Agama Merusak Kemampuan Berpikir Logis !!!

Berpikir logis bukanlah hal yang susah, namun religious prejudice
membuat seseorang tidak mungkin bisa berpikir logis.  Religious
prejudice bukanlah cara berpikir melainkan cara membohongi diri
sendiri dengan menganggap yang dipercayanya pasti benar sedangkan
orang lain yang berbeda dengan dirinya harus disalahkan.

Agama merupakan bagian dari Budaya karena Budaya itu terbentuk oleh
tradisi2 atau kebiasaan2 dimana salah satu unsurnya adalah Agama. 
Definisi bahwa agama merupakan bagian kebudayaan sudah merupakan
definisi yang universal, namun di Indonesia yang dikuasai pemikiran
ulama justru disangkal mereka menganggap bahwa Agama bukan bagian
budaya melainkan berdiri sendiri.  Memang kalo merujuk ke masa
kehidupan Muhammad, tidak dikenal istilah "budaya" yang ada hanyalah
istilah "Agama".  Dan yang dimaksudkan "Agama" dizaman Muhammad
hanyalah Agama Islam, agama lainnya tidak dinamakan agama.

Dibawah ini adalah tulisan seorang peneliti dari Surabaya yang antara
lain menegaskan bahwa kemampuan berpikir logika dalam mengambil
keputusan dari semua tingkat kepemimpinan dari bawah hingga keatas
sangatlah lemahnya.  Sang penulis menyimpulkan cara menggunakan logika
yang salah besar sekali diakibatkan oleh pengaruh Budaya.  Namun sang
penulis tidak secara jelas menyatakan bagian mana dari budaya yang
merusak kemampuan berpikir logis dari bangsa ini.  Hal ini bisa
dipastikan karena sang peneliti ini juga tidak berani frontal
menentang cara2 agama yang merusak kemampuan berpikir logis yang
benar.  Bukan hal yang baru di Indonesia apabila ada tulisan yang
mengkritik agama akan berakibat fatal terutama kritik2 terhadap agama
Islam dimana sering berakhir dengan perusakan, pembakaran, dan
pemerasan uang.  Juga tidak sedikit yang dihukum penjara antara 3-5
tahun.  Itulah sebabnya cara2 berpikir logis yang benar tidak pernah
bisa berkembang di Indonesia mulai dari bawah hingga keatas ke
penguasa yang tertinggi.  Apa yang saya katakan ini bukanlah hal yang
sesederhana sesuatu yang anda percaya seperti kepada Tuhan ataupun
Allah.  Lebih parah lagi, seringkali seorang pemimpin mengambil
keputusan dari hasil konsultasinya dengan seorang ulama atau imam
mesjid.  Tentu salah kaprah karena seorang pemimpin harus bertanggung
jawab atas keputusannya, sedangkan tugas ulama sama sekali terlepas
dari tanggung jawab apa yang dia katakan kepada umatnya.  Profesi
ulama dan Imam hanyalah berkhotbah dan isi khotbahnya hanya berpusat
kepada pemenuhan vested interest-nya dengan memanfaatkan pemahaman2
agamanya.  Artinya, seorang ulama/imam kerjanya hanyalah berdakwah dan
berkhotbah yang artinya menarik umat pendengarnya se-banyak2nya untuk
bisa menghasilkan juga sumbangan yang se-banyak2nya, makin dislukai
khotbahnya, makin banyak umat pendengarnya, maka makin banyak juga
penghasilannya.  Demikianlah masalah isi khotbah bukan menjadi
tanggung jawabnya karena pada dasarnya setiap orang hanya bertanggung
jawab terhadap tindakannya bukan terhadap apa yang dikatakannya
meskipun kebebasan berbicara dalam hal ini disalah gunakan.

Salah satu yang paling menonjol cara berpikir ulama yang merusak
logika adalah: 

"Bagaimana Logispun keputusan yang diambil oleh seorang pemimpin, kalo
tak diperkenankan Allah, maka keputusan itupun sia2 dan gagal"

Paham ini disadari atau tidak akan melahirkan kemalasan otak untuk
berlatih berpikir menggunakan logika rumit sehingga keputusan asal2an
diharapkan berhasil asal rajin shalat sehingga diperkenankan Allah
untuk berhasil.

Padahal seharusnya dipahami bahwa keputusan yang gagal diimplementasi
bukan karena tidak mendapatkan perkenan Allah, melainkan karena
kesalahan dalam berpikir logis.  Padahal bisa kita buktikan bahwa
tanpa beragama, tanpa percaya Allah, dan tanpa percaya dewa2, asal
saja keputusan itu dilaksanakan berdasarkan logika yang benar, tentu
pelaksanaannya akan berhasil tidak akan gagal.  Sebaliknya,
bagaimanapun tingginya keimanan anda, bagaimana rajinpun anda
bershalat, bertapa khusuknyapun anda melaksanakan ibadah anda, kalo
keputusan yang diambil itu sama sekali tidak logis, maka tak ada yang
akan pernah berhasil.

Satu contoh lain yang merusak kemampuan berpikir anak2 adalah bahwa: 

"semua alat atau produksi apapun yang diciptakan manusia untuk
membantu pemecahan masalah tidak mungkin bisa lebih sempurna dari
manusianya sendiri, karena alat ciptaan manusia tidak bisa lebih
sempurna dari manusia"

Pemahaman ini memang menjerumuskan pemikiran semua orang, karena kalo
saya contohkan saja sebuah penggaris yang kita ciptakan untuk membuat
garis lurus, terbukti garis lurus yang dibuat dengan bantuan penggaris
akan lebih sempurna dan lebih lurus daripada kita membuat garis tanpa
penggaris.  Dalam hal ini saja dengan mudahnya kita membuktikan
bagaimana penggaris yang kita ciptakan bisa berhasil lebih sempurna
dari kemampuan kita sendiri.  Dalam hal2 lain yang lebih rumit,
pemahaman religious ini akan menghancurkan semua kemampuan maupun
semua kemungkinan pengembangan ratio logis dari otak seorang anak
hingga otak seorang pejabat tertinggi.

Kepercayaan kepada Tuhan/Allah, menyebabkan si umat serba pasrah dalam
arti kata tidak memikirkan tanggung jawab pribadi karena semuanya
sudah diserahkan kepada yang diatas.  Akibatnya, tidak pernah mereka
mengaku salah karena hal itu sudah menjadi nasib yang sudah
ditentukan.  Akibatnya tidaklah mengherankan kalo negara terjerumus
kedalam jurang yang tak ada jalan keluarnya karena agama merupakan hal
sacral yang tidak boleh disalahkan.  Karena kesalahan Allah bukanlah
kesalahan melainkan sesuatu rencananya yang diluar akal kita manusia.

Cepat atau lambat, Indonesia hanya akan bisa berhasil apabila
melepaskan segala tahyul2 kepercayaan agama yang mengikat cara
berpikir semua pejabat2nya.  Dalam hal ini, Indonesia harus murni
menjadi negara sekuler dimana semua umat beragama bersaing
berpartisipasi membangun negara, bukan sebaliknya menjadi negara
anti-sekuler dimana hanya satu agama saja yang mendominasi tanpa perlu
bersaing.  Kegiatan semua agama harus bebas dari campur tangan negara,
dan negara tidak boleh menggunakan dana pajak yang dikumpulkan dari
rakyat untuk kegiatan agama manapun juga.  Kegiatan agama harus murni
berasal dari masing2 umatnya bukan dari pajak negaranya.  Semua
pemimpin pengambil keputusan harus memiliki standard level pendidikan
tertentu yang bukan berlatar belakang keagamaan.  Bila sudah memenuhi
persyaratan tingkat minimal pendidikan formal, tidak salah apabila ada
pendidikan tambahan misalnya agama, namun pertimbangan untuk sebuah
jabatan adalah persyaratan tingkat minimal pendidikan formal bukan
pengetahuan maupun pendidikan agamanya.

Baiklah kita baca pandangan seorang peneliti dari Surabaya yang tidak
berani secara blak2an menunjuk Agama sebagai penyebab utamanya:

> In [EMAIL PROTECTED], audifax - <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> BUDAYA BERPIKIR DAN KEBINGUNGAN DALAM PENDIDIKAN
> Audifax
> Peneliti di IISA - Surabaya, tinggal di Surabaya
> LEMAHNYA PENGUASAAN (LOGIKA) PERMASALAHAN
> Terlepas dari tujuan baik apapun yang mendasari sebuah keputusan, 
> tetapi tanpa didasari logika penguasaan permasalahan yang benar, 
> sebuah keputusan tak lebih dari solusi yang muncul dari dasar laut.


Dalam kenyataanya keputusan atau solusi itu bukan sebenarnya muncul
dari dasar laut, perumpamaan sang peneliti yang menggunakan istilah
"dasar laut" bisa diterjemahkan artinya dari keimanan.  Demikianlah
keputusan harus lahir dari hasil logika yang rasional bukan dari
keimanan ataupun kepercayaan sipengambil keputusan yang tidak bisa
dipertanggung jawabkannya.


 
> Ironisnya, justru hal semacam itulah yang menjadi budaya berpikir 
> para pengambil keputusan di negeri ini. Semua permasalahan tidak 
> dikuasai dengan penguasaan logika yang benar, melainkan secara 
> reaktif dan parsial. Ini membuat keputusan-keputusan itu tak pernah 
> bisa menyelesaikan permasalahan, bahkan tak jarang justru 
> menimbulkan masalah baru.



Sang peneliti disini juga menggunakan istilah "budaya berpikir" yang
sebenarnya diartikan cara berpikir agama/ulama.  Dan istilah "reaktif
dan parsial" dimaksudkan sebagai intuitive ataupun keimanan.  Dengan
kata lain si peneliti bisa secara blak2an menyatakan sbb:

"Ironisnya, justru hal semacam itulah yang menjadi pola berpikir ulama
atau agama yang digunakan oleh para pengambil keputusan dinegeri ini.
 Semua permasalahan tidak dikuasai dengan penguasaan logika yang
benar, melainkan secara intuitive keimanan religious.  Ini membuat
keputusan2 itu tak pernah bisa menyelesaikan permasalahan, bahkan tak
jarang justeru menimbulkan masalah baru."




> ..... keputusan mengenai pemberlakuan kurikulum 2006 inipun 
> merupakan bagian dari budaya berpikir reaktif, parsial dan tak 
> berdasar logika, yang bermunculan di berbagai ranah kehidupan negeri 
> ini. 




Kembali dalam paragraph diatas, sang peneliti menggunakan istilah
"budaya" untuk agama kepercayaan, dan "reaktive, parsial" untuk
keimanan, intuitive.  Sehingga kalo saya terjemahkan selengkapnya
secara to the point akan sbb:

"....... kurikulum 2006 inipun merupakan bagian dari berpikir cara
ulama/agama yang hanya berdasarkan keimanan yang intuitive dan tak 
bisa dipertanggung jawabkan berdasar logika, dan yang bermunculan di
berbagai ranah kehidupan negeri ini."

Dalam paragraph selanjutnya dibawah ini sang peneliti juga menyindir
moral agama yang merusak logika sehingga mengambil keputusan yang sama
sekali merusak kehidupan masyarakatnya dimana goal yang diinginkan
tidak bisa dicapai malah sebaliknya permasalahan jadi bertambah:



> Simak saja cara penyelesaian lumpur Lapindo yang simpang siur dan 
> penuh perdebatan tanpa solusi nyata. Perhatikan pula cara 
> penggusuran pedagang Kaki Lima yang justru berpotensi menambah 
> jumlah pengemis dan pelaku kriminal. Cermati pula bagaimana 
> pelarangan lokalisasi dibuka selama bulan puasa justru membuat PSK 
> turun bertebaran di jalan2, karena mereka tak menyadari "logika" 
> bahwa bulan puasa justru merupakan saat menjelang Lebaran dimana 
> mereka mesti pulang dan membawa hasil bagi keluarga di kampung. 

 

Sang peneliti memperlihatkan bagaimana penggusuran pedagang kaki lima
malah menambah masalah padahal munculnya kaki lima akibat kegagalan
sipengambil keputusan dalam membuka lapangan kerja.  Namun lapangan
kerja tidak mampu dibuka malah kaki lima yang digusur, logis kalo
pengemis dan kriminal meningkat.  Dilain pihak hal yang sama dengan
pelacur, dimana atas dasar melindungi keimanan agama dilakukan
pelarangan pelacuran dilokalisasi, sehingga menambah buruk situasi
dimana mereka bertebaran di-jalan2 karena mereka juga dipaksa untuk
membawa hasil jerih payahnya untuk membahagiakan keluarganya yang
ditinggal di kampung.





> LEMAHNYA LOGIKA DAN HASIL
> Kita bisa melihat: seberapa banyak CBSA mampu menghasilkan 
> siswa-siswa yang aktif?, atau bagaimana logikanya KBK bisa dikatakan 
> mampu menghasilkan insan yang menguasai basis kompetensi tertentu?. 
> Semua tidak jelas.
>    



Dalam paragraph diatas, sang peneliti menyatakan bahwa tujuan CBSA
untuk menghasilkan insan yang menguasai basis kompetensi tertentu
tidak jelas.

Seharusnya sang peneliti berani tegas untuk mengganti kata2 tidak
jelas dengan gagal:

"....... atau bagaimana logikanya KBK bisa dikatakan mampu
menghasilkan insan yang menguasai basis kompetensi tertentu?. Semua
gagal."



> Oleh karenanya, sebuah sistem pendidikan tak bisa dimunculkan dari 
> logika2 yang turun dari langit alias tak berdasar premis2 yang kuat. 
> direfleksikan bagi siapa saja yang berkecimpung di dunia pendidikan. 


Dalam paragraph diatas ini, sang peneliti kembali menggunakan istilah
"turun dari langit" untuk menyindir tentang Tuhan/Allah yang tak
berdasar premis2.  Sehingga kalo kita mau jujur to the point untuk
mempertegas permasalahan yang ingin ditonjolkan sang peneliti maka
kalimatnya akan sbb:


"O......, sebuah sistem pendidikan tak bisa dimunculkan dari logika2
yang turun dari Allah yang berdasar keimanan/kepercayaan." 




> Jika mereka yang berada pada hirarki pengambil keputusan saja tak 
> bisa memberi teladan bagaimana mengambil keputusan berdasar logika 
> yang benar, bagaimana dengan hirarki di bawahnya?.[] 



Dalam paragraph diatas, sang peneliti menyatakan bahwa kalo pejabat
teratas saja berpikir tanpa logika hanya berlandaskan keimanannya,
maka keputusan2 yang dilakukan oleh pelaksana2 dibawahnya akan lebih
religious magis yang penuh dengan doa dan mantera2 dalam mengejar
keberhasilannya.  Tentu tidak pernah akan berhasil jadinya dan
kesemuanya ini dikembalikan kepada Allah yang dianggapnya sebagai
penentu yang diluar kekuasaan kita manusia untuk mengubahnya.

Ny. Muslim binti Muskitawati.









Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke