MEDIUM/BAHASA


"Kesempurnaan hanya bisa dipahami melalui evolusi"



Komunikasi antara manusia tidak/bukan diawali dalam bentuk (bahasa)
verbal maupun tulisan. Bentuk pemahaman manusia yang pertama kali adalah
bentuk pengamatan-penerjemahan obyek-obyek, fenomena-fenomena visual
sebagaimana tampak gambar-gambar, pahatan-pahatan, atau bentuk-bentuk
lain yang dibuat oleh manusia purba.



Fase penciptaan/pembentukan logos, yang selanjutnya digunakan sebagai
medium komunikasi (bahasa-bahasa) isyarat, sebelum kemudian
ditransformasikan kedalam bentuk verbal dan/atau tulisan. Proyeksi
(logos) ego untuk membentuk sublimasi esensi ego, siklus subyek yang
sekaligus menjadi obyek, awal yang sekaligus/adalah akhir – Yang
Satu.



Keberadaan evolusi medium (komunikasi) manusia tersebut (sesungguhnya)
secara eksplisit menegaskan; bahwa argumentasi hakekat
`kesempurnaan' (Kausa Prima), selamanya adalah tidak akan pernah
bisa terbantahkan:



"Kapan pertama kali kisah Adam dan Hawa (penjelaskan hubungan
diantara Sang Pencipta dan ciptaannya) dijelaskan kepada umat
manusia?"



Jika diasumsikan, kisah Adam dan Hawa sebagai penjelasan paling
awal/pertama tentang  penciptaan manusia, maka satu-satunya argumentasi
yang bisa digunakan untuk menjawab pertanyaan diatas adalah isi kisah
itu sendiri:



jika hakekat manusia adalah berawal/berasal dari Tuhan, maka sepatutnya
pulalah esensi-NYA telah dikenal/dijelaskan kepada manusia sejak awal
kehidupan mereka didunia.



Pertanyaan krusial atas klausul tersebut adalah:



"Bagaimana Kausa Prima (harus) berkomunikasi atau menjelaskan esensi
kesempurnaan kepada umat manusia sejak awal keberadaan mereka
didunia?"



Kembali pada uraian diatas, bahwa bentuk pemahaman dan medium komunikasi
awal manusia adalah logos-logos (visual), dan bukan/tidak dalam bentuk
bentuk verbal maupun tulisan. Hal tersebut dapat mengargumentasikan
bahwa kisah "Adam dan Hawa" pun, sesungguhnya telah
dijelaskan/dikenal sejak awal kehadiran manusia didunia, dalam bentuk
"lain" (visual) sebelum bahasa verbal maupun tertulis/text
dipahami oleh umat manusia. Bukankah bentuk-bentuk (pemujaan)
animisme-dinamisme bisa dikatakan sebagai versi "perdana" kisah
"Adam dan Hawa"? Kriteria apa yang dimiliki sebagian manusia
untuk meng"kafir"kan mereka kecuali "atas nama ego"?



Pendekatan lain untuk menegaskan argumentasi diatas adalah sebagai
berikut:



Jika diumpamakan, anda adalah Tuhan - yang sudah sempurna sejak awalnya,
dan (hendak) mengungkapkan/menjelaskan esensi/eksistensi/manifestasi
kesempurnaan tersebut kepada obyek/manusia yang tidak/belum
memiliki/mengenal medium/bahasa apapun, kecuali obyek-obyek visual yang
ditangkap oleh mata (manusia purba), sehingga sukar untuk dipahami/atau
menimbulkan bias pemahaman. Apakah hal tersebut menjadikan anda menjadi
tidak/kurang sempurna? Atau justru medium dan/atau obyek/manusia
tersebut yang (sesungguhnya) terbatas/tidak sempurna untuk bisa
memahami/menerjemahkan esensi/manifestasi kesempurnaan anda?



Bukankah (evolusi) medium-pemahaman manusia merupakan realitas
ketidaksempurnaan yang sesungguhnya? Bahwa subyek `kesempurnaan'
(yang paling/sudah sempurna) sekalipun akan membutuhkan waktu sebelum
bisa dipahami secara "sempurna" atas hakekat keterbatasan medium
yang dimiliki oleh si obyek? Bukankah sesungguhnya/selamanya adalah
absurd untuk bisa mengingkari dan/atau meniadakan esensi
kesempurnaan-NYA melalui medium-esensi kurang/tidak sempurna?



Uraian diatas sekaligus memunculkan pertanyaan-pertanyaan atas
manifestasi kesempurnaan yang dijelaskan secara sederhana melalui bentuk
verbal/tulisan "kisah Adam dan Hawa":



Apakah esensi/manifestasi Tuhan dalam kisah tersebut yang tidak/atau
kurang sempurna, ataukah justru medium (lisan-tulisan) manusia (pada
masanya) yang tidak/atau kurang sempurna untuk bisa mengungkapkan esensi
kesempurnaan-NYA? Jika medium/bahasa (lisan-tulisan) manusia terbukti
senantiasa mengalami perkembangan/kemajuan seiring perkembangan jaman,
bukankah hal tersebut mengisyaratkan bahwa justru manifestasi
"Tuhan" lah yang tampaknya harus menyesuaikan dengan bentuk
ketidak/kekurangsempurnaan medium umat manusia (pada sebuah era) dan
bukan berlaku sebaliknya? Bagaimana mungkin manusia bisa mengatakan
bahwa esensi Tuhan (dalam kisah Adam dan Hawa) adalah tidak sempurna,
ketika medium yang digunakan terbukti/disadari tidak/belum pernah
sempurna (terus berevolusi/berkembang seiring evolusi pemahaman umat
manusia)?



Bukankah hanya esensi Kausa Prima lah yang (sesungguhnya) merupakan
kausa/aksioma bagi premis "sempurna" yang dipahami umat manusia
hingga hari ini? Sebagaimana senantiasa dijelaskan telah sempurna sejak
awalnya (entah darimana, mengapa, siapa dan/atau bagaimana) dan tidak
pernah berlaku sebaliknya?



Medium (pemahaman ego) yang tidak/belum sempurna, atau esensi Sang
Sempurna yang tidak/kurang sempurna? Bukankah penjelasan diatas
menjelaskan bahwa selamanya (ego) manusia tidak akan pernah bisa
membantah premis `kesempurnaan' Kausa Prima? Bukankah
argumentasi esensi (Ego) Tuhan adalah sempurna sejak awal merupakan hal
absolut yang selamanya tidak akan bisa terbantahkan?



Bukankah pemahaman-jawaban bagi bentuk-bentuk pernyataan-pertanyaan
diatas merupakan "wajah" ego yang sesungguhnya? Bukankah evolusi
ego merupakan realitas manifestasi "kesempurnaan" yang
sesungguhnya? Bukankah ego merupakan esensi kesempurnaan manusia (dalam
memahami esensi kesempurnaan-NYA)? Bukankah memahami esensi kesempurnaan
ego adalah realitas/tujuan umat manusia yang sesungguhnya?



DUNIA



"Faktor diluar/selain ego"



Jika benar bahwa kebaikan-kejahatan bukan merupakan bentuk
`ilusi' dualitas pemahaman ego manusia, (Malaikat adalah
kebaikan dan Iblis adalah kejahatan), mengapa harus seekor ular dan
bukan Iblis (sebagai Iblis) yang secara langsung merayu Hawa? Jika
dualitas kebaikan-kejahatan bukan merupakan bentuk `ilusi'
(keberadaan malaikat adalah membela manusia sementara Iblis
menjatuhkan/menghianati manusia), lalu dimana peran Malaikat jika benar
Iblis berperan sebagai seekor ular yang merayu Hawa?



Malaikat dan Iblis, merupakan proyeksi/sublimasi/manifestasi
kesempurnaan Sang Sempurna, sedangkan Adam adalah ciptaan-NYA paling
sempurna:



Bagaimana mungkin Iblis yang merupakan bagian proyeksi kesempurnaan Sang
Sempurna mengkhianati/melakukan penipuan terhadap/kepada ciptaan-NYA
paling sempurna? Bukankah hal tersebut sekaligus berarti mengingkari
esensi kesempurnaan-NYA?



Apakah hal tersebut menjelaskan mengapa seekor ular, dan bukan Iblis
yang secara langsung merayu Hawa? Apakah sublimasi seekor ular sebagai
Iblis dan/atau sebaliknya merupakan bentuk `ilusi' dualitas
pemahaman manusia?"



Dalam keseluruhan kisah, baik elemen/logos Malaikat maupun Iblis
(sesungguhnya) tidak pernah berhubungan langsung dengan elemen Adam
(kecuali `uneg-uneg/keluh-kesah' tanpa arti yang ditulis dalam
kitab suci agama). Ular dan pohon menyimbolkan aspek kehidupan
diluar/selain manusia: binatang dan tumbuhan. Analogi binatang
dilogoskan oleh seekor ular, makhluk berbentuk `ganjil',
tersembunyi, berbahaya/berbisa (dipandang sebagai "jahat" /sukar
ditundukan oleh ego pada masanya), sedangkan tumbuhan, dilogoskan oleh
(sebuah) pohon. Keduanya merupakan logos-logos universal yang dikenal
oleh (hampir) seluruh umat manusia oleh karena tersebar/terdapat pada
seluruh permukaan bumi (pada masa/awal/diverbal-tuliskannya kisah Adam
dan Hawa).



Begitu pula ilustrasi surga/Taman eden - Analogi bagi/atas
ekosistem/alam tempat tinggal manusia, yang secara garis besar
diilustrasikan oleh keberadaan pohon-pohon yang berbuah, sungai-sungai
yang mengalir, sebagaimana seluruh umat manusia membutuhkan air (minum)
(yang sekaligus berarti mengenal premis `sungai'/sumber mata
air), dan mengenal segala `kebaikan/manfaat' untuk bertempat
tinggal didekat/sekitarnya (menghasilkan sumber makanan yang berlimpah)



EVOLUSI MANUSIA



"Dari kera, ke manusia"



  "Konon Tuhan menciptakan Malaikat dari cahaya dan Iblis dari api,
kemudian Tuhan mengambil segumpal tanah/air dan meniupnya sehingga
terciptalah Adam. Tuhan memerintahkan Iblis dan Malaikat untuk bersujud
kepada Adam (Manusia)– ciptaannya paling sempurna. Para malaikat
tunduk pada perintah Sang Sempurna sementara Iblis menolak untuk
merendahkan dirinya. Tuhan menjadikan Iblis penghuni neraka.



Kisah diatas diawali oleh bentuk analog, yaitu proyeksi logos Tuhan
kedalam bentuk logos-logos/elemen-elemen Malaikat dan Iblis, yang
diikuti oleh bentuk monolog Tuhan atas/kepada Malaikat dan Iblis
terhadap keberadaan Adam. Tuhan tidak berkomunikasi langsung dengan Adam
dimana Adam memahami/menerjemahkan esensi kesempurnaan-NYA, melalui
medium analog berikut monolog yang berlangsung diantara (logos) Tuhan
dengan (logos-logos) Malaikat dan Iblis. Fase (analog-monolog Tuhan)
tersebut bahkan masih berlangsung setelah terciptanya elemen Hawa.
Kecuali Tuhan, tidak satupun elemen dalam kisah yang pernah melakukan
komunikasi/berhubungan langsung satu sama lain, tanpa terkecuali Adam
dengan Hawa.



Kejadian pertama komunikasi/hubungan langsung kepada/terhadap Adam dan
Hawa baru terjadi ketika Tuhan memberi perintah/larangan bagi mereka
untuk tidak memetik/memakan buah terlarang. Mengacu pada uraian
sebelumnya, bentuk simbolis "perintah" Tuhan senantiasa berlaku
sebagai kausa sinergi, sebagaimana perintah bersujud kepada Malaikat dan
Iblis (terhadap Adam) berkonsekwensi pada/menciptakan `ilusi'
pemahaman dualitas (sinergi kebaikan-kejahatan), demikian pula
perintah/larangan Tuhan kepada Adam dan Hawa yang berkonsekwensi
pada/menciptakan kehidupan (sinergi (individual) ego-ego).



"Untuk melengkapi kesempurnaannya diciptakanlah Hawa dari (tulang
rusuk) Adam. Oleh bujukan seekor ular pada sebuah pohon, Hawa
meminta/membujuk Adam untuk memetik dan bersama-sama memakan buah
terlarang/melanggar perintah Tuhan. Seketika itu juga mereka malu atas
tubuh (telanjang) mereka dan (berusaha) menutupinya dengan dedaunan.
Adam dan hawa diturunkan kedunia…"



Fenomena menarik yang yang patut dicermati dari penggalan kisah diatas
ialah; adalah seekor ular pada sebuah pohon dan bukan Iblis (sebagaimana
`Iblis' yang dipahami melalui `ilusi' dualitas
kebaikan-kejahatan) yang pertama kali `berdialog'
(berbicara/berkomunikasi) secara langsung dengan Hawa melalui bentuk
rayuan/bujukan/permintaan (bukan bentuk `perintah' (sebagaimana
dilakukan oleh Tuhan) yang membuat Hawa untuk pertama kali
`berdialog' (berbicara/berkomunikasi) dengan Adam dalam bentuk
yang sama (rayuan/bujukan/permintaan).



Kronologi kisah diatas menjelaskan evolusi (pemahaman) manusia:



"Konon Tuhan menciptakan Malaikat dari cahaya dan Iblis dari
api,…"



1. Fase analog Tuhan, secara implisit mengilustrasikan fase awal dimana
ego hanya mengenal dirinya, dan/atau berusaha memproyeksikan esensinya
melalui `visualisasi' logos-logos dunia. Secara garis besar,
interaksi ego lainnya hanya digerakkan oleh faktor insting.à (manusia
kera)



"Tuhan memerintahkan Iblis dan Malaikat untuk bersujud kepada Adam
(Manusia)– ciptaannya paling sempurna."



2. Fase monolog Tuhan, secara implisit mengilustrasikan fase dimana ego
berusaha untuk menyublimasikan logos-logos (visual) tersebut untuk
membentuk/menjelaskan/menciptakan esensi dirinya kedalam bentuk/logos
"manusia", sebagaimana Tuhan melalui proyeksi logos-logos-NYA
menciptakan, membentuk, dan/atau menjelaskan esensinya kepada
"Adam" – Dualitas sempurna à(Manusia Purba)



"Untuk melengkapi kesempurnaannya diciptakanlah Hawa dari (tulang
rusuk) Adam. Oleh bujukan seekor ular pada sebuah pohon, Hawa
meminta/membujuk Adam untuk memetik dan bersama-sama memakan buah
terlarang/melanggar perintah Tuhan."



3. Fase dialog Hawa dengan seekor ular, yang diikuti dengan dialog
kepada Adam, secara implisit mengilustrasikan fase awal pemahaman ego
atas keberadaan "manusia" lain (Hawa) pada alam/dunia (seekor
ular, pada sebuah pohon, di Taman Eden/Surga), yang sekaligus menjadi
kausa bagi medium komunikasi "manusia" dengan
"manusia(-manusia)" lain (Adam dan Hawa). à(Manusia Modern)



EVOLUSI MEDIUM/BAHASA



"Alam/dunia adalah (kausa) bahasa"



Fase analog Tuhan (bentuk `logos'), secara implisit
mengilustrasikan fase awal komunikasi umat manusia yang juga berbentuk
analog seperti yang tampak pada penciptaan logos-logos (visual),
peninggalan-peninggalan gambar-gambar/pahatan-pahatan pada gua-gua
prasejarah manusia purba.



Fase monolog (bentuk `perintah') Tuhan, secara implisit
mengilustrasikan fase kedua komunikasi umat manusia yang berbentuk
monolog, dimana ego berusaha menjelaskan esensinya melalui logos-logos
visual dalam bentuk (bahasa/medium) isyarat-isyarat kepada elemen-elemen
alam/dunia/manusia yang lain.



Fase dialog (bentuk `bujukan') seekor ular kepada Hawa, yang
diikuti dengan dialog kepada Adam, secara implisit mengilustrasikan fase
lanjut komunikasi manusia dalam bentuk verbal antara ego dengan
dunia/manusia lain, yang diilhami/diawali oleh keberadaan elemen-elemen
(makluk hidup lain) pada alam/dunia (manusia dalam kronologi cerita
hanya terdiri atas 2 elemen Adam dan Hawa, sehingga awal komunikasi
(`verbal') mereka sekaligus adalah simbol bagi komunikasi awal
antara manusia secara keseluruhan/universal). Alam/dunia merupakan
realitas/kausa medium komunikasi manusia yang sesungguhnya.



ESENSI BAHASA



"Medium adalah realitas ketidak sempurnaan yang sesungguhnya"



Bentuk simbolis "rayuan/bujukan/permintaan" seekor ular (pada
sebuah pohon di Taman Eden/Surga) kembali menegaskan hakekat dasar Adam
maupun Hawa/individu-individu manusia yang memiliki kebebasan untuk
memilih - dalam pengimplementasian tindakan atas/terhadap medium/bahasa
(sebagai faktor ketidak-sempurnaan) yang diilhami/diawali oleh
logos-logos/faktor-faktor/fenomena-fenomena yang terdapat pada
alam/dunia (seekor ular, pada sebuah pohon, diTaman Eden/Surga).



Bersambung...



Salam,



Bumi Satria Pandawa







[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Great things are happening at Yahoo! Groups.  See the new email design.
http://us.click.yahoo.com/TISQkA/hOaOAA/yQLSAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke