GALAMEDIA
KAMIS, 5 OKTOBER 2006

      TNI di Usia 61 
     
     

DALAM sebuah perbincangan di mobil VW Caravelenya, mantan Presiden Direktur 
City Bank yang juga mantan eksekutif di Bank of Trust Inggris, H. Gerard 
Yacobus kepada "GM" berucap, di antara bisnis yang pernah digelutinya, bisnis 
senjata kelihatan paling menarik. Betapa tidak, dengan hanya mengambil fee 3%, 
seorang pialang senjata bisa memperoleh pendapatan yang lumayan besarnya.

"Fee-nya hanya 3%, tapi kalau dari 1 skuadron saja, berapa dana yang bisa 
didapat setiap bulannya?" ungkap pria berusia 67 tahun yang terkesan low 
profile ini.

Ya cuma 3%, tapi, kata Gerard, kalau misalkan saja 1 unit scorpion harganya Rp 
20 miliar dan 1 skuadron misalnya 20 unit, nilai transaksi itu mencapai Rp 400 
miliar. Dan, "hanya" 3% dari Rp 400 miliar, berarti keuntungan yang diraup bisa 
mencapai Rp 12 miliar.

Kalau sekarang setiap pembelian senjata di kalangan Tentara Nasional Indonesia 
(TNI) selalu dipermasalahkan, tentu bukan karena senjata yang dibelinya itu 
tidak diperlukan, akan tetapi karena keuntungan materinya yung sangat 
menggiurkan.

Terlebih, transaksi senjata, baik legal, terlebih yang ilegal di kalangan TNI 
barangkali yang paling tertutup dibandingkan instansi lainnya. Sehingga, muncul 
kecurigaan setiap kali adanya transaksi senjata menjadi fenomena yang biasa 
kita lihat. Terlebih, hingga sekarang pengadaan alat utama sistem senjata 
(alusita) belum satu atap di Dephan, melainkan setiap kesatuan punya kewenangan 
untuk pengadaan senjatanya masing-masing.

Padahal, dengan luas geografis yang demikian luas, TNI sangat membutuhkan 
alusita yang lengkap dan dapat diandalkan. Di udara, kita masih sering 
kebobolan oleh lalu lalang pesawat asing yang mengangkangi wilayah udara kita. 
Karena, F-16 atau Fighting Falcon yang kita banggakan ternyata hanya tinggal 
1-2 unit yang benar-benar fight. Sisanya, seperti orang buta yang disuruh 
mengejar maling, akibat sistem radarnya yang sudah harus diperbaiki. Kita tidak 
bisa menyediakan alat untuk perbaikan sistem radar pesawat tempur tersebut 
karena harganya sama dengan 1 unit pesawat tempur itu sendiri.

Di laut, batas-batas wilayah perairan kita masih kerap dimasuki oleh 
kapal-kapal asing dan lucunya, setiap kali dikejar kapal-kapal kita, selalu 
lolos karena kapal-kapal asing lajunya jauh lebih cepat ketimbang kapal-kapal 
patroli kita. Begitu pula di darat, sistem persenjataan kita sudah jauh 
tertinggal dibandingkan nengara-negara tetangga kita.

Maka, di Hari Ulang Tahun (HUT) TNI pada 5 Oktober 2006 ini, patut lebih 
direnungkan arti dari persatuan dan kesatuan di antara pengambil kebijakan di 
kalagan TNI itu sendiri. TNI diharapkan masyarakat bisa bersikap jauh lebih 
dewasa. Kita hanya bisa kuat, kalau kepentingan-kepentingan pribadi lebih 
dinomorduakan demi untuk kepentingan yang lebih luas. Kepentingan untuk lebih 
menjadikan TNI sebagai garda bangsa yang tidak hanya dihormati oleh bangsanya, 
namun sangat disegani oleh bangsa-bangsa lain di dunia. Dirgahayu TNI ke-61. 

[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke