http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail&id=7173

Sabtu, 29 Juli 2006,



Kisah Warga Pangandaran yang Menikah dengan Bule 


Rori Tak Lulus SD, Bersuami Lebih Tua 30 Tahun 
Di Pangandaran, kawasan yang diobrak-abrik tsunami dua pekan lalu, tak sedikit 
warga yang menikah dengan bule (turis asing). Apa yang memotivasi mereka? Hanya 
karena faktor ekonomi? 

ELIN Y.K., - Pangandaran 

Suatu siang di sebuah tenda pengungsian di lapangan Desa Purbahayu, 
Pangandaran, seorang bocah berumur dua tahun sedang bermain bola bersama 
teman-teman sebayanya. 

Bocah itu berbeda mencolok dari teman-temannya. Rambutnya pirang dan kulitnya 
bule. Dia adalah Dorjeling Tantra Aloka, anak Rori Rosita. 

Rori merupakan salah seorang di antara sejumlah wanita Pangandaran yang menikah 
dengan warga asing. Suaminya, Ool Vjolkunnigr, adalah warga negara Kanada. 
"Kami terpaksa mengungsi di sini sejak hari pertama tsunami," ungkap Rori 
kepada Jawa Pos yang mengunjunginya di tenda pengungsian. 

"Saat ini, suami saya sedang berada di Ottawa. Dia sudah kami kirimi SMS dan 
segera datang ke sini," kata wanita 20 tahun tersebut. 

Rori menceritakan, saat tsunami terjadi, dirinya dan Tantra, anaknya, sedang 
menonton TV. Tiba-tiba, dia mendengar suara warga yang panik. "Saya keluar dan 
melihat ada ombak kehitaman dari kejauhan. Tantra langsung saya bawa keluar 
untuk menyelamatkan diri," ujarnya. 

Dia akhirnya berhasil lolos dari terjangan tsunami bersama anaknya. Tapi, rumah 
mereka di belakang Penginapan Bamboo House yang berjarak sekitar 200 meter dari 
pantai hancur diterjang tsunami. Kini, sambil menunggu kedatangan suami yang 
masih sibuk di Kanada, Rori ditampung di tenda pengungsian. 

Menjadi istri warga negara asing sebenarnya tak pernah terbayang di benak Rori. 
Apalagi, sang suami berumur setahun lebih tua dari bapaknya. Ool, panggilan 
suami Rori, berusia 50 tahun. 

"Saya sudah lama kenal dia (Ool), sekitar lima tahun. Dia sering datang ke 
Pangandaran untuk berlibur," jelas Rori menceritakan awal perkenalannya dengan 
Ool. 

Bermula dari perkenalan tersebut, hubungan mereka pun kian akrab. "Kami empat 
bulan berpacaran sampai akhirnya saya memutuskan menikah," tegas wanita yang 
tak lulus SD tersebut. 

Menurut dia, butuh waktu dua minggu untuk menjawab lamaran Ool. Saat Ool 
melamar, keadaan ekonomi keluarga Rori sedang sulit. Ayahnya, Slamet, baru 
berhenti dari pekerjaannya sebagai karyawan di Hotel Mandarin karena hotel itu 
bangkrut. 

Ibunya, Tusiah, sama sekali tidak bekerja. "Saya pikir-pikir, menikah dengan 
Ool bisa membantu orang tua. Apalagi, dia bersifat suka membantu," jelasnya. 

Rori saat itu juga melihat fakta bahwa keadaan ekonomi beberapa wanita di 
Pangandaran membaik setelah menikah dengan orang asing. Dia akhirnya menikah 
pada Maret 2003 di Tamilnadu, India Selatan. Pernikahan itu tanpa dihadiri 
keluarga kedua pihak. "Kata Ool, di sana ngurus suratnya gampang. Lagi pula, 
dia beragama Buddha. Jadi, kami menikah di India," ungkapnya. 

Setelah menikah, pasangan tersebut sempat tinggal selama dua tahun di 
Tamilnadu. "Di sana, suami saya melukis dewa-dewa Buddha," katanya. Di kota 
tersebut, Tantra lahir pada 9 Maret 2004. "Namanya diambilkan dari istilah 
Buddha. Saya tidak tahu. Tapi, kata Ool, Dorjeling berarti petir," ujarnya. 

Rori dan suaminya sempat pulang ke Pangandaran untuk memperkenalkan Tantra 
kepada keluarga. "Tapi, hanya sebentar. Setelah itu, kami balik ke Tamilnadu. 
Adik saya juga ikut," kata anak pertama di antara tiga bersaudara tersebut. 

Setelah pekerjaan suaminya di India habis, mereka pun tinggal terpisah. "Kami 
tinggal terpisah. Suami saya tinggal di Kanada, saya memilih di Pangandaran. 
Suami saya datang ke Pangandaran sekali dalam setahun. Tapi, sekali datang, dia 
bisa tinggal sampai empat bulan di sini," jelasnya. 

Mengapa tak tinggal di Kanada? Rori mengaku takut tinggal di negeri asal 
suaminya tersebut. "Saya tidak kenal siapa-siapa. Enak tinggal di sini. 
Apalagi, saya belum pernah tinggal di sana (Kanada)," tegasnya. 

Selama menjadi suami Rori, Ool begitu perhatian terhadap adik-adik iparnya. 
Asti Hidayati, adik Rori, menceritakan, kakak iparnya itulah yang membiayai 
sekolahnya. "Ool baik. Kalau kami butuh uang, berapa pun akan dikasih," ungkap 
gadis 15 tahun yang masih duduk di kelas 3 SMPN 1 Pangandaran tersebut. 

Bukan hanya itu. Ool juga membangunkan sebuah rumah permanen untuk kakaknya 
yang saat ini masih dalam pengerjaan. "Letaknya di dekat Hotel Surya Pesona, 
dekat rumah orang tua kami," ujar Asti. Namun, dia mengaku tidak tahu bagaimana 
kelanjutan pembangunan rumah tersebut pascatsunami yang membuat trauma seluruh 
keluarganya. 

Warga Pangandaran yang juga menikah dengan bule adalah Jono Suhartono. Pria 40 
tahun tersebut menikahi Ana Katharina, asal Munchen, Jerman. "Kalau ditanya 
mengapa menikahi orang asing, saya rasa itu karena cinta. Tapi, tidak bisa 
mungkir, tujuan saya juga untuk meningkatkan taraf kehidupan," jelas mantan 
tour guide tersebut.

"Jangan disalahartikan materi semata. Yang kami miliki saat ini adalah hasil 
kerja kami mulai nol. Tidak ada yang cuma-cuma dari Jerman," tegasnya. 

Jono dan istrinya telah membuat perjanjian pranikah yang juga mengatur 
pemisahan harta sejak awal pernikahan. Diceritakan, Jono bertemu istrinya pada 
1988. "Waktu itu, dia berlibur di sini. Saya menjadi guide," ungkapnya. 

Hubungan keduanya kian akrab, hingga mereka menikah pada 1989 di Munchen. 
Setelah menikah, nama Ana Katharina diubah menjadi Edith Suhartono. Jono 
tinggal di Munchen bersama istrinya hingga 1994. "Saya sempat bekerja sebagai 
bartender dengan penghasilan DM 2.500. Kerja saya semakin berat saat Edith 
hamil dan memutuskan melepas pekerjaannya sebagai manajer sebuah bank di 
Munchen," katanya. 

Pada 1994, mereka pun kembali ke Indonesia dan memutuskan tinggal di 
Pangandaran. "Kami tidak tahan atas sistem hidup di Jerman," ujarnya. 

Selain itu, biaya hidup yang mahal di Jerman membuat dia mantap tinggal di 
Indonesia dan membuka sebuah restoran bernama European Food serta usaha 
penangkapan ikan dengan mempekerjakan delapan nelayan. 

Meski Jono berstatus WNI, anak-anaknya, Jan Sandro Suhartono, 13, dan Daniel 
Suhartono, 11, berstatus WNA. 

Dia menjelaskan, selama hidup di Pangandaran, anak-anaknya masih diperlakukan 
berbeda dalam pergaulan hanya karena warna kulit. "Padahal, selama di Jerman, 
anak-anak saya tak pernah diperlakukan diskriminatif," jelasnya. 

Perbedaan agama, kata Jono, juga tidak menjadi permasalahan. "Saya muslim dan 
Edith Protestan. Tapi, semua anak saya ikut agama saya. Kami sepakat tidak ada 
yang perlu diperdebatkan," tegasnya.

Selain itu, meski tinggal berjauhan, hubungan dengan mertuanya, Anna Heiss dan 
Max Heiss, berjalan baik. "Ibu mertua saya yang berusia 73 tahun setidaknya 
sekali dalam setahun mengunjungi kami di Pangandaran. Anak-anak pun setahun 
sekali pergi ke Jerman," katanya


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke