REFLEKSI : Diberitakan bahwa pada tahun 2009 Indonesia menargetkan Rp186 
triliun dari empat juta (Tenaga Kerja Indonesia) TKI, kata Menteri Tenaga 
Kerja, Erman Suparno.  

Target ini memberikan gambaran jelas bahwa kalangan berkuasa Indonesia tidak 
akan bisa memecahkan masalah lapangan kerja yang dapat mengabsorvasi kebutuhan 
perkembangan demografi. Jadi dengan kata lain bila dalam pemilu yang akan 
datang [2009], bila mayoritas kaum tidak beruntung dikaruniai berkat tetap 
membodohkan diri dan hanya mengikuti suara gembala kambing mengembik, bisa 
berarti salah pilih wakilnya seperti pada masa lalu sama, jadi  membiarkan 
beban berat dipikul oleh anak cucu. 

Target duit keringat TKI yang diincer tentunya tidak dipentingkan legalitas 
pengiriman, karena bagaimana pun mereka adalah pahlawan devisa.   



http://www.equator-news.com/berita/index.asp?Berita=Utama&id=54875

Jumat, 28 Juli 2006



Malaysia Deportasi 103 TKI Ilegal
5 di Antaranya di Bawah Umur


Oleh : Anton Perdana,-  Entikong, Pemerintah Malaysia kembali mendeportasi 
Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang tertangkap saat bekerja dengan majikannya 
tanpa dilengkapi dokumen resmi. Dari 103 TKI yang di deportasi, 5 orang di 
antaranya masih di bawah umur. Kelima TKI ini, Faisal Sugandi, 16, Judi Aun, 
15, Toni Akalubong, 15, Akuui, 13 dan Mia, 15. Kesemuanya mengantongi paspor 
dengan umur jauh lebih tua dari umur sesungguhnya. 
Pengembalian TKI yang dilakukan sebanyak dua gelombang oleh Konsulat Jendral 
Republik Indonesia (KJRI) di Kuching-Malaysia, ini berlangsung sejak tanggal 
25-26 Juli di Border Entikong. 

Deportasi TKI yang dilakukan Malaysia, dilakukan Selasa (25/07) sedikitnya 59 
orang dipulangkan menggunakan angkutan umum. Sampai di pintu perbatasan, para 
TKI langsung diserahkan ke BLK Entikong untuk menjalani pendataan dan 
pemeriksaan. 

Anggota Mapolsek Entikong yang diback up Mapolres Sanggau, langsung menyambut 
kedatangan para TKI. Petugas pun, mengarahkan para TKI untuk menjalani 
screening di BLK Entikong yang dilakukan pihak IOM Lembaga Swadaya Masyarakat 
Luar Negeri selaku pendamping para TKI yang menjadi korban kekerasan saat 
bekerja di Malaysia. 

Esoknya, kembali dipulangkan 44 TKI, dalam perjalanan 1 orang tidak diketahui 
jejaknya entah kemana saat di pemeriksaan dilakukan di pintu perbatasan. 
Anggota Mapolsek Entikong yang diback up Mapolseks Sanggau, langsung 
menyerahkan para TKI ke BLK Entikong untuk menjalani screening. 

Selesai menjalani screening, para TKI dibawa ke Pontianak. Sedangkan 11 TKI 
asal Sulawesi, memilih tetap bertahan di Entikong. " Kami akan pulang ke Balai 
karangan saja tempat keluarga, sambil mengurus surat-surat," aku seorang TKI 
yang tidak mau menyebutkan namanya. 

Hal sama juga dilakukan salah seorang TKW asal Sanggau, ia memilih pulang 
sendiri ke rumah." Saya pulang sendiri saja, karena keluarga katanya akan 
datang menjemput. Biar nanti, saya turun di Balai Karangan saja, "pintanya. 

Kapolsek Entikong, Iptu Adress Tampubolon mengatakan, pihaknya siap memberikan 
pengamanan pada TKI yang akan dipulangkan. Bentuk pengamanan memberikan 
pengawalan sampai keluar kawasan perbatasan. 


Trafficking 

Menurut hasil screening yang dilakukan IOM Lembaga Pendamping Korban 
Trafficking, 7 orang TKI termasuk dalam kategori korban trafficking. Dari 7 
orang korban trafficking, hanya 4 saja yang ditangani oleh IOM. Sedangkan 3 
orang lain lagi, pergi entah ke mana. 

"Kami tidak dapat memaksa, harus mendampingi mereka. Kita memberikan 
perlindungan, pada korban yang mau kita dampingi. Tolong nama kami juga jangan 
di cantumkan, sebab kami serin mendpatkan teror dari para agen, " ujar 
Koordinator IOM yang tidak mau namanya disebutkan, saat ditemui Equator di 
Polsek Entikong, setelah melakukan screening di BLK Entikong. 

Ditanya mengenai 11 TKI asal Sulawesi yang tetap ingin pulang kembali ke 
Malaysia, wanita berkaca mata ini mengatakan, pihaknya hanya menangani korban 
trafficking, mengenai pengembalian TKI sepenuhnya diserahkan kepada pihak 
pemerintah melalui Departemen Sosial. " Kita Lembaga Masyarakat yang konsen 
pada bidang HAM, kalau memang mereka mau pulang sama-sama.Kita siap 
memfasilitasi, " katanya. 

"Kami bukan tidak mau memberikan keterangan, namun yang berhak lembaga kita 
berkantor di Jakarta. Kami di sini, hanya menangani mereka yang membutuhkan 
pertolongan. Kalau memang dari mereka ada yang mau bercerita kita tidak akan 
menghalangi, tapi tolong , alamat lengkap dan identitas korban tidak 
dimunculkan. Karena kami sering mendapatkan teror, " akunya lagi. 

Ia juga mengatakan,pihaknya sesungguhnya siap mendampingi, TKI mana saja yang 
menjadi korban trafficking. Hanya saja, korban mempunyai hak untuk tidak 
diproses. "Tolong hak mereka, saya juga sempat puyeng. Melihat wartawan banyak 
yang datang, mengambil gambar tanpa izin dari kami, " tuturnya. 

Ditanyai mengenai peran IOM dalam melakukan sosialisasi dan penanganan kasus 
trafficing untuk TKI asal Kalbar, wanita ini terdiam sejenak, ia pun menarik 
nafas panjang lantas memalingkan wajahnya pada rekannya yang sedang sibuk 
mengurus kepulangan TKI. 

Ia mengakui, pihaknya sudah beberapa kali melakukan sosialisasi di kota 
Pontianak. "Memang kami menyadari, sosialisasi yang kami lakukan masih belum 
cukup. Karena kami lebih berkonsentrasi menangani TKI yang menjadi korban, " 
kilahnya. * 


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke