HARIAN KOMENTAR
06 October 2006 

      Wiranto: Saya yang Lebih Pantas Kudeta Waktu Itu 


     


Mantan Menteri Pertahanan dan Panglima ABRI, Jenderal (Purn) Wiranto angkat 
bicara soal tudingan ''main mata de-ngan Habibie'' dalam menggu-lingkan 
Soeharto. Hal ini me-nanggapi apa yang disampai-kan Mayjen (Purn) Kivlan Zein. 


"Pasti saya akan menetra-lisirnya. Akan saya jelaskan, bahwa pernyataan Kivlan 
itu tidak benar. Saya tidak ingin menjelaskan supaya clear agar tidak 
sepotong-sepotong," ungkap Wiranto usai meng-ikuti upacara peringatan HUT TNI 
ke-61 di Mabes TNI Cilang-kap, Kamis (05/10) kemarin. 
Pensiunan jenderal bintang empat yang pernah menjadi ajudan Soeharto itu juga 
me-negaskan, ia belum akan me-ngambil langkah hukum un-tuk balik menggugat 
Kivlan yang sudah menudingnya. Di-tanya soal pencemaran nama baik, Wiranto 
mengaku kalau hal itu soal moral saja. 


Ditanya kembali soal isu ku-deta yang dilakukan Panglima Kostrad Letjen Prabowo 
Su-biyanto dkk saat itu, Wiranto meyakinkan bahwa itu tidak pernah terjadi. 
Bahkan, man-tan capres dari Partai Golkar ini mengatakan bahwa kudeta militer 
itu hanya bisa dilaku-kan oleh orang yang sangat kuat memegang kekuatan 
se-luruh angkatan. Angkatan Da-rat, Angkatan Udara, Angkatan Laut serta Polri. 
Nah, orang yang hanya kompeten bisa me-lakukan kudeta itu adalah Menteri 



Pertahanan/Panglima ABRI saat itu. "Kalau mau ku-deta, yang lebih pantas dan 
kompeten saat itu ya saya se-bagai Menhan/Pangab, dong," tandas Wiranto sambil 
terse-nyum. 


Pada bagian lain, mantan Kas Kostrad Mayjen (Purn) Kivlan Zein masih meneruskan 
epi-sode versinya terkait peristiwa saat Habibie diangkat sebagai presiden. 
Kivlan dan Muchdi PR (Letjen Purn) mengaku sem-pat mengusulkan agar Jenderal 
Subagyo jadi Panglima TNI dan Letjen Prabowo Subianto seba-gai KSAD. Tapi, 
begitu kedua-nya mendatangi Habibie, tiba-tiba datanglah Wiranto. Kivlan dan 
Muchdi pun langsung nga-cir. 


Peristiwa yang selalu diingat Kivlan ini terjadi pada 22 Mei 1998, sehari 
sebelum pelanti-kan Kabinet Reformasi Pemba-ngunan yang dipimpin Habibie. Saat 
itu Kivlan bersama Much-di (saat itu Danjen Kopassus) mencoba bertemu Habibie 
di Is-tana. 


Keduanya ingin menemui Ha-bibie untuk menyerahkan su-rat dari Jenderal Besar AH 
Na-sution. Surat yang ditanda-tangani Nasution itu berisikan usulan agar 
Subagyo diangkat sebagai Panglima ABRI dan Prabowo dipromosikan sebagai KSAD. 


Kivlan cs memang tidak se-tuju dengan rencana Habibie yang ingin mempertahankan 
Wiranto sebagai Panglima ABRI. "Seharusnya, Pak Wiran-to itu tak lagi jadi 
Panglima ABRI. Orang sudah gagal kok tanggal 12 Mei 98. Masak orang gagal jadi 
Panglima ABRI?" kata Kivlan dalam diskusi Kontro-versi Mei 98 di Institute for 
Policy Studies, di Jl. Penjerni-han IV No 8, Jakarta, Selasa (03/10) lalu. 


Tanggal 21 Mei 1998 malam, Kivlan bertemu Pangkostrad Letjen Prabowo Subianto. 
Saat itu, Prabowo bertanya ke Kivlan mengapa bukan Subagyo yang menjadi 
Panglima ABRI, lha kok masih Wiranto. "Bagai-mana ini bang, tanya Prabowo pada 
saya. Berpikirlah saya. Yang bisa ngomong ke Habibie soal ini hanya satu, Pak 
Nas (AH Nasution-red)," ujar Kiv-lan. 


Setelah itu, Kivlan berangkat menuju rumah Nasution. "Tanggal 22 Mei, jam 06.00 
WIB, berangkatlah saya dari markas Kostrad. Saya telepon terlebih dulu, dan 
ternyata Pak Nas sedang sakit. Saat berte-mu, Pak Nas duduk dan me-minta saya 
untuk menulis dan dia akan menandatangani su-rat itu," kisah Kivlan. 


Lantas Kivlan membuat draf surat yang berbunyi, "Ananda Habibie, keadaan 
semakin gen-ting belum bisa diatasi. Wiranto Panglima ABRI belum bisa mengatasi 
ini dari 12-22 Mei 1998. Ada baiknya diangkat orang lain menjadi panglima, ada 
baiknya adalah Subagyo dan sebagai KSAD adalah Pra-bowo." 


Kivlan berkelakar membuat surat seperti ini agar dirinya juga bisa jadi naik 
pangkat. "Saya membuat surat ini, kan biar saya jadi Pangkostrad," kata Kivlan 
sambil berkelakar yang disambut gelak tawa peserta diskusi. Surat yang dibuat 
Kivlan itu pun ditan-datangani Nasution. 
Setelah itu, Kivlan mencari Muchdi PR di kantornya untuk diajak menemui Habibie 
me-ngantar surat dari Nasution itu. "Di kantornya, saya tidak ke-temu. Tapi, 
akhirnya Pak Muchdi menyusul saya di ruang tamu Istana," ujar dia. 


Awalnya, Kivlan mendatangi Habibie sendirian. Di Istana, Kivlan diterima ajudan 
Presi-den Habibie, Kolonel Tubagus Hasanuddin. "Ini surat dari Pak Nasution. 
Tak tahu saya, to-longlah disampaikan," kata Kivlan kepada Hasanuddin saat itu. 
Ketika itu, Kivlan berada di ruang tamu sebelah kiri. Saat menunggu diterima 
Habibie, datanglah Muchdi ber-gabung dengan dirinya. "15 menit kemudian, 
tiba-tiba muncullah Sintong Pandjaitan (staf khusus Habibie berpang-kat Mayjen) 
dari ruang makan. Sintong menyapa kami dan menanyakan keperluannya. Saya 
sampaikan ada surat dari Pak Nas untuk Pak Habibie, tapi isinya saya tidak 
tahu. Oleh Sintong, kami malah di-suruh pulang. Tapi kami tak mau, wong ajudan 
suruh me-nunggu kok," kata Kivlan. 


Karena Kivlan dan Muchdi tetap bertahan, Sintong pun masuk ke ruang dalam 
kem-bali. "Tiba-tiba saat itu, muncul Pak Wiranto. Ujung-ujung datang dia. Saya 
bilang pada Pak Muchdi, panglima yang akan kita bicarakan di ruang tamu ada 
juga. Masak kita jenderal bintang dua mau bilang pang-lima mau diganti ni. 
Larilah kita terbirit-birit," tutur dia.


Takut? "Bukannya takut, tapi berbahaya. Saya kan bawa pis-tol, bisa saya tembak 
dia. Saya kan temperamen tinggi. Pak Muchdi juga Kopassus," ujar Kivlan. 
Akhirnya, saat itu Kiv-lan dan Muchdi gagal bertemu Habibie, sementara surat 
dari Nasution sudah ada di ta-ngannya. 


Untuk melobi agar Wiranto tak dipertahankan sebagai Panglima TNI, Kivlan juga 
per-nah menemui Fanny Habibie (JE Habibie), adik kandung Habibie, di kantor 
Otorita Ba-tam, Jakarta Timur. Saat itu, Kivlan meminta Fanny mem-bantu 
menyampaikan pesan kepada Habibie agar Subagyo diangkat sebagai Panglima ABRI. 


"Selagi ngomong ke Fanny, saya dapat telepon bahwa saya disuruh ke markas 
Kostrad untuk membawa pataka Kos-trad ke markas AD. Saya pikir, wah ini Bowo 
(Prabowo) mau dicopot ini. Saya jadi bangkit. Saya langsung ke Kostrad, tapi 
saya tak mau ambil pataka. Ka-rena kalau saya bawa, berarti saya panglima 
dong," kata dia. 


Rupanya, Prabowo saat itu tidak mau menyerahkan pa-taka Kostrad ke Letjen Johny 
Lumintang yang ditunjuk Wiranto sebagai Pangkostrad sementara, pengganti 
Prabo-wo.(dtc/rmc*


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke