http://www.tribun-batam.com/index.php?module=detail&noberita=22974

05 Oktober 2006


Rencananya Untuk Hadang Moerdani

* Kivlan Zein Beberkan Fakta Baru


Jakarta, Triobun - Perdebatan soal kudeta yang dilakukan Prabowo sebagaimana 
dituangkan mantan Presiden BJ Habibie dalam bukunya Detik-detik yang menentukan 
terus berlanjut. Sejumlah fakta-fakta baru bahkan bermunculan dalam perdebatan 
catatan sejarah tersebut.

Dalam diskusi Kontroversi Mei 98 yang digelar di Institute for Policy Studies, 
di Jalan Penjernihan IV No 8, Jakarta, Selasa (3/10) lalu, Mayjen (Purn) Kivlan 
Zein, menyayangkan tulisan yang menyatakan Prabowo dan dirinya tidak mendukung 
Habibie sebagai Presiden. Padahal, dari awal keduanya mendukung Habibie dan 
berusaha mencegah Jenderal Benny Moerdani menjadi presiden. 

"Saya kupas nanti bagaimana Habibie bisa menjadi wapres, kemudian menjadi 
presiden, supaya dia tahu kita back up dia. Agar kita tahu mengapa dia 
mengambil keputusan seperti itu terhadap kita dan Prabowo yang mendukung dia. 
Tapi, mengapa Habibie tak berdaya untuk membela kita. Tapi saya bilang, kalau 
tak berdaya membela kita janganlah pula kita ditendang begitu," kata Kivlan.

Menurut dia, peristiwa jatuhnya Soeharto dan naiknya Habibie menjadi presiden, 
sebenarnya merupakan pertarungan antara kanan dan kiri. "Yang kiri itu Kristen, 
yang kanan itu Islam. Ada yang mengatakan kiri itu nasionalis, yaitu kubu Benny 
Moerdani dan Pak Harto," ujar Kivlan yang sudah biasa ceplas-ceplos itu. 

Kivlan, yang saat itu merupakan perwira muda, berada dalam kelompok kanan 
bersama para perwira muda lainnya, termasuk Prabowo. "Para perwira muda ini 
berharap janganlah Orde Baru ini anti-Islam, paling tidak netral. Maka 
berkumpullah para perwira yang eks-PII (Pelajar Islam Indonesia) dan HMI 
(Himpunan Mahasiswa Islam). Prabowo, walaupun dia sempat ikut KAPPI, ya ikut 
saya. Kemudian Adityawarman, kemudian Sjafrie Sjamsoeddin. Ini kita yang 
perwira mudalah, kita yang Akabri 70 ke atas. Kemudian ada Muchdi PR dan 
Syamsul Maarif. Semua perwira-wira muda itu," jelas dia.

Suatu saat, pada tahun 1984, Prabowo dicopot dari Kopassus dipindahkan ke 
Kasdim. "Itu kan sakit, orang dari lapangan dipindahkan ke Kasdim. Karena apa? 
Karena Prabowo melaporkan ke Pak Harto ada gerakan Benny Moerdani tahun 1984. 
Dia (Prabowo) sunyi, lonely, maka dia mencari kawan. Dicarilah saya yang 
merupakan kakak kelasnya," ujar Kivlan. 

Kivlan mengaku sangat dekat dengan Prabowo. "Dia itu adik kelas yang saya asuh, 
mulai dari tingkat satu, saya lindungi dari senior, supaya tidak dihancurkan 
sama senior dalam plonco dan dalam kehidupan. Itulah Prabowo yang dalam keadaan 
lonely mencari orang yang bisa diajak ngomong," aku Kivlan.

Beberapa saat kemudian di tahun 1984, Kivlan bertemu Prabowo di Malang. 
"Prabowo yang sakit hati dikeluarkan dari Den 81, ketemulah sama kita, saya, 
Sjafrie Sjamsoeddin, Ismet Huzairi, dan banyak yang lain, sampai terbentuklah 
grup 7 untuk melawan Benny Moerdani," terang dia. 

Gerakan penolakan terhadap gerakan Benny ini terus berjalan hingga pada tahun 
1988. Bagaimana cara menyaingi grup Benny? "Kita naikkanlah Pak Wiranto yang 
saat itu Asisten Operasi Timor Timur dan batalyon yang dipimpin Prabowo, serta 
Ismet Huzairi. Terus bagaimana caranya Prabowo bisa sukses? Kita kasih 
perlengkapan tempur, helikopter yang bagus, peralatan yang lengkap. Pak Wiranto 
diusulkan sama Prabowo disusupkan sebagai ajudan Pak Harto. Okelah, kata saya. 
Jadilah dia (Wiranto) sebagai ajudan Soeharto," kata dia.

Namun, Kivlan dan Prabowo cs kok melihat Wiranto semakin lama semakin dekat 
dengan Benny. Akhirnya, pihaknya mencari jenderal baru yang bisa mengimbangi 
Benny Moerdani. Dapatlah nama ZA Maulani, yang rencananya akan diusahakan 
sebagai KSAD terlebih dulu. Tapi, ZA Maulani tidak berani. 

"Lantas, kita carilah yang lain, ketemu nama Feisal Tanjung. Saya diminta 
Prabowo menemui Feisal Tanjung untuk menyampaikan pesannya. Saat itu, Feisal 
masih di Timor Timur. Setelah pesan Prabowo saya sampaikan, Feisal terkejut: 
masak letkol dan mayor menawarkan saya (jabatan panglima). Feisal yang saat itu 
Dan Seskoad yang telah dimasukkan kotak oleh grup Benny Moerdani, kita angkat," 
terang Kivlan. 

Pada bulan Januari 1989, Kivlan dkk berencana mempertemukan Feisal Tanjung 
dengan Habibie. "Tujuh Perwira naik pesawat terbang dari Halim sekitar 28 
Januari 1989 untuk ketemu Habibie. Sunarto (angkatan 68), saya, Ismet Huzairi, 
Prabowo, Sjafrie Sjamsoeddin, Ampi Nur Kamal, Suaedy Marasabesy. 7 Perwira itu 
terbang ke IPTN Bandung malam-malam," ujar dia. 

Habibie yang saat itu masih menjabat sebagai Menristek menerima mereka. "Kita 
sampaikan kepada Pak Habibie bahwa Pak Harto ingin ada yang bisa mengimbangi 
Benny, dan Feisal Tanjung yang kita majukan. Kita mengatakan hal itu agar 
Feisal diangkat," kata dia.

Setelah itu, Kivlan dkk mempertemukan Habibie dan Feisal Tanjung dalam acara 
Seskoad tahun 1989. Tapi, setelah pertemuan itu hingga tahun 1992, tidak ada 
kabar dari Habibie kalau Feisal Tanjung punya peluang untuk diangkat sebagai 
Panglima TNI. Akhirnya, Feisal Tanjung pun menanyakan hal itu kepada Habibie. 

"Nah, pada tahun 1991, muncullah peristiwa Dili. Kejadian ini merupakan 
kesempatan kita untuk mengajukan Feisal Tanjung sebagai Ketua Dewan Kehormatan 
(untuk memeriksa pelanggaran TNI itu). Bertemulah dengan Pak Harto. Di situ, 
Prabowo meminta agar Feisal ditunjuk sebagai ketua DK. Nah di DK itulah, 
dicopotlah Sintong Panjaitan sebagai Pangdam. Sakit hatinya Sintong Panjaitan," 
ujar dia. 

Hingga 3 Juni 1992, tidak ada kabar bahwa Feisal Tanjung bisa naik menjadi 
panglima. Tanggal 5 Juni 1992, kubu Kivlan menghadap Pak Harto saat acara 
peresmian Stasiun Gambir. "Saya dihubungi Pak Azwar Anas, disetujui bahwa 
Feisal Tanjung akan naik. Jam 09.00 dia dilantik menjadi letjen, dilantiklah 
dia jadi bintang 3. Kemudian, tanggal 11 Juni 1992, ketemulah dengan Habibie, 
naiklah dia jadi Kasum ABRI," ujar dia. 

Upaya untuk menaikkan Feisal Tanjung terus dilakukan. Saat Sidang Umum MPR 
tahun 1993, Feisal belum juga dilantik menjadi panglima. Saat itu, jabatan 
Panglima ABRI masih dirangkap oleh Jenderal Edi Sudradjat yang menjabat sebagai 
KSAD dan Menhankam. 

"Tapi, itulah pintarnya Pak Harto. Tanggal 15 Juni, diangkatlah Feisal Tanjung 
sebagai Panglima ABRI, dan jabatan KSAD diberikan kepada Wismoyo Arismunandar," 
jelas dia. Setelah itu hubungan Feisal Tanjung dengan Habibie semakin dekat. 

Januari 1998, terjadilah pertemuan tokoh-tokoh masyarakat dengan Kopassus untuk 
menaikkan Habibie sebagai wakil presiden. "Reaksi dari Singapura ribut, perwira 
yang tak senang yang berada di grup Benny juga ribut," tutur dia. Dan akhirnya, 
tanggal 2 Maret 1998, dengan dukungan Fraksi ABRI dan Panglima ABRI, Habibie 
diangkat sebagai wakil presiden. 

"Saya sampaikan di kantor Habibie tanggal 2 Maret 1998. Saya yang menjadi 
penghubung. Itulah kejadiannya mengapa dia menjadi wakil presiden. Dia menjadi 
wakil presiden, karena dirancang oleh perwira-perwira muda ini," jelas mayjen 
purnawirawan mantan Kepala Staf Kostrad ini. 

Dengan fakta ini, Kivlan mempertanyakan mengapa Habibie malah melupakan para 
perwira muda ini. "Kalau mau dicopot, copotlah. Jangan dibilang kudeta. Jadi, 
memang Habibie ini naiknya oleh perwira muda. Pengangkata Feisal Tanjung kita 
rancana untuk menghadang Benny, karena Benny sejak 1988 ingin jadi wapres, tapi 
terus kita gagalkan," tegas dia.

Tentang Gerakan Benny 
Kivlan menceritakan bahwa pada tahun 1988, ada kabar Benny Moerdani ingin jadi 
presiden. Isu panas ini dibahas oleh Kivlan dan Prabowo cs di Restoran Rindu 
Alam, 12 Februari 1988. "Saya bilang, Wo (Prabowo-Red), kamu hadap Pak Harto, 
(minta) copot Benny jadi Pangab sebelum SU MPR tanggal 1 November 1988," kata 
Kivlan kepada Prabowo saat itu. 

"Wah bahaya, nanti dia kudeta," ujar Prabowo. "Kalau dia kudeta, kita balas 
dengan kudeta. Saya pegang satu batalyon, si Ismet satu batalyon, Sjafrie satu 
batalyon, kau satu batalyon. Kalau dia kudeta, kita kontrakudeta. Kita rebut 
semua ini," kata Kivlan saat itu. 

Tidak berapa lama kemudian, terbuktilah semua ini. Isu keinginan Benny menjadi 
presiden didengar Soeharto. "Setelah pulang dari Yugoslavia, Pak Harto bilang 
biar menteri, biar jenderal, kalau dia inkonstitusional akan saya gebuk. Itu 
laporan saya, karena dia (Benny) mau melakukan kudeta. Tahun 1989, Benny pun 
diberhentikan," ungkap dia. 

Kasus Benny ini, kata Kivlan, berlanjut saat Habibie naik menjadi wakil 
presiden. "Habibie naik jadi wakil presiden, maka tidak senanglah Singapura. 
Dirancanglah bagaimana supaya Soeharto jatuh, Habibie ikut jatuh. Koalisi 
Nasional pimpinan Barnas, di belakangnya Benny Moerdani, di depan ada Ratna 
Sarumpaet. Itulah duduk soalnya mengapa terjadi kerusuhan," kata dia.(dtc

[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke