ANALOGI SEMPURNA
ANALOGI SEMPURNA
"Analogi menjelaskan sinergi/kesempurnaan"
Bagaimana Kausa Prima mengungkapkan esensi/eksistensi manifestasi-NYA
pada awal kehidupan umat manusia?
Bukankah melalui (logos-logos visual) alam beserta fenomena-fenomenanya?
Bukankah alam dan waktu (sesungguhnya) senantiasa `bercerita'
tentang esensi kesempurnaan Yang Satu? Bukankah alam merupakan realitas
manifestasi kesempurnaan yang sesungguhnya? Bukankah kesempurnaan
dijelaskan melalui analogi?
Analogi dalam ilmu bahasa adalah persamaan antar bentuk yang menjadi
dasar terjadinya bentuk-bentuk yang lain.
Analogi ialah kenyataan yang dicipta daripada perbandingan antara satu
perkara dengan perkara yang lain berdasarkan ciri-ciri persamaan dan
perbedaan untuk menyatakan maksud tertentu.
Mengapa analogi menjelaskan kesempurnaan? Karena analogi secara langsung
menjelaskan manifestasi Kausa Prima, pencipta dan ciptaannya, dualitas
sempurna, misteri keberadaan maupun klausul atas Tuhan yang (mengalami)
`amnesia':
Contoh analogi:
- Badannya kurus seperti lidi
Sebagai sebuah kesatuan analogi, premis lidi, tidak dimungkinkan untuk
bisa mengacu pada pemaknaan secara harfiah sebagai obyek/logos mandiri
tanpa keberadaan premis kurus, esensi "lidi" tidak akan ada
tanpa esensi kurus.
Esensi "kurus" merupakan kausa/aksioma bagi keberadaan esensi
"lidi" dengan kata lain, "lidi" merupakan proyeksi
atas/bagi "kurus" yang menjadi kausa utama penjelasan. Secara
implisit "kurus" memanifestasikan esensinya melalui
"lidi", oleh karena itu premis lidi tidak akan menjelaskan
esensi apapun tanpa keberadaan premis kurus.
Keberadaan pemis lidi tidak akan dimungkinkan tanpa premis kurus,
sementara "kurus" tetap ada atau bisa berdiri sendiri tanpa
kehadiran "lidi". Secara keseluruhan keberadaan "lidi"
hanyalah sebagai faktor yang memperkuat, menegaskan atau
MEMANIFESTASIKAN (eksistensi) esensi "kurus".
Kesempurnaan analogi hanya bisa dicapai melalui bentuk
pemahaman/pandangan bahwa perbedaan antara "kurus" dan
"lidi" hanyalah sebatas logos (tanpa arti), kecuali
menjelaskan/memiliki (kesamaan/kesempurnaan) esensi yang satu - dengan
"kurus" sebagai kausa (utama) bagi/atas keberadaan
"lidi".
Cermati bentuk pernyataan dibawah ini:
Sebagai sebuah kesatuan sinergi, premis "manusia", tidak
dimungkinkan untuk bisa mengacu pada pemaknaan secara harfiah sebagai
obyek/logos mandiri tanpa keberadaan premis "Tuhan", esensi
manusia tidak akan ada tanpa esensi Tuhan.
Esensi Tuhan merupakan kausa/aksioma bagi keberadaan esensi manusia
dengan kata lain, manusia merupakan proyeksi atas/bagi Tuhan yang
menjadi kausa prima penjelasan. Secara implisit Tuhan memanifestasikan
esensinya melalui manusia, oleh karena itu, premis "manusia"
tidak akan menjelaskan esensi apapun tanpa keberadaan premis
"Tuhan".
Keberadaan pemis "manusia" tidak akan dimungkinkan tanpa premis
"Tuhan", sementara "Tuhan" tetap ada atau bisa berdiri
sendiri tanpa kehadiran manusia. Secara keseluruhan keberadaan manusia
hanyalah sebagai faktor yang memperkuat, menegaskan atau
MEMANIFESTASIKAN (eksistensi) esensi Tuhan.
Kesempurnaan sinergi hanya bisa dicapai melalui bentuk
pemahaman/pandangan bahwa perbedaan antara Tuhan dan manusia hanyalah
sebatas logos (tanpa arti), kecuali menjelaskan/memiliki
(kesamaan/kesempurnaan) esensi Yang Satu - dengan Tuhan sebagai Kausa
(Prima) bagi/atas keberadaan manusia
TUHAN MANUSIA MANUSIA
TUHAN
Transformasi logos pada kedua pernyataan diatas menjelaskan bahwa medium
(pemahaman) manusia merupakan faktor esensial yang membentuk format
keterbatasan/bias atas makna/esensi tertentu akibat keterikatan ego atas
pemahaman logos-logos - bentuk visualisasi dasar/awal yang sekaligus
melandasi setiap esensi yang dibawakan oleh bahasa verbal maupun
tulisan. Medium (manusia) merupakan realitas/aksioma
ketidak/kekurangsempurnaan yang sesungguhnya.
ANALOGI/SINERGI menggunakan logos-logos dan/atau relasi antara
logos-logos untuk menyatakan, menegaskan atau menjelaskan esensi/maksud
yang sesungguhnya. ANALOGI/SINERGI terbentuk oleh logos-logos, namun
esensi yang hendak dijelaskan telah ada/terdahulu serta tidak terikat
oleh keberadaan logos-logos yang menjelaskannya.
TUHAN/EGO menggunakan Malaikat dan Iblis dan/atau relasi antara
Malaikat-Iblis untuk menyatakan, menegaskan atau menjelaskan
esensi/maksud yang sesungguhnya. TUHAN/EGO terbentuk oleh
Malaikat-Iblis, namun esensi yang hendak dijelaskan telah ada/terdahulu
serta tidak terikat oleh keberadaan Malaikat-Iblis yang menjelaskannya.
(EGO) MANUSIA menggunakan Kebaikan dan Kejahatan dan/atau relasi antara
Kebaikan-Kejahatan untuk menyatakan, menegaskan atau menjelaskan
esensi/maksud yang sesungguhnya. (EGO) MANUSIA terbentuk oleh
Kebaikan-Kejahatan, namun esensi yang hendak dijelaskan telah
ada/terdahulu serta tidak terikat oleh keberadaan Kebaikan-Kejahatan
yang menjelaskannya.
Logos-logos dalam analogi tidak bermakna harfiah/mandiri/memiliki
hakekat lain kecuali menjelaskan, menegaskan kausa esensi/maksud yang
satu/utama, sehingga bisa digantikan/memiliki substituen-substituen
selama tidak merubah esensi/maksud yang hendak disampaikan.
Pemis lidi memiliki substituen-subtituen pengganti seperti misalnya:
- Badannya kurus seperti penggaris
- Badannya kurus seperti kawat
Keberadaan premis kurus bisa dikatakan meniadakan bentuk mandiri/makna
harfiah logos-logos lidi, penggaris maupun kawat, atau tampak bahwa
premis-premis lidi, penggaris maupun kawat menanggalkan bentuk perbedaan
antara logos ketika ketiganya mampu menjelaskan esensi yang satu.
Analogi bersifat anti-logosentris atau mendekonstruksi pola pandang yang
mengedepankan kesempurnaan pemahaman atas (bentuk/esensi) logos-logos.
Analogi akan senantiasa menjelaskan/membentuk sinergi (atas/dari
logos-logos).
ANALOGI/SINERGI adalah realitas KESEMPURNAAN yang sesungguhnya.
ADAM DAN MANUSIA
"Dualitas sempurna"
ESENSI ADAM PADA AWAL PENCIPTAAN
1. Proyeksi Adam terhadap Tuhan:
Adam bercermin dan tunduk kepada Tuhan, yang lebih besar/berkuasa
dari/atas dirinya.
2. Proyeksi Adam terhadap Malaikat dan Iblis:
Adam merasa terancam/terusik oleh keberadaan Iblis yang merasa lebih
tinggi dari dirinya dan merasa nyaman oleh keberadaan malaikat yang
merendah/bersujud kepadanya.
ESENSI MANUSIA PADA AWAL KEHIDUPAN
1. Proyeksi manusia terhadap Alam
Manusia bercermin dan tunduk kepada Alam/sesuatu yang lebih besar dari
dirinya (yang dimanifestasikan melalui bentuk-bentuk (pemujaan) animisme
dan/atau dinamisme).
2. Proyeksi manusia terhadap manusia lain/ego terhadap ego yang lain:
Manusia akan merasa terancam oleh keberadaan ego-ego (manusia lain) yang
(merasa) lebih tinggi dari dirinya (ex: pria-pria purba), dan merasa
nyaman oleh keberadaan ego-ego yang merendah/tunduk terhadap dirinya
(ex: wanita-wanita purba).
Malaikat dan Iblis, bentuk dualitas, realitas atau ilusi? Apa, siapa
dan/atau bagaimanakah mereka sesungguhnya?
Apa, siapa dan/atau bagaimanakah bentuk manifestasi kesempurnaan
(sesungguhnya) dari Tuhan/Sang Sempurna? Masihkah kita
menghargai/taat/tunduk kepada/terhadap esensi kesempurnaan tersebut?
CREATOR & CO-CREATOR
"Ego, Sang Kausa Prima."
Pertanyaan yang selama berabad abad mengusik benak manusia sehingga
melakukan pencarian baik secara ilmiah maupun non ilmiah adalah
pertanyaan-pertanyaan tentang: siapa, apa, kapan, mengapa dan/atau
bagaimanakah esensi Kausa Prima sesungguhnya?
Analogi kronologi-kronologi kejadian dalam kisah Adam dan Hawa (sekali
lagi/sesungguhnya) telah) mengilustrasikan jawaban atas/bagi
pertanyaan-pertanyaan tersebut, awal adalah/sekaligus akhir itu sendiri:
EGO - TUHAN:
"Pada awalnya, Tuhan menciptakan (logos-logos) Malaikat dari cahaya
dan Iblis dari api, kemudian Tuhan mengambil segumpal tanah/air dan
meniupnya sehingga terciptalah (esensi/logos) Adam."
Adalah Tuhan yang menciptakan logos-logos/elemen-elemen Malaikat dan
Iblis yang membentuk/mengawali/menjadi medium bagi Adam untuk memahami
esensi kesempurnaan-NYA.
1. EGO/Tuhan menghendaki agar (segala bentuk proyeksinya) Iblis dan
Malaikat untuk bersujud kepada Adam (Manusia) ciptaannya paling
sempurna.
1. Para malaikat tunduk/bisa dikuasai/diatur/memuaskan kehendak Sang
Sempurna (Adam memandangnya sebagai kebaikan), sementara Iblis menolak
untuk merendahkan dirinya (Adam memandangnya sebagai
keburukan/kejahatan).
1. Tuhan melemparkan/mengeliminasi Iblis kedalam neraka. Adam (&
Hawa) menjalani bentuk kehidupan dengan `berperang' melawan
Iblis untuk bisa mencapai kesempurnaan kesempurnaan(EGO)-NYA ."
Adalah medium proyeksi Tuhan/elemen-elemen/logos-logos Malaikat dan
Iblis, yang membentuk `ilusi'/bias pemahaman Adam atas esensi
(kesempurnaan) Kausa Prima Yang Satu.
EGO - MANUSIA:
"Pada awalnya Ego menciptakan logos-logos visual atas keberadaan
Matahari (Bola api (raksasa) yang ber-cahaya) yang menyinari tanah/air
(alam/dunia) sehingga terciptalah (pemahaman atas) esensi/logos
manusia."
Adalah ego yang menciptakan logos-logos (visual dunia) yang
membentuk/mengawali/menjadi medium (=Malaikat dan Iblis) bagi manusia
untuk memahami esensi kesempurnaannya."
1. Ego menghendaki agar segala bentuk proyeksi yang dipahaminya
(alam/dunia) untuk tunduk kepada "logos" manusia ciptaan
ego (yang dianggap) paling sempurna.
1. Sebagian proyeksi dunia/alam tunduk/bisa dikuasai/diatur/memuaskan
kehendak ego (=Malaikat), sementara sebagian lain menolak/gagal untuk
bisa dikuasai/memuaskan kehendak ego (=Iblis).
1. Ego ingin melenyapkan/mengeliminasi
elemen-elemen/aspek-aspek/faktor-faktor/bagian-bagian dunia yang tidak
tunduk/bisa dikuasai/memuaskan kehendaknya. Manusia menjalani bentuk
kehidupan dengan `berperang' melawan hal tersebut secara fisik,
melalui pengetahuan ilmiah/sains dan/atau non-ilmiah/agama/mistis, untuk
bisa mencapai kesempurnaan(ego)nya." "Peperangan" adalah
bentuk ilusi/sinergi pilihan Ego.
Sebagaimana diyakini, Kausa Prima merupakan awal dari segala awal/bentuk
keberadaan. Namun hal yang tidak bisa dipungkiri adalah, bahwa esensi
Kausa Prima/Sang Pencipta, HANYA AKAN ADA/BISA DIPAHAMI SEDEMIKIAN RUPA
oleh karena keberadaan umat manusia. Sang Pencipta menjadi aksioma bagi
ciptaan dan sebaliknya. Segala bentuk pemahaman dualitas sesungguhnya
merupakan bentuk ilusi. Awal (sesungguhnya) adalah/merupakan
`ilusi' akhir itu sendiri.
Bukankah pencarian ego atas esensi (kesempurnaan) Tuhan, baik melalui
jalur ilmiah-non-ilmiah, theis-non theis dan lain-lain, secara
langsung/sesungguhnya membentuk pemahaman atas (kesempurnaan) esensi ego
sendiri?...Dualitas sempurna? Bukankah Yang Satu (KAUSA PRIMA) merupakan
realitas (manifestasi) kesempurnaan esensi EGO yang sesungguhnya?
Bersambung...
Salam,
Bumi Satria Pandawa
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Yahoo! Groups gets a make over. See the new email design.
http://us.click.yahoo.com/XISQkA/lOaOAA/yQLSAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/