http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2006/10/4/o3.htm
Anak Putus Sekolah Tanggung Jawab Siapa? Oleh Ida Bagus Putu Ambara, S.E. KEBERADAAN anak putus sekolah di Bali memang memprihatinkan. Banyak orangtua tidak dapat melanjutkan pendidikan putra-putrinya sesuai keinginan dan cita-cita sang anak karena ketiadaan biaya. Banyak orangtua mengeluh biaya pendidikan di Bali masih mahal walaupun sudah ada dana BOS (bantuan operasional sekolah). Tetapi jumlah dana BOS yang sangat terbatas tidak banyak membantu meringankan biaya pendidikan yang harus dikeluarkan oleh orangtua siswa. Pariwisata yang sebagian besar digeluti masyarakat Bali ternyata belum juga begitu pulih, sehingga menyebabkan perekonomian masih tetap sulit. Hal ini mempunyai pengaruh yang cukup signifikan terhadap keberadaan anak putus sekolah. Kenyataan adanya anak-anak putus sekolah harus mendapat penanganan secara layak. Tetapi, setelah Departemen Sosial dihapuskan siapa yang akan bertanggung jawab terhadap anak putus sekolah ini? Di sinilah diharapkan peran Pemerintah Daerah Bali agar lebih memperhatikan dan mengawasi keberadaan sekolah-sekolah di Bali. Harus diteliti dan dikaji faktor apa yang menyebabkan biaya pendidikan di Bali masih mahal. Namun, di sisi lain kita dihadapkan pada kenyataan bahwa ada satu kabupaten yang mampu menggratiskan biaya sekolah, khususnya bagi anak-anak tak mampu. Kenapa di Kabupaten Jembrana biaya sekolah bisa gratis, sedangkan di kabupaten lain tidak bisa seperti itu? Peran masyarakat juga sangat diharapkan dalam mengurangi jumlah anak putus sekolah di Bali. Misalnya dengan cara mendirikan lembaga-lembaga sosial yang bersedia melatih, mendidik dan mempekerjakan mereka setelah mempunyai keterampilan. Atau sebagai orangtua asuh bagi anak-anak yang kurang mampu agar kelangsungan pendidikan mereka terjamin, sehingga pendidikan mereka tidak harus putus di tengah jalan. Di zaman globalisasi seperti sekarang, atau menurut beberapa sumber sastra disebut Kali Yuga ini, moral sering dinomorduakan, pendidikan diabaikan, harta menentukan hidup manusia. Maka masih ada orang yang memandang pendidikan sebagai sesuatu yang tidak terlalu perlu di zaman sekarang. Yang penting pintar cari uang. Hal ini membuat kita bertanya, apakah ini suatu gejala masyarakat yang tidak percaya lagi terhadap dunia pendidikan kita? Jika benar demikian perlu ada solusi yang dapat mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap dunia pendidikan. Untuk itu diperlukan pembenahan-pembenahan dalam dunia pendidikan agar bisa nyambung dengan kebutuhan masyarakat dan kehidupan yang makin dinamis. Sementara itu, kita sebagai umat yang beragama harus bersama-sama berdoa dan berbuat agar Kali Yuga ini cepat berlalu dan diganti dengan zaman baru di mana rasa kebersamaan akan tumbuh kembali di hati masyarakat Bali. Suatu zaman di mana orang malu melakukan tindakan yang tidak terpuji (seperti korupsi, mabuk, berjinah dan hal-hal negatif lainnya), sandang-pangan murah, terciptanya masyarakat yang cerdas, pintar dan bermoral. Penulis, mantan anggota Senat & BPM FE Unwar [Non-text portions of this message have been removed] Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
