia membicarakan tentang kematian
itu berkalikali dengan arti mati rohaninya. Ia membicarakan mereka
dihidupkan kembali artinya  dihidupkan kembali rohaninya. Saya akan berikan
beberapa contoh terhadap masalah ini,  dimana hal ini banyak sekali disalah
mengertikan. Di salah satu Surat dikatakan:

 

"Apakah orang yang telah mati, Lalu Kami hidupkan lagi, dan kepadanya Kami
beri  cahaya yang dengan itu dia berjalan di antara manusia, sama dengan
orang yang  perumpamaannya seperti orang yang berada dalam kegelapan yang ia
tak dapat  keluar dari sana? (Qur'an Suci, 6:123).

 

Di ayat ini bisa kita baca bagaimana orang mati dihidupkan dalam kata-kata
yang jelas, dengan penjelasan ayat ini bukan jiwa manusia yang melayang,
lalu dikembalikan ke badan wadag kasarnya, tapi yang dimaksud adalah hidup
dan matinya rohani. Di tempat lain bisa kita baca:

 

"Sesungguhnya engkau tak dapat membuat orang yang mati mendengar panggilan,
dan engkau tak dapat pula membuat mendengar orang yang tuli jika mereka
berbalik  punggung" (Qur'an Suci, 27:80).

 

Markus mengkombinasikan antara mati dan tuli. Dua-duanya dikatagorikan sama.
Nabi tidak bisa membuat mereka mendengar jika mereka tak siap untuk
mendengarkan lalu mereka berbalik pergi entah ke mana. Dalam kaitan yang
sama dinyatakan pula di tempat  lain:

 

"Tak sama orang hidup dan orang mati. Sesungguhnya Allah membuat mendengar
siapa yang Ia kehendaki, dan engkau tak dapat membuat mendengar orang yang
ada  dalam kubur" (Qur'an Suci, 35:22).

 

Di sini bukan saja orang yang mati, tapi juga orang yang ada di dalam kubur.
Di dalam kubur di sini bukan berarti badan wadag yang terbujur di liang
lahat. Tidak pula kata-kata itu berarti bahwa Nabi bisa menghidupkan
orang-orang yang rohaninya ada di dalam kubur.   Yang dimaksud itu adalah
bahwa Nabi hanyalah manusia biasa tidak bisa melakukan  sesuatu yang tidak
mungkin; menghidupkan mereka yang ada di dalam kubur maknanya  adalah tangan
Allah bekerja melalui Nabi yang bisa membawa perubahan besar.

 

Dari sini jelas sekali bagaimana Qur'an Suci membicarakan para Nabiyullah
yang menghidupkan orang-orang mati, yakni rohani yang mati dan rohani yang
hidup, dan dalam hal inilah Qur'an membicarakan Nabi Suci Muhammad dan Yesus
Kristus (Nabi 'Isa) menghidupkan orang mati. Akan lebih jelas lagi bila
direnungkan bahwa menurut Qur'an Suci yang mati benar-benar akan dihidupkan
di hari Pengadilan dan kembali kepada kehidupan di sini tidak diperbolehkan
sebelum Hari Penngadilan kelak, ini dijelaskan dalam kata-kata yang terang:

 

"Allah mengambil nyawa pada waktu matinya, dan yang tak mati pada waktu
tidurnya. Lalu Ia menahan nyawa yang Ia putuskan mati, dan mengirim kembali
yang lain sampai waktu yang ditentukan" (Qur'an Suci, 39:42).

 

Ayat ini menyimpulkan dengan tuntasnya bahwa Qur'an tidak mengakui hidupnya
kembali mereka yang benar-benar telah mati secara jasmani. Suatu ketika fase
kematian akan dilalui, nyawa itu dicegah dan dalam keadaan apa pun tak akan
kembali lagi. Prinsip seperti itu  dikuatkan oleh ayat berikut ini:

 

"Sampai tatkala kematian mendatangi salah seorang di antara mereka, ia
berkata: Tuhanku, kembalikanlah aku agar aku dapat berbuat kebaikan dari
perkara yang aku  lalaikan. Tak mungkin! Sesungguhnya itu kata-kata yang ia
ucapkan, Dan di hadapan  mereka ada tabir, sampai hari mereka dibangkitkan"
(Qur'an Suci, 23:99-100).  

 

Jadi kita diberitahu dengan kata-kata yang jelas bahwa tak seorang pun yang
telah  melewati pintu kematian di alam barzakh diizinkan kembali kepada
kehidupan yang telah  lalu. Ayat ketiga ini bisa dibaca lagi:

 

"Haram bagi suatu kota yang telah Kami binasakan dan mereka tak akan
kembali"  (Qur'an Suci, 21:95).

 

Beberapa kata komentar bisa ditambahkan terhadap ayat yang terakhir ini yang
sumbernya dari Hadits Nabi Suci saw. Kejadian berikut ini diriwayatkan oleh
Nasa'i dan Ibnu Majah, dua orang perawi Hadits sahih. Ayah Jabir, yakni
Abdullah telah terbunuh di medan tempur oleh musuh Islam. Suatu hari Nabi
Suci melihat Jabir berduka cita. "Apa yang membuatmu bersedih hati"? Tanya
seorang Guru yang turut berduka cita terhadap sahabatnya yang dirundung duka
itu. "Ayahku telah gugur dan di belakangnya meninggalkan keluarga besar
serta hutang yang menggunung". Jawaban Jabir. "Bolehkah aku berikan kabar
gembira tentang karunia agung bahwa ayahmu telah ditemui Allah", demikian
sabda Nabi Suci . "Tuhan berfirman, Wahai hamba-Ku, ungkapkanlah suatu
kehendak dan Aku akan mengganjarmu. Dia berkata, Tuhanku! Berilah aku hidup
maka aku bisa berjuang di jalan-Mu, Allah Ta'ala berfirman, mereka tak bisa
kembali. Keinginan Abdullah hidup kembali dan bertempur melawan musuh Islam
hanyalah satu batasan di jalan-Nya - "tapi mereka tak bisa kembali -
kata-kata ini benar-benar menyimpulkan bunyi ayat yang baru saja saya kutip.
Bukti yang sama seperti komentar Nabi Suci terhadap ayat ini bisa dijumpai
di dalam Hadits Sahih Muslim, dimana para syuhada pada umumnya dikatakan
sama seperti itu. "Apa yang lebih diinginkan?" mereka ditanya oleh Allah
Ta'ala. Pertanyaan itu diulang dan mereka berkata: "Tuhan kami, kami
menginginkan agar kami dihidupkan kembali dan kembali ke dunia agar kami
bisa bertempur kembali di jalan-Mu". Dan apakah jawaban terhadap kehendak
yang suci ini pada waktu seseorang ikut bertempur dalam barisan Islam
mencari keridlaan Ilahi? "Telah Aku tuliskan bahwa mereka tak akan bisa
kembali". Di dunia ini tak ada seorang pun yang dapat membalikkan firman
Qur'an Suci ini bahwa mereka yang sekali mati tak akan hidup kembali di
dunia ini; dan kehidupan

itu akan kembali, kelak nanti pada Hari Kiamat.

 



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Something is new at Yahoo! Groups.  Check out the enhanced email design.
http://us.click.yahoo.com/SISQkA/gOaOAA/yQLSAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke