http://sumeks.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=16164&Itemid=30
Dekade Asia dan Tiongkok
Selasa, 26 September 2006
Oleh Ahmad Erani Yustika
Staf pengajar pada FE Unibraw, direktur eksekutif Ecorist (The Economic
Reform Institute), Malang
Hampir bisa dipastikan dekade sekarang ini bidang ekonomi akan direbut
oleh Tiongkok. Secara umum, dasawarsa saat ini sebetulnya bukan cuma milik
Tiongkok, tapi juga Asia. Jepang, Singapura, Korsel, dan India silih berganti
mencetak rekor untuk memantapkan posisi ekonomi masing-masing. Jepang sudah
berada dalam fase pemulihan dengan menggapai pertumbuhan ekonomi positif (2%).
Bahkan, data terbaru menunjukkan tiga negara Asia, yakni Tiongkok,
Jepang, dan India pada 2005 masuk 10 besar (top ten) negara yang terbesar
ekonominya. Sedangkan Asia menyumbang lebih dari 35% pendapatan (GDP) dunia,
meninggalkan USA (20%) dan Uni Eropa (20%).
Fakta-fakta tersebut tentu sangat mengejutkan, mengingat pada 1997/1998
negara-negara Asia diterjang oleh krisis ekonomi yang parah. Namun, dengan cara
masing-masing mereka mulai bergerak dan sekarang menyumbang hampir 50%
pertumbuhan ekonomi dunia (Finance and Development, Juni 2006).
Figur Asia
Setelah Asia memperoleh capaian yang luar biasa dalam bidang ekonomi
sejak 1950-1997 -pertumbuhan ekonominya dua kali lipat dari rata-rata
pertumbuhan dunia-, tiba-tiba ekonomi Asia dihajar krisis ekonomi pada
pertengahan 1997. Negara-negara yang dulu dijuluki sebagai negara ajaib,
seperti Taiwan, Korsel, Hongkong, Singapura, Indonesia, Malaysia, dan Thailand
mendadak ekonominya lumpuh.
Sebagian besar ekonom yakin bahwa penyebab krisis tersebut setidaknya
bersumber dari dua soal. Pertama, negara-negara Asia tumbuh dengan alas utang
luar negeri (baik di sektor pemerintah maupun korporasi swasta), sehingga
sangat rentan terhadap gejolak ekonomi eksternal, khususnya fluktuasi nilai
tukar mata uang.
Kedua, sektor-sektor ekonomi yang berkembang di negara Asia bukanlah
sektor riil yang tradable, melainkan sektor finansial dan ekonomi non-tradable
lainnya (industri properti). Sektor-sektor ini diandaikan mirip buih yang
menimbulkan pertumbuhan maya.
Namun, saat ini, dengan kombinasi penciptaan kebijakan ekonomi yang tepat
dan disiplin fiskal/moneter yang ketat, perlahan-lahan figur ekonomi Asia dapat
diperbaiki.
Contoh yang paling baik adalah penanganan utang luat negeri (debt).
Hampir semua negara penting di Asia, seperti Thailand, Korsel, Malaysia,
Indonesia, Filipina, India, Hongkong, dan Singapura bisa memperbaiki manajemen
utang luar negeri.
Pada 1998, misalnya, utang macet (nonperforming loan) Thailand mencapai
42% dari total utang, Korsel 30%, Malaysia 21%, Indonesia 48%, Filipina 11%,
India 14%, Hongkong 8%, dan Singapura 12%. Berturut-turut, utang macet negara
tersebut sekarang ini tinggal 11%, 2%, 12%, 6%, 13%, 7%, 2%, dan 5%. Hal yang
sama terjadi pada korporasi swasta, yang secara perlahan rasio utang terhadap
modal (debt to equity) terus mengecil.
Misalnya, pada 1998 rasio utang terhadap modal mencapai 200%, namun pada
2004 tinggal 95% (IMF, 2004). Deskripsi tersebut menggambarkan keberhasilan
negara dan korporasi Asia untuk memandirikan ekonomi.
Sungguhpun begitu, masih ada pertanyaan besar tentang pertumbuhan ekonomi
Asia akhir-akhir ini. Ditengarai pertumbuhan ekonomi tersebut masih dipicu oleh
sektor finansial dan non-tradable, sehingga secara umum bersifat semu.
Sektor-sektor tersebut berkembang dengan pesat, tapi diraih dengan meninggalkan
sektor riil. Implikasinya, pertumbuhan ekonomi itu tidak menyerap tenaga kerja
dalam jumlah yang besar.
Kasus Indonesia, misalnya, setiap 1% pertumbuhan ekonomi saat ini hanya
menyerap tenaga kerja sekitar 42.000. Bandingkan dengan 2002, yang setiap
pertumbuhan ekonomi 1% menyerap tenaga kerja sekitar 250.000. Sedangkan sebelum
krisis 1997, rata-rata setiap 1% pertumbuhan ekonomi menyerap 400.000 - 500.000
tenaga kerja.
Jadi, sekarang pertumbuhan ekonomi cukup tinggi, tapi penyerapan tenaga
kerjanya rendah. Ini argumentasi yang kukuh untuk menjelaskan mengapa jumlah
pengangguran dan kemiskinan kian bertambah.
Gurita Tiongkok
Di antara negara Asia yang mengalami pertumbuhan ekonomi paling
mencengangkan adalah Tiongkok. Secara jenaka, seorang ekonom mengatakan saat
ini sebagian besar negara persoalannya adalah bagaimana meningkatkan
pertumbuhan ekonomi, sebaliknya masalah di Tiongkok adalah bagaimana menurunkan
pertumbuhan ekonomi.
Seloroh itu mungkin benar, karena faktanya ekonomi Tiongkok tumbuh di
atas 10% setiap tahun. Bahkan, pada 2005 bisa mengakumulasi cadangan devisa
(foreign exchange reserves) sekitar 1.800 miliar dolar (bandingkan dengan
Indonesia yang bertengger pada angka sekitar USD 40 milar). Padahal, pada 1997
cadangan devisa Tiongkok hanya sekitar USD 500 miliar. Secara khusus, AS
beberapa waktu lalu malah mengemis kepada pemerintah Tiongkok untuk
mengapreasiasi mata uangnya karena mereka memperoleh surplus perdagangan yang
luar biasa besar dengan AS.
Kasus Tiongkok itu menjadi pelajaran yang baik, karena pertumbuhan
ekonominya diiringi ekspor yang meningkat (walaupun tidak dapat menggambarkan
kinerja ekspor yang sebenarnya, cadangan devisa yang besar bisa dipakai sebagai
salah satu parameter). Di balik ekspor barang/jasa tersebut, implisit di
dalamnya tumbuh industri yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.
Hal ini terjadi karena Tiongkok mengembangkan industri padat karya dan
elektronik yang memanfaatkan teknologi tingkat madya. Dengan model ini,
pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak dibarengi dengan munculnya pengangguran
dan kemiskinan yang akut. Andaipun terdapat masalah di Tiongkok, barangkali
salah satu yang masih mengganjal adalah pemusatan kegiatan ekonomi di wilayah
tertentu saja.
Selain itu, tentu masih banyak aspek yang harus diungkap di balik kisah
keberhasilan (dan juga kegagalan) Tiongkok. Pemimpin Indonesia harus belajar
dari itu dan bukan sekadar pintar melemparkan wacana
[Non-text portions of this message have been removed]
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/