http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2006092901364914
Jum'at, 29 September 2006
BURAS
Elegi dari 'Kuala Lumpur'!
H.Bambang Eka Wijaya:
"MAAF aku terlambat!" ujar Ina ke rekan kerjanya. "Ayuku dan anak-anaknya
bersama ibuku, datang dari kuala lumpur!"
"Pasti bawa oleh-oleh banyak!" tukas Ani. "Begitu kebiasaan TKI dari
Malaysia!"
"Keluargaku bukan TKI dari Malaysia, tapi kuala lumpur Porong, Sidoarjo!"
tegas Ina. "Kampung kami tenggelam jadi kuala lumpur panas dalam arti
sesungguhnya! Ibuku yang uzur dan anak-anak ayuku yang kecil tak tahan lagi di
pengungsian, maka itu dibawa kemari! Suami ayu tinggal untuk mengikuti
perkembangan dan menjaga hak-hak kami!"
"Aku turut prihatin atas nasib keluargamu!" sambut Ani. "Pasti semalaman
kalian tak tidur, mendengar keluh-kesah mereka!"
"Bukan keluh-kesah, tapi elegi--kidung duka--yang dilantunkan ibuku! Ia
dulu seniwati yang sering tampil di pentas Ramayana, Pandaan!" tegas Ina.
"Elegi itu ia lantunkan dalam irama Palaran, seperti saat Sinta harus siap
dibakar untuk membuktikan kesucian dirinya setelah diculik Rahwana!"
"Lantunan duka kala angkara unjuk kuasa menebar sengsara di persada?"
timpal Ani. "Kalau kudengar kidungnya, pasti berurai air mata!"
"Justru ibuku bersimbah air mata melantun lara!" sambut Ani. "Kenapa bumi
murka, menyemburkan lumpur panas 126 ribu meter kubik per hari, dalam empat
bulan delapan juta meter kubik lumpur menelan delapan desa sehingga 3.000-an
keluarga kehilangan rumah dan lapangan usaha serta kehidupan sosial budayanya,
20 pabrik tenggelam mengakibatkan ribuan buruh kehilangan lapangan kerja, jalan
tol tertutup lumpur, rel kereta api bengkok oleh pergeseran tanahnya akibat
dorongan lumpur panas! Apa artinya semua itu, mendera orang-orang tak berdosa
seperti Sinta yang harus menanggung derita akibat adigang adigungnya Rahwana?"
"Rahwananya siapa?" kejar Ani.
"Rahwana ya Rahwana!" jawab Ina. "Dalam kidung ibuku disebut dengan tegas
dan jelas nama Rahwana, tanpa tedeng aling-aling!"
"Rahwana kek, Firaun kek, sekarang orang tak takut menyebutnya, apalagi
dalam kidung yang hanya simbolis!" tegas Ani. "Tapi siapa sosok Rahwana itu
dalam realitas yang menyengsarakan rakyat?"
"Lazimnya Sendratari Ramayana sebagai pentas wayang alias bayang-bayang
pada cermin yang memantulkan citra diri manusia, maka sang Rahwana tiada lain
dari tokoh atau sosok yang merasa pantulan citra dirinya ada pada Rahwana dalam
kidung!" tegas Ina. "Di situlah kuatnya kritik dengan simbolisme lewat pentas
wayang, di mana secara diam-diam orang menemukan cermin dirinya, guna tanpa
pengaruh orang lain pun ia berusaha mengubah citra dirinya dari cerminan tokoh
buruk dalam pandangan masyarakat!"
"Itu zaman dulu! Orang mau mengubah citra dirinya lewat cermin-cermin
simbolis budaya lingkungannya!" entak Ani. "Sekarang beda, tak kepalang orang
ber-acting selayak Sri Rama--kekasih Sinta--tapi di balik itu sikap-tindaknya
mirip Rahwana!" ***
[Non-text portions of this message have been removed]
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/