CENDRAWASIH POS Sabtu, 14 Oktober 2006
Ramadan Bersama Minoritas Muslim di Hanoi, Vietnam (1) Cari Masjid, Dibawa ke Pagoda Ala India Di sela-sela mengikuti Media Training yang diadakan British Council Hanoi di Hanoi, 9-13 Oktober, wartawan Jawa Pos (Grup Cenderawasih Pos) DOAN WIDHIANDONO berkunjung ke komunitas muslim di Hanoi, Vietnam. Bagaimana suasana Ramadan di sana? VIETNAM pernah berada di bawah daulat Kerajaan Islam Champa, yang punya ikatan sejarah dengan beberapa kerajaan di Indonesia. Tapi, untuk menemukan komunitas muslim di negeri komunis itu, sekarang ternyata tidak banyak orang lokal yang tahu. Vu Thi Thuy Ha, wartawati Vietnam News Agency (Kantor Berita Vietnam), ketika ditanya Jawa Pos soal alamat masjid di Hanoi butuh waktu sehari untuk menjawabnya. "Maaf, saya memang harus bertanya kepada banyak orang," katanya di sela-sela acara Media Training oleh British Council yang diikuti Jawa Pos di Hanoi. Ha sendiri mengaku tak pernah tahu bahwa ada masjid di ibu kota Vietnam. Namun, dia tahu banyak orang Islam dari berbagai negara yang bekerja di Hanoi. "12 Hang Luoc Street", itulah catatan yang ditulis Ha di selembar kertas yang diserahkan ke Jawa Pos. Lokasi itu berada di Distrik Hoan Kiem, kawasan kota lama Hanoi. Untuk keperluan turisme, kawasan itu biasa disebut Old Quarter. Ternyata amat mudah menemukan tempat yang dimaksud. Dari Ho Tay Villa, distrik Ho Tay, tempat Jawa Pos menginap, hanya perlu 10 menit menuju masjid dengan mengendarai xe om (baca: seh ohm), taksi roda dua alias ojek. Ongkosnya pun tak mahal. Hanya 20 ribu dong (mata uang Vietnam setara sekitar Rp 11 ribu). Sampai di depan masjid, Son, tukang ojek yang mengantar wartawan koran ini, mengatakan, "Ah, Indian pagoda," sambil mengacungkan ibu jari. Mengetahui saya tak begitu paham dengan penjelasannya, Son mengulangi. "Indian Pagoda. Old man, Indian Pagoda," ujarnya sambil menunjuk masjid itu. Karena masih tak mengerti, Jawa Pos hanya mengangguk-angguk sambil ikut mengacungkan ibu jari. Sepintas, bangunan itu tak tampak seperti masjid di Indonesia. Dari luar hanya terlihat gerbang tembok berlekuk khas, seperti umumnya di kawasan Kauman atau Kampung Arab di Jawa. Bangunan itu pun terlihat berbeda. Sebab, masjid tersebut diapit ruko-ruko. Sebuah bendera Vietnam -satu bintang kuning di atas dasar warna merah-tampak menyembul dari atas. Di bagian atas gerbang terukir kalimat Allahu Akbar dalam tulisan Arab. Di bawahnya, tulisan Al-Nour Mosque. Dalam bahasa Vietnam, masjid itu bernama Nha Tho Al-Nour. Belakangan saya tahu bahwa istilah nha tho (baca: nya te) digunakan untuk tempat ibadah selain kelenteng atau pagoda. Nha berarti rumah dan tho berarti sembahyang. Gereja-gereja di Hanoi pun banyak yang memakai nama nha tho. Menara masjid tak begitu tinggi. Seperti masjid-masjid lama di Jawa, bentuknya bersusun-susun layaknya sebuah pagoda. Barangkali karena itulah orang Vietnam dahulu menyebut Masjid Al-Nour sebagai Indian Pagoda (Pagoda ala India). Di gerbang juga tertempel plakat tembaga yang menceritakan sejarah singkat masjid. Di situ tertulis bahwa pembangunan masjid dimulai pada 1890. Artinya, saat ini tempat ibadah itu berusia 116 tahun. Ketika dibangun, desa tempat masjid itu bernama Vinh Thu di kawasan Han Toc. Setelah itu, nama kawasan tersebut menjadi Dong Xuan, distrik Tho Xuang. Dan, saat ini tempat masjid berdiri disebut Jalan Hang Luoc, distrik Hoan Kiem. Pada 1950-an, masjid tersebut dibangun kembali tanpa mengurangi bentuk aslinya. Bangunannya -luasnya sekitar 200 meter persegi- masih berwarna putih dengan ciri khas India. Ketika melintasi halaman masjid yang tak begitu luas, tampak seorang pemuda Vietnam sedang membersihkan daun-daun dengan sapu lidi. Ali Khan ben Mohammed, nama pemuda itu, langsung memanggil ayahnya saat tahu bahwa Jawa Pos yang berasal dari Indonesia datang. Sejurus kemudian muncul Mohammed Doan Hong Cuong, ayah Ali Khan. Mohammed -begitu dia minta dipanggil- adalah orang yang saat ini mengurus masjid itu. Dia tinggal di kanan masjid. Di rumah itu, Mohammed dan dua anak laki-lakinya membuka toko susu. Ditemani Aminah, wanita asli Vietnam yang bersuami orang Mesir, Mohammed melayani wawancara koran ini. Menurut Mohammed, masjid itu dibangun orang India pada 116 tahun lalu. Biayanya dibantu tentara Prancis yang berasal dari Aljazair dan Tunisia, negara jajahan Prancis yang muslim. Nah, sekitar 50 tahun lalu, ayah Mohammed membangun kembali masjid tersebut. "Ayah saya dari Pakistan. Ibu saya dari Vietnam," katanya. Itu sebabnya saat ini dia dan kedua anaknya bertanggung jawab memelihara kebersihan masjid. Mohammed mengaku memeluk Islam sejak kecil. "Tak banyak orang Vietnam yang memeluk Islam. Di utara (Hanoi dan sekitarnya, Red) hanya sekitar 25-30 orang," ujar Aminah, yang kini berjilbab, begitu fasih berbahasa Inggris. Masjid Al-Nour menjadi satu-satunya tempat ibadah di kawasan Vietnam utara. Di Vietnam Selatan (Ho Chi Minh City dan sekitarnya, Red) jumlah masjid jauh lebih banyak. Aminah memperkirakan sekitar 250 ribu umat muslim di kawasan selatan. Aminah menjadi mualaf tiga tahun lalu. Karena bersuami orang Mesir? "Tidak. Saya baru menikah dua bulan lalu," katanya, lantas tersenyum. Sejak menjadi muslimah, Aminah mengaku banyak perubahan dalam hidupnya. "Ada banyak hal yang dahulu biasa saya lakukan sekarang tidak lagi. But I'm a lot happier (Tapi, saya lebih berbahagia, Red)," ujarnya tanpa merinci lebih lanjut. Menjadi minoritas tentu mendatangkan beberapa kesulitan bagi Aminah dan umat muslim lain di negeri bekas jajahan Prancis itu. "Yang paling sulit adalah mencari makanan halal," kata wanita 27 tahun itu. Namun, ada beberapa restoran muslim yang menjadi langganan dia. Selebihnya, Aminah memasak sendiri di rumah. Tak menemui kesulitan bergaul? "Tidak. Sama sekali tak ada perubahan dari kawan-kawan saya," ujar wanita berkulit putih itu. Sebagai negara sosialis, Vietnam memang tak memaksa penduduknya untuk memeluk agama tertentu. Demikian pula, negara tersebut tak melarang penduduknya menjalankan ibadah. Sikap "cuek" itu ternyata "menular" kepada warga Vietnam. Orang di sana tak peduli agama apa yang dipeluk seseorang. Bahkan, mereka juga tak memedulikan apakah kawannya beragama atau tidak. Aminah menuturkan, suasana Ramadan hanya dia jumpai di masjid dan rumah. Karena itu, umat Islam Vietnam pun tak punya tradisi khas dalam berpuasa atau berlebaran. "Orangnya (yang muslim) terlalu sedikit. Kalau iftar (buka puasa, Red), kami biasa di rumah. Tengah malam (sahur, Red) kami juga makan di rumah," tuturnya.(bersambung) [Non-text portions of this message have been removed] Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
