REFLEKSI: Kalau di Jakarta di pusat bertahta kekuasaan negara, pusat penimbunan 
kekayaan dari segala sudut Nusantara terdapat ribuan balita kekurangan gizi, 
maka tentunya bukan tidak mungkin di tempat-tempat di luar Jakarta keadaan 
lebih buruk.  Kekurangan gizi bukan masalah baru di masyarakat Indonesia 
merdeka yang telah berumur 61 tahun. Kekurangan gizi telah menjadi kutukan  
permanen tanpa solusi.  Kemerdekan Indonesia bukan membawa pembesasan dari 
malapetaka kehidupan tetapi sebaliknya suatu hadiah buruk penguasa negara 
kepada rakyatnya.     


KOMPAS
Kamis, 05 Oktober 2006 

 
Ribuan Balita di Jakarta Mengalami Kurang Gizi 




Jakarta, Kompas - Kualitas kesehatan ribuan anak di bawah usia lima tahun atau 
balita di DKI Jakarta terindikasi buruk. Selain disebabkan asupan gizi yang 
tidak baik, hal itu disebabkan pula karena kondisi lingkungan yang tidak lagi 
layak untuk tumbuh kembang anak. Ribuan anak balita itu kini menjadi sasaran 
utama program revitalisasi posyandu di Jakarta. 

Data terkini dari Badan Koordinasi Keluarga Berencana DKI Jakarta menyebutkan, 
hingga Agustus 2006 tercatat 9.253 anak balita yang berat badannya di bawah 
garis merah (batas normal). Dari jumlah itu, anak balita yang kondisi 
kesehatannya disinyalir buruk paling banyak ditemukan di Jakarta Utara, 3.090 
orang. 

"Di samping karena kurang baik asupan makanannya, juga karena ada penyakit 
penyerta, misalnya TBC. Jumlah itu ke depannya harus berkurang. Kalau bisa 
malah enggak ada sama sekali," kata Ketua Tim Adhoc Program Revitalisasi 
Posyandu Rini Sutiyoso, Rabu (4/10). 

Rini mengatakan, data tersebut diperoleh dari 3.984 posyandu yang saat ini 
aktif di Jakarta. Jumlah total posyandu di Jakarta yang tercatat adalah 4.091. 
Melalui posyandu itu diharapkan deteksi dini kualitas kesehatan anak balita 
dapat cepat terpantau. 

Berat badan di bawah garis merah merupakan indikasi paling prematur dari 
kualitas kesehatan anak balita yang buruk. Jika tidak segera diatasi, keadaan 
itu bisa berlanjut jadi malnutrisi yang parah. 

Sri Mulyani (23), warga Kelurahan Grogol, Kecamatan Petamburan, Jakarta Barat, 
misalnya, mengeluhkan penyakit TBC yang diderita anaknya tidak sembuh- sembuh. 
Berat badan Cahyani (1,5) stagnan hanya delapan kilogram. 

"Dokternya bilang paru-parunya kena flek (TBC). Padahal, sudah minum obat 
delapan bulan ini," ujar Sri. 

Sri, yang suaminya hanya buruh garmen, mengaku kerap mendapat bantuan makanan 
bergizi dari posyandu di kampungnya. Namun, hal itu tidak menjadikan anaknya 
lebih baik. Cahyani, menurut Sri, juga diimunisasi sesuai jadwal di posyandu. 

Sri dan keluarganya menempati rumah petak kontrakan di bantaran Kali Banjir 
Kanal Barat yang sangat kotor. Rumah berdinding seng itu tidak memiliki 
ventilasi yang baik. Sri, yang asal Cirebon, mengaku tidak punya pilihan tempat 
tinggal lain yang lebih sehat. (SF) 


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke