http://www.indomedia.com/poskup/2006/10/18/edisi18/opini.htm

Inersia kekuasaan

Oleh Servinus Nahak *

KEHIDUPAN masyarakat bagaikan arus lalu lintas. Di sana ada arus lalu lintas 
kepentingan dan kebutuhan. Ada yang membutuhkan pendidikan, air bersih, 
kesehatan dan serupa itu. Semua kepentingan itu mengalir di jalan raya 
kehidupan dan diatur oleh norma-norma atau rambu-rambu masyarakat.

Kadang orang harus berhenti di perempatan kepentingan sesuai dengan tanda lampu 
perempatan. Bila orang melanggar rambu kepentingan sosial, terjadilah tabrakan 
maut dan konflik sosial. Bila seseorang memarkir kendaraan kepentingannya di 
badan jalan, sesungguhnya dia sedang menghalangi kendaraan kepentingan sosial.

Alangkah tidak adilnya membiarkan ambulans-ambulans terhalang oleh kendaraan 
mewah yang kita parkir di badan jalan. Ambulans yang membawa pasien diare harus 
diberi kesempatan pertama untuk lewat. Dengan membeli barang yang tak sungguh 
kita perlukan atau yang bukan urgen di tengah krisis multidimensi masyarakat, 
kita seperti orang yang memarkir mobil mewahnya di badan jalan sehingga 
menghalangi ambulans-ambulans yang sedang menghantar penderita kurang gizi, 
diare dan mobil sosial yang sedang menghantar orang-orang buta aksara, 
mengangkut peserta ujian paket C ke sekolah luar biasa bahkan bisa berakibat 
kematian di tengah jalan.

Pernah juga ada ribut-ribut soal rumah dinas dan dana purnabakti anggota Dewan 
terhormat, yang sempat menyita perhatian masyarakat dan muncul sikap 
pro-kontra. Pada tempo yang relatif singkat ditemukan solusinya versi wakil 
rakyat itu. Muncul kasus baru lagi dengan substansi yang mirip sekaligus 
menarik dan menggelikan. Pengadaan 9 mobil dinas tipe suzuki APV untuk DPRD 
Kota Kupang, yang telah dialokasikan melalui biaya tambahan (ABT) 2006, yang 
masih menimbulkan pro-kontra, seperti yang diberitakan Pos Kupang (12/10).

Tulisan ini sesungguhnya tidak bermaksud mengintervensi kearifan nurani, 
kepekaan hati dan orientasi pengabdian untuk rakyat (people oriented) bapak-ibu 
Dewan terhormat, tetapi sekadar suatu refleksi ringan anak-anak jalanan, 
anak-anak penderita diare, anak-anak putus sekolah dan masyarakat yang sudah 
sekian lama merindukan air bersih.

Seperti diberitakan, tiga anggota Dewan 'perang mulut' (PK 12/10). Ada yang 
mengaku senang, tapi tak sedikit yang malu-malu kucing (TE, 12/10). Inilah 
topik berita tentang reaksi arif DPRD Kota Kupang dalam menyikapi dan 
mengkritisi pengadaan 9 mobil dinas. Jika dicermati dengan nurani bening, 
logika eksistensial dan skala prioritas kebutuhan sosial, sikap mental menerima 
dan menolak dengan sekian argumentasi atau pertimbangan rational itu memang 
sah-sah saja, sepertiyang telah dipertontonkan DPRD Kota Kupang belum lama ini.

Sikap gagah berani langsung menolak dengan pertimbangan, mobil itu bukan 
kebutuhan mendesak. Sebaiknya diarahkan ke sektor pendidikan dan kesehatan yang 
bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat (PK, 12/10). Sikap anggota 
Dewan ini, realistis saja, tidak sebagai suatu tontonan semangat hipokrit, yang 
apparent good tapi memang suatu real good yang harus ditampilkan sebagai 
orang-orang yang harus mempertanggungjawabkan moral kinerjanya kepada 
masyarakat. Semangat keberpihakan kepada masyarakat inilah yang menjadi 
referensi utama untuk menggalang dan memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan 
sosial di planet bumi ini.

Sekelompok lagi langsung menyatakan dukungan. Sudah pasti punya pertimbangan 
yang bukan irasional. Mungkin demi kelancaran pelaksanaan tugasnya. Demi 
kualitas kinerja dan dedikasinya. Mungkin juga demi efisien waktu. Tapi bukan 
untuk gaya-gaya atau sebagai simbol prestise. Setelah melalui suatu 
pertimbangan yang matang, mereka memilih mendukung.

Sedangkan lainnya coba mendiamkan diri, tak tahu dukung atau tidak. Pura-pura 
tidak mau tapi dalam hatinya mau. Ini yang namanya malu-malu kucing (TE, 
12/10). Atau masih lihat dan rasakan arah hembusan angin. Atau kelompok 
opurtunis. Atau bisa jadi, mereka punya prinsip sosial kemanusiaan. Naik mobil 
mewah atau ojek tidak mengurangi sedikit pun eksistensi sebagai wakil rakyat. 
Saya ada di sini karena rakyat dan untuk rakyat bukan untuk miliki mobil yang 
bukan hasil jerih payah sendiri. Ada juga yang barangkali sangat kritis 
mengambil sikap dan menunjukkan disposisi bathin, mobil bukan segala-galanya. 
Atau segala-galanya, mobil.

Rupanya kita sedang menganut dan menghayati jenis kebudayaan massa, yang 
mengakibatkan demoralisasi. Mengurangi tanggung jawab individu, tetapi lebih 
parah lagi menghilangkan interioritas individu sebagai subyek, tidak ikut arus 
(trend) umum berarti kebodohan. Lalu muncul prinsip, benar atau salah tetaplah 
teman-temanku (right or wrong is my friends).

Tak dapat disangkal juga bahwa masyarakat modern adalah manusia yang berdimensi 
satu (one dimensional society). Jenis masyarakat ini membentuk manusia pasif, 
puas, ego-konsumtif dan tidak kritis. Satu-satunya minat yang dikembangkan 
dengan gencar adalah memuaskan keinginan. Dan kepuasan itu tergantung pada 
materi (uang, mobil, rumah, pakaian dan semacamnya), maka satu-satunya ambisi 
yang dibakar ialah ambisi akan uang/materi (pecuniary culture).

Michael Fonseca (bukunya, Living in God's embrace) menulis, manusia cenderung 
menjadi rakus (greed). Menginginkan lebih daripada yang dibutuhkan untuk hidup. 
Melupakan bahwa sebenarnya telah memiliki cukup. Rakus gaya tikus seperti ini, 
diam-diam mencuri lalu lalu bersembunyi di dalam liangnya dandiam-diam makan 
sendiri. Rakus gaya kadal predator, makan habis tak ada sisanya melalui 
perkelahian seru. Tidak tahu malu walau ada sekelompok sebra dan impala yang 
sedang menyaksikan di tepi sungai. Rakus gaya hyena, sejenis anjing hutan atau 
serigala, yang hidup di hutan-hutan Afrika, menanti dengan sabar di sekitar 
sambil melihat peluang. Jika memungkinkan, mangsa itu segera dirampas, dibawa 
lari jauh dan makan bersama kalau banyak atau besar porsinya. Rakus gaya 
manusia, itulah KKN denagn bermacam ragam dalih demi kemanusiaan.

Setelah makan kenyang, ternyata orang masih bisa mengeluh dan kecewa. 
Kebutuhannya terasa belum terpenuhi. Makan, minum, pakaian, rumah itu belum 
cukup. Harus ada tambahannya yaitu mobil. Berilah kami makanan yang secukupnya 
atau berilah kami makanan yang lebih dari cukup. Kalau itu ikhtiarnya sendiri 
patut diberi salut summa cum laude. Jika itu hasil perkelahian, menang karena 
banyak orang (faktor kuantitas), perlu diwaspadai, "take care to guard against 
all greed, for though one may be rich, one's life does not consist of 
possessions".

Perbedaan pendapat dan selera tentang mobil itu memang manusiawi tapi kualitas 
kemanusiaannya sangat kerdil. Sebagai orang NTT, yang menjunjung tinggi nilai 
keberpihakan kepada yang lemah, sikap dan semangat memiliki mobil sebagai skala 
prioritas pengadaannya, perang mulut soal mobil, tuding-menuding mencari 
kambing hitam karena mobil, menunjukkan sikap arogan self-defence gara-gara 
mobil, sungguh memalukan. Di tengah maraknya reaksi negatif masyarakat soal 
pelayanan kesehatan, sistem dan manajemen pendidikan, kebutuhan akan air 
bersih, sistem peradilan, implementasi hukum dan serupa itu, haruslah mendapat 
perhatian lebih anggota Dewan terhormat. Di sinilah moment yang sangat 
bergengsi dan terpuji untuk memperlihatkan sikap kepedulian (concern), semangat 
keterlibatan (involvement) sekaligus mempertanggungjawabkan keberpihakan kepada 
masyarakat (public accountability).

Ternyata sikap atau semangat yang ditampilkan di hadapan masyarakat begitu naif 
dan infantil. Reaksi para Dewan terhormat itu menunjukkan suatu bentuk kinerja 
dan relasi sosial yang semata-mata bertumpu pada akumulasi modal (accumulation 
of capital), yang kemudian direproduksi dengan logika untung-rugi. Dengan ini, 
kebenaran dan legalitas keberadaannya akan terus diragukan dan tidak dipercaya.

Persoalan 9 unit mobil hendaknya tidak saja dibaca secara makro tapi ada 
baiknya dianalisis juga secara makro. Bukan cuma soal mobil. Barangkali juga 
ada kaitan dengan suksesi walikota nanti. Ini semacam praduga kelompok karbitan 
yang sangat tidak akurat. Diabaikan saja. Yang patut kita renungkan bersama 
adalah tidak memarkir mobil mewah di badan jalan. Biarkan ambulans-ambulans itu 
lewat. Bukan karena ada aturannya tapi lebih dari itu karena kita punya hati.

* Penulis, anggota Kelompok Menulis di Koran -

Ledalero (KMKL), tinggal di Wisma Fransiskus Xaverius


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke