HARIAN KOMENTAR
            29 September 2006 
           
     

            Disuruh Berjilbab, Karyawan 
            A&W Mengadu ke DPRD Manado 


           


      Kerukunan umat beragama di Kota Manado, boleh dibilang su-dah teruji dan 
diakui kalangan luar sebab semua umat ber-agama di kota ini saling meng-hargai 
satu sama lainnya. Sa-yangnya toleransi kerukunan umat- beragama yang selama 
ini dija-ga, mulai di dinodai oleh sejum-lah oknum pengusaha luar, de-ngan 
menerapkan sistem dan aturan di perusahaannya yang inti-nya memunculkan 
keresahan. 




      Buktinya, direksi restoran me-wah A&W yang berlokasi di Manado Town 
Square, nekad me-maksakan para karyawannya agar memakai jilbab (keru-dung), 
termasuk karyawan non Muslim. Lebih parah lagi, kebijakan ini diikuti pihak 
direksi perusahaan dengan sanksi akan memberhentikan (PHK-red) karyawan yang 
tidak bersedia. 


      Tidak terima dengan persoa-lan ini, sejumlah karyawan A&W langsung 
mengadukan perlakuan tersebut ke DPRD Kota Manado. Mendengar pe-ngeluhan 
tersebut, Ketua Ko-misi D Dekot Manado, Amir Li-puto dengan suara lantang 
mengancam akan memulang-kan pihak investor yang mem-praktikkan sistem tersebut.


      Liputo yang juga tokoh Mus-lim ini menjelaskan, praktik-praktik seperti 
ini bisa mem-provokasi, sehingga pantas untuk disikapi. Liputo berpen-dapat, 
toleransi umat beraga-ma di kota ini sudah terbina dengan baik, sebab semua 
pi-hak sama-sama saling meng-hargai satu sama lainnya, se-hingga 
praktik-praktik yang berpotensi memunculkan resis-tensi, secepatnya harus 
ditin-daklanjuti. 


      "Sedangkan di wilayah Aceh yang menerapkan syariat Islam, tidak melakukan 
pe-maksaan berjilbab kepada umat non Muslim, masa kan di kota ini harus 
menerapkan sistim seperti ini. Ini kan tidak benar," ujar Liputo, kemarin 
(28/09).


      Di tempat terpisah, personel DPRD Propinsi Sulut, Steven Kandouw dan 
Jemmy Lelet SH, ikut menyesalkan hal tersebut. Ini dianggap suatu tindakan yang 
berpotensi memunculkan reaksi keras dari pihak lain. Baik Kandou mau-pun Lelet 
berharap investor yang datang di Kota Manado, janganlah membuat suatu tindakan 
yang menyinggung orang lain ataupun dianggap mengganggu ketentraman umat 
beragama. 


      Sementara soal karyawan yang tak mau melakukan hal ini lantas 
diintimidasi pihak pe-rusahaan, diminta Lelet untuk mencari perlindungan ke 
pihak DPRD. Manager Restoran A&W, Made Jayana ketika di-konfirmasi mengakui 
adanya penerapan aturan tersebut. Na-mun dia berkelit, bahwa hal itu intruksi 
dari A&W pusat, se-dangkan dia hanya menja-lankannya saja. Ia juga mem-benarkan 
ada sanksi bagi kar-yawan yang tidak menja-lankan sistem tersebut. 
      Saat ditanya bahwa hal ini sa-ma artinya melakukan pemak-saan hak asasi 
manusia dan melanggar etika kerukunan ber-agama yang dapat berimplikasi pada 
persoalan diskriminasi beragama, tidak ditanggapinya. Menurutnya, penerapan 
sistem itu tidak berarti apa-apa, sebab cuma simbolis saja. 


      Sayangnya dia sendiri tidak mau menerima ketika dita-nyakan untuk 
dipaksakan me-makai simbol-simbol keaga-maan lainnya. "Oh tentu saja saya tidak 
terima dengan per-lakuan ini," ujarnya.(ran
     


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke