http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2006/10/4/o2.htm


Laki-laki yang beruang menjadi berkuasa, sehingga bisa membeli apa pun termasuk 
tubuh ABG. Sebaliknya, laki-laki lain yang tidak beruang, dengan mudah bisa 
menjual ABG dengan tujuan mendapatkan uang secara instan. Begitu pula wanita, 
tanpa empati menjual sesamanya, juga untuk mendapatkan uang secara instan.

----------------------

Kekerasan Seksual terhadap ABG dan ''Moneytheisme''
Oleh Nengah Bawa Atmadja 



KEKERASAN sesksual terhadap anak baru gede (ABG) yang melibatkan oknum mantan 
pejabat, sangat menarik dicermati. Hal ini tidak hanya karena mantan penjabat 
memakan ''daun muda'', tetapi juga karena pelatih menjual anak asuhannya (Bali 
Post, Minggu, 1/10). Apalagi peristiwa serupa ini tidak tipikal, melainkan 
banyak terjadi seperti yang sering diungkapkan pada media massa.

---------------------------------------------

Ideologi Patriarki

Dengan mengacu kepada gagasan Brown (2005) kasus jual beli ABG (wanita pada 
umumnya) berkaitan dengan ideologi patriarki yang menggariskan bahwa laki-laki 
adalah berkuasa (superordinat) atas wanita (subordinat). Hal ini tidak saja 
tercermin pada kontrol laki-laki terhadap wanita, tetapi disertai pula dengan 
asumsi bahwa wanita adalah ''benda'' milik pria. Gagasan ini menimbulkan 
implikasi bahwa sebagai benda yang menubuh, maka tubuh wanita yang kaya akan 
sinyal pembangkit libido, dengan mudah diperjual-belikan lewat pasar. 

Laki-laki yang sudah berumah tangga bisa ''mengkonsumsi'' tubuh ABG. Hal ini 
tidak hanya karena hasrat libido, melainkan bisa pula karena ideologi 
patriarki. Dalam artian, laki-laki ingin memamerkan kekuasaannya pada ABG 
maupun masyarakat. Pada masyarakat patriarki unjuk libido dan kekuasaan, 
misalnya dalam bentuk poligami atau perselingkuhan, tidak dianggap aib bagi 
laki-laki, melainkan sesuatu yang bisa dimaklumi. Apalagi ada mitos pada 
laki-laki bahwa menyetubuhi ABG, apalagi yang perawan, dikaitkan dengan 
kesehatan, keawetmudaan, dan panjang umur. Dengan demikian, ''pengkonsumsian'' 
tubuh wanita di luar lembaga perkawinan sulit dihilangkan secara tuntas.



Moneytheisme

Daniel C.M (2006) dan Maguire (2000) dengan tepat melukiskan bahwa zaman ini 
adalah zaman agama pasar. Cirinya yang  terpenting adalah manusia memuja uang 
sehingga terbentuk moneytheisme. Karena itu, selain memuja Tuhan Yang Maha Esa, 
manusia juga memuja uang, sehingga monotheisme berpadu dengan moneytheisme. 
Berkenaan dengan itu maka manusia berkembang menjadi homo minimalis, yang 
bercirikan ironis (homo ironia), skizofrenik, dan fatalis (homo fatalis) 
(Piliang, 2006). Dalam kondisi ini manusia tidak memiliki pijakan asas 
moralitas yang kokoh sehingga sering berperilaku kontradiktif, karena terbuai 
oleh hasrat dan keinginan memiliki, yakni memiliki uang, kekuasaan, kejayaan, 
dan lain-lain. 

Dengan demikian maka tidak mengherankan jika laki-laki yang beruang menjadi 
berkuasa, sehingga bisa membeli apa pun termasuk tubuh ABG. Sebaliknya, 
laki-laki lain yang tidak beruang, dengan mudah bisa menjual ABG dengan tujuan 
mendapatkan uang secara instan. Begitu pula wanita, tanpa empati menjual 
sesamanya, juga untuk mendapatkan uang secara instan. ABG pun bisa jadi 
menyerah kepada kehendak si penjual maupun konsumen, karena mereka juga 
tertarik pada uang secara instan agar bisa merayakan hasrat, merayakan 
konsumerisme, dan merayakan citra sebagaimana yang lazim berlaku pada ABG. 

Namun, tidak menutup pula kemungkinan bahwa perilaku ABG tidak semata-mata 
karena hasrat memiliki uang secara instan, melainkan mengandung pula unsur 
kekerasan, yakni kekerasan fisik, psikologis, kultural, dan struktural. Hal ini 
terkait dengan hubungan dekat (bapak-anak buah, patron-klen) antara ABG dan si 
penjual maupun laki-laki yang mengkonsumsinya. Kondisi ini mengakibatkan ABG 
dengan mudah mengikuti kehendak yang menjual dan atau yang mengkosumsi 
tubuhnya, karena terkait dengan nilai kuasa dan nilai sosial. Apalagi adanya 
kepandaian mempermainkan erotika pada pria yang mengkonsumsi tubuhnya, lalu 
dibumbui dengan philo (cinta) pada kedua belah pihak, maka rasa takut 
dikalahkan oleh asmara, sehingga ABG menyerah kepada keadaan. Dengan demikian, 
pengkonsumsian tubuh ABG secara mudah dilabeli dalil ''suka sama suka''.

Pengkonsumsian tubuh ABG lazim dilakukan di tempat tertentu, misalnya hotel, 
losmen, dan lain-lain. Sebab, pada lokasi ini juga berlaku ideologi patriarki 
dan agama pasar maupun moneytheisme. Apalagi jika pegawai/pemilik penginapan 
tahu siapa laki-laki yang membawa ABG (pejabat, mantan pejabat) atau merupakan 
langganan sehingga mereka bersifat permisif. Kepermisifan ini dilandasi oleh 
pemikiran bahwa laki-laki wajar memakan ''daun muda'', dan apa pun yang mereka 
lakukan di dalam kamar bukan urusannya, karena yang dipentingkan adalah masukan 
finansial dan penanaman modal sosial. Modal sosial  kelak bisa diinvestasikan 
menjadi modal ekonomi dengan memperalat pejabat/mantan pejabat untuk 
kepentingan usahanya. Mereka tidak akan menolak, karena pemilik/pegawai 
penginapan banyak tahu ulahnya. 



Apa yang Dilakukan?

Kasus kekerasan seksual ABG merupakan pelajaran menarik bagi keluarga yang 
memiliki ABG. Orangtua mesti menyadari bahwa era agama pasar dengan 
moneytehisme-nya yang berlanjut pada homo minimalis, mengakibatkan orang dengan 
mudah berperilaku menyimpang. Siapa pun orangnya, karena terdorong oleh 
keinginan merayakan hasrat (libido), maka dengan uang dan atau kekuasaannya, 
secara mudah bisa mengkonsumsi tubuh ABG. Begitu pula seseorang yang dekat 
dengan ABG (patron-klen) dengan mudah bisa menjual tubuh ABG guna merayakan 
hasratnya, yakni hasrat memiliki uang guna merayakan konsumerisme dan 
wajahisme. Karena itu, orangtua tidak boleh menyerahkan sepenuhnya sang ABG 
kepada orang lain, melainkan harus disertai dengan kontrol sosial yang 
berkelanjutan. Orangtua tidak bisa sepenuhnya berpegang pada modal sosial, 
yakni kepercayaan, karena kasus kekerasan seksual ABG di Karangasem menunjukkan 
bahwa homo mininimalis dengan mudah bisa menyalahgunakan kepercayaan guna 
memenuhi hasrat yang mereka miliki. 

Pengawasan paling efektif tidak terletak pada orang luar (orangtua, polisi, dan 
lain-lain), melainkan pengawasan yang bersifat internal, yakni ABG mengawasi 
dirinya sendiri. Orang harus berhati-hati, kepada siapa pun, karena kuatnya 
keinginan seseorang untuk merayakan hasrat, konsumerisme, dan wajahisme, maka 
tidak menutup kemungkinan bahwa orang yang dipercayai bisa berubah menjadi 
harimau yang siap menerkam kita. 

Dalam konteks ini tentu bukan berarti kita tidak mempercayai semua orang, 
sehingga orangtua mengurung anaknya di rumah, atau ABG tidak bergaul dengan 
siapa pun, melainkan tetap terbuka, dengan berlandaskan pada penanaman 
kepercayaan, disertai dengan kehati-hatian. Investasi sosial yang disertai 
dengan kehati-hatian, tidak bisa pula dilepaskan dari bagaimana kita menanamkan 
hakikat manusia sebagai makhluk memiliki dan menjadi. Pemberlakuan agama pasar 
yang disertai dengan moneytheisme guna merayakan hasrat, konsumerisme, dan 
citra, acapkali mengakibatkan ABG ngin memiliki dan menjadi bukan secara 
faktual -- sesuai dengan kondisi sisi ekonominya -- melainkan selalu ingin 
memiliki dan menjadi seperti orang lain, yakni temannya yang kaya, bintang 
film, bintang iklan atau selebriti di TV. Pembentukan ABG yang betul-betul 
bercita-cita memiliki dan menjadi dirinya sendiri, bukan menjadi orang lain, 
merupakan tantangan besar bagi agen sosialisasi, terutama keluarga dan sekolah. 
Jika hal ini tidak tertangani secara baik, maka payung ideologi patriarki dan 
ideologi pasar, dengan mudah bisa melegitimasi pengkonsumsian tubuh ABG lewat 
pasar, baik secara sukarela maupun disertai dengan kekerasan. 



Penulis, Guru Besar Antropologi pada Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja, 
Bali

--------------------

* Orangtua mesti menyadari bahwa era agama pasar dengan moneytehisme-nya yang 
berlanjut pada homominimalis, mengakibatkan orang dengan mudah berperilaku 
menyimpang.

* Orangtua tidak boleh menyerahkan sepenuhnya sang ABG kepada orang lain, 
melainkan harus disertai dengan kontrol sosial yang berkelanjutan.

* Pengawasan paling efektif bersifat internal, yakni ABG mengawasi dirinya 
sendiri. 


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke