http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=250114

Kamis, 05 Okt 2006,



Kudeta dalam Sejarah Indonesia


Oleh Asvi Warman Adam 



Terbitnya buku Habibie, Detik-Detik yang Menentukan, menjadi polemik hangat 
terutama menyangkut tindakan Prabowo pada Mei 1998. Beberapa karikatur 
menyentil kegiatan Prabowo mendatangi istana dan pengerahan pasukan saat itu 
menjurus kepada kudeta. Benarkah demikian? 

Edward Luttwak (Kudeta: Teori dan Praktek Penggulingan Kekuasaan, 1999) 
membedakan antara putsch (biasanya terjadi pada saat perang atau pascaperang), 
pronounciamiento (kudeta militer ala Spanyol/Amerika Latin) dengan coup d'Etat 
(kudeta). Yang pertama dilakukan satu faksi angkatan darat, yang kedua oleh 
seluruh tentara, sedangkan yang terakhir selain militer bisa pula melibatkan 
orang sipil.

Kudeta membutuhkan bantuan intervensi massa atau kekuatan bersenjata yang 
besar. Prasyarat kudeta: a) krisis ekonomi berkepanjangan diikuti pengangguran 
besar-besaran, b) perang yang lama atau kekalahan besar dalam bidang 
militer/diplomatik, c) instabilitas kronis di bawah sistem multipartai. 

Luttwak menekankan pentingnya kecepatan dalam melakukan kudeta. "Perlu 
penetrasi penuh terhadap kekuatan yang bisa menentang gerakan ini sebelum dan 
segera setelah kudeta." Tentara dan polisi harus dinetralisasi. Demikian pula 
partai politik, organisasi keagamaan, dan serikat pekerja. Mutlak dikuasai 
fasilitas strategis (media massa, stasiun radio-televisi, bandar udara), 
jaringan keluar-masuk kota, dan titik-titik lalu lintas sentral. Terlihatnya 
tank-tank di tengah ibu kota menjadi simbol kudeta. 

Tak kalah pentingnya istana atau gedung lainnya. Dalam kudeta di Ghana pada 
1966, sengaja direbut kediaman Presiden Flagstaff House meski N'krumah tidak 
ada di sana. Sebagai simbol untuk memperlihatkan kepada rakyat bahwa sang 
presiden sudah digeser. 

Kudeta bagaikan pisau bedah yang harus disayatkan kepada jantung pasien dalam 
waktu tepat dan tidak boleh keliru. Bila dalam operasi militer, ada pasukan 
cadangan yang belum diterjunkan, khusus untuk kudeta berlaku asas totalitas. 
Malam kudeta dan sebelumnya diisi dengan aktivitas yang tersusun rapi. Perlu 
dipersiapkan komunike pertama yang dikeluarkan setelah terjadi kudeta. Demikian 
teori Luttwak. 

Sejak 1952

Apakah kudeta yang terjadi di Indonesia sudah mengikuti teori tersebut? Mari 
kita lihat peristiwa 17 Oktober 1952. Pada tanggal itu terjadi demonstrasi di 
depan istana menuntut pembubaran parlemen (DPRS, Dewan Perwakilan Rakyat 
Sementara).

Sementara itu, para perwira menghadap Presiden Soekarno meminta hal yang sama. 

Pada saat itu juga, tank dan meriam diarahkan ke istana dan ke tempat parlemen 
bersidang di Pejambon. Di Lapangan Merdeka terdapat pasukan tentara. Pengamat 
militer Sundhaussen mengungkapkan bahwa pengambil inisiatif di MBAD adalah 
Kolonel Soetoko dan S. Parman dan demonstrasi di jalanan digerakkan Kolonel dr 
Moestopo.

Keterlibatan AD ditengarai dari penggunaan truk-truk tentara untuk mengangkut 
massa demonstran dari luar kota. 

Setelah para perwira meninggalkan istana, Presiden Soekarno memutuskan 
mereseskan parlemen. Sore harinya tentara memutuskan jaringan telepon di 
seluruh Indonesia dan ke luar negeri serta melarang terbit beberapa surat kabar 
seperti Merdeka, Berita Indonesia, dan Mingguan Merdeka. Enam tokoh politik (di 
antaranya Mohammad Yamin, Kasman Singodimejo, Sukiman) ditangkap dan jam malam 
diberlakukan mulai pukul 8 malam; pertemuan yang dihadiri lebih dari lima orang 
dilarang. 

Soekarno setuju dengan pemilihan umum, tetapi menolak membubarkan parlemen. 
Soekarno tidak gentar terhadap gertakan tentara, beberapa waktu kemudian KSAD 
Nasution mundur. 

Kudeta atau Bukan? 

Yang menjadi pertanyaan, apakah tindakan tersebut dapat dianggap sebagai kudeta 
atu setengah kudeta? Soetoko membantah hal itu dengan mengatakan bahwa mereka 
datang "seperti anak-anak menemui bapak mereka". Tidak ada kata "Kami 
menuntut." Mereka datang ke istana menyampaikan permohonan. Tetapi, apa gunanya 
mobilisasi massa dan pengerahan tank serta meriam di sekitar istana? 

Lantas, siapakah dalangnya? Tidak jelas konseptornya meski ada tuduhan bahwa 
semua itu direncanakan untuk meletakkan kekuasaan yang lebih besar di tangan 
presiden dan "dalam waktu yang bersamaan membuatnya untuk sebagian bergantung 
kepada dukungan tentara" (Feith sebagaimana dikutip Sundhaussen, hal 126). 

Kalau dibandingkan dengan peristiwa 1965, alasan yang sama diberikan oleh 
pelaku Gerakan 30 September. Mereka menculik para jenderal dan kemudian akan 
menghadapkannya kepada Presiden Soekarno. Gerakan itu dianggap melakukan kudeta 
karena mereka mengeluarkan pengumuman mendemisionerkan Kabinet Dwikora. Meski 
demikian, gerakan itu tidak mengganggu gugat kedudukan Presiden Soekarno. 
Tampak mirip kasus 17 Oktober 1952 itu dengan 30 September 1965 meski pelakunya 
tidak persis sama. 

Dalam kasus 1952, selain hubungan yang buruk antara politisi sipil dan tentara, 
terdapat rivalitas sesama perwira. Tahun 1965 terjadi persaingan antara 
kelompok Yani, Nasution, dan Soeharto. Tahun 1974 sebelum meletus Peristiwa 
Malari, ada persaingan antara Jenderal Soemitro dan Ali Murtopo. Pada 1998, 
rivalitas itu berlangsung antara Jenderal Wiranto dan Prabowo. 

Kalau menurut teori Luttwak kudeta itu harus cepat dan totalitas, maka kudeta 
di Indonesia bisa berjalan lambat secara merangkak, menerapkan prinsip 
alon-alon waton kelakon. Pada 1967, Soeharto secara inkonstitusional hanya mau 
diangkat sebagai pejabat presiden, sungguh pun jabatan itu tidak ada dalam UUD 
1945.

Bahkan, tidak hilang kesan bahwa beberapa kudeta itu seakan-akan main-main 
seperti yang dikatakan beberapa pengamat luar, kudeta yang sengaja dirancang 
untuk gagal.

Kudeta -atau 1/2 kudeta?- 1952 hanya sekadar menghadapkan moncong meriam ke 
istana.

Kudeta 1965 hanya sekadar kudeta media alias kudeta radio, sekadar mengumumkan 
kudeta melalui radio. Dua batalyon tentara dari Jawa Tengah dan Jawa Timur 
ternyata tidak mempunyai persediaan makanan selama di Jakarta. Dalam satu-dua 
hari, gerakan di Jakarta dan Jawa Tengah itu ditumpas. 

Kalau pada 1965 bisa disebut kudeta radio, maka peralihan kekuasaan pada 1998 
-seandainya terdapat unsur percobaan kudeta "yang gagal"- itu tak lain dari 
kudeta foto. Seperti disebutkan Karen Strassler yang mewawancarai Goenawan 
Mohamad, Soeharto sebetulnya jatuh karena fotografer. Lihatlah foto yang 
memperlihatkan mahasiswa menyemut dari lantai sampai puncak atap gedung 
DPR/MPR. Parlemen telah diduduki mahasiswa. Jadi, Soeharto yang berkuasa lebih 
dari 30 tahun itu jatuh karena foto.


Dr Asvi Warman Adam, ahli peneliti utama LIPI di Jakarta 


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke