REFLEKSI:  Hemat saya zakat tidak dapat memberikan solusi permanen terhadap 
kemiskinan ummat [rakyat] karena  didasarkan pada belaskasihan orang berada 
kepada ummat miskin melarat.  Topik zakat hangat diingatkan pada bulan puasa.  

Patut dimnegerti bahwa belaskasihan adalah bukan hak warganegara miskin untuk  
dapat keluar dari lingkaran setan yang menjerat mereka untuk berkehidupan 
layak.  Penilaian ini timbul karena "sudah 61 tahun Indonesia Merdeka, dan 
sudah 61 tahun dilakukan ibadah puasa". Tetapi, angka kemiskinan di Indonesia 
Merdeka tidak berkurang, malah bertambah dari tahun ke tahun. Gejala yang sama 
bisa juga dilihat di negeri-negeri lain.


http://batampos.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=5246&Itemid=75


      Zakat, Solusi Problematika Ummat        
      Jumat, 29 September 2006  
      Oleh: Kasturi*)

      Kemiskinan seolah selalu menjadi cerita lama dalam rangkaian episode 
panjang yang tidak kunjung berakhir di negeri ini, bahkan menyebut hal yang 
satu ini, kerap hanya sekedar menjadi bahan diskursus serta wacana politik yang 
sangat laku untuk dijual, Setiap orang seolah bergairah untuk membicarakan 
tentang betapa miskinnya negeri ini, negeri yang konon elok rupawan, dengan 
alamnya yang mengundang decak kagum turis - turis manca negara, alamnya yang 
subur menghasilkan tetumbuhan yang menggiurkan, tetapi ternyata semuanya itu 
tinggal sekedar cerita masa lalu. Kemiskinan tetap saja menjadi bagian yang 
belum terpisahkan dari bangsa yang indah ini.


      Yang lebih mengenaskan adalah, penyakit akut kemiskinan itu ternyata 
telah bersarang di tubuh mayoritas ummat Islam, ia menyerang jasad ummat yang 
sesungguhnya memiliki nilai-nilai perjuangan untuk sukses dunia akhirat, tetapi 
kemudian harus mengalami sebuah " bencana "kemiskinan yang sangat dahsyat.


      Dalam buku World in Figure 2003 yang diterbitkan oleh The Economist, 
dipaparkan tentang Indonesia sebagai negara yang luar biasa, negeri terluas 
nomor 15 di dunia ini, ternyata dikenal sebagai pengekspor  coklat dengan 
peringkat nomor 3 di dunia, penghasil sawit terbesar ke 2, dan beragam hasil 
perkebunan lainnya, dari penghasilan tambang, ternyata Indonesia menghasilkan 
emas ke  8 di dunia, negeri ini menghasilkan sungguh banyak bauksit, bahan 
bakar minyak, batubara, marmer, nikel dan kandungan mineral lainnya.


      Luar biasa., demikianlah agaknya yang bisa kita ucapkan untuk menunjukkan 
potensi yang ada di Indonesia, negeri kaya raya. Dan keluarbiasaannya ternyata 
tidak hanya karena potensi yang dimilikinya itu saja, paradoks,  itulah kalimat 
yang tepat untuk menggambarkan situasi yang terjadi, dinegeri yang kaya raya 
ini, fakta yang amat jelas memperlihatkan kondisi terkini tentang kemiskinan 
dengan segala ancamannya menghantui  anak negeri.
      Di buku yang sama di beberkan tentang beban hutang luar negeri kita 
ternyata berada diperingkat 6 didunia, angka korupsi menempatkan Indonesia di 
posisi ke 3 diantara negara di dunia, penduduk miskinnya  sebesar  26 % dan 
pengangguran terbuka berada di angka 10 juta. Bukankah ini adalah hal yang 
sangat luar biasa, pernahkah kita membayangkan bahwa kita terlahir dinegeri 
yang kaya raya, tetapi inilah fakta yang sedang terjadi.


      Belum lagi ketika bencana alam yang silih berganti yang menimpa bangsa 
ini, kebijakan kenaikan harga kebutuhan bahan pokok, kenaikan harga BBM, 
pemutusan hubungan kerja akan ikut menambah panjang daftar kemiskinan yang ada, 
keputusasaan muncul dimana-mana, dan pertanyaan yang muncul hanya bak lagunya 
Ebiet G. Ade, " mengapa ini semua terjadi di negeri ini, apakah Tuhan sudah 
bosan melihat tingkah kita ".


      Dalam sebuah survei yang dilakukan oleh dua lembaga besar, Ford 
Foundation bekerja sama dengan Universitas Syarif Hidayatullah ( UIN ) Jakarta  
dan PIRAC, memperlihatkan bahwa potensi zakat yang ada di Indonesia sangat luar 
biasa besarnya. Dan ketika dana yang sungguh luar biasa besarnya ini terkelola 
dengan baik, kita akan melihat bahwa ummat ini akan kembali berbondong-bondong 
memasuki zaman keemasannya.


      Sementara Lembaga PIRAC ( Public Interest Research and Advocacy Center ) 
menyebut angka 20 Triliun potensi zakat profesi dalam 1 tahun. Untuk itu butuh 
kesungguhan setiap orang untuk membangunkan potensi "raksasa tidur " ini.
      Dan ini adalah besaran dana yang sangat luar biasa, pertanyaanya adalah 
bagaimana ummat Islam menyikapi potensi yang ada sebesar itu, apakah kemudian 
kita hanya membiarkan angka - angka itu diam membisu diatas kertas selamanya, 
atau ummat Islam melakukan action untuk menjemput kegemilangannya dengan 
membangkitkan potensi yang ada itu.


      Apa yang tidak bisa dilakukan oleh ummat Islam dengan dana sebesar itu, 
sungguh persoalan besar dengan segala kemiskinan dan akibat kemiskinan itu, 
akan mampu diselesaikan dengan pengelolaan yang baik terhadap dana Zakat, infaq 
dan shadaqah yang sebesar itu. Ternyata kita harus banyak belajar dari 
kesuksesan negara tetangga, Singapura dan Malaysia yang telah memperlihatkan 
keinginan dan kesungguhan mereka, dalam menggali dan memfaatkan secara optimal 
potensi zakat yang ada disana.


      Sejarah juga telah mencatat kecemerlangan ummat Islam dimasa lalu, ambil 
saja sebuah sejarah  kegemilangan Islam di bawah kekhalifaan  sang mujahid yang 
sangat fenomenal dalam sejarah, yaitu Umar bin Abdul Aziz, ketika Amil-amil 
zakatnya turun ke lapangan untuk menyalurkan zakatnya hingga ke wilayah Afrika, 
hampir-hampir mereka tidak menemukan lagi orang yang bersedia menerima zakat. 
Lalu muncul pertanyaan, apakah ketika itu, sama sekali tidak ada lagi orang 
yang berhak menerima zakat? Sesungguhnya tidak juga demikian, hanya saja ummat 
Islam dimasa itu, telah sampai pada posisi yang ideal sebagai ummat yang 
rahmatan lil Alamin. 


      Kehidupan sebagai makhluk mulia yang sosial yang utuh, telah 
mengejawantah dalam kehidupan mereka, dimana para orang kaya sangat sadar akan 
kewajiban mereka menunaikan kewajiban mereka dengan segala kekayaan yang mereka 
miliki, dan mereka dengan segala ketulusan hati menginfaqkan harta mereka di 
jalan Allah, disisi lain, kaum miskin tidak rela kehormatan diri mereka 
diinjak-injak dengan menjadi peminta-minta dimana-mana. Inilah satu kondisi 
ummat yang ideal, dimana kekayaan bukan menjadi tujuan dari kehidupan manusia, 
namun hanya menjadi jalan menuju sbuah kebahagian abdi disisi Alloh SWT.


      Sesungguhnya kita tidak hanya menjadikan kisah kegemilangan kekkhalifaan 
Umar sebagai satu-satunya model kejayaan ummat, tetapi di bagian lain dalam 
sejarah ummat ini sungguh ternyata banyak mereka yang telah menorehkan sejarah 
panjangnya kegemilangan mereka, salah satu yang mereka lakukan ternyata dengan 
menegakkan dengan sungguh-sungguh syariat zakat di kehidupan mereka.


      Dengan segala kondisi kemiskinan yang sedang menimpa anak negeri yang 
merintih dalam keputusasaan ini, apalagi di berbagai media elektronik, dan 
media cetak kita mendengar kekerasan di rumah tangga kaum miskin terjadi, angka 
kejahatan semakin meningkat, maka boleh jadi ini adalah bagian dari multi efek 
dari kemiskinan yang di khawatirkan oleh Syaidina Ali RA. Beliau pernah berujar 
" kalau saja kemiskinan berwujud manusia, maka akan aku perangi sekarang ". 
Artinya efek kemiskinan sudah dipahami sejak lama dalam konsep islam.
      Bahkan Rasulullah yang agung dalam haditsnya mengatakan, bahwa kefakiran 
itu sangat dekat mengantarkan seseorang kepada kekafiran.


      Hidup di era industri dan teknologi ini, tidak sedikit jurang pemisah 
yang amat dalam terjadi antara sikaya dan si miskin, pola pergaulanpun telah 
membuat segalanya berubah, maka tinggallah simiskin sendirian saja menata hidup 
mereka, kalaupun diangkat dan disebut-sebut tentang mereka, maka kebanyakan 
dijadikan sebagai isu untuk kepentingan-kepentingan tertentu saja.


      Karena itu, saatnyalah zakat kembali diangkat untuk kemudiaan dijadikan  
sebagai jembatan  emas yang menghubungkan antara dua kutub yang berbeda, yang 
menjadi jembatan antara yang kaya dengan kaum miskin, dengan menunaikan 
kewajiban berzakat sebagai muslim yang sejati, 
      Saatnya ummat Islam bersatu dengan menunaikan zakat dengan baik, maka 
sebentar lagi akan hadir Rumah Sakit gratis buat para mustahik, akan muncul 
wadah pengembangan ekonomi yang membantu mengubah mustahik menjadi muzakki, 
yang mengubah si lemah menjadi kuat, sehingga siap pula membantu saudaranya 
yang lain., dan menyelamatkan orang-orang yang putus asa menjadi yakin akan 
pertolongan Allah SwT. 


      Terakhir, semoga saja dengan kehadiran institusi pengelola zakat, baik 
Badan Amil Zakat maupun Lembaga Amil Zakat ( LAZ ) semakin membuat ummat Islam 
semakin yakin akan kembalinya kegemilangan islam, semakin luas kebaikan yang 
tersebar, dengan bangkitnya segala ummat yang ada. tentu saja Sinergi yang 
terus menerus harus terbangun dengan baik diantara kita, sehingga seperti 
ungkapan Abu Syauqi dalam pengantar buku Manusia Muslim Abad 21  karangan Anis 
Matta, "  Biarkan mereka terpesona " dengan kerja-kerja ini.*** 

      *)Kasturi, Branch Manager Rumah Zakat Indonesia Batam
     
  

[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke