REFLEKSI: Bila politik dan undang-undang pendidikan mengakomodasi institusi atau lembaga pendidikan sebagai salah satu sumber pengeruk laba, maka sudah tentu pengetahuan akademis adalah komoditi dagang, jadi bisa dijual.
Tetapi, kalau diprinsipkan sebagai hak kewarganegaraan yang adalah sebahagian dari Hak Azasi Manusia, maka sepatutnya pendidikan dilaksanakan bebas pembayaran uang masuk, uang itu dan ini. Bagaimana komentar Anda? http://www.suarapembaruan.com/News/2006/10/21/index.html SUARA PEMBARUAN DAILY Pengetahuan Akademis Pantas Dijual? Mikhael Dua Ada persepsi baru universitas dewasa ini terhadap pengetahuan yang ia miliki. Jika di masa lampau universitas dengan bangga mempublikasikan temuan ilmiahnya dan mendiskusikannya dengan banyak orang di sekitarnya, dewasa ini etos semacam itu sudah dianggap kuno. Pengetahuan memiliki dimensi komersial. Ia dapat disimpan di 'gudang' jika harganya belum baik, dan siap dipajang di rak-rak dagangan, jika waktunya sudah matang untuk dijual. Kesan ini bisa dikatakan agak aneh. Tetapi itulah yang sedang terjadi jika kita mencermati jargon- jargon baru di kalangan universitas, seperti gagasan enterprenerial university, academic venture, dan hak paten. Tidak hanya itu, banyak seminar akademis dan talk-show akademis yang sebelumnya gratis dalam rangka pencerdasan kehidupan banyak orang, sekarang harus dinikmati dengan ongkos finansial. Pengetahuan yang sebelumnya dilihat sebagai instrumen pencerdasan bangsa sekarang telah berubah menjadi pengetahuan sebagai instrumen keuntungan finansial. Persoalan lama Situasi semacam ini tentu bukanlah fenomen baru. Apa yang terjadi sekarang mirip dengan apa yang pernah dilakukan kaum Sofis pada abad ke-4 sebelum masehi di Yunani. Dalam kacamata kelompok cendikiawan ini, pengajaran pengetahuan merupakan bagian dari pekerjaan yang perlu mendapat penghargaan finansial. Dengan keliling dari satu kota ke kota yang lain, mereka memposisikan diri seba- gai profesional yang menawarkan pengetahuan. Apa yang sudah lama diperjuangkan oleh kaum cendikiawan Yunani klasik tersebut memiliki gemanya pada situasi kita dewasa ini. Banyak peneliti dewasa ini yakin bahwa pengetahuan ilmiah dapat ditempatkan sebagai bagian dari pelayanan masyarakat justru ketika ia dikomersialisasikan. Jika komersialisasi pengetahuan dihambat, yang terjadi tidak saja pundi-pundi cendikiawan akan berkurang, juga penemuan-penemuan baru tidak dapat dicapai. Saya dapat memahami argumentasi jika memperhatikan bagaimana seorang seperti Paul Janssen, seorang dokter keturunan Belgia, terpaksa meninggalkan universitas untuk bisa lebih produktif. Dengan menghasilkan lebih dari 400 hak paten obat-obatan, memperoleh 22 anugerah doktor honoris causa, menerbitkan lebih dari 850 buah karya ilmiah, Janssen membuktikan bahwa seorang ilmuwan perlu memiliki semangat enterprenerial untuk dapat memberikan andil yang besar bagi kepentingan masyarakat. Begitu juga jika kita membayangkan tokoh sebesar BJ Habibie yang memiliki repur- tasi internasional dalam bidang pesawat terbang. Namun ajakan untuk komersialisasi pengetahuan bukan tanpa tantangan. Sejak awal motif komersialisasi pengetahuan akademis sudah dicurigai Sokrates dalam kritiknya terhadap kaum Sofis. Setiap kegiatan pengajaran wajar jika mendapatkan penghargaan finansial yang pantas. Namun, dengan melihat keuntungan finansial sebagai tujuannya, kaum Sofis-cendikiawan telah me-lakukan pelecehan pengetahuan. Lebih parah lagi, jika yang mereka jual bukanlah pengetahuan yang benar atau pengetahuan yang menimbulkan pengertian yang aktual atas hidup peserta didik, melainkan tidak lebih dari teknik berpikir, berargumentasi, dan teknik untuk sukses dalam profesi. Keberatan yang sama ini memiliki relevansinya jika kita diajak untuk mendefinisikan kembali peran pendidikan tinggi. Jika kita melihat tujuan dasar dari pendidikan kita adalah pencerdasan kehidupan bangsa, maka universitas-universitas kita dewasa ini perlu menahan diri untuk memfokuskan diri hanya pada usaha pencerdasan kehidupan bangsa. Jika bukan itu yang menjadi tujuannya pantas kiranya universitas dicurigai sebagai lembaga bisnis jasa pendidikan. Apa yang memang dipersoalkan pada kenyataan tidak begitu mencemaskan. Tidak semua pengetahuan yang diajarkan di universitas memiliki dimensi komersial. Kritik Sokrates pada kaum Sofis menunjukkan pengajaran filsafat bagi anak muda misalnya tidak bisa ditempatkan dalam kerangka bisnis. Aristoteles pernah mengatakan bahwa filsafat cocok untuk orang tua, yang ingin mencari kebijaksanaan hidup. Orang-orang muda masih memberikan perhatian pada bagaimana mengatur dirinya, mengerti lingkungannya, dan mengorganisasikan dirinya dalam lingkungan ter- sebut. Begitu juga jika kita berbicara tentang banyak pengetahuan teoretis, seperti fisika teoretis, astronomi, dan teologi. Implikasi finansial pengetahuan semacam ini hampir tidak pernah dirasakan. Nilai jualnya relatif kecil. Namun pengetahuan semacam ini memiliki manfaatnya. Pengetahuan-pengetahuan tersebut dapat membawa orang untuk mendalami alam fisik, dunia kehidupan dan kebudayaannya. Universitas dipanggil menggunakan jenis pengetahuan ini untuk membantu banyak orang mengarahkan hidupnya, menjelaskan bagaimana mereka harus hidup dalam masyarakat, mengilustrasikan makna dari musik dan teater. Pengetahuan akademis memiliki nilai komersial yang sangat kecil. Tetapi hal itu sama sekali tidak berarti bahwa pengetahuan akademis tidak penting. Dalam perspektif sosial tersebut, saya kira kita sebenarnya sudah memasuki wilayah etos universitas. Menurut pengamatan saya, setiap universitas secara diam-diam menghidupkan loyalitas ganda: di satu sisi loyal pada prinsip tujuan pengetahuan akademis, di sisi lain loyal pada kebenaran. Dari segi tujuan, melalui pengetahuan akademis universitas ingin mendidik orang untuk mendapatkan pekerjaan sebagai sebuah bentuk layanan bagi masyarakat. Universitas bertugas mendidik anak bangsa untuk mengidentifikasikan dirinya dengan masyarakat dan mampu menggunakan pengetahuannya dalam masyarakat. Jika seseorang masuk fakultas hukum, ia dididik untuk memperhatikan kesejahteraan masyarakat, bukan untuk menggunakan pengetahuan yuridis untuk kekayaan dan kekuasaannya. Inilah etos universitas. Jika universitas tidak berhasil dalam hal ini, ia dapat memberikan apa saja kepada masyarakat, kecuali layanan yang baik. Loyalitas yang kedua berkaitan dengan tugas universitas untuk menjadi sebuah lembaga diskusi mengenai keyakinan, posisi dan pandangan. Etos universitas adalah menghormati kebenaran. Ia memperoleh semacam otoritas untuk melindungi akal budi dari kepentingan sepihak, fanatisme, dan gerakan emosional. Dimensi Komersial Tentu, pertanyaan yang harus dijawab sekarang adalah dapatkah etos ganda akademis tersebut dirusak oleh kepentingan komersial? Barangkali akan dikatakan naif jika kita mempertahankan pendirian bahwa komersialisasi pengetahuan harus ditolak dengan mendorong kembali penelitian akademis yang bebas nilai dan kepentingan. Juga, sebaliknya salah jika kita memandang pengetahuan akademis layak dikomersialisasikan sebisa-bisanya secara tanpa batas. Saya kira posisi dilematis pengembangan ilmu pengetahuan ini harus dilihat sekali lagi dari perspektif etos universitas. Di satu sisi, orientasi ilmu pengetahuan tidaklah individual, melainkan kepentingan-kepentingan komunitas yang lebih luas. Karena itu demi kepentingan riset ilmu pengetahuan, setiap universitas wajib untuk melihat sejauh mana sumbangan pene-litian ilmiah bagi kesejahteraan masyarakat. Di sisi lain, ilmuwan sendiri perlu melihat kepentingan finansial dari apa yang dikerjakan. Jika Anda, seorang ilmuwan, duduk dan mengamati dunia sekeliling dan mendapati seseorang yang lebih muda dari Anda hidup lebih makmur dari Anda dengan mengendari kendaraan yang luks, Anda mungkin akan tergoda. Saya kira nasib Anda akan berubah jika Anda dapat meningkatkan penghasilan Anda dengan memberikan ruang bagi industri untuk layanan yang akan Anda kembangkan. Usul ini tentu berguna, jika motif ekonomi ini tidak menghancurkan etos akademis: tunduk pada kebenaran. Jika pelecehan etos tersebut terjadi maka pengetahuan apa pun yang dikembangkan universitas akan kehilangan kredibilitasnya. Penulis adalah pengamat etika Last modified: 21/10/06 [Non-text portions of this message have been removed] Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
