HARIAN KOMENTAR
30 September 2006 

      Kaki dan Tangan Tibo Cs Diborgol Saat Eksekusi 
     




Fabianus Tibo cs terikat bor-gol tangan dan kaki ketika di-eksekusi regu 
tembak. Se-dangkan para eksekutor dari Polda Sulteng menembak de-ngan posisi 
tiarap terhadap Ti-bo cs yang duduk di kursi. De-mikian penjelasan penasihat 
rohani Tibo cs, Pastor Jimmy Tumbelaka dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat 
(29/09) kemarin. 


Penjelasan ini diperoleh Tum-belaka dari seorang saksi A1. Saksi ini 
menceritakan, Tibo dan kawan-kawan saat keluar dari LP melewati tembok dengan 
tangga untuk menghindari kejaran wartawan, dan sudah ada mobil Brimob Palu yang 
me-nunggu. Ketiganya lalu dibawa ke lapangan tembak Ngatabaru, di sebelah utara 
Kota Palu.


Sebelum didudukkan di kursi, Tibo ditanya oleh seorang ekse-kutor, bagian tubuh 
mana yang ditembak. "Tibo menjawab, ter-serah mana baiknyalah," kata Jimmy 
menirukan keterangan saksi. Tibo, Marinus dan Do-minggus kemudian didudukkan di 
kursi, tangan diborgol di be-lakang dan kaki juga diborgol. Mata Tibo dan 
Dominggus ditu-tup kain, kecuali Marinus Riwu.


"Saya ingin melihat siapa yang menembak saya," kata Riwu se-perti dikutip 
saksi. Nah, dari jarak 6 meter, regu tembak yang terdiri dari 8 orang untuk 
ma-sing-masing terpidana dengan posisi tiarap menembakkan sen-jatanya pada 
pukul 01.50 WITA dini hari (Jumat 22 September).


"Masing-masing orang kena 5 peluru. Padahal menurut UU cukup dua peluru. 
Setelah itu tim dokter datang pukul 02.00 dan memastikan ketiganya meninggal," 
ujar Pastur Tumbe-laka. Apakah melihat adanya penganiayaan sebelum ekseku-si? 
"Tidak. Dari saksi mata tidak melihat langsung," ujarnya. 


Pada bagian lain, hasil visum yang dilakukan 22 September oleh salah satu 
instansi keseha-tan di Morowali, NTT, menunjuk-kan Tibo dan Marinus Riwu 
me-ngalami penganiayaan. "Hasil visum menunjukkan Tibo dan Riwu dianiaya 
sebelum diekse-kusi. Ini pelanggaran HAM. Kami akan menuntut ke Mahkamah 
Internasional," ucap Koordinator Lembaga Advokasi Hukum dan HAM Posma 
Rajagukguk di Gedung Landmark, Jakarta, Kamis (28/09) sepeerti dilansir 
detik.com
Posma menuturkan dalam surat visum Tibo No 97/PKM-BTL/IX/2006 disebutkan 
terca-tat 3 luka lecet pada pelipis ka-nan. Pada bagian dada ada 4 luka bekas 
peluru yang telah dijahit. Patah tulang rusuk kiri bagian belakang dan 5 luka 
di punggung sebelah kiri yang juga sudah dijahit pihak eksekutor. "Luka itu 
yang 5 jahitan ke-mungkinan luka peluru. Itu kan menyalahi prosedur. Harusnya 
cukup 2 tembakan," jelasnya.


Sedangkan kondisi jenazah Riwu tidak jauh berbeda. Dari surat visum No 
98/PKM-BTL/IX/2006, Posma menerangkan di bagian dada ada 4 buah luka yang telah 
dijahit. Lalu 1 jahitan di dada kanan dan 1 buah luka memanjang dengan 10 
jahitan di dada atas 
"Ini kan mustahil kalau hanya eksekusi mati dengan menem-bak sehingga terjadi 
luka robek panjang 10 jahitan seperti itu," imbuh Posma.


Selain itu, pada jenazah Riwu juga terdapat luka di dagu bagian bawah tembus ke 
dagu bagian atas atau bawah bibir dan tam-pak serpihan logam. Sementara itu 
pada punggung Riwu ter-dapat 2 luka di punggung kiri yang masing-masing 3 
jahitan. 


Namun begitu, Kapolri yang di-temui terpisah tetap membantah adanya 
penganiayaan dan menyatakan eksekusi Tibo cs sudah sesuai prosedur. "Saya kira 
sudah dijelaskan berkali-kali bahwa itu sesuai prosedur," kata Kapolri usai 
sertijab Kapolda Kaltim dan Kapolda Kalteng di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, 
Jakarta Selatan, Jumat (29/09).


Kapolri meminta semua pihak menghormati proses hukum. "Ini sudah dilaksanakan 
proses hukum, apa yang dilakukan itu ya eksekusi. Marilah kita taati sistem 
hukum di negeri ini," ujarnya. Sedangkan Kadiv Hu-mas Mabes Polri, Irjen Pol 
Paulus Purwoko menambahkan, bahwa polisi tidak melihat ada sesuatu yang aneh 
pada kondisi jenazah Tibo cs. Dia juga meminta kon-troversi hasil visum 
terhadap mereka sebaiknya dihentikan.


"Berdasarkan visum dari Puskesmas Beteleme, luka di da-da kiri yang tembus ke 
kanan dan dagu hingga tembus ke atas itu bisa terjadi karena proyektil melesat 
cepat sekali," kata Pur-woko. Purwoko juga menjelas-kan soal temuan serpihan 
logam pada tubuh korban. Serpihan logam itu berasal dari serpihan rosario yang 
dikantongi terpi-dana. 


"Tentang jahitan di punggung itu karena peluru bisa tembus sampai ke belakang. 
Jadi sama sekali tidak ada penganiayaan. Anda bisa cek sendiri ke Pus-kesmas di 
Beteleme. Tidak ada instansi lain yang memberikan visum kecuali puskesmas ini," 
cetus Purwoko.(dtc/zal


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke