> In [email protected], Riki Nelson <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Wah..saya kira pemikiran anda tentang kata "Cina" sudah terbelakang 
> sekitar 15 tahun yang lalu, kondisi sekarang sangat berbeda, saya di 
> Jakarta sudah terbiasa denga menyebut Cina dengan orang lain bahkan 
> dengan orang Cina sendiri, dan mereka sama sekali tidak tersinggung, 
> mereka bahkan  mengatakan  juga istilah Cina sudah bukan lagi 
> penghinaan bagi mereka. Mungkin anda bisa melakukan survey dulu 
> mengenai kata "Cina" sebelum melakukan analisa yang salah. Meskipun 
> ada yang  menganggap itu penghinaan tapi tidak banyak. Mungkin anda 
> hanya melihat dari sisi agama Islam saja, tapi dari sisi umum kata 
> Cina bukan lagi penghinaan.
> 
> Orang orang modern terutama di Jakarta sudah tidak membedakan lagi 
> suku Cina atau apapun, apakah mau di sebut China atapun Cina, bagi 
> mereka bahkan orang Cina sendiri tidak masalah, mereka mengakui 
> sendiri kok orang Cina.
> 





Saya percaya akan pernyataan diatas, tapi hal itu bukan cuma 15 tahun
yang lalu bahkan dari dulunya juga keturunan Cina itu sudah tak berani
menyatakan bahwa kata "Cina" itu sebagai penghinaan, karena kalo
orang2 keturunan "Cina" itu sendiri mau menganggapnya sebagai
penghinaan, toch mereka tak berdaya.  Bagi keturunan "Cina" biarlah
dihina asal bisa mencegah penjarahan toko2 mereka.

Agama Islam dengan umatnya yang sangat biadab kepada segala yang
bertentangan dengan mereka, apakah ada yang berani untuk menyalahkan??
 Lebih selamat setuju saja apa yang mereka katakan.

Lalu bagaimana anda bisa mewakili keturunan Cina untuk menganggap
tidak ada masalah diskriminasi lagi di Indonesia sementara orang2
Indonesia keturunan Cina yang menjadi mahasiswa ku masih menunjukkan
ktp mereka yang diberi tanda sebagai keturunan cina ???  Jelas ya,
keturunan Cina di Indonesia tidak punya keberanian untuk mengungkapkan
unegnya.  Tetapi setiap keturunan Cina yang membaca tulisan saya,
langsung mengirim email melalui japri untuk mengeluarkan semua uneqnya
dan berterima kasih kepada semua yang saya tulis.  Mereka bilang bahwa
kalo saja semua umat Islam di Indonesia berpandangan seperti ibu
Muskitawati, saya kepingin kembali ke Indonesia.

Adakah keturunan Cina yang toko2nya dibakar dan amoy2nya diperkosa
punya keberanian untuk menyatakan "Agama Islam adalah agama Biadab?".
 Tentu saja tidak pernah ada keberanian mereka seperti itu, mereka
lebih berani menyatakan bahwa "Islam agama Damai", "Islam agama yang
terbaik yang pernah saya temukan".

Memang terhadap umat biadab siapapun harus ber-hati2 agar tidak
menyinggungnya.  Lebih selamat kalo kita me-muji2 kebiadabannya. 
Karena kalo cuma me-muji2 kebiadaban umat yang biadab tidak ada
resikonya, dilain pihak kalo kita mengutuk kebiadaban umat yang
biadab, maka biayanya sangat mahal, toko2 dibakar, bomb meledak, harta
benda dijarah, amoy2 diperkosa.  Apalah artinya kata2 pujian selama
bisa mencegah kerugian.

Dilain pihak, saya bukan cuma menerima uneg2 orang Indonesia keturunan
Cina, tapi juga menerima uneg2 kaum muslim yang modern yang mengeluh
dominasi keturunan Cina disegala bidang.  Menurut mereka seharusnya
pemerintah RI melarang semua keturunan Cina untuk masuk keperguruan
tinggi bukan malah membiarkan mereka satu atau dua orang mengambil
tempat diperguruan tinggi negeri yang terkenal.  Juga dari pengusaha2
modern di Indonesia sering menyatakan bahwa semua keturunan Cina tidak
boleh menikmati kredit pemerintah dan semua bisnis Cina diharuskan
untuk dijual sahamnya secara murah kepada pribumi.  Bahkan Jusuf Kala
sendiri yang wakil presiden telah mengutuk pengusaha2 keturunan Cina
yang katanya serakah yang cuma cari untungnya saja dan kalo krisis
mereka lari ke Singapore.  Oleh karena itu Jusuf Kala sedang memproses
sebuah UU untuk disahkan Legislative agar pengusaha2 keturunan Cina
ini harus mau rugi untuk negara RI.  Namun yang dimaksudkan "mau
merugi" ini belum lah jelas bagi saya.  Kemungkinan Jusuf Kala sedang
mengusulkan agar semua pengusaha Cina diwajibkan sauran untuk melunasi
hutang pemerintah atau hutang pak Harto.  Dan mereka yang menolak
sauran ini akan syah disita asset2nya sebagai milik negara.

Ucapan WaPres disatu pihak begini dan dilain pihak begitu.  Dimuka
ulama Jusuf Kala bertekad untuk menegakkan Syariah Islam, tapi di
Amerika dimuka pengusaha2 Amerika, Jusuf Kala menyatakan bahwa
Indonesia menolak negara Syariah Islam.  Begitulah semua itu
tergantung kebutuhan, dan dilapangan tentu lain lagi yang terjadi.

Demikianlah, pernyataan diatas yang menyatakan Indonesia sudah berubah
pada kenyataannya memang berubah makin buruk dengan bungkus yang makin
indah untuk menjebak investor2 tolol.

Ny. Muslim binti Muskitawati.






Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke