http://sumeks.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=16207&Itemid=30



      Dialog Keserasian Sosial dan Konflik Atambua        
      Rabu, 27 September 2006  
      Oleh Anto Narasoma 
      wartawan SKH Sumatera Ekspres



          
          PROGRAM dialog Keserasian Sosial yang dilaksanakan Dinas 
Kesejahteraan Sosial (Dinkesos) Sumsel di Hotel Carissima pada Jumat (22/9) 
lalu,  menarik untuk disorot. Apalagi menghadirkan sejumlah tokoh agama berbeda 
yang duduk rembuk bersama itu, baru kali pertama dilaksanakan Dinkesos Sumsel. 
      Menariknya dialog Keserasian Sosial itu, karena persoalan yang 
diperbincangkan berkisar pada konflik sosial yang terjadi di beberapa daerah di 
Indonesia. Menariknya lagi, lantaran peserta yang dilibatkan dalam dialog 
Keserasian Sosial itu melibatkan unsur tokoh Islam (Majelis Ulama 
Indonesia-MUI), Budha (Walubi), Kristiani (Persatuan Gereja Indonesia-PGI), 
Dinas Sosial, serta PMPB se-kabupaten/kota.
      Dari runtutan dialog, ternyata semua unsur dalam kegiatan itu 
menginginkan suasana damai (perdamaian). Apalagi pertikaian sosial di daerah 
konflik seperti Aceh, Poso, Ambon, serta Papua, menyisakan setumpuk 
keprihatinan yang  melecehkan nilai-nilai kemanusiaan. Akibat dari pertikaian 
sosial yang berkepanjangan, selain harta benda ratusan nyawa manusia jadi 
korban sia-sia.
      Yang jadi pertanyaan, apa penyebab terpicunya kemarahan sosial di 
beberapa wilayah konflik?  Pasti, jawaban umum yang sering terlontar adalah 
agitasi sentimen suku atau perbedaan keyakinan (agama) yang tajam.  Benarkah ?
      Logika di lapangan memang begitu.  Tapi sebenarnya, jawaban di balik 
konflik tak sesederhana seperti jawaban umum yang tidak memberikan jalan 
keluar. Karena mata rantai persoalan sosial  yang memicu konflik ditunggangi 
banyak kepentingan.
      Contohnya, belum tuntas  pelaksanaan dialog  Keserasian Sosial versi 
Dinkesos Sumsel di Hotel Carissima,  Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang 
selama ini dikenal masyarakat kita anteng-anteng (tentram) saja, ternyata pada 
Jumat lalu (22/9) kondisi sosial di sana bergolak hebat. Rumah dinas dan kantor 
Kejaksaan di Atambua dirusak, serta gedung Pengdilan Negeri Maumere hangus 
dibakar massa. Dalam aksi di Atambua, ribuan pendukung Tibo CS  pun membobol 
Rumah Tahanan (Rutan) Atambua. Akibatnya 205  tahanan dan narapidana kabur.
      Kerusuhan hebat seperti itu terpicu lantaran protes massa terhadap tiga 
pidana mati kasus kerusuhan Poso, Fabianus Tibo (60), Dominggus da Silva (39),  
dan  Marianus Riwu (48).  Jika kita cermati, ekses sentimen membabi buta 
seperti yang dilakukan pendukung Tibo Cs itu dapat menghancurkan persatuan kita.
      Itu artinya, kita perlu menyikapi persoalan ini secara serius. Sudah mati 
saja, eksistensi  Fabianus Tibo CS itu dapat memicu kemarahan massa. Apalagi 
ketika ia hidup secara hokum dinyatakan sebagai dalang kerusuhan Poso, tentu 
keberadaannya di Poso  sangat mengkhawatirkan. 
      Seolah kelompok satu dengan yang lainnya selalu menciptakan akses ''balas 
dendam'' yang dapat merusak hubungan kebangsaan antarkita.  Jika konflik itu 
berbau SARA, tentu dampaknya sangat runcing. Sekali tersentuh, akibatnya dapat 
memantik api konflik di daerah lain. Kondisi inilah yang mengkhawatirkan kita. 
      Padahal secara nasional, kita pun pernah menggelar dialog yang sama 
(seperti dialog Keserasian Sosial) di Jakarta. Dalam dialog itu dihadirkan 
tokoh-tokoh agama yang berpengaruh. Tapi pertikaian sosial  di wilayah konflik 
tetap saja bergejolak.
      Menurut Kasubdin Jaminan Bantuan Sosial (Jabansos) Dinkesos Sumsel yang 
juga Ketua Pelaksana dialog Keserasian Sosial, Drs Ms Sumarwan MM, membangun 
watak manusia tidak semudah membalik telapak tangan.  Apalagi  menyadarkan 
mereka dari perbedaan keyakinan, tentu membutuhkan waktu dan kesabaran yang 
tidak sebentar. 
      Itu artinya, untuk membangun watak manusia yang baik dibutuhkan strategi 
dan  logika yang masuk akal. Dengan kata lain, konsep yang difloor tidak 
melukai kepercayaan pihak manapun. Sisi inilah yang sangt sulit untuk dilempar 
kepada masyarakat yang tengah dilanda konflik.
      Meski forum dialog Keserasian Sosial ini belum tentu efektif untuk 
meredam konflik di berbagai daerah rawan sosial, namun paling tidak, katanya, 
dialog seperti ini dapat mengurangi ketegangan sosial di masyarakat. 
      ''Kita sudah terlalu lelah dihadapkan kepada berbagai pertikaian sosial 
di wilayah konflik. Selain merugikan persatauan kita, coast (biaya pemulihan 
sosial) yang dikeluarkan pemerintah pun begitu besar. Jika kondisi  konflik 
terus terjadi di berbagai daerah, maka potensi chaos dapat membahayakan 
persatuan kita. Selain itu, keuangan pemerintah akan terkuras sia-sia. Padahal, 
kondisi keuangan negara kita masih dalam keadaan krisis,'' ujar Sumarwan. 
      Barangkali, dengan keprihatinan itulah Dinkesos Sumsel menggelar dialog 
Keserasian Sosial dengan cara menghadirkan sejumlah tokoh dari berbagai agama.  
Meski aktivitas itu tidak seratus persen meredakan pertikaian sosial  di 
berbagai daerah konflik, paling tidak, kita dapat mengetahui bahwa kehidupan 
beragama yang ada di Indonesia mencintai suasana damai, serta berusaha dapat 
saling membantu mengatasi berbagai kesulitan yang dirasakan bangsa ini (hasil 
kesepakatan dialog Keserasian Sosial ).
      Mencermati kerusuhan di Atambua dan Maumere dalam dua hari terakhir, 
benar-benar mengerikan. Keberingasan massa yang membabibuta itu telah 
membutakan hati nurani mereka. Apakah dengan cara membakar PN Atambua dan 
merusak rumah dinas dan kantor kejaksaan setempat dapat menghidupkan kembali 
jasad terpidana mati Tibo Cs?
      Ekseskusi mati terhadap Tibo Cs merupakan wujud penegakan hukum yang 
dinilai lamban. Tertundanya pelaksanaan eksekusi terhadap tiga tersangka 
kerusuhan Poso, ada kesan dari masyarakat bahwa pelaksanaannya ''diintervensi'' 
banyak kepentingan politis.  Tapi dengan berani, penegak hukum di sana tetap 
melakukan eksekusi terhadap ketiga orang tersebut. Eksekusi itu sebuah 
keputusan yang hebat. Kita wajib memberi acungan jempol. Tapi tentunya kita 
berharap penegakkan hukum seperti itu harus diberlakukan tanpa pandang bulu. 
Artinya, dengan kelompok manapun, jika mereka melakukan pelanggaran yang 
merusak tatanan sosial,  mereka harus ''ditikam''  dengan mata hukum yang 
tajam. Itulah sebuah sikap. Sikap tegas untuk memperlihatkan mata hukum yang 
berkilat tajam, sehingga dapat menumbuhkan efek takut atau jera. Terobosan 
seperti itu memang pahit. Risikonya terjadi kekerasan di Atambua dan Maumere. 
Tapi kepalang tanggung, pertajam lagi mata hukum kita untuk memberangus para 
perusuh yang menjadi otak dalam insiden tersebut. 
      Tapi penegakkan hukumnya tidak hanya diberlakukan terhadap bromocorah 
kelas keroco saja, sedangkan pejabat yang melakukan korupsi miliaran rupiah, 
misalnya, bisa duduk manis di rumah, tanpa sedikitpun ada sentuhan hukum.  
Keadaan ini tentu memunculkan kecemburuan sosial yang dapat menciptakan 
ketidakstabilan hidup di negeri ini.  
      Dengan kepastian hukum yang tegas,  lambat laun akan muncul kepatuhan 
masyarakat terhadap eksistensi hukum di negeri ini. Setelah itu, barulah kita 
gelar berbagai dialog seperti Keserasian Sosial. Dampak baiknya tentu akan 
menumbuhkan kesadaran betapa kehidupan kita yang saling berdampingan dengan 
beragam perbedaan itu membutuhkan kesamaan pandang untuk membangun negeri ini.
      Di samping upaya penegakkan hukum itu kita laksanakan secara kaffah, 
dialog Keserasian Sosial merupakan upaya positif untuk membangun kepribadian 
rakyat Indonesia yang dulu dikenal masyarakat luar sebagai bangsa yang ramah 
dan luhur budi. Sebelum Uni Sovyet bubar, Mikhail Urinov (pengamat politik dan 
budaya) pernah menyatakan, bangsanya terdiri dari latar belakang budaya dan 
kepercayaan.  Jika kebijakan pemerintah (hukum dan tatanan sosial) tidak 
menyentuh ke aspek yang adil terhadap keragaman tradisi bangsanya,  persatuan 
Uni Sovyet akan hancur.  Ternyata sejarah membuktikan itu. 
      Karena pemerintah Uni Sovyet hanya ''mengedepankan kepentingan'' Rusia 
dibanding Kazakstan dan Bosnia Herzegovina, misalnya, maka ketika ada gesekan 
kepentingan politik internasional, kerawanan sosial di sana menjadi bom waktu 
yang mengerikan. Ini yang perlu menjadi renungan kita bersama. 


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke