Jawoto Hanyalah Satu Dari Banyak Bebek2 Peliharaan Sukarno !!!

Pertama kali saya berjumpa dengan Bapak Jawoto adalah di Peking pada
tahun 1963 setelah selesainya pesta olahraga Ganefo.  Saya waktu itu
terpilih sebagai anggauta Bhineka Tunggal Ika dan sering mengikuti
perjalanan rombongan presiden Sukarno.  Kalo masalah fasilitas,
rasanya tidaklah kurang banyak saya menerima berbagai fasilitas dari
rezim Sukarno.  Namun apapun yang saya nikmati dizaman Sukarno
bukanlah mengharuskan saya munduk2 memuja Bung Karno.  Salah tetap
salah, benar tetap harus diakui benar, demikianlah sikap saya meskipun
disatu pihak saya pengagum Bung Karno, namun dilain pihak saya juga
mengutuk sikap dan kebodohan beliau yang cuma mengharapkan semua orang
disekelilingnya munduk2 kepaa beliau.

Sewaktu saya diangkat jadi anggauta Bhineka Tunggal Ika, terjadi
pertengkaran antara diri saya dengan ayak kandung saya yang tidak
menyetujuinya.  Ayahku agak anti-Sukarno, namun sebagai anak wanita
yang punya keyakinan dan kemampuan diri sendiri, tak pernah ada yang
bisa mendikte saya karena sikap saya selalu berdiri diatas apa yang
terbaik untuk saya dan masa depan saya.  Bukan juga Bung Karno dengan
antek2nya tidak mengenal siapa keluarga saya, karena seperti yang
berulang kali saya tuliskan bahwa ayah saya salah seorang pemuka Islam
terkenal ditanah Jawa yang saya yakin Bung Karno berusaha menariknya
untuk mendukung rezimnya.  Namun ayah saya berulang kali menyatakan
dirinya tidak suka turut campur dengan Politik cukup dalam aktivitas
pendidikan agama Islam saja seperti pesantren.

> "IBRAHIM ISA" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Sikap Djawoto itu adalah sesuai dengan politik luarnegeri Indonesia
> yang didasarkan atas prinsip "bebas dan aktif", mengembangkan 
> "politik bertetangga baik RI" sejak Proklamasi Kemerdekaan. Itu 
> sepenuhnya sesuai dengan Prinsip-Prinsip Konferensi Asia-Afrika, 
> dengan Semangat Bandung yang anti-kolonialisme, anti-imperialisme 
> dan memperkokoh solidaritas rakyat-rakyuat Asia-Afrika.


Mengomentari pendapat anda diatas, saya sama sekali tidak memandangnya
demikian, Jawoto tidak lebih baik dari bebek2 lainnya, dia terpilih
karena pandai munduk2 dan sama sekali buta politik.  Apa sih artinya
"politik bebas aktif" ?  Apakah mengganyang Malaysia mengirim terorist
meledakkan bomb2 di Singapore itu anda anggap sebagai mengembangkan
politik bertetangga baik ???  Semangat Bandung itu adalah vested
interest-nya Bung Karno untuk cari popularitas.  Masalah
anti-kolonialisme dan anti-imperialisme itu siapa???  Arab itu fasis
dan termasuk imperialisme dan kolonialisme, menteror Israel, menjajah
 Persia untuk dijadikan negara Islam Iran, menjajah Afrika termasuk
Sudan, kenapa Bung Karno tidak menentangnya ???  Apakah mengangangkat
diri sendiri jadi presiden seumur hidup melalui majelis
permusyawaratan rakyat sementara yang isinya hanya bebek2 yang dipilih
tanpa pernah terpilih itu termasuk politi bebas aktif ????

hehehehe.... pakai otak bung, jadi pengagum tidak salah, tapi kalo
jadi bebek......tentu tidaklah seharusnya.  SAYA PENGAGUM BUNG KARNO
TAPI SAYA BUKAN BEBEK2 SUKARNO.

Saya bertemu dengan Bapak Jawoto dimana waktu itu rombongan saya
dipimpin oleh mbak Ambar Maladi, anak wanita bekas Menteri Olahraga
Maladi.  Meskipun umur mbak Ambar Maladi waktu itu masih sekitar 14
tahun tetapi rombongan yang dipimpinnya adalah pejabat2 tinggi negara
RI yang masih termasuk kelompok 100 menteri.  Kami juga diundang oleh
Yang Mulia Bapak Chou En Lai..... dan dari Tien An Men kami diajak
menuju ke Great Wall.  Chou En Lai mendadak mendekati saya, dia bilang
bahwa seorang laki2 yang datang ke China tapi tidak pernah berkunjung
ke Great wall pasti kurang jantan !!!  Saya cuma tersenyun, saya pikir
ucapan Chou En Lai itu porno, se-olah2 dia mau bilang kalo laki2 tidak
mampu mendaki Great Wall yang ada di sepanjang pegunungan2 yang tak
terlalu tinggi, maka laki2 itu tidak mampu memuaskan sex wanita.  Chou
En Lai secara khusus menghadiahi saya kenang2an yang tidak diberikan
kepada rombongan lainnya.  Namun seluruh rombongan memang menerima
kenang2an khusua, antara lain sebuah kipas cendana yang harum buatan Cina.

Demikianlah, Jawoto tidak ada keistimewaan apapun juga selain munduk2
terhadap Sukarno dan antek2nya yang lain.  Masalah Jawoto tidak berani
balik dan menetap di Cina sehabis G30S, sama sekali bukan karena dia
setia, melainkan dia dikirimi berita dari beberapa wartawan rekannya
di Jakarta untuk jangan pulang karena kemungkinan akan terkena
pembunuhan massal tidak kecil karena Aidit sudah mati dijaga.  Jawoto
termasuk orang yang paling pengecut, namun tetap saya menghormati dia
sebagai bekas pejabat.  Saya tidak suka pada cara berpikir Jawoto
karena dia sebenarnya tidak bisa berpikir bahkan dia juga tak mampu
memikirkan nasib dirinya maupun keluarganya.  Di Cina terjadi revolusi
kebudayaan, dia kabur ke Perancis, dan kemudian ke Belanda.  Kemampuan
berbahasa asingnya sangat buruk, namun tetap bisa diangkat jadi Dubes,
rahasianya cuma yang kita sebut kolusi dengan rekan2 yang dekat dengan
kekuasaan.  Ingat, sikap Jawoto amoral dan unetikal karena rakyat
Indonesia menderita kelaparan hebat akibat politik Bung Karno yang
salah, yaitu Politik vested Interest untuk menjadi presiden seumur hidup.

Saya kira komentar saya perlu disebar luaskan untuk memberi gambaran
yang netral tidak berpihak.  Karena pada dasarnya saya juga mengutuk
Suharto yang jadi kaki tangan CIA tapi Bung Karno juga adalah antek
CIA yang terpaksa harus mengkhianati tuannya akibat ambisinya untuk
menjadi seumur hidup.  Organisasi CIA itu selalu ketat kontrol
organisasinya, sehingga kalo ada seorang yang sudah seharusnya pensiun
tetapi masih memaksakan diri berkuasa, maka organisasinya akan
berantakan, dan hal inilah kunci keberhasilan Amerika mengalahkan
superkuat Russia, dan hal ini juga yang merupakan kegagalan dan
kekalahan Russia, China, dan juga Bung Karno.

Amerika cepat sekali mempelajari situasi, gagal satu, sudah ada cara
baru.  Sukarno adalah antek CIA yang bertugas menyusupkan agen2 yang
dilatih CIA untuk menerobos PKT (Partai Komunis Cina) karena CIA gagal
menyusupkan melalui Taiwan maupun Dalai Lhama.  Namun Sukarno terlalu
korup, sama seperti Dhalai Lhama.  Kelompok Islam fundamentalist
Masyumi juga dipersenjatai Amerika, namun ternyata kekuatan Islam di
Indonesia cuma macan kertas.  Amerika menyadarinya, dan berhasil
menemukan bakat alam pandai menipu dan ber-muka2 yaitu Suharto. 
Hasilnya dengan Suharto sangat gemilang, biayanya murah, dan sebagai
hadiah akan keberhasilannya, Suharto dibiarkan korupsi, dan biarlah
rakyat Indonesia turun menurun yang menanggung sengsaranya karena
memang hal ini terjadi bukan karena kesalahan Amerika melainkan
kesalahan Sukarno yang sudah ditugaskan maupun diberikan biaya untuk
pembibitan calon2 pemimpin pengganti dirinya.  Amerika sedang sibuk
menghadapi masalah VietNam dan China, tentu tak perlu pusing
memikirkan siapa yang harus jadi penggantinya di Indonesia.  Biarlah
pemimpin di Indonesia itu berganti dari satu koruptor ke koruptor
lainnya, dari mulut buaya pindah kemulut singa.  Kalo saja Bung Karno
mempersiapkan penggantinya, mendidik penggantinya menjadi negara2an
yang handal, tentu tak akan muncul manusia seperti Suharto.

Demikianlah, jangan salahkan siapapun sebelum mencabut akar
permasalahan utamanya yaitu SUKARNO dan Jawoto hanyalah bebek2 kecil
yang tak mampu bertelur selain meminum air comberan yang diberikan
siapa saja yang mau memeliharanya.

Saya seorang pemikir, saya bukan bebek, saya tidak bisa dipengaruhi
kepercayaan termasuk agama, juga tak bisa dipengaruhi ideologi2 gila
seperti komunis dan fasisme, dan perlu anda ketahui bahwa saya juga
bukan anjing2 Amerika seperti Bung Karno, Suharto dan SBY, meskipun
saya adalah warganegara Amerika.  Rezin Suharto juga berusaha menarik
simpati ayah saya untuk mendukung bebek2 Golkar yang dibibitnya, namun
sama seperti kepada Sukarno, Ayah saya menolaknya.  Dalam banyak hal
saya sangat bertentangan dengan cara berpikir ayah saya, namun dalam
satu hal saya setuju dengan keputusan ayah saya untuk memasang jarak
kepada kedua penguasa itu.  Mungkin kalo ayah saya dekat dengan rezim
Bung Karno, maka dia sudah dijagal bersama jutaan korban2 lainnya. 
Juga kalo ayah saya terlalu dekat dengan rezim Suharto, mungkin
akhirnya juga dibunuh Suharto.  Demikianlah, saya tahu menilai
seseorang baik dari kemampuannya maupun dari kepribadiannya.  Saya
hanya menyatakan baik kepada yang baik, dan biadab kepada yang biadab,
dan semua pendirian saya bisa anda baca dalam semua tulisan2 saya.

TAK USAH MEMUJA JAWOTO SEBAGAI PEJUANG KARENA DIA BUKAN PEJUANG
MESKIPUN JUGA BUKAN PENGKHIANAT, DIA HANYALAH ORANG BIASA YANG CARI
SELAMAT SEHINGGA CUKUP PUAS MENJADI BEBEK2 PELIHARAAN FRONT NASIONAL.

Ny. Muslim binti Muskitawati.





Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke